
"Tunggu, May!!" Rendra berteriak pada Mayra yang sudah melangkahkan kakinya keluar. Rendra tidak tahu apa yang salah sampai wanita itu memutuskan untuk pulang padahal dia sama sekali belum mengatakan inti permasalahannya. Adakah yang salah dari kalimat yang dia ucapkan tadi?
"Tunggu sebentar ya, Bu!" Ucap Rendra pada ibu warteg karena semua pesanannya belum dibayar. Ibu warteg mengangguk ramah.
Rendra ikut keluar mengejar Mayra yang sebentar lagi akan sampai di mobilnya.
"May!!"
Mayra menghentikan langkah namun tidak membalikkan badannya. Mayra sudah menghadap mobilnya saat itu, sementara Rendra berdiri satu meter di belakangnya.
"Tunggu dulu, May! Tolong dengarkan pertanyaanku dulu. Kamu jangan membuatku maju mundur begini dong!" Ucap Rendra dengan masih diam di tempatnya berdiri.
Mayra membalikkan badannya. Mereka saling berhadapan kini. "Membuatmu maju mundur? Maksudmu apa?"
"Saat itu kamu mengatakan padaku seolah ingin mengakhiri semua ini kan? Tapi mengapa sampai sekarang kamu masih saja membuatku berharap?"
Mayra memicingkan matanya. "Berharap apa? Aku sama sekali tidak melakukan apa-apa padamu kan? Selama ini aku juga sudah berusaha bersikap biasa saja. Aku memperlakukanmu sama seperti karyawanku yang lain. Lalu salahku dimana? Lagipula kamu sudah mempunyai pacar kan sekarang? Lalu untuk alasan apa kamu masih berharap padaku?" Mayra berkata cepat sekali hampir tanpa jeda. Hatinya merasa serba salah mendengar tuduhan tak beralasan lelaki di depannya.
Rendra terkekeh gemas. "Ingin jadi rapper kamu?"
"Memang sinting kamu ya!" Mayra kesal karena perkataan panjangnya malah ditanggapi lelucon oleh Rendra.
Mayra sudah memegang handel pintu mobilnya ingin meninggalkan lelaki menjengkelkan itu, namun dengan cepat Rendra menahan lengan tangan Mayra. Malam itu adalah kali pertamanya Rendra menyentuh tangan Mayra. Walau mereka pernah pergi berdua kesana kemari saat mereka bersama dulu, namun mereka sama sekali tidak pernah bersentuhan selain pelukan yang Rendra lakukan pada Mayra saat ayahnya meninggal dulu. Itu pun Rendra lakukan tanpa niat untuk benar-benar memeluk Mayra. Dia hanya ambruk saat itu.
Mayra menatap tangan Rendra yang mengikat pergelangan tangannya. Hatinya berdesir lembut. Baru kali itu Mayra merasakan hangatnya tangan Rendra. Untuk beberapa detik, telapak tangan Rendra menggenggam lengan Mayra, namun sedetik kemudian Mayra langsung melepasnya. Dia tidak ingin menikmati sentuhan itu lebih lama.
Rendra menghela napasnya pelan. "Malam ini aku ingin mendengar penjelasan darimu, tapi mengapa malah kamu yang seolah ingin mendapar penjelasan perihal pacarku?" Protes Rendra sengaja menyebut 'pacarku'.
Mayra ikut menghela napas. "Sudahlah lupakan. Ini sudah malam. Cepat katakan penjelasan apa yang ingin kamu dengar dariku?" Ucap Mayra akhirnya ingin cepat-cepat menyelesaikan malam itu. Dia tidak ingin hatinya terbawa perasaan lagi karena sudah lumayan lama malam itu dia berdua dengan Rendra, lagi.
"Kemarin malam mengapa kamu menangis?" Tanya Rendra serius.
"Menangis? Aku menangis??" Mayra mengulang pertanyaannya seolah tak percaya dengan pertanyaan yang Rendra lontarkan.
Rendra mengangguk. "Bi Marni tidak mengatakan apa-apa padamu?"
"Bi Marni? Ini maksudnya bagaimana sih? Kok jadi bawa-bawa bi Marni segala?" Mayra dibuat bingung dengan semua perkataan lelaki di hadapannya.
Rendra diam. 'Bi Marni memang benar-benar bisa menjaga rahasia,' aku Rendra dalam hati. Rupanya bi Marni benar-benar tidak memberitahu Mayra perihal kedatangannya kemarin.
"Tunggu!! Katamu kemarin malam aku menangis? Jam berapa?" Tanya Mayra lagi mulai curiga.
"Sekitar setengah delapan malam," jawab Rendra seadanya.
"Kamu tahu dari mana kalau aku menangis?"
"Kamu meneleponku," jawab Rendra sesuai pertanyaan wanita di depannya. Walau Rendra sendiri pun merasa aneh, mengapa wanita di depannya itu seperti berkilah.
Mayra mendengus kesal dan menatap tajam mata Rendra. Dia sudah paham duduk permasalahannya sekarang. Semuanya masih seputar ponselnya yang hilang. Mayra yakin ponselnya itu telah ditemukan oleh seseorang yang mungkin dikenalnya. Pasalnya ponselnya yang hilang itu malam itu dengan kebetulannya menghubungi nomor orang-orang terdekatnya.
"Aku meneleponmu malam jam setengah delapan?" Mayra meyakinkan pertanyaannya.
Rendra mengangguk.
"Oke aku mengerti sekarang. Bisa aku minta tolong padamu?" Pinta Mayra serius.
"Apa?"
"Tolong nanti kamu datang ke Kopikita dan tanyakan pada siapa pun orang di sana, adakah kemarin sore mereka menemukan ponselku?"
"Sepertinya kemarin sore. Dan dugaanku ponselku itu tertinggal atau mungkin jatuh di Kopikita."
Rendra juga akhirnya paham arah pembicaraan wanita di depannya. Ponsel Mayra hilang sore, dan malamnya nomor wanita itu meneleponnya dengan isak tangis. Tandanya yang meneleponnya dan menangis itu bukan Mayra. Namun siapa pun itu, Rendra yakin ponsel Mayra telah dimiliki oleh orang yang mengenal mereka. Siapa?
"Ya sudah kamu pulang dulu saja. Maafkan aku malam ini," ucap Rendra jujur.
Mayra mengangguk. Tanpa berkata apa pun, Mayra masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Rendra berdiri di tempatnya seorang diri.
Selepas perginya Mayra, Rendra kembali masuk ke dalam warteg dan membayar semuanya. Setelahnya, lelaki itu kembali ke pom bensin untuk mengisi bahan bakar motornya kemudian langsung melaju cepat menuju Kopikita.
-- Sampai di Kopikita
Rendra tergopoh berjalan memasuki Kopikita. Si sana mulai sepi. Hanya tersisa dua meja yang masih terisi pengunjung. Dari kejauhan Rendra sudah melihat ada Raras di balik meja kasir yang tak mengetahui kedatangannya. Gadis itu sedang menundukkan kepalanya asik memainkan ponsel, sepertinya.
"Permisi, Mbak," sapa Rendra sok menjadi pengunjung pada Raras yang masih asik dengan aktifitasnya.
"Maaf, Mas kopinya sudah ha...." ucapan Raras terputus saat dia sudah tahu siapa yang datang. "Kamu Ren??" Sambut gadis itu sumringah sambil langsung bangkit dari duduknya.
"Hai!" Balas Rendra dengan senyum lebarnya. "Bang Budi ada?" Tanya Rendra langsung tak ingin membuang waktu untuk menahan rasa penasarannya.
"Ada di dapur. Masuk saja!" Sahut Raras memersilakan lelaki pujaannya untuk langsung masuk ke dalam. Walau tujuan Rendra datang ke sana ternyata bukan karena dirinya, namun Raras tetap senang karena bisa melihat wajah lelaki itu lagi.
"Oke. Terimakasih, ya. Saya ke sana dulu." Pamit Rendra pada gadis di depannya seraya berlalu.
Sampai di pintu belakang dapur, Rendra langsung mendapati Budi yang sedang sibuk merapikan alat penyaring kopi. Di sana ada Budi dan dua orang karyawan yang juga sedang bebenah.
"Bang!" Seru Rendra memanggil Budi sambil masih berdiri di daun pintu.
"Oy, Ren!" Jawab Budi mendelik sambil mangangkat satu tangannya. Budi segera mencuci tangannya dan datang menemui tamunya.
"Duduk di belakang saja." Ucap Budi sambil berjalan ke arah belakang cafe yang diikuto Rendra.
Keduanya lalu duduk di salah satu kursi di sana. Dua meja pengunjung yang tadi Rendra lihat masih terisi sekarang sudah kosong. Kopikita sebentar lagi akan tutup.
"Ada apa, Ren malam-malam kemari? Bukan karena kopi kan?" goda Budi pada lelaki yang ditaksir adiknya itu. Terka Budi, Rendra datang ke sana untuk menemui Raras.
"Ada yang ingin saya tanyakan, Bang."
"Apa itu?"
"Kemarin Abang ingat kan saya kemari bersama teman-teman kerja saya?"
Budi mengangguk.
"Salah satu teman saya itu ada yang kehilangan ponsel, Bang. Dan kemungkinan ponselnya itu jatuh di sini. Abang atau karyawan yang lain barangkali ada yang lihat?" Tanya Rendra langsung pada titik permasalahan.
Budi diam. Dia mengingat-ingat hari kemarin. Karena kebetulan kemarin dia lebih banyak berdiam diri di meja kasir sambil memerhatikan para pengunjungnya.
"Kemarin kamu duduk di meja 7 ya?" tanya Budi menyelidik.
Rendra mengangguk.
"Kemarin selepas kamu pergi, ada satu pengunjung yang datang dan duduk di meja 7," ucap Budi mulai menjelaskan.
"Siapa, Bang? Laki-laki? Perempuan??"