MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Suami Terbaik



Halo teman-teman, Bebee kembali 😁


Terimakasih untuk semua doa kalian ya, aku Aamiini semuanya ❤ Semoga segala hal baik juga kembali pada diri kalian. Aamiin.


Selamat membaca ya.


🌼


Mayra memandang Azka yang sedang menyantap salad buah buatannya. Di ruang makan dengan lampu yang agak redup itu mereka senyap. Hanya jarum jam saja yang terdengar berdetak pelan sekali. Waktu sudah menunjukkan lewat dari pukul 11 malam. Mayra memainkan bibirnya. Ia ragu akan berbicara dengan suaminya. Persis Wuni kemarin. Perasaan bersalah memang membuat pelakunya menderita dan kehilangan rasa percaya diri. Mayra kini persis seperti karyawan baru yang berhadapan dengan bos galak dan akan meminta kas bon. Keberaniannya hanya secuil untuk mengutarakan hal yang besar.


Azka memfokuskan matanya hanya pada salad buah di depannya yang diatasnya bertabur banyak parutan keju. Ia sengaja membiarkan istrinya bicara. Ia menunggu. Namun sudah lewat dari 10 menit, istrinya itu masih saja bungkam.


"Yank?" Mayra akhirnya membuka suaranya.


"Hm??" Azka menjawab singkat karena mulutnya masih penuh dengan salad.


Ditatapnya mata istrinya. Mayra nyeringis masih ragu.


"Kenapa yank? Bicara saja!" Azka memersilakan. Pandangannya kembali pada salad segar di depannya dan mengaduknya perlahan. Saos mayo buatan istrinya memang terenak.


"Mmm, besok kamu libur kan?" Mayra bertanya ragu walau dia tahu betul besok suaminya memang libur.


Azka mengangguk. Dia masih menikmati kunyahannya. Dia memang kecewa dengan istrinya. Namun rasa cintanya yang terlalu besar mampu menutupi semua itu.


"Besok .. kita ke zoo yuk! Kita bertiga," ajak Mayra masih dengan nada ragunya.


"Boleh. Tidak ajak bi Marni?" Azka menawarkan. Istrinya itu memang sudah biasa harus mengajak bi Marni jika dia bepergian kemana-mana dengan membawa Anggun.


"Tidak, Yank. Besok kita bertiga saja." Mayra menjawab yakin.


Azka mengangguk. Salad buah ditangannya sudah habis. Ditambah dengan Mayra yang nyatanya tidak mengutarakan hal yang ingin dia dengar. Azka sudah akan berdiri bersiap meninggalkan meja makan. Namun Mayra segera mencegahnya.


"Yank?"


Mayra sebenarnya sedari tadi sudah berniat membicarakan hal yang membuat lelaki di depannya menangis. Namun keberaniannya menciut. Dia sangat sadar kekonyolan yang telah dia buat tidak mudah untuk dimaafkan.


Rendra. Nama itu sekelebat bermain di pikiran ibu satu anak itu. Mayra sendiri pun tidak tahu bagaimana awalnya dia bisa menikmati masa-masa bersama lelaki bocah itu. Terlebih saat di danau biru, yang katanya siapa saja yang mengikat janji di sana maka cintanya akan abadi. Dan tanpa siapa pun tahu, Mayra dan Rendra telah kesana, berduaan.


⬅️


Siang itu Rendra sengaja memakai sepeda motor untuk datang ke Griya karena semalam dia sudah mendapat jawaban 'iya' dari Mayra saat dia mengajaknya pergi ke danau biru sore nanti. Siang itu Rendra sumringah. Senyum bahagia tak lepas dari bibirnya, pun Mayra. Sesekali mata mereka saling mencuri pandang untuk kemudian tersenyum bersama. Keduanya tak sabar menunggu sore.


Sore pun datang. Hari itu mereka melewati jam rasa hari. Setelah semua karyawan Griya pulang, Mayra segera membonceng pada motor Rendra membelah jalanan gunung menuju danau biru.


Sampai di sana, Mayra berlari mendekatkan diri pada danau yang airnya bergerak lembut tersapu angin. Dia tersenyum, Rendra pun. Di sana, seolah Mayra adalah gadis 17 tahunan yang sedang dimanjakan oleh laki-laki dewasa bernama Rendra.


"Suka?" Rendra yang berdiri di sebelah kanan gadisnya bertanya.


Mayra mengangguk. Mata mereka beradu.


"Nyaman sekali di sini. Dengar...!" Mayra memejamkan matanya. "Suara anginnya, riak danaunya, cicitan burungnya, fuuuwwwh..." Mayra menghembuskan napasnya bersuara. "Perpaduan yang sangat indah."


Rendra tersenyum menatap Mayra yang terpejam. Wanita di sampingnya yang sore itu memakai celana jeans belel dengan kaos sabrina biru terlihat sangat cantik. Angin menerbangkan rambut sebahunya pelan. Memesona. Rendra sungguh mengagumi karya Tuhan yang satu itu.


"Sepertinya aku perlu nih membangun rumah di sini," celetuk Rendra asal.


"Hahaha. Bukan.."


"Lalu?"


"Aku ingin kamu berada di dalamnya, sepanjang hari," ucap Rendra sungguh-sungguh. Dia memang ingin bersama Mayra sepanjang hari. Hidup berdua di suatu rumah, berduaan dari pagi hingga pagi lagi.


Mayra terkekeh. Lelaki di depannya memang selalu punya kata ajaib yang tidak dipunyai suaminya.


Azka?


Tanpa sadar, Mayra menjadi sering membanding-bandingkan suaminya dengan Rendra. Dan itu sungguh penyakit.


Bukankah setiap orang diminta untuk hanya fokus terhadap apa yang dimilikinya saja tanpa pernah membanding-bandingkannya dengan yang lain? Jika masih saja dilakukan, bersiaplah kehilangan rasa syukur.


"Aku sayang kamu." Rendra berucap tanpa ragu menatap manik mata wanitanya.


➡️


Mayra menghela napas berat mengingat dirinya dengan lelaki asing yang tiba-tiba datang terlalu dalam pada dirinya.


"Kenapa?" Azka kembali duduk. Dia sangat berharap istrinya itu segera membahas masalah di kamar tadi.


"Maafkan aku," Mayra menunduk.


Azka diam, ia menatap nanar istrinya. Ingin sekali ia memeluk istrinya yang sudah salah arah itu. Mungkin Mayra tidak tahu bahwa suaminya selalu punya segudang maaf untuknya. Syaratnya hanya satu, Mayra menyesali dengan sungguh- sungguh segala kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulanginya.


"Kamu...sudah tahu semuanya, kan?" Tebak Mayra dengan menatap suaminya ragu.


"Tahu soal apa?" Jawab Azka berpura-pura.


Mayra diam. Hening. Keduanya bungkam cukup lama. Mayra sangat takut Azka marah. Suaminya itu teramat baik, teramat sabar. Maka jika dia sudah marah, sungguh itu adalah sebenarnya marah. Bukankah marahnya orang yang jarang marah lebih berbahaya daripada mereka yang suka marah-marah?


"Aku tidak tahu apa-apa tentang hal yang tidak kamu beri tahu, Yank," ucap Azka memancing.


Dia sebenarnya tidak suka kabar tentang istrinya dia dapat dari orang lain. Azka ingin istrinya sendiri yang langsung memberitahunya tentang semuanya. Tapi apakah setan akan membiarkan pelaku bisikannya membeberkan aksinya pada orang lain? Tentu tidak kan?


Mayra menunduk. Setitik air matanya mulai jatuh membasahi meja makan yang bertaplak cokelat senada dengan warna kayunya. Azka berjalan mendekati istrinya dan berdiri di sampingnya, lalu berlutut.


"Sini Yank!" Azka merentangkan tangannya. Dadanya selalu siap untuk menopang beban hati istrinya, kapan pun. Bahkan saat isi dadanya sedang terasa sakit sekali pun.


Sesaat Mayra menoleh. Mata dan pipinya sudah basah. Segera ia hamburkan tubuhnya masuk dalam dekapan Azka. Tangisnya membuncah di sana.


"Az-kaa!!!" Mayra menangis semakin hebat. Tubuhnga berguncang. Mayra pukul-pukul punggung suaminya dengan kepalan tangannya. Bagaimana bisa suaminya setegar itu?


Memaafkan memang hal terbaik untuk membalas sebuah kesalahan. Hal yang akan membuat pelakunya tertampar malu, tertonjok sampai ke relung.


Azka balas dengan mengelus punggung istrinya lembut. "Sudah, Yank. Kamu akan selalu jadi istriku yang baik."


Tangis Mayra semakin membuncah. Kepalanya menggeleng pelan. "Bukan, bukan. Aku bukan istri yang baik!!"


Azka mengeratkan dekapannya. Diciumnya rambut istrinya. Dalam hatinya berdoa, semoga istrinya selalu bisa memilih hal terbaik untuk diri dan keluarganya.


Rumah tangga memang adalah seni mengalah. Selama salah satunya masih mau mengalah dan selalu mampu memberi maaf, maka semuanya akan baik-baik saja. Dan Azka akan memegang erat prinsip itu, selamanya.