
Mayra memasuki rumahnya yang tak terkunci dan merebahkan dirinya pada sofa tamu. Dari tempatnya bersandar, suara bi Marni dan Anggun yang sedang tertawa terdengar dari belakang. Anak dan asisten rumah tangganya itu pasti sedang bermain di taman belakang. Namun Mayra belum ada niat untuk ke sana. Dia sedang terpikirkan ucapan Rendra tentang ponselnya yang hilang. Katanya, Lina tahu tentang siapa yang mengambil ponsel itu, tapi kenapa Lina tidak memberitahunya langsung kemarin?
Mayra memejamkan mata sambil masih merebahkan badannya pada sofa. Dia jadi meragukan niat Lina yang ingin berbaikan dengannya.
"Yank, all is OK?" Azka yang tiba-tiba muncul dari pintu depan mengagetkan Mayra yang terpejam.
Lelaki yang memakai kemeja cokelat muda itu keheranan saat masuk rumah dan mendapati istrinya seperti kelelahan menyender pada sofa. Tas jinjing Mayra pun masih ada di sampingnya, pertanda wanita itu juga baru pulang dari kerjanya.
"Yank?? Pulang cepat?" tanya Mayra tak kalah heran mendapati suaminya pulang cepat tak seperti biasanya.
Walau dinas pagi, Azka biasanya pulang paling cepat mendekati maghrib. Namun sore itu masih sekitar jam setengah lima, namun dia sudah sampai rumah. Terang saja Mayra berhasil dibuatnya keheranan.
Azka berjalan mendekati istrinya dan tanpa diminta, dokter muda itu langsung duduk di samping Mayra dan meletakkan tangannya pada kening istrinya.
"Tidak apa-apa, kok. Sehat wal afiat," ucap Azka dengan tangannya yang masih menempel pada kening Mayra.
Mayra terkekeh. "Aku baik-baik saja, pak Dokter." Mayra menatap suaminya. "Kenapa pulang cepat?"
"Karena tahu istriku yang jelita ini sedang memikirkan sesuatu," jawab Azka menyubit lembut pipi Mayra lalu ikut menyenderkan badannya pada sofa. Keduanya kini duduk berdampingan sambil sama-sama menyender.
Mayra mengubah posisi badannya jadi menghadap Azka sekarang, dan Azka mengikuti. Mereka kini saling berhadapan.
"Yank, menurutmu Lina itu bagaimana?" tanya Mayra tiba-tiba berhasil membuat Azka bingung.
Lelaki itu mengerutkan dahinya. "Lina? Kok malah tanya padaku, sih? Semalam ada masalah?" Tebak Azka curiga atas dugaannya semalam.
"Tidak ada, sih. Tapi ada yang aneh dengan Lina," jawab Mayra menjelaskan.
"Aneh bagaimana?"
"Semalam aku dan Lina membahas soal ponselku yang hilang itu loh, Yank. Dan tidak ada komentar apa-apa darinya. Tapi siang tadi aku dapat info kalau Lina katanya tahu tentang orang yang mengambil ponselku itu. Aneh kan?"
"Dapat info dari siapa? Valid tidak infonya?" Tanya Azka menyelidik.
Mayra menatap mata suaminya sebentar. Lalu mengalihkan pandangannya ke atas plafon. Tidak mungkin kan dia mengatakan bahwa info itu didapatkannya dari Rendra? Azka bisa curiga lagi nanti.
"Dari Wuni, Yank," ucap Mayra berbohong.
"Oh, iya, iya."
Walau Azka belum pernah bertemu langsung dengan Wuni, namun nama itu sudah sering didengarnya dari Mayra. Azka hapal betul nama-nama rekan kerja istrinya. Namun yang dia tahu hanya Lina dan tentu saja Rendra.
"Jadi menurutmu kenapa Lina tidak memberitahuku saja malam itu kalau dia tahu tentang ponselku yang hilang?" tanya Mayra meminta opini suaminya.
"Hm, mungkin Lina masih ragu, Yank tentang siapa tepatnya yang menemukan ponselmu. Makanya dia sengaja tidak memberitahumu dulu."
Mayra mengangguk setuju. "Bisa jadi. Tapi ya sudahlah, Yank. Aku sekarang kan sudah pakai ponsel canggih dari suamiku ini nih," tutur Mayra sambil menunjukkan ponsel barunya.
Azka terkekeh. "Nanti malam kita kencan, yuk!" Ucap Azka menganggukkan kepalanya.
"Hm boleh!! Kemana??"
***
"Bi kita pergi dulu, ya. Aku titip Anggun," ucap Mayra sambil memakai jaket kulitnya pada bi Marni yang sedang menonton TV di ruang tengah.
"Tumben Mbak pakai celana jeans dan jaket segala?" Tanya bi Marni heran pada majikan mudanya itu. Karena biasanya jika kedua majikannya itu keluar malam, mereka pasti mengenakan pakaian yang santai namun formal.
"Hehe, iya, Bi. Malam ini aku dan Azka ingin naik motor."
"Oh..begitu. Ya sudah hati-hati, Mbak."
"Oke," ucap Mayra melingkarkan jempol dengan jari telunjuknya lalu berjalan menemui Azka yang sudah menunggunya di depan.
Di parkiran, Azka sudah siap duduk di atas motor matic hitam yang jarang digunakannya itu. Motor itu hanya sesekali digunakan oleh Mayra jika ingin berbelanja di minimarket depan komplek saja.
"Swiwiiiit, serasa muda lagi kita," goda Mayra pada Azka yang meliriknya dari balik kaca spion.
Azka terkekeh dan memberikan helm pada istrinya. "Sekali-kali, Yank."
Setelah memakai helm pemberian suaminya, Mayra segera duduk di jok belakang dan memeluk perut suaminya erat sambil menopang dagunya pada bahu bidang Azka.
"Nah ini nih alasan kenapa malam ini aku ingin pakai motor," ucap Azka sambil menepuk lembut punggung tangan Mayra di perutnya.
"Hahaha, genit ih sudah tua juga!"
"Ih kok tua sih? Masih ABG ini loh!"
"Iya, ABG tua??"
"Hahaha, iya. Ya sudah peluk yang erat ya. Bismillah."
Kedunya melaju membelah malam Bandung yang lumayan mendung. Sepanjang perjalanan mereka tertawa mengingat masa pacaran dulu yang seringkali pergi malam Mingguan dengan bersepeda motor. Malam itu mereka hanya ingin makan malam di pinggir jalan yang menunya belum mereka pikirkan. Keduanya sama sekali belum menentukan pilihan yang pas. Yang terpenting bagi mereka malam itu adalah menikmati malam duduk di atas jok motor berdua.
Namun sedang asik-asiknya mereka menikmati angin malam, tiba-tiba hujan turun langsung dengan derasnya. Kontan Azka segera menyalakan seign kiri untuk berhenti di depan minimarket di depan untuk berteduh.
"Hahahaha." Mayra tertawa sambil berlari menuju teras minimarket dan duduk pada kursi yang sudah tersedia di sana.
"Kenapa tertawa, Yank? Aku bawa hujan-hujanan kamu senang?" tanya Azka sambil ikut duduk di kursi depan istrinya ikut terkekeh.
"Lumayan, hahaha. Ampun yaa, baru juga naik motor lagi setelah sekian lama, eeh malah hujan. Di jok motor tidak ada jas hujan pula. Tapi seru sih ini," ucap Mayra sambil melepas jalet kulitnya dan mengibas-ibaskannya.
"Jadi kita makan apa dong ini? Masuk angin nanti kamu." Azka menatap istrinya yang masih terkekeh. "Aku beli mie cup dulu ya di dalam. Lumayan untuk menghangatkan perut," ucap Azka pada Mayra yang langsung mengangguk setuju.
Azka seorang diri berjalan masuk ke dalam minimarket sementara Mayra menatap motornya yang setengah kehujanan di parkiran. Di luar, wanita itu tersenyum lagi. Dia sangat menyukai malam itu. Malam dengan hujan yang seolah mendukung suasana dirinya dalam berkendara motor. Walau kehujanan, namun Mayra sungguh menikmatinya, seru sekali.
Tak lama, sebuah mobil yang mendarat persis di samping motor Mayra berhasil membuyarkan lamunan wanita itu. Dari dalam mobil itu turun seorang gadis berwajah bulat dengan mata lebar yang langsung menujukan matanya pada Mayra. Dari tatapannya kentara sekali bahwa gadis itu mengenal Mayra. Namun sebaliknya, Mayra menatap gadis yang sedang membuka payung dari mobilnya itu dengan tatapan heran, 'Apakah aku juga mengenalnya?'
Si gadis berjalan pelan sambil memegangi payung yang melindungi kepalanya dari hujan. Namun langkah kakinya tidak tertuju pada pintu minimarket, kaki dengan sandal selop karet itu malah menuju ke tempat Mayra duduk.
"Maaf, mbak Mayra, ya?" tanya gadis itu ramah sambil menutup payungnya saat dia telah sampai di depan Mayra.
"Iya, benar. Maaf Mbaknya siapa, ya?" tanya Mayra bingung karena memang malam itu adalah kali pertamanya dia bertemu dengan gadis yang datang menyapanya itu.
"Perkenalkan, Mbak. Saya Erin, asisten dokter Azka," ucap gadis yang bernama Erin itu sambil menjulurkan tangannya tersenyum.