
Mayra dan Azka sudah lumayan lama duduk bersebelahan di dalam mobil dalam perjalanan pulang dari Kopikita, namun keduanya masih bungkam. Saat masih berada di Kopikita, Mayra sudah menjelaskan bahwa dia tidak sengaja bertemu dengan Rendra di toilet. Dia juga mengatakan bahwa dia tidak tahu hahwa ternyata ada Rendra menunggunya di depan toilet itu. Namun Azka sanksi. Dia tak berkomentar apa pun. Azka hanya menatap mata Mayra lekat kemudian bangkit untuk memesan dua cup kopi untuk dibawanya pulang. Azka merasa sangat kecewa malam itu. Dia tahu bahwa istrinya sedang berdusta. Sorot mata Mayra tak seyakin biasanya.
"Kamu akan diam sampai kapan, Yank?" tanya Mayra memecah hening. Semenjak penjelasan Mayra di Kopikita tadi, Azka memang belum berucap satu kata pun. Dia bungkam, tak berkomentar apa pun, tak seperti biasanya.
"Maafkan aku, Yank. Aku sama sekali tidak tahu kalau Rendra datang padaku di toilet itu," ucap Mayra mengulang penjelasannya lagi.
"Oke. Biar nanti aku yang tanyakan pada Rendra alasan apa yang membuatnya bisa menemuimu di toilet," jawab Azka akhirnya membuka suara seolah mengancam tanpa melirik sedikit pun. Dia hanya ingin Mayranya jujur.
Kerutan halus tercipta pada dahi Mayra seketika. "Harus???"
"Ya, mau bagaimana lagi?"
"Sudahlah, Yank! Lagipula aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Rendra!"
"Kalau tidak ada hubungan apa-apa, lalu apa maksud tentang 'kesalahpahaman' yang Rendra ucapkan padamu? Kamu sudah salah paham apa padanya?"
Mayra mengembuskan napas dari mulutnya kemudian memijit keningnya pelan. Dia tahu malam itu Azka sudah benar-benar marah. Lelakinya itu sama sekali tidak meliriknya sedikit pun sedari tadi. Walau sudah buka suara, namun mata Azka masih fokus pada jalanan di depannya.
"Awalnya aku senang saat kamu memilih datang ke Griya hanya sesekali saja. Aku pikir dengan begitu kamu akan jadi jarang bertemu dengan Rendra. Tapi rupanya setan pandai sekali menggodamu dengan berbagai cara ya?" tukas Azka menggelengkan kepalanya tak mengerti. Setan memang gencar sekali menggoda mereka para pelaku rumah tangga agar berpisah dengan pasangannya.
Mayra diam. Dia berdecak pelan untuk dirinya sendiri. Mayra pun tidak mengerti, mengapa dia tidak bisa lepas sepenuhnya dari bocah bernama Rendra itu?
"Aku memang belum pernah melihatmu secara langsung berselingkuh dengan siapa pun, tapi aku tahu hatimu sudah mendua kan? Di hatimu tidak hanya ada aku kan?" Azka masih berbicara. Dia sedang ingin meluapkan rasa kecewanya.
Mayra masih diam.
"Aku memang salah karena tidak punya banyak waktu untukmu. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, dengan pasienku. Tapi bukan begini caramu protes padaku, May!"
Mayra melirik suaminya dan tertegun. Suaminya itu hanya memangilnya dengan nama? Azkanya benar-benar marah kali ini. Air mata Mayra seketika menetes.
"Kamu benar-benar marah padaku?" tanya Mayra meyakinkan dengan mata yang sudah basah. Namun Azka sama sekali tak meliriknya.
"Yank, tolong kamu percaya padaku!" Mayra terisak dengan menghadapkan tubuhnya pada Azka yang tetap fokus menyetir. "Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan Rendra. Dia juga sudah memiliki pacar sekarang. Tidak mungkin kan aku merusak hubungan mereka?"
Azka menggelengkan kepalanya dan mengembuskan napasnya keras. Dia benar-benar kecewa. Penjelasan yang Mayra katakan malah lebih meyakinkannya bahwa Mayra memang masih memiliki rasa pada lelaki muda itu.
"Ya sudahlah, May! Tidak usah menangis!" hardik Azka akhirnya yang lebih kepada dia tidak sanggup melihat wanita yang dicintainya menangis.
Mayra terisak pelan. Padangannya ia arahkan pada jendela di sisi kirinya, menatap pantulan wajahnya sendiri. Sekilas Azka melirik Mayra iba. Ingin sekali ia memeluk istrinya itu. Walau Mayra jelas bersalah, namun Azka tetap tak kuasa melihat orang tercintanya menangis. Seumur hidupnya Azka habiskan untuk membahagiakan Mayra. Dan pantang untungnya membuat Mayra menangis. Namun malam itu nyatanya Mayra menangis lagi, dengan masalah yang sama lagi, Rendra. Azka menghela napas lagi. Rendra memang telah berhasil membuat perasaan Mayra terombang-ambing tak karuan.
***
Pagi itu Azka berangkat kerja dengan lesu. Kening Mayra yang biasa ia kecup sebelum pergi bekerja, harus rela ia abaikan. Dia hanya ingin Mayranya mengerti, bahwa kata maaf tidak selamanya selalu ada. Kesalahan tidak seterusnya bisa dimaklumi. Ada saatnya Azka jengah. Dan malam kemarinlah saatnya.
"Tidak sarapan dulu, Zka?" tanya Gendis yang saat itu sedang merapikan meja makan membantu bi Marni yang sudah memasak sarapan sedari petang.
"Tidak, Te. Aku nanti sarapan di rumah sakit saja. Ada pasien pagi soalnya," jawab Azka berbohong.
Saat dia pulang bersama Mayra malam tadi, seluruh orang rumah sudah tidur. Gendis jelas tidak tahu bahwa hubungan ponakan dengan suaminya itu sedang tidak baik.
"Aku langsung berangkat ya, Te."
Gendis mengangguk, matanya memicing.
Wanita yang pagi itu sudah cantik kemudian berjalan menuju kamar Mayra untuk mengajaknya sarapan. Semalam Lina sudah menelponnya untuk datang ke Griya pagi ini bersama Mayra untuk foto bersama di studio mini Griya sebelum pembukaan. Dan kebetulan lusa Gendis akan kembali ke Solo. Untuk itu dia ingin menghabiskan hari ini dengan anak-anak Griyanya.
TOK TOK TOK
Pintu kamar Mayra di ketuk.
"May??" Gendis menempelkan satu telinganya pada pintu kamar keponakannya.
Senyap.
"May? Kamu sudah bangun kan? Ayo sarapan!" Gendis masih berusaha.
JEKLEK.
Pintu dibuka. Mayra tersenyum yang dipaksakan. Jidat Gendis mengkerut.
"Kamu menangis?" tanya Gendis heran melihat mata Mayra sembab. Rambut sebahunya pun tak serapih biasanya.
"Hehehe." Mayra meringis. "Masuk, Te!"
Mayra berjalan lemas menuju ranjang tidurnya, Gendis mengikuti. Diliriknya Anggun masih nyaman terlelap di ranjang mininya. Mayra langsung duduk pada kasur, pun Gendis.
"Kamu bertengkar dengan Azka?" tebak Gendis tanpa basa-basi.
"Kok tante bisa menyimpulkan seperti itu?" Mayra balik bertanya dengan suaranya yang lemah.
"Pertama, Azka tadi berjalan lesu seperti kamu sekarang ini," ucap Gendis menyentuh lengan Mayra dengan jari telunjuknya. "Kedua, kamu pagi ini tidak mengantar Azka ke depan, kenapa?"
"Hehehe, iya, Te." Mayra tertunduk.
Gendis diam. Siap mendengarkan keluhan ponakannya.
"Semalam aku ke Kopikita dengan Azka kan...." Mayra membuka pembicaraan. Padahal jelas Gendis pun tahu kalau ponakannya itu semalam ke Kopikita. "Di sana aku bertemu Rendra."
"Dan Azka tahu?" tebak Gendis lantang.
Mayra mengangguk. "Parahnya Azka memergoki aku dan Rendra di toilet."
"Kamu dan Rendra di toilet??? Sedang apa kalian di sana?" Gendis memelototkan matanya curiga.
"Aku tidak tahu kalau Rendra akan mendatangiku di toilet, Te. Dia tiba-tiba saja ada di sana."
"Yakin???" tanya Gendis menyelidik tak percaya. Tidak mungkin kan Rendra tiba-tiba datang tanpa alasan yang jelas?
Mayra menatap mata tantenya nanar tanpa ekspresi. Dia tahu dia sudah salah telah penasaran pada Rendra sampai harus berpura-pura pergi ke toilet. Jika saja dia tidak pergi ke sana, mungkin kejadiannya tidak akan serumit ini.
"Aku yang salah, Te." Mayra tertunduk. "Hari ini aku tidak ikut ke Griya, ya. Aku tidak ingin bertemu Rendra, Te."
Gendis menangkupkan kedua tangannya di atas tangan Mayra. Gendis menatap ponakannya yang tertunduk. Lusa dia harus pulang, sementara Mayra mungkin sedang butuh bantuannya. Haruskah Gendis mengundur kepulangannya?