
Rendra mengendarai motor dengan pikirannya yang tak karuan. Dia tidak ingin membuat gadis sebaik Raras kecewa. Namun dia juga tidak bisa menyangkal bahwa dia sama sekali tidak menaruh rasa apa pun terhadap gadis itu. Jika dibilang suka, Rendra memang manyukai Raras. Tapi rasa suka yang dirasakannya bukanlah rasa suka layaknya seorang lelaki yang kasmaran. Rasa sukanya hanya sebatas menyukai seorang teman yang baik dan menyenangkan.
Rendra berdecak pelan di balik kaca helmnya. Dia sangat menyayangkan tindakan Rizal yang asal bicara apalagi ini menyangkut perasaan perempuan yang mudah berbunga dan layu.
Tak lama, motor Rendra sudah sampai di parkiran Kopikita dan dia langsung berjalan ke dalam cafe untuk menemui Raras. Lelaki itu terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri hingga ia tak sadar bahwa di salah satu meja yang dilaluinya ada Mayra dan Azka sedang duduk berhadapan menikmati kopi hangat yang mengepul.
Mayra yang mengetahui ada Rendra berjalan setengah tergopoh seketika menajamkan matanya. Lelaki itu terlihat berjalan menuju meja kasir dan langsung berbicara dengan seorang wanita yang sudah Mayra tahu namanya itu, Raras. Namun tak banyak pikir, Mayra menebak Rendra hanya akan memesan kopi di sana. Sesekali Mayra masih mencuri pandang, dan dia lihat Rendra lumayan lama berdiri di sana, entah apa yang mereka bicarakan. Jika hanya untuk memesan kopi, tidak mungkin akan selama itu kan? Sementara Azka masih asik dengan kopi hangatnya, dia tidak tahu ada Rendra datang karena posisi duduknya berlawanan dengan Mayra.
"Pulang nanti aku ingin tambah original ice ya, Yank. Kamu?" tanya Azka dengan mengunyah pisang bakarnya.
"Hm??" Mayra segera memfokuskan pandangannya lagi pada suaminya. "Aku milk ice saja, Yank." Mayra tersenyum dan ikut menyantap kudapannya.
Kini keduanya kembali larut pada obrolan mereka. Mayra sudah tidak memerhatikan Rendra lagi. Dia takut tatapan matanya pada Rendra diketahui oleh Azka.
Namun di sisi lain, tanpa Mayra tahu, Rendra membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah meja yang ditempati Mayra atas permintaan Raras.
"Itu dia Ren pasangan yang pernah aku ceritakan dulu," ucap Raras semangat karena akhirnya dia bisa menunjukkan pasangan yang dikaguminya itu secara langsung pada Rendra.
"Yakin yang itu?" tanya Rendra memastikan.
Raras mengangguk pasti. "Iya."
Rendra mengangguk pelan. "Aku kenal mereka. Yang wanita itu leader kerjaku," tukas Rendra jujur. Karena cepat atau lambat gadis di depannya itu pasti akan tahu semuanya juga pada akhirnya.
"Leader kerja? Berarti ponsel yang hilang itu miliknya??" Raras seolah tak percaya sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah tempat duduk Mayra.
"Kita duduk di belakang saja, yuk! Aku jawab pertanyaanmu di sana." Rendra sengaja menghindari Mayra. Dia tidak ingin Mayra mengetahui keberadaannya di sana, apalagi saat itu dia sedang bersama Raras.
"Oke." Raras berjalan berdampingan dengan Rendra menuju area belakang.
Dan tanpa Rendra tahu, mata Mayra kembali menangkapnya berjalan berdua dengan gadis bernama Raras itu. Kepala Mayra miring sepersekian sentinya, 'Apakah mereka sedekat itu?'
Rendra dan Raras kini sudah duduk berhadapan di area belakang cafe. Rendra merasa aman di sana karena pikirnya Mayra tidak akan melihatnya. Ditatapnya Raras yang duduk anteng sambil tersenyum simpul.
"Ponsel yang kamu tanya itu benar miliknya," ucap Rendra menjawab pertanyaan Raras tadi sambil tertunduk.
"Wah kebetulan sekali ya? Terus sekarang ponselnya bagaimana? Sudah ketemu?"
"Belum," jawab Rendra singkat sengaja ingin menyudahi pembahasan mengenai ponsel.
Bungkam sejenak. Hening.
"Oh iya, kamu benar-benar menyukai pasangan tadi?"
Raras mengangguk.
"Mengapa?" tanya Rendra lagi masih membahas Mayra. Padahal tujuan kedatangannya kesana adalah ingin menjelaskan perihal perasaannya pada Raras yang dikarang bebas oleh Rizal.
"Hm...." Raras bersiap menjawab tanpa menaruh curiga sedikit pun. Gadis itu belum tahu bahwa wanita yang dikaguminya adalah wanita yang juga dicintai lelaki dihadapannya. "Pertama, karena mbak Mayra itu cantik, baik...."
"Tunggu, tunggu!!" Rendra memotong ucapan Raras sesegera. "Kamu sudah tahu namanya???" Mata Rendra setengah membulat.
Raras mengangguk. "Mbak Mayra juga sudah tahu namaku. Dia sering mampir ke Kopikita selama kamu jarang kesini. Jadi sekarang bisa dibilang aku lumayan akrab dengannya."
Rendra terdiam tak percaya. Dunia kembali terasa sempit untuknya. Kenapa harus Mayra dan Raras? Rendra meringis, bingung harus berkata apa.
"Hm, syukurlah kalau kalian sudah saling mengenal," tukas Rendra kemudian berusaha menanggapi sewajar mungkin. "Pembahasan Mayra kita sudahi dulu, ya!" pinta Rendra akhirnya. Dia tidak ingin berlama-lama membahas hal yang dikhawatirkannya malah akan menjadi boomerang nanti.
Raras mengangguk.
Raras mengangguk malu-malu, hatinya berdebar lembut. Dia sudah siap menerima ungkapan suka lelaki di depannya itu secara langsung.
"Aku memang menyukaimu, tapi...."
Ucapan Rendra terputus. Matanya terpaku pada satu wanita yang tiba-tiba berdiri tak jauh dari mejanya. Mayra. Wanita itu mematung mendengarkan ucapan Rendra walau samar-samar. Lelaki itu sudah menyukai wanita lain? Hati Mayra bergumam sendiri.
"May??" Rendra refleks memanggil Mayra yang masih mematung.
"Ennng, maaf. Aku ingin ke toilet. Maaf ya!" Mayra segera berjalan masuk ke dalam toilet yang berada di belakang ruang dapur.
Toilet Kopikita hanya ada dua dan terletak di dalam bangunan dekat dengan dapur. Satu toilet khusus karyawan, dan satu lainnya untuk pengunjung. Walau tak terlalu besar, namun toilet Kopikita selalu bersih dan wangi. Dan untuk menuju ke sana, pengunjung harus berjalan memutar ke belakang. Dan di sanalah Mayra melihat Rendra duduk berdua bersama Raras.
Di dalam toilet, Mayra mengatur napasnya yang sedikit memburu. Hatinya berdesir, ada rasa cemburu di sana.
"Tidak! Tidak!!" Mayra bergumam menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak boleh merasakan ini!!"
Mayra sengaja diam di dalam toilet cukup lama. Dia berharap saat keluar nanti, Rendra dan Raras sudah tidak ada di mejanya sehingga dia tidak usah lagi menyapa dengan canggung.
Tak lama kemudian, Mayra bersiap untuk keluar toilet. Namun saat pintu sudah di buka, betapa wanita itu kaget luar biasa karena Rendra sudah berdiri di depan pintu.
"Kamu ingin ke toilet juga? Silakan!" Ucap Mayra kikuk memersilakan lelaki yang terlihat sengaja menutup jalannya itu.
"Yang tadi...tidak seperti apa yang kamu dengar, May," tukas Rendra menjelaskan tanpa diminta. Walau akhir-akhir ini Mayra seolah menjaga jarak darinya, namun Rendra tahu bahwa wanita di depannya itu masih menyimpan rasa padanya.
"Hah??" Mayra refleks mengangakan mulutnya. "Ya ampun, Ren. Itu hak kamu. Ingin menyukai wanita yang mana saja itu terserah kamu."
"Jadi benar kan tebakanku? Kamu mendengar ucapanku tadi?"
"Ya, sedikit."
Rendra mengangguk. "Aku harap kamu tidak salah paham."
"Terserah kamu saja! Permisi!"
Mayra menyenggol bahu Rendra dan berjalan meninggalkannya. Dia tidak ingin berlama-lama berdua dengan lelaki itu di sana. Sementara selepas kepergian Mayra, Rendra menyandarkan tubuhnya pada tembok toilet. Beruntung malam itu Budi dan Rizal ternyata sedang keluar mengambil biji kopi di kediaman orang tua Budi. Untuk itu Rendra berani menunggu Mayra yang sedang berada di dalam toilet Kopikita.
Sementara di balik meja kasir, Raras memerhatikan langkah Mayra yang berjalan mendekati mejanya. Dia tidak mengerti mengapa Rendra langsung memintanya untuk kembali ke meja kasir saat mengetahui ada Mayra datang. Dan hati kecilnya mengatakan bahwa lelaki yang disukainya itu memiliki hubungan yang tak dimengertinya dengan wanita yang dikaguminya itu.
"Sudah, Yank?" Tanya Azka melempar senyum tipisnya saat Mayra sudah berdiri di depannya.
Mayra mengangguk seraya duduk.
"Ada apa Rendra menemuimu di toilet?"
DEG.
Jantung Mayra seolah berhenti berdetak. Matanya langsung membulat, mulutnya diam terkunci.
"Tadi kamu lumayan lama di toilet. Aku takut terjadi apa-apa, jadi aku menyusulmu. Tapi belum juga aku masuk, dari balik tembok aku mendengar ada suara Rendra di sana. Itu benar suara Rendra kan??" Suara Azka terdengar sedikit bergetar. Hatinya panas dibakar cemburu.
Mayra masih bungkam. Dia bingung harus menjawab apa. Karena tujuannya pergi ke toilet sebenarnya memang hanya ingin tau keberadaan Rendra dengan Raras. Mayra hanya penasaran apakah Raras adalah wanita yang membuat Rendra menjauh saat mengangkat telepon nya waktu itu? Mayra menelan ludahnya.
"Kamu masih ada hubungan dengan lelaki itu??"