MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Aksi Kakak Gadungan



Risa sudah menenteng pesanan kopinya dan barlalu pergi dengan mobilnya. Raras yang baru saja menyaksikan kejadian yang asing bagi dirinya, terduduk lemas pada kursi di balik meja kasir tempatnya bekerja. Mata Raras menerawang kosong ke depan.


"Oy!! Ngelamun?" Budi yang baru datang dari dapur langsung menepuk pundak Raras saat mengetahui adiknya itu diam melongo.


"Ih Bang, kaget tahu!" Raras langsung merengut sambil memegangi pundaknya.


Budi nyeringis. "Lagipula kamu kenapa diam melongo begitu? Memikirkan orang tadi?" Tebak Budi tepat sasaran. Budi sedari tadi ada di dapur. Dan dia pun sebenarnya tahu tentang kejadian yang baru saja terjadi pada dua konsumennya beberapa menit lalu. Namun Budi lelaki, tidak mungkin kan dia tiba-tiba datang di tengah dua wanita yang sedang beradu mulut? Untuk itu dia memilih untuk tetap diam di dapur.


"Wanita yang baru datang itu loh, Bang, jahat sekali. Mulut dan tangannya itu loh, uuuuuuuh rasanya ingin aku jambak-jambak saja!!" ucap Raras gemas.


"Hahaha. Sudah-sudah! Lagipula kamu kan tidak tahu masalah apa yang sebenarnya ada di antara mereka. Jadi sudah, lupakan kejadian tadi!" ucap Budi menasehati adiknya yang berhati lembut dan tidak tegaan pada siapa pun yang terlihat teraniaya.


"Iya, iya. Ya sudah aku ke belakang dulu, ya. Ada di sini malah membuat aku terbayang-bayang terus dengan kejadian di sana," ucap Raras sambil menunjuk ke arah depan mejanya.


"Ya sudah sana! Biar abang yang di sini."


Tanpa pikir panjang Raras langsung membuka celemek yang sedari tadi menempel pada badannya dan menyerahkannya pada Budi. Setelahnya dia langsung berjalan menuju area belakang.


Beberapa menit kemudian mobil Rendra datang yang dikemudikan oleh Rizal dan mendarat mulus di parkiran Kopikita.


Mesin mobil sudah dimatikan. Namun keduanya masih bertahan di dalamnya. Rendra mendelik sinis pada supir pribadinya itu memalui pojok matanya.


"Hahaha, kenapa?" Rizal bertanya sambil tak kuasa menahan tawanya.


Di rumah tadi sebenarnya Rendra sedang malas-malasan menonton TV seorang diri. Namun Rizal yang baru keluar dari kamar mandi tiba-tiba menyeretnya untuk segera bersiap-siap dan mengajaknya ke Kopikita. Nongkrong, katanya. Tapi jelas itu hanya alibi.


"Kamu saja yang masuk sana, Bang!" Rajuk Rendra sambil mendorong-dorong lengan abangnya.


"Ya sudah saya masuk. Tapi nanti saya suruh Raras untuk ke sini, ya. Tunggu!" Rizal sudah bersiap membuka pintu mobilnya. Namun lengannya tertahan Rendra yang langsung memeganginya erat.


"Bukan main kamu ya, Bang. Memang benar-benar niat kamu ya jadi Datuk Maringgih." Rendra geleng-geleng kepala.


"Hahahaha, jangan begitu lah kau adik durhaka! Sudah tau abangnya salah sebut, malah diulang-ulang terus."


"Hahahahaha. Makanya, hati-hati kalau bicara. Ayo lah turun! Malas saya debat sama abang macam ini."


Akhirnya Rendra mau menuruti permintaan abangnya itu. Mereka turun dari mobil dan berjalan beriringan menuju Kopikita. Dari kejauhan mata Rendra sudah bergerilya mencari Raras. Namun sejauh matanya mencari, wanita itu belum dilihatnya. Rendra menghela napas lega. Dia berpikir Raras malam itu tidak ada di cafe. Alhamdulillah.


Budi yang saat itu sedang berada di meja kasir segera melambaikan tangannya pada Rizal yang baru datang. Setelah keduanya berhadapan dan langsung tos seperti biasanya.


"Adikmu mana?" Tanya Rizal tho the point sambil melirikkan matanya ke arah Rendra.


"Ada tuh di belakang. Sedang bad mood dia," jawab Budi seadanya. "Ingin kesana Ren?" Tanya Budi pada Rendra sambil menengokkan kepalanya ke arah belakang cafe.


Rendra meringis, bukan itu yang dia inginkan. Namun yaaa mau bagaimana lagi. "Hehe, boleh, Bang. Aku langsung ke sana, ya," Ucap Rendra sambil berlalu meninggalkan kedua abang-abangannya itu.


Perasaan Rendra malam itu sudah dia rasakan kemarin. Berjalan dengan perasaan tak menentu menuju bagian belakang cafe untuk menemui Raras. Perasaan antara ingin dan tak ingin, terpaksa.


Seperti de javu, malam itu Raras juga duduk membelakangi Rendra pada salah satu meja, yang berbeda hanyalah rambutnya yang terikat.


Gadis ayu itu refleks menengok. Dan betapa terkejutnya dia saat mengetahui yang berdehem padanya adalah lelaki yang setiap saat diharapkannya untuk datang.


"Ren?? Hai," sapa Raras sambil berdiri dari duduknya.


"Sudah duduk saja. Saya juga duduk nih," ucap Rendra langsung duduk di hadapan Raras. Gadis itu tersenyum. Rendra mendelik menyelidik. Senyum gadis di depannya itu tak seperti kemarin yang lepas dengan mata berbinar. Malam itu matanya tak secerah biasanya.


"Ada apa?" Rendra langsung bertanya penasaran.


"Hah??" Raras kontan bingung dengan pertanyaan lelaki yang baru menemaninya duduk itu.


"Kamu malam ini kenapa?" Rendra memperjelas pertanyaannya.


"Aku? Tidak apa-apa. Memangnya aku kenapa?" Raras malah balik bertanya. Ia menggelengkan kepalanya pelan. Hatinya memang masih geram pada kejadian beberapa menit lalu mengenai dua pelanggannya yang hampir memanas. Karena selama dia bantu-bantu di cafe kakaknya, baru malam itu Raras mengalami hal yang semacam itu. Dua wanita berselisih paham di tempat umum.


Raras menatap wajah Rendra yang teduh. Ia tersenyum. Raras pikir Rendra mungkin tahu tentang suasana hatinya malam itu dari kakaknya.


"Kamu sudah dengar dari abangku, ya?" Tanya Raras akhirnya.


"Dengar apa?" Rendra pura-pura tidak tahu. Padahal tadi dia sudah mendengar dari Budi bahwa adiknya itu sedang bad mood.


"Hm, oke. Akan aku beritahu."


Rendra langsung diam, ia bersiap mendengarkan cerita gadis di depannya.


"Tadi saat aku di meja kasir, ada dua pelanggan wanita yang ... Mm, kalau laki-laki mungkin akan tonjok-tonjokan, ya," ucap Raras mulai menjelaskan. Rendra masih diam sambil mengerutkan dahinya. Tonjok-tonjokan?


"Aku tidak tahu siapa mereka, yang pasti suasana tadi lumayan membuat aku bingung. Dua wanita itu sepertinya ada masalah. Satu diantaranya sampai menyebut temannya itu dengan kata 'jallang' loh. Padahal aku yakin wanita yang disebut 'jallang' itu adalah wanita baik," tukas Raras menjelaskan.


Rendra manggut-manggut mengerti. "Hm, kamu tahu dari mana kalau wanita itu wanita baik?"


"Soalnya saat dia dimaki-maki, dia diam saja tidak membalas. Bahkan sampai kopi yang dia pesan tumpah pun dia tidak terpancing emosi," bela Raras seadanya.


"Iya sih, kamu benar. Mungkin dia memang wanita baik. Soalnya dengan disebut 'jallang' pun harusnya dia marah," aku Rendra menyetujui pernyataan gadis di depannya.


"Nah, kan. Aku geram sekali tadi. Seolah-olah aku ingin mewakilkan wanita itu untuk balik memaki-maki si wanita gila itu," Ucap Raras sambil *******-***** kedua telapak tangannya.


"Hahahaha, iya iya."


Rendra terkekeh lepas. Dia baru tahu bahwa gadis di depannya bisa selucu itu. Hari-hari kemarin Rendra hanya melihat sosok Raras yang bersikap malu-malu. Namun malam itu berbeda. Mungkin karena terbawa emosi, Raras jadi bisa melepaskan tingkah dirinya yang sebenarnya. Dan itu sungguh menyenangkan. Rendra terpukau.


"Oh iya besok kamu ada acara?" Rendra bertanya refleks tanpa rencana.


"Kenapa memangnya?"


"Nonton, yuk!!"