
Pukul 9 pagi mobil Gendis baru mendarat di halaman Griya. Lina dan Wuni langsung berdiri dari duduknya dan berlari menuju depan saat suara mesin mobil terdengar di telinga mereka. Dari balik kaca mobil, Wuni hanya melihat Gendis duduk seorang diri di dalam mobilnya sedang melepas sabuk pengaman. Mata Wuni menyipit, dia berharap orang yang dicarinya ada di jok belakang. Namun memang tidak ada siapa-siapa lagi di dalam mobil itu, hanya Gendis.
"Selamat pagi, cantik-cantikku," ucap Gendis seraya berjalan lalu mencium pipi kanan dan kiri kedua pegawai Griyanya.
"Pagi juga, Te," balas Lina sambil tersenyum.
"Mbak Mayra mana, Te?" tanya Wuni langsung karena penasaran sambil ikut memanggil 'Te' pada Gendis.
"Mayra sedang kurang sehat," jawab Gendis berbohong. "Jadi dia tidak bisa kemari hari ini."
Gendis berjalan memasuki Griya, Lina dan Wuni mengikuti. Ketiganya lalu duduk di sofa depan saling berhadapan.
"Jadi hari ini bagaimana?" Gendis memastikan apakah sesi foto bersama tetap dilanjutkan tanpa Mayra atau tidak.
"Tante besok pulang kan?" tanya Lina yang mengetahui bahwa besok adalah waktunya Gendis pulang ke Solo.
"Hm, harusnya sih iya."
"Kok harusnya sih, Te?" Wuni selalu penasaran dan selalu menjadi penanya pertama.
"Besok memang rencananya tante pulang. Hanya saja Mayra kan sedang tidak sehat, kasihan dia kalau sendirian."
Lina dan Wuni manggut-manggut.
"Oh iya, Rendra sudah datang?" tanya Gendis menatap satu-satu wanita di depannya.
"Ada di belakang dengan Anto, Te. Perlu aku panggilkan?" tawar Wuni semangat. Gendis mengangguk lebih semangat atas tawaran baik gadis lucu itu.
Wuni langsung bergegas bangkit dan berjalan menuju studio mini tempat Rendra dan Anto berada. Sampai di sana, Wuni bergelayut pada daun pintu yang memang terbuka itu. Dilihatnya Rendra sedang membersihkan kamera di tangannya, bersiap-siap untuk pemotretan nanti. Sementara Anto asik mengisap rokok di tangannya yang tinggal setengah.
"Pencemaran udara, woy! Nanti aku pasang juga spanduk 'AREA BEBAS ASAP ROKOK' di depan ya!" Ancam Wuni yang saat itu sudah berada di dekat dua lelaki jomblo yang tampan dan rupawan itu. "Matikan, ih! Sesak napasku, tau!"
"Hahaha, galak amat, Wun!" goda Anto manut sambil menginjak ujung rokok dengan sepatunya. "Kamu jomblo kan, Wun?"
"Iya!! Kenapa?" Wuni memiringkan mulutnya sinis.
Walau gadis itu selalu ceplas-ceplos dengan nada bicaranya yang judes, namun seluruh teman Griya sudah paham betul jika semua itu sudah pembawaan watak khas Wuni. Yang terpenting mereka tahu bahwa Wuni sebenarnya baik.
"Kalau kita pacaran saja, bagaimana?" tawar Anto menaik turunkan alisnya menggoda.
"Belajar nyetir dulu sana! Baru kita pacaran," jawab Wuni menjulurkan lidahnya menggoda Anto yang tidak bisa menyetir mobil.
Kedua lelaki di depannya terbahak.
"Ren, kamu dicari tante Gendis, tuh!" tukas Wuni sambil melirikkan matanya ke arah luar.
Rendra yang mendapati nada serius pada Wuni langsung bergidik curiga. Dia menatap Wuni tanpa ekspresi.
"Apa sih Ren? Jangan menatapku seperti itu dong!" Wuni menepuk pundak Rendra keras. "Nanti kalau aku naksir kamu bagaimana?"
"Woooy, yang mengajakmu pacaran kan aku? Kenapa jadi Rendra yang kamu taksir?" Anto protes masih menggoda.
"Ya sudah, jangan berebut! Aku milik kalian berdua. Oke??"
"Hahahahaha, bijak sekali lah pacar kita ini, Nto." Rendra langsung terbahak mendengar ucapan nyeleneh Wuni sambil melirik Anto.
"Hahahaha, iya." Anto ikut terbahak.
"Ya sudah, sayangku yang ini, ayo kita ke depan. Tante Gendis sudah menunggu," ajak Wuni sambil menggandeng lengan Rendra. "Sayangku yang itu," ucap Wuni menunjuk Anto dengan matanya. "Tunggu di sini ya. Dan ingat, jangan merokok!!"
"Hahahaha, siap siap!!"
Wuni dan Rendra berjalan ke depan berdampingan. Hati Rendra dag dig dug tak karuan. Dia hanya khawatir karena akan bertemu Mayra. Semalam Mayra sudah memergokinya berduaan dengan Raras. Dan itu sungguh sangat disayangkannya. Rendra tidak ingin membuat Mayra berpikir bahwa dia mempermainkannya. Rendra takut Mayra berpikir bahwa selama ini dia hanya main-main mengaku mencintai Mayra sementara di luar sana dia masih bebas berkencan dengan wanita mana pun yang lebih muda.
Namun setelah sampai di sofa depan, rasa khawatir lelaki tampan itu tiba-tiba sirna saat dia tak mendapati Mayra di sana. Matanya berkeliling mencari barangkali Mayra ada di luar.
"Mayra tidak ada di sini," tukas Gendis segera yang mengetahui mata Rendra mencari ponakannya.
Rendra tersenyum kikuk.
"Ada apa, Te?" tanya Rendra yang baru saja duduk ikut memanggil 'Te'.
"Mayra tidak bisa datang, dia sedang tidak enak badan. Kira-kira hari ini bagaimana? Kita tetap foto atau menunggu Mayra sehat dulu saja?"
Wajah keheranan Rendra langsung ditangkap oleh Gendis. Dia tahu bahwa lelaki di depannya tidak percaya dengan alasan yang baru saja disebutkannya.
"Bagaimana?" tanya Gendis lagi membuyarkan lamunan singkat Rendra.
"Hm...." Rendra menundukkan wajahnya. "Kalau menurutku, kita tetap foto dulu saja, Te. Nanti kalau Mayra sudah sehat, kita bisa foto lagi. Bagaimana?" Tukas Rendra mengusulkan.
"Hm, oke." Gendis langsung setuju. "Sebelum foto, kamu ikut tante dulu yuk ke depan! Yang lainnya silakan siap-siap ya!" ajak Gendis pada Rendra sekaligus menginstruksikan rekan Griyanya. Kemudian dia langsung berdiri dan berjalan keluar Griya tanpa memperdulikan jawaban Rendra.
Wuni dan Lina saling berpandangan lalu bersamaan melirik Rendra. 'Ada apa?'
Rendra mengerti arti tatapan heran kedua gadis di sampingnya itu. Lelaki itu lalu mengangkat kedua bahunya sebagai tanda, 'Mana aku tahu?'
Rendra lalu berjalan mengikuti langkah Gendis yang sudah jauh. Wanita yang pagi itu mengenakan celana jeans dan kaos panjang berbahan rajut ternyata menghentikan langkahnya pada bangku panjang di bawah pohon palm, tempat favorit Rendra.
"Ada apa, Te?" tanya Rendra penasaran setelah sampai di depan Gendis karena diajak bicara hingga menjauh. Gendis sudah duduk di atas kursi.
"Duduk Ren! Kita bincang santai saja."
Rendra mengangguk dan langsung duduk berhadapan dengan Gendis.
Keduanya diam sejenak.
"Kamu mencintai ponakan tante?"
DEG.
Jantung Rendra serasa dipalu. Dia menatap Gendis tanpa ekspresi. Tante muda di hadapannya itu rupanya sudah tahu tentang perasaannya pada Mayra.
"Tante tahu dari mana?" Rendra berusaha mengulur jawaban.
"Tante tahu sendiri."
Rendra mendelik heran, tak percaya.
"Sore itu tante lihat dengan mata kepala tante sendiri, kamu dan Mayra ada di dalam mobil, di tepi jalan dekat Pantai Pasir."
Rendra mengangguk mengerti. Alasan Gendis bisa diterimanya.
"Tante lihat tatapanmu lain pada Mayra. Kamu ada perasaan kan padanya?"
Rendra mengangguk. "Dalam, Te," aku Rendra jujur.
"Kamu waras kan? Kamu normal kan?" Gendis memastikan. Dia hanya khawatir rasa cinta lelaki di hadapannya pada Mayra hanya obsesi belaka.
"Sangat waras, Te."
"Kamu muda, kamu tampan. Di luar sana pasti banyak gadis yang menyukaimu kan?" tukas Gendis yang sebenarnya memfokuskan ucapannya untuk Lina.
Rendra hanya mampu diam, tertunduk.
"Lalu apa yang menjadikanmu malah mencintai istri orang??"
Rendra menarik napasnya dalam. Dia bersiap untuk memberikan jawaban yang selama ini disimpannya seorang diri. Tentang alasan sebenarnya mengapa dia bisa mencintai ibu satu anak itu, istri seorang suami bernama Azka. Orang lain mungkin bisa menganggapnya tidak wajar karena telah mencintai wanita bersuami. Namun bagi alasan yang tersimpan dalam hati Rendra, dia selalu pantas untuk mencintai mamah muda bernama Shina Mayrella itu.
🌼 🌼 🌼
Halo teman-teman, maaf yaa lambat banget Up nya. Selain karena aku sudah mulai 'sekolah' lagi, beberapa hari ini aku juga sedang kurang sehat seperti yang tante Gendis ucapkan untuk alasan Mayra tidak bisa datang ke Griya hari ini. *Aih 😆😆
Jadi ini pun aku sempet-sempetin Up sebelum 3 hari 😅
Oh iya terhitung hari ini, aku punya GRUP CHAT yaa. Yang ingin bergabung monggo, biar kita lebih saling kenal 😘
Teman-teman yang ingin bergabung, bisa klik GRUP CHAT nya di profil aku yaa.
Dan jangan lupa selalu dukung MAHMUD yaa.
Terimakasih 😘