MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Kabar yang Mengejutkan



Jangan lupa selalu tinggalkan LIKE, KOMENTAR, dan VOTE kalian ya teman-teman. Dukung selalu MAHMUD. Terimakasih 😘


🌼🌼🌼


Gendis mengernyitkan dahinya penasaran. Lelaki di depannya masih muda, benar tampan dan gagah, lalu mengapa dia malah memilih menghabiskan waktunya untuk mencintai wanita bersuami?


Gendis masih diam. Dia sengaja membiarkan Rendra yang memalingkan wajahnya untuk menjelaskan alasannya. Angin siang yang tetap terasa sejuk menggoyang daun palm dan membuat dahannya berayun. Mata Rendra menatap bunga sutra bombay yang tumbuh berwarna-warni pada lahan taman tak terlalu besar di hadapannya. Indah. Rendra terkekeh sendiri.


"Saya sudah lama tertarik pada Mayra, Te. Sejak beberapa minggu baru bergabung di Griya ini, saya sudah mulai menyukainya," tukas Rendra mulai berbicara. Matanya masih menatap bunga mungil di depannya.


Gendis masih diam, siap mendengarkan tuturan Rendra selanjutnya.


"Saat itu saya belum tahu kalau Mayra sudah bersuami. Dari penampilannya, saya fikir dia masih sendiri. Setiap pagi saya semangat sekali ingin cepat-cepat berangkat kerja hanya agar bisa bertemu Mayra." Rendra terkekeh lagi. Dia mengingat masa-masa awal dirinya jatuh cinta pada ibu satu anak itu.


Gendis ikut terkekeh. Dia bisa membayangkan bagaimana kelakuan lelaki jika sedang kasmaran. Pakaian yang selalu wangi dan rambut yang selalu rapi. Apalagi jika orangnya adalah Rendra. Gendis menatap lelaki di depannya lagi. Ketampanan lelaki itu pastilah bertambah sepersekian persennya waktu itu.


"Saya selalu semangat kalau Mayra meminta saya melakukan ini itu, pemotretan di sana sini juga ayo. Sampai pada suatu ketika Mayra mengira saya mengiriminya bunga." Rendra terkekeh lagi.


Gendis masih setia mendengarkan.


"Mayra itu lucu sekali, Te. Dia sangat menyenangkan. Dia berbeda dari wanita-wanita yang pernah saya dekati. Saat saya belum tahu bahwa dia sudah bersuami, dia jadi wanita favorit saya, Te. Dulu dia itu judes, tapi menggemaskan. Ah, bingung saya juga Te harus menjelaskannya bagaimana." Rendra menggaruk-garuk rambutnya sambil masih menertawakan dirinya.


"Kamu tidak tahu bahwa Mayra sudah bersuami, memangnya teman-teman kerja di sini tidak ada yang memberitahumu?" tanya Gendis akhirnya buka suara.


Rendra menggeleng.


"Jari manis Mayra, bukankah di sana ada cincin?" tanya Gendis lagi.


"Saya tahu di jari manis Mayra ada cincin. Tapi saya sama sekali tidak memikirkan bahwa cincin itu adalah cincin nikahnya. Saat itu Lina juga memakai cincin di jari manisnya, jadi saya pikir memang itu hanya soal penempatan cincin sesuka hati pemakainya saja."


Keduanya diam. Gendis mengangguk setuju. Memang banyak juga teman wanitanya yang memakai cincin di jari manis padahal mereka belum menikah.


"Di tambah lagi postur tubuh Mayra. Dia sama sekali tidak terlihat bahwa dia pernah melahirkan. Tante juga setuju itu kan?" Rendra meminta dukungan.


Gendis lagi-lagi mengangguk. Ponakannya itu memang belum terlihat kalau dia sudah memiliki anak. Seragam SMA bahkan mungkin masih cocok dikenakannya.


"Yaaaa karena bertemu setiap hari di Griya inilah, saya akhirnya benar-benar jatuh cinta pada Mayra. Hingga suatu hari saya tahu bahwa Mayra sudah bersuami. Awalnya memang kecewa, namun hati saya sudah memilih dia, Te. Ditambah dengan penjelasan mendiang ayah saya." Rendra tertunduk.


"Saya menyesal karena belum pernah mempertemukan ayah dengan Mayra. Saya membawa Mayra bertemu ayah hanya saat beliau sudah terbaring di rumah sakit." Rendra diam lalu terkekeh. Dia teringat saat dia meminta Mayra untuk menjawab 'iya' saat dia memperkenalkannya sebagai 'calon menantu' pada ayahnya.


"Mayra tahu kalau kamu adalah anak dari sahabat ayahnya?" tanya Gendis penasaran.


"Tidak, Te. Mayra juga belum tahu tentang foto ini." Rendra menatap foto kecilnya yang kini sudah ada di tangannya. "Intinya saya sudah mencintai Mayra sebelum saya tahu tentang foto ini. Tapi setelah saya tahu foto ini, rasa cinta saya padanya semakin dalam. Walau saya mungkin tidak akan pernah bisa memilikinya, setidaknya saya akan ikut menjaganya bersama Azka."


Gendis terkekeh. Ucapan lelaki di depannya benar-benar melampaui umurnya.


"Tapi menurut Tante, kamu lepaskan saja Mayra, Ren! Biarkan dia hidup bahagia dengan suaminya. Dan tante doakan kamu agar bertemu dengan jodohmu yang bisa saja lebih segalanya dari Mayra."


Rendra mengangguk. "Iya, Te. Tapi untuk saat ini, saya ingin menikmati rasa ini dulu. Mayra juga rupanya sudah menjaga jarak dengan saya. Yaaah, semoga ini akan membuat saya bisa cepat menghilangkan rasa ini." Rendra menghela napasnya.


"Hahahaha." Rendra terbahak. "Itu dia anehnya, Te. Susah sekali saya mencintai gadis lain."


Bibir Rendra masih mengembang. Nama Lina dan Wuni yang Gendis sebut, namun pikirannya tertambat pada Raras. Gadis itu cantik dan juga baik, harusnya dia menyukainya saja. Pasti semuanya akan lebih baik, ditambah Rizal juga sangat mendukungnya.


"Kalau saya keluar saja dari Griya ini bagaimana, Te?" Rendra menatap Gendis meminta pendapat.


Gendis terkekeh. "Janganlah, Ren! Mayra kan sudah mundur. Jadi kamu jangan...."


Ucapan Gendis terputus, ponsel dalam genggamannya berdering. Gendis lihat layar ponselnya, nama Azka tertera di sana. Gendis seketika menempelkan satu jari telunjuknya pada bibirnya meminta Rendra untuk diam. Rendra mengangguk.


πŸ“ž "Iya, Zka," ucap Gendis langsung setelah menggeser layar ponselnya.


πŸ“ž "Te, ke rumah sakit sekarang ya! Mayra kecelakaan."


Mata Gendis langsung membulat, mulutnya terbuka. Untuk sekian detik Gendis bungkam, dia mencerna ucapan Azka yang suaranya terdengar bergetar.


πŸ“ž "Maksudmu apa? Bukannya Mayra ada di rumah?" Gendis masih belum yakin dengan apa yang didengarnya.


Rendra langsung fokus saat nama Mayra disebut. Apalagi raut muka Gendis saat itu langsung terlihat serius.


πŸ“ž "Tante kesini dulu saja ya. Aku tunggu di rumah sakit."


Azka memutus teleponnya, meninggalkan Gendis yang mematung. Rendra masih diam, menunggu wanita di depannya buka suara.


"Azka meminta Tante datang ke rumah sakit. Tapi dia tidak mengatakan rumah sakit mana?" Gendis bertanya linglung.


"Mungkin rumah sakit tempat Azka bekerja, Te. Ada apa memangnya, Te?" Rendra langsung ikut cemas.


"Mayra kecelakaan. Tante harus pastikan dulu!"


Tanpa banyak bicara, Gendis berlari meninggalkan Rendra yang ikut mematung. Wanita itu lalu langsung memasuki mobilnya dan pergi meninggalkan Griya. Lina dan Wuni yang sebenarnya sedari tadi mengintip dari balik pintu, langsung berlari mendekati Rendra. Walau kedua gadis itu jelas tidak bisa mendengar obrolan Gendis dengan Rendra tadi, namun mereka bisa membaca ketergesaan pemilik Griya yang langsung tancap gas itu.


"Ada apa, Ren??" Wuni langsung melempar pertanyaan dengan napas yang sedikit terengah saat dia sudah sampai di depan Rendra.


"Kita ke rumah sakit Bahagia sekarang! Mayra kecelakaan." Rendra bangkit dari duduknya dan berlari menuju motornya.


Kini giliran Lina dan Wuni yang mematung kebingungan. Mereka saling bertatap, sama-sama mempertanyakan ucapan yang baru saja didengarnya.


"Siapa yang kecelakaan?" tanya Wuni memastikan pendengarannya.


"Mayra??" Lina malah ikut bertanya.


Keduanya masih saling bertatap bingung.


Sementara di rumah sakit, Azka terduduk di pojokan memeluk lutut merutuki dirinya.