
Mayra dalam perjalanan menuju Griya bersama Rendra untuk mengambil motor yang ditinggalnya di sana. Selama di perjalanan, keduanya bungkam sibuk dengan pikiran masing-masing mengenai kejadian di Pantai Pasir tadi. Sekilas Rendra melirik Mayra yang menyenderkan kepalanya menghadap ke arah jendela sebelah kirinya, wanita itu terdiam. Namun Rendra tak ingin berkomentar, dia sengaja membiarkan Mayra tenggelam dalam lamunannya, dia pun ikut diam.
Tak lama, mobil mereka sampai di parkiran Griya Cantika, keduanya turun.
"Terimakasih ya, May," ucap Rendra sambil menyerahkan kunci mobil Mayra.
"Aku yang terimakasih, untuk semuanya." Mayra menerima kunci pemberian Rendra, lalu tersenyum. Wanita itu sangat berterimakasih karena Rendra sudah berusaha menjaganya sebegitu hebatnya. "Aku langsung pulang ya. Sudah sore."
"Iya. Hati-hati, ya!"
Mayra mengangguk tak menjawab, ia hanya melempar senyum manisnya dan berjalan menuju pintu sebelah kanan mobilnya. Wanita itu langsung menjalankan mobilnya meninggalkan Rendra yang masih berdiri di samping motornya seorang diri.
***
Pukul 17.52, Mayra memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya. Namun ia terkejut karena di sana sudah ada mobil silver yang dikenalnya sudah terparkir dengan anggun. Buru-buru Mayra berlari memasuki rumahnya yang tak terkunci. Dan benar saja, seseorang yang dikenalnya sudah ada di ruang TV sedang bermain bersama Anggun dan bi Marni.
"Tante Gendis??" Mayra menghamburkan dirinya memeluk pinggang tante mudanya yang sedang memegangi Anggun dari belakang.
"Bau matahari ih!! Dari mana sih kamu??" Gendis berontak dengan menggoyangkan badan agar Mayra melepaskan pelukannya.
"Hahaha, biar ih!! Kangen tahu!!" Mayra malah semakin membenamkan wajahnya pada punggung Gendis. "Kok kesini tanpa memberitahuku dulu, sih?"
"Memangnya kalau aku memberitahumu dulu kamu akan jemput??"
"Ya tergantung. Kalau tante bawa banyak oleh-oleh yaa aku jemput." jawab Mayra masih bergelayut pada tubuh tantenya. Mayra sebenarnya rindu dengan ibunya, untuk itu dengan datangnya Gendis ke rumahnya sudah ia anggap seperti pengganti ibunya.
"Azka pulang jam berapa?" tanya Gendis penasaran karena sedari tadi dia belum melihat suami ponakannya ada di rumah.
"Hari ini mungkin jam delapanan baru sampai rumah, Te. Kenapa? Kangen Azka ya? Aku cemburu nih!!" Mayra memindahkan posisi duduknya ke depan Gendis. Dia mengambil Anggun ke tangannya dan menciuminya gemas.
"Hahaha, iya. Kangen berat. Tantemu ini sedang menjomblo, tahu! Carikan pacar ya!"
"Oooh, jadi ceritanya tante jauh-jauh dari Solo ke Bandung ini ingin cari jodoh?" goda Mayra menaik turunkan kedua alisnya. "Bang Ferdi kemana tuuuh?"
Terakhir Mayra tahu, tantenya itu sedang menjalin hubungan dengan lelaki yang berumur 3 tahunan lebih muda dari Gendis yang bernama Ferdi. Mayra hanya tahu wajah Ferdi dari foto yang Gendis kirim padanya, lumayan tampan. Namun bagaimana kelanjutan kisah mereka, Mayra tidak tahu.
"Sudah tante lempar ke empang. Dia itu lelaki macam apa coba? Masa inginnya uang tante terus yang keluar kalau tante dan dia kencan? Kan lama-lama jadi malas juga. Memangnya tantemu ini baby sitternya apa?" cerocos Gendis gemas mengingat mantan pacarnya yang tak tahu diri itu.
"Hahaha, ampuun. Lelaki muka tembok itu namanya."
"Setuju!! Semoga selalu dijauhkan dari lelaki-lelaki benalu macam itu yaa!!!"
Mayra terkekeh. "Aamiin. Ya sudah aku mandi dulu, Te. Tante juga masuk kamar sana, sholat. Terus kita makan malam yaa."
"Makan malam? Tidak tunggu Azka dulu?"
"Azka pulang jam delapanan, Te. Tidak apa-apa?" tanya Mayra meyakinkan. Dia hanya hawatir tantenya itu lapar.
"Oh, oke kalau begitu!!" Mayra melingkarkan jempol dengan jari telunjuknya dan berlalu ke kamarnya.
Gendis juga pamit pada bi Marni untuk masuk ke kamarnya dulu. Gendis sudah beberapa kali ini datang ke Bandung dan menginap di rumah Mayra untuk beberapa hari seperti biasanya. Untuk itu bi Marni sudah hapal kamar mana yang harus ia bersihkan untuk tempat tidur tante majikannya itu.
Gendis baru sampai di rumah Mayra satu jam lalu. Walau tanpa memberitahu terlebih dahulu, namun rumah Mayra selalu terbuka untuk tante yang baik hatinya itu. Gendis juga sudah lumayan dekat dengan bi Marni. Untuk itu saat tahu bahwa yang bertamu ke rumah majikannya adalah Gendis, bi Marni langsung sigap membersihkan kamar tamu yang sebenarnya selalu bersih itu.
Pukul 19.05, Anggun sudah terlelap tidur. Bi Marni juga sudah pulang ke rumahnya. Dengan sudah berpakaian piyama, Gendis mengetuk pintu kamar Mayra pelan, dia takut keponakannya itu lelah dan tertidur. Namun tak lama, Mayra datang membukakan pintu kamarnya.
"Tidak tidur, kan?" tanya Gendis meyakinkan.
"Tidak, Te. Kita ke ruang TV saja yuk!"
Gendis mengangguk setuju. Keduanya berjalan menuju ruang TV. Sampai di sana, Mayra duduk berdampingan dengan Gendis pada sofa empuk yang di bawahnya berkarpet bulu lembut.
"May!" panggil Gendis menghadapkan dirinya pada Mayra. Kedua kakinya ia naikkan ke atas sofa.
"Hm??" Mayra menjawab tanpa menoleh. Dia sedang sibuk menekan-nekan tombol remotnya memilih chanel acara.
"Kamu dengan Azka baik-baik saja kan?"
Mendengar pertanyaan tantenya, Mayra ikut menghadapkan dirinya pada Gendis. Mayra juga naikkan kedua kakinya ke atas sofa, lutut mereka saling beradu. Walau Mayra dan Gendis terpaut umur 10 tahunan, namun keduanya lebih mirip seperti kakak adik. Jika keduanya jalan berdua, maka orang-orang takkan menyangka jika keduanya adalah tante dan keponakan. Walau umur Gendis menginjak usia 40 tahunan, namun berkat perawatan yang dia jalani, wanita itu selalu tampak cantik dan segar.
"Aku dan Azka?" Mayra mengernyitkan dahinya bingung. Tantenya menanyakan hal yang tidak biasa. Tentunya ada hal yang mendasari Gendis sampai bisa menanyakan hal itu padanya kan?
Gendis mengangguk.
"Kami baik-baik saja, Te. Mengapa memangnya?" tanya Mayra penasaran.
"Yakin?" Gendis menyipitkan satu matanya tak percaya.
"Serius, Te. Aku dan Azka baik-baik saja. Memangnya ada yang aneh dengan aku dan Azka?"
"Kalau Azka tante kurang tahu. Tapi...," Gendis menghentikan ucapannya, dia ragu.
Mayra menaikkan kedua alisnya penasaran. Dia mengisyaratkan Gendis agar melanjutkan ucapannya.
"Tadi sore tante lihat kamu satu mobil dengan seorang lelaki. Sepertinya kalian memiliki hubungan yang spesial," aku Gendis akhirnya. Dia memang melihat Mayra satu mobil dengan lelaki saat dia sedang memarkirkan mobilnya di pinggir jalan untuk menjawab telepon dari seorang kenalan. Di dalam mobil itu, Gendis jelas sekali menyaksikan bahwa mata keponakannya itu beradu cukup lama dengan lelaki di sampingnya.
"Oooh." Mayra menjawabnya dengan oh. Dia sudah paham arah pembicaraan tantenya. Tantenya itu sedang menanyakan Rendra. "Memang yang tante tangkap aku dan dia bagaimana?" tanya Mayra sengaja memancing.
"Yang tante lihat sih sepertinya kalian saling jatuh cinta, ya?"
"Begitu???" Mayra balik bertanya.
Gendis mengangguk pasti. Dia cukup tahu bahwa tatapan mata memiliki arti yang tidak sembarangan. Apalagi jika tatapan itu berlangsung cukup lama. Bukankah dengan menatap hanya dalam waktu lima detik saja sudah cukup menandakan bahwa seseorang memiliki rasa suka? Apalagi jika lama. Apalagi namanya jika bukan cinta?