MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Sunyi



Gendis memacu mobilnya cepat membelah jalanan Bandung yang mulai rapat. Berkali-kali wanita itu membunyikan klakson berharap agar mobil yang berderet di depannya seketika musnah agar dia bisa terbang secepat mungkin menuju rumah sakit. Tak terkecuali Rendra. Dengan motor andalannya dia juga bergerak membelah jalanan dengan waspada. Wanita kesayangannya kecelakaan. Ini adalah kali pertamanya dia mendengar Mayra mengalami musibah selama dia mengenalnya. Rendra tahu betul bahwa wanita yang dikaguminya itu adalah wanita yang selalu berhati-hati dan memperhitungkan segalanya dengan matang. Dan jika hari itu dia mendapat kabar bahwa Mayra kecelakaan, pertanda ada sesuatu yang tidak beres dengannya.


Sementara di Griya, Lina dan Wuni masih berdiri di dekat pohon palm, masih mencerna omongan Rendra yang terburu-buru. Mereka masih belum mengerti kecelakaan apa yang Mayra alami. Pikir mereka, Mayra masuk rumah sakit hanya karena sakit. Karena menurut informasi yang mereka dapat dari Gendis kemarin, Mayra memang sedang sakit.


"Bagaimana ini?" Tanya Lina masih kebingungan.


"Agar lebih jelas, kita ke rumah sakit sekarang saja, ayo!" Wuni hendak melangkahkan kakinya, namun Lina menahan lengannya.


"Griya bagaimana?"


"Ada Anto. Sudah minta dia saja yang stay di sini!"


Lina mengangguk. Kemudian keduanya masuk ke dalam Griya, berpamitan pada Anto dan memintanya untuk tetap bertahan di Griya sampai mereka kembali nanti.


*


Gendis sudah tak sabar menanti lampu merah berubah hijau. Terlebih mobilnya ada di deretan lumayan belakang. Di dalam mobilnya yang tak bergerak, Gendis ambil ponselnya dan berusaha menghubungi Azka. Namun sudah dua kali dia mencobanya, Azka belum juga menjawab. Gendis lempar ponselnya pada jok di sampingnya, kemudian menghela napas panjang.


"May, May!! Kamu kenapa sih?" Seloroh Gendis lirih. Kemudian ditatapnya ponsel yang baru saja ia lempar, berharap Azka balik meneleponnya. Namun layar ponselnya tetap gelap.


Mobil di depannya mulai bergerak, segera pula Gendis menginjak pedal gasnya ikut melajukan mobilnya. Hatinya was-was sekaligus menyesal. Harusnya pagi tadi dia paksa saja Mayra untuk pergi ke Griya bersamanya. Dengan begitu, mungkin hari ini Mayra akan baik-baik saja.


Tak lama, mobil Gendis sampai juga di parkiran rumah sakit. Setelah menempatkan mobilnya sejajar dengan mobil lainnya yang tertata rapi, Gendis segera berlari memasuki rumah sakit yang siang itu lumayan ramai. Gendis bingung harus menuju kemana, karena Azka belum memberinya keterangan yang lengkap saat meneleponnya tadi. Tak ada pilihan lain, wanita itu segera mendatangi meja resepsionis.


"Sus, dimana ruangan istri dokter Azka berada?" Tanya Gendis langsung menyebutkan nama iparnya tergesa sampai dia lupa mengucapkan permisi.


"Maaf, Bu. Sebelumnya apa hubungan ibu dengan dokter Azka?" Tanya suster muda di depannya ramah.


"Saya iparnya, Sus. Siang tadi istri dokter Azka kecelakaan. Cepat Sus! Dimana ruangannya?" Gendis tak sabar mengetuk-ketuk meja keramik setinggi dadanya itu.


Si suster mengangguk, jawaban logis wanita di depannya bisa diterimanya. "Ibu jalan lurus saja, Bu, kemudian belok kiri yaa."


Lagi, tanpa mengucapkan terimakasih, Gendis segera berlalu setelah mendapat jawaban yang diinginkannya dari suster. Dengan cepat dia menyusuri lorong sesuai arahan suster. Dan setelah belokan pertama, benar saja, ada Azka terlihat duduk menunduk pada kursi yang berderet di sana.


"Zka??" Gendis menepuk pundak lelaki itu setelah berdiri di depannya.


"Te??" Azka menengadah.


"Bagaimana Mayra?" Tanya Gendis ikut duduk di samping iparnya.


"Dia baik, Te. Dia ada di dalam," jawab Azka menunjuk ruang di belakangnya dengan kepalanya. "Tidak ada luka serius yang dialaminya, tapi dia belum sadarkan diri." Azka tertunduk lagi.


Gendis menepuk pundak Azka sekali lalu bangkit menuju ruangan Mayra. Setelah masuk ke sana, Gendis lihat ponakannya tergolek lemah dengan jarum infus terpasang pada punggung tangannya. Benar kata Azka, sepertinya memang tidak ada luka serius yang dialami Mayra. Tubuhnya tidak ada yang diperban, hanya jidat sebelah kanannya saja yang terlihat memar. Gendis menggenggam tangan ponakannya itu erat. Namun tidak ada reaksi, Mayra pulas terlelap.


Gendis bersyukur karena keadaan ponakannya tidak seserius dugaannya. Dia menghela napas lega. Ditatapnya wajah cantik Mayra sambil ia duduk pada kursi yang sudah tersedia di samping ranjang, bekas Azka sedari tadi.


KRUIING. Ponsel Gendis berdering.


Diambilnya ponsel itu dari dalam tasnya, pada layarnya tertulis nama Rendra.


📞 "Halo, Ren," jawab Gendis setengah berbisik. Dia hanya tidak mau Mayra terbangun, lebih tepatnya hawatir Azka mendengar percakapannya.


📞 "Tante sudah di dalam?" Tanya Rendra di seberang to the point.


📞 "Sudah." Gendis sengaja menjawab singkat. Sesekali dia lirik pintu kamar Mayra yang tertutup. Dia takut jika tiba-tiba Azka masuk dan memergokinya bertelepon dengan Rendra.


📞 "Gila kamu! Kamu ingin kemari?"


Rendra di luar mengernyitkan dahi dan sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya mendengar hardikan Gendis yang memang terdengar berbisik namun menusuk telinganya.


📞 "Ada Azka di luar," lanjut Gendis menjelaskan.


Rendra menganguk mengerti.


📞 "Mayra baik-baik saja. Tidak ada luka serius, dia sedang tidur." Gendis masih berbisik, sengaja langsung menjelaskan keadaan Mayra tanpa ditanya agar Rendra mengurungkan niatnya untuk masuk. "Kamu pulang dulu saja ya?"


Rendra menghela napas, rasa antara lega dan kecewa ada dalam hatinya. Lega karena keadaan Mayra ternyata baik-baik saja, namun dia juga kecewa karena tidak bisa menemui wanita kesayangannya itu.


📞 "Ya sudah iya, Te. Saya pulang. Titip salam untuk Mayra, ya. Semoga cepat pulih."


📞 "Iya. Ya sudah tante tutup teleponnya, ya?"


Tanpa perlu mendapat jawaban, Gendis langsung memutus sambungan teleponnya dengan Rendra. Setelah memasukkan kembali ponselnya dalam tas, Gendis kembali menatap wajah ponakannya itu. Tak lama, Azka datang membuka pintu namun hanya sebagian tubuhnya saja yang masuk. Lelaki yang matanya sembab itu melambaikan tangan meminta Gendis untuk mendatanginya.


Keduanya sudah duduk pada kursi di depan ruangan Mayra, namun Azka masih diam padahal Gendis tadi sudah bertanya 'Ada apa?' padanya.


Azka meremas jemarinya resah. Dia ingin berkata, namun mulutnya sulit sekali terbuka. Hatinya sakit. Mungkin seumur hidup dia akan menanggung perasaan itu.


"Kenapa Zka?" Tanya Gendis lembut. Dia paham betul bahwa ada sesuatu yang mengganjal di hati iparnya itu.


Azka masih diam. Matanya menatap nanar lantai di bawahnya. Azka menelan ludah, getir.


"Ada apa Zka? Bukannya Mayra baik-baik saja kan?" Gendis tak mengerti dengan perilaku iparnya yang sedari dia datang sudah terlihat kacau itu. Padahal istri tercintanya baik-baik saja.


Azka masih diam. Gendis melirik jam di pergelangan tangannya, lalu beralih lagi pada iparnya.


"Kamu sudah makan?"


Azka masih tetap diam. Gendis menghela napas. Dia bingung harus bagaimana lagi. Lelaki di depannya pastilah sangat merasa bersalah karena istrinya kecelakaan tepat pada hari dimana dia tak diantarnya ke depan saat berangkat kerja pagi tadi. Gendis yakin sepasang suami istri itu sedang bertengkar. Dan Azka pasti merutuki dirinya atas itu.


"Semua akan baik-baik saja, Zka. Selepas Mayra bangun nanti, dia pasti akan cari kamu, dia rindu kamu," ucap Gendis masih berusaha menenangkan dengan menepuk punggung iparnya.


Azka menggelang. Bulir bening jatuh dari pojok matanya.


"Kalau tante pulang dulu bagaimana? Tante ingin bawa Anggun kesini. Mayra juga pasti rindu padanya." Gendis melongok pada wajah Azka yang tertunduk. Air mata lelaki itu jatuh semakin deras. Gendis semakin bingung.


"Hm, atau tante telepon bi Marni saja yaa agar membawa Anggun kesini?" Gendis merogoh ponsel dari dalam tasnya dan bersiap menelepon bi Marni.


Namun jarinya tertahan saat suara derap langkah kaki terdengar mendekati tempatnya duduk. Gendis melirik, Lina dan Wuni datang.


"Mayra bagaimana, Te?" Tanya Lina tergopoh disusul Wuni. Keduanya berdiri di depan Gendis.


Gendis tersenyum menenangkan. "Alhamdulillah Dia baik-baik saja."


Mendengar jawaban Gendis, Lina dan Wuni saling berpegangan pundak. Mereka sama-sama melepas napas lega. Tak lama dari itu, dari kejauhan seorang dokter tampan yang usianya 5 tahunan lebih tua dari Azka, berpakaian serba putih berjalan mendekat. Sampai di depan Azka, dokter itu berhenti.


"Bagaimana Zka? Kita menunggu apa lagi?"