MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Si Kumbang Tampan



Sore itu setelah pulang dari Griya, Mayra, Wuni, Rendra, dan Anto pergi bersama menuju Kopikita. Wuni ikut di dalam mobil Mayra, sementara Rendra dan Anto mengekor di belakangnya dengan sepeda motor masing-masing. Sepanjang perjalanan Rendra sebenarnya khawatir, dia takut kalau ada Raras di Kopikita. Sebenarnya bukan masalah besar, hanya saja Rendra tidak ingin kedua wanita itu bertatap muka. Kemarin, Mayra sepertinya cemburu saat tahu bahwa Rendra mempunyai 'pacar'. Dan Rendra pun yakin, saat nanti Raras tahu bahwa dirinya ada hubungan dengan Mayra, wanita itu juga pasti akan kecewa.


Tak lama, satu mobil dengan dua motor tim Griya Cantika sudah sampai di parkiran Kopikita. Sampai di sana, Rendra masih anteng duduk di atas jok motornya.


"Ayo!" Ajak Wuni pada Rendra. Sementara Mayra dan Anto sudah berjalan menuju Kopikita.


Mayra dan Anto langsung mencari tempat duduk untuk berempat. Mereka memilih tempat duduk yang paling tepi, dekat dengan pagar pembatas yang hanya setinggi satu meter itu.


Rendra dan Wuni terlihat berjalan beriringan. Namun saat keduanya sudah menginjak lantai Kopikita, Rendra meminta Wuni untuk melanjutkan jalannya sendiri. Sementara dia berjalan menuju meja kasir, di sana sudah ada Budi yang terlihat sibuk menundukkan kepalanya seperti sedang mencatat sesuatu.


"Hai, Bang!" Sapa Rendra begitu sudah sampai di depan meja kasir.


"Oy, Ren. Sendiri? Rizal mana?" Tanya Budi celingukan mencari Rizal.


"Saya bareng teman-teman, Bang." Jawab Rendra sambil mengarahkan kepalanya pada meja teman-temannya.


"Oh, oke, oke."


"Buatkan empat original ya, Bang. Dua hot, dua ice. Cemilannya dua pisang bakar cokelat keju, dan dua roti bakar cokelat keju juga ya, Bang," ucap Rendra kemudian memesan tanpa konfirmasi teman-temannya dulu.


"Siaaap!!" Jawab Budi singkat.


Rendra masih berdiri di depan kasir sambil celingukan mencari sesuatu.


"Oh iya Raras ada, Bang?" Tanya Rendra akhirnya. Dia sedari tadi sudah menahan pertanyaan itu agar tidak keluar dari mulutnya. Dia hanya takut Budi salah paham.


Bertanya tentang Raras, Budi pasti mengira Rendra mencarinya. Padahal alasan sebenarnya adalah lelaki itu hanya ingin memastikan dan berharap bahwa Raras tidak ada di sana.


"Raras adanya malam, Ren. Jarang-jarang dia kesini kalau sore."


Rendra mengangguk. Jawaban Budi sungguh membuatnya lega. Lelaki itu kini bisa tersenyum lebar.


"Ya sudah, Bang. Saya ke sana dulu, ya. Kopinya jangan lupa," Ucap Rendra sembari berjalan menuju meja teman-temannya.


Sampai di sana, Rendra langsung duduk di samping Anto, menghadap Mayra. Kedua wanita di depannya itu sedang sibuk membaca-baca buku menu. Wuni sudah tahu dari Mayra bahwa yang best seller di sana adalah kopi original. Untuk itu Wuni langsung berteriak bahwa dia ingin kopi original dingin.


"Iya, sudah saya pesankan, dua," jawab Rendra santai. Dia sudah menebak kedua wanita di depannya itu akan memilih menu itu. Dia tahu bahwa wanita yang lelah sehabis bekerja memang paling suka jika disajikan es apalagi dengan racikan kopi yang super sedap di Kopikita.


"Cerdas kamu!!" Puji Wuni antusias.


Sementara Mayra hanya terkekeh. Dia tahu lelaki di depannya memang cerdas. Rendra pandai memilih sesuatu yang tepat untuk wanita. Seolah lelaki itu selalu tahu semua titik lemah wanita untuk menjadikannya merasa spesial.


Tak lama, pesanan datang. Pesanan itu langsung diantar sendiri oleh si pemilik cafe, Budi.


"Silakan!" Ucap Budi sambil menaruh keempat kopi racikannya dan empat piring kudapan pada meja Rendra.


"Terimakasih, Bang," tukas Rendra sambil menarik secangkir kopi ke hadapannya.


"Siaap!" Budi hendak berlalu, namun matanya tertahan pada Mayra yang sedang menyedot kopi icenya.


Mata Budi memicing. Dia merasa sepertinya dia pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya. Tapi dimana? Budi mencoba mengingat-ingat semuanya. Sementara tanpa Budi tahu, Rendra melirik gerak-geriknya heran.


"Tahu saja kamu, Ren kalau aku lapar," ucap Wuni mencomot satu pisang goreng berlumur cokelat keju membuyarkan tatapan Budi.


"Mari, Ren!" Budi undur diri sambil menepuk pundak Rendra.


"Kenal?" Tanya Anto pada teman di sampingnya saat Budi sudah berjalan jauh.


Rendra mengangguk. Dia memasukkan satu potong roti bakar ke dalam mulutnya dan mengunyahnya pelan. "Dia teman Rizal."


Keempat kawan itu kini sedang asik menikmati menu Kopikita yang memang lezat. Wuni dan Anto pun langsung mengakui bahwa kopi di sana memang enak. Walau di luaran sana banyak juga kedai yang menyajikan berbagai macam olahan kopi, namun kopi di Kopikita terasa berbeda. Kopi dan manisnya pas, sangat wangi dan juga gurih.


Rendra dan Mayra kini sudah bisa terlihat biasa. Keduanya mampu mengendalikan diri masing-masing untuk bersikap layaknya teman. Walau memang, di dalam hati mereka siapa yang tahu?


"Kalau ada mbak Lina pasti lebih seru, ya?" Tukas Wuni di tengah-tengah santapannya. Mayra mengangguk.


"Kamu coba Ren, temui mbak Lina. Barangkali kalau kamu yang datang, mbak Lina mau membukakan pintu rumahnya," lanjut Wuni memberi saran yang berhasil membuat semua temannya mengarahkan mata pada Rendra.


"Hahaha, benar-benar kompak kalian ya?" Rendra tertawa menyaksikan ketiga pasang mata temannya menatap dirinya seolah semuanya memberi dukungan atas saran Wuni. "Iya, nanti saya ke rumah Lina," ucap Rendra akhirnya.


Semuanya tersenyum lega, terutama Mayra. Melihat wanita di depannya tersenyum, Rendra ikut tersenyum.


KRIIIIING.


Ponsel Rendra berdering, ada panggilan masuk untuknya.


Sederet nomor tak di kenal terpampang dalam layar ponselnya. Mata Rendra memicing pada ponsel yang ia pegangi dari bawah meja, siapa?


"Angkat woy itu ponsel bunyi terus!" Protes Wuni yang risih mendengar dering ponsel Rendra.


Sementara si pemilik ponsel masih ragu untuk mengusap layarnya. Rendra memang agak malas mengangkat telepon dari nomor tak bernama.


"Kalau di sinetron-sinetron sih yang model begini nih, tandanya dia dapat telepon dari selingkuhannya itu," ucap Wuni lagi asal menebak.


"Hahahaha, pintar kamu, Wun!!" Rendra terbahak mendengar celotehan Wuni. Kemudian dia sementara undur diri untuk mengangkat telepon.


Kini Rendra sudah berdiri di depan wastafel yang dekat dengan dapur cafe. Dia segera mengusap layar ponselnya dan mengucapkan 'Halo'.


📞"Halo, Ren," suara seorang wanita terdengar di seberang.


📞 "Maaf ini siapa?" Tanya Rendra pada pemilik nomor yang tak dikenalnya itu.


📞 "Raras."


Rendra diam sejenak. Raras? Dari mana dia tahu nomor ponselnya? Padahal dari beberapa pertemuannya kemarin dia tidak pernah memberikan nomor ponselnya.


📞 "Oh, Ras, hai!" Ucap Rendra canggung. "Ngomong-ngomong kamu dapat nomor teleponku dari mana?"


📞 "Dari Rizal," jawab Raras singkat.


Sebenarnya Raras sudah mempunyai nomor Rendra dari jaman dia kuliah dulu. Rizal sudah memberikannya nomor Rendra sejak tahu bahwa Raras minat dengan temannya itu. Namun demikian, dulu Raras hanya membiarkan nomor lelaki yang ditaksirnya itu terus ada di dalam ponselnya tanpa menggunakannya. Dan sore itu adalah kali pertama dia memberanikan diri menelepon Rendra karena ada suatu hal yang ingin ditanyakannya.


Rendra manggut-manggut. Tentulah abang gadungannya itu sudah membeberkan nomor teleponnya pada gadis itu.


📞 "Oh iya, Ren. Nanti malam jadi kan?" Tanya Raras penuh harap mengenai ajakan yang Rendra ajukan kemarin.


Sejenak Rendra menghela napasnya. Sebenarnya dia ingin menjawab tidak, namun janji adalah janji. Apalagi dia sendirilah yang mengajak gadis itu untuk nonton biokop. Rendra berpikir sejenak, untuk kemudian dia menjawab,


📞 "Jadi. Nanti jam 7 aku jemput ya. Kamu tinggal share lokasi saja, oke?"


Di seberang Raras menghela napasnya tersenyum lega. Dia sangat kegirangan sampai-sampai dia ingin meloncat dari ranjang tidurnya dan menari.


📞 "Oke!!"


Cinta, begitulah dia. Pandai sekali membuat pemujanya berjingkrak bahagia, sesederhana itu.