
Sore itu mendung. Langit yang menaungi hamparan luas pemakaman seolah ikut andil merasakan kesedihan yang dirasakan keluarga Mayra. Awan-awan yang mulai menggumpal kehitaman berarak pelan. Angin semeliwir menyentuh dan menggoyangkan bunga kamboja yang tumbuh rapi di sepanjang tepian jalan pemakaman.
Tak jauh dari itu, puluhan orang berkumpul mengelilingi satu kubangan yang nantinya akan menjadi tempat peristirahatan terakhir Anggun, gadis kecil kesayangan semua orang. Diantara kerumunan itu, terlihat Azka yang dengan erat merangkul istrinya yang diam memandang tanah merah di hadapannya tanpa ekspresi. Walau kaki terasa lemas seolah tak bertulang, namun Mayra berusaha mati-matian menguatkan dirinya hadir di pemakaman demi melihat anak semata wayanya turun ke liang lahat yang nantinya tubuh mungil itu terdekap tanah basah sebagai pengganti dekapan hangatnya selama ini.
Mayra terisak lagi. Telinganya seolah mendengar gadis kecilnya memanggil-manggil namanya, 'Mamah.' Tangisan Mayra semakin menjadi, tubuhnya berguncang. Tangan Azka sigap mengelus punggung istrinya lembut, menguatkan. Namun tak lama dari itu, Azka meminta izin pada istrinya untuk meninggalkannya sebentar karena ia ikut turun ke liang lahat untuk mengantarkan puteri kecilnya tidur di pembaringan terakhirnya. Mendengar hal itu, kaki Mayra langsung lunglai tak bisa diajak kompromi.
"Jangan Yaaaank!! Jangan taruh Anggun disituuuuu!!!" Mayra menangis histeris. Ia limbung dan terduduk. Kali ini ayah dan ibunya yang sigap menopangnya.
"Istighfar, Sayang, istighfar! Ini sudah ketetapan Allah. Kita hanya hamba yang dititipi-Nya seorang malaikat cantik bernama Anggun. Sekarang Allah ingin menjemput malaikat-Nya kembali, kita harus ihlas, ya!" ucap ibu Mayra menenangkan, menguatkan. Walau ia pun sebenarnya tidak pasti sanggup jika berada dalam posisi anaknya.
Namun seolah semua perkataan apa pun tak akan mampu menguatkan hatinya, Mayra hanya bisa terisak. Tangannya meremas tanah merah kuburan yang berhamburan di bawah kakinya. Pikirannya melayang, membayangkan gadis cantik kesayangannya mulai malam ini akan tertimbun tanah. Mayra histeris lagi, dan seketika tak sadarkan diri.
Azka yang sudah berada di dalam liang lahat, hanya bisa menghela napas, menguatkan dirinya agar tak ikut limbung menyaksikan wanita kesayangannya ambruk. Di satu sisi dia ingin sekali memeluk istrinya yang tak sadarkan diri itu, namun di bawah sana, Anggunnya jelas lebih butuh pelukannya. Pelukan seorang ayah yang mengantarkan puterinya tidur di peristirahatan terakhirnya. Azka menatap nanar kedua orang tuanya, seolah mengatakan, "jaga Mayra untukku."
Untuk itu beberapa orang berinisiatif memapah tubuh Mayra dan memindahkannya pada saung bambu yang tak jauh dari lokasi makam Anggun. Saung bambu itu biasa digunakan oleh Pak Kuncen untuk melepas lelah setelah bekerja seharian membersihkan area pemakaman.
Sementara di bawah sana, Azka bersiap menerima jenazah putrinya yang sudah terbalut kain kafan. Tangannya bergetar, pun bibirnya. Giginya mengatup kencang, menguatkan dirinya agar tak meteskan setitik pun air mata.
"Istirahat yang tenang ya, sayang. Bidadari cantik Mamah, Papah. InsyaAllah Mamah, Papah ikhlas. Selamat jalan menuju surga ya, sayang. Tunggu Mamah, Papah di sana." ucap Azka lirih saat tubuh puteri mungilnya sudah berada dalam dekapannya. Dipeluknya erat tubuh mungil itu untuk terakhir kalinya, serasa tak ingin lepas. Mata Azka sudah berkaca. Namun ia tahan sebisa mungkin agar tak menetes. Dengan perasaan yang berat luar biasa, perlahan dimasukkannya tubuh Anggun dalam liang lahat, hati Azka bergetar hebat. "kuatkan aku, yaa Allah."
***
Wanita yang kelopak matanya mulai menghitam karena kurang tidur itu berjalan gontai dari tempat tidur menuju jendela kamar yang sempurna menerima cahaya matahari pagi. Mayra menyipitkan matanya silau. Disenderkannya tubuh lemahnya pada daun jendela yang terbuka. Dari sana terlihat beberapa bunga di halaman samping rumahnya yang hari itu mulai mekar. Hari cepat sekali berlalu rupanya. Beberapa hari lalu, dia lihat bunga itu masih kuncup. Mayra terkekeh.
CEKLEK .. Pintu kamar Mayra terbuka. Lelaki berwajah teduh tersenyum tenang memasuki kamar sambil membawa nampan berisi satu piring nasi goreng kesukaan istrinya lengkap dengan air putih dingin.
"Makan dulu, yuk, Yank." Ajak Azka sambil meletakkan bawaanya pada meja kecil yang berada di samping tempat tidur.
Mayra tersenyum. Suaminya itu sudah semingguan ini telaten menyiapkan sarapan untuknya sebelum berangkat ke rumah sakit. Bagaimana pun juga, Azka masih menjadi suami terbaiknya dari dulu hingga kini. Bayangan Rendra seketika menghantuinya. Entah setan apa yang merasukinya hingga lelaki tengil itu bisa sedikit menggeser posisi lelaki sebaik Azka di hatinya. Kini perasaan sesal dan bersalah menyelimuti dirinya.
Dengan pakaian lusuh yang dari kemarin sore dipakainya, Mayra berjalan gontai menghampiri Azka yang siap menyambutnya.
"Hari ini kamu pulang jam berapa?" tanya Mayra menghamburkan diri dalam pelukan suaminya. Tangan Azka refleks balik memeluk seraya mencium keningnya lembut.
"Hm, mungkin sebelum maghrib aku sudah sampai rumah. Kenapa?"
"Kita makan malam di luar, yuk!" Pinta Mayra sambil bergelayut manja pada suaminya. Mata mereka beradu.
Azka tersenyum lega. Akhirnya wanita kesayangannya mau keluar kamar juga semenjak kepergian putri kecilnya. Apalagi dia mengajaknya makan malam di luar. Sungguh kebahagiaan sederhana yang luar biasa. Rasa syukur langsung membuncah dalam hati pak Dokter yang pagi itu langsung terlihat semakin tampan.
"Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu," ucap Mayra kemudian.