MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Misteri Ponsel yang Hilang



Mayra membuka pintu kamarnya perlahan. Di sana sudah ada Azka yang tertidur pulas di samping Anggun. Anak gadisnya itu masih tidur di kasur utama bersama suaminya. Mayra mendekat pada mereka dan menatap keduanya lekat. Anggun tertidur terlentang nyaman sekali. Dan Azka, lelaki itu tetap terlihat tampan walau dengan mata terpejam sekali pun dengan posisi menyamping menghadap Anggun.


Mayra membungkukkan badannya pada Azka dan mencium keningnya lembut. Sedetik kemudian Azka terbangun karena bibir hangat istrinya.


"Sudah pulang, Yank?" Azka segera bangkit dari tidurnya dan ditatapnya jam yang mengantung pada dinding kamarnya, sudah hampir pukul 23.00.


Azka mengerutkan dahinya memandangi Mayra yang masih berdiri di samping ranjang, kedua tangan mereka saling menggenggam.


"Sudah jam 11, Yank??" Azka bertanya seolah tak percaya. Saat menina bobokan Anggun jam sembilanan tadi, Azka tak sadar ikut tertidur.


"Iya, sayang. Makasih ya sudah menjaga Anggun dengan saaaangat baik." Mayra tersenyum sambil mengguncangkan genggaman tangannya. Dia lalu duduk di samping Azka. "Kamu ketiduran, ya?"


Azka mengangguk. "Tidak ada niatan untuk tidur, sih. Tapi aneh yaa kok malah jadi ikut terbawa tidur?"


Mayra terkekeh mendengar akuan suaminya. "Memang begitu, Yank. Aku juga kalau ngelonin Anggun suka begitu. Mataku suka tiba-tiba ikut merem tanpa aku sadar, hehehe."


"Iya, ya??" Azka ikut terkekeh. "Oh iya bagaimana tadi kencannya?" Azka bertanya perihal malam istrinya bersama Lina. Mayra belum tahu bahwa selama ini temannya itu sudah banyak mengarang cerita picik pada suaminya tentang dirinya dengan Rendra.


"Hm, seru. Aku dan Lina best friend forever pokoknya," aku Mayra sumringah.


Azka ikut tersenyum dan menatap mata istrinya dalam. 'Syukurlah. Semoga Lina sudah benar-benar kembali menjadi baik,' batinnya.


Selama istrinya bahagia, Azka pun akan ikut bahagia. Tak peduli seberapa buruk tingkah laku teman istrinya itu kemarin, namun jika malam itu Mayra merasa semua baik-baik saja, maka Azka tak akan mempermasalahkannya. Tugasnya hanya melindungi istrinya dari semua orang yang berniat tidak baik padanya, hari ini dan selamanya.


***


"Lina belum masuk juga?" Tanya Rendra yang baru datang pada Wuni yang sudah duduk di balik layar monitor yang menampilkan foto-foto contoh dekorasi yang diambilnya dari internet.


"Belum," jawab Wuni singkat sambil tetap fokus pada layar di depannya.


Rendra duduk menyenderkan diri pada sofa dan merentangkan tangannya di sana. Lelaki itu sebenarnya lelah. Semalam dia tidak bisa tidur karena memikirkan masalah Mayra, Raras, dan juga Lina. Ketiga wanita yang dikenalnya itu rupanya terlibat dalam satu permasalahan yang sama, yaitu tentang ponsel Mayra yang dia pun belum tahu ada pada siapa.


"Kamu tidak ada niatan untuk menghubungi temanmu itu, Wun?" pancing Rendra, berharap Wuni mau menghubungi Lina agar wanita itu segera masuk ke Griya. Dengan begitu Rendra bisa menanyai gadis itu dengan leluasa perihal ponsel Mayra yang katanya dia tahu itu.


"Tidak ah, malas. Sudah berkali-kali aku coba menelepon dan mengirim pesan pada mbak Lina, tapi tidak ada satu pun yang dia respons. Aku kurang suka pada orang-orang yang seperti itu. Punya masalah dengan siapa, eeeeh yang terkena imbasnya malah semua orang." Jawab Wuni jujur sambil berdiri meninggalkan komputernya dan duduk bersama Rendra.


"Hahaha, iya ya." Rendra terkekeh. Walau temannya itu sering bersikap kekanakan dan terkesan polos, tapi cara berpikir gadis itu sering masuk akal juga.


Rendra menusuk satu mineral gelas yang sudah tersedia di atas meja dan meminumnya perlahan.


"Kalau kamu ngantuk minum kopi saja sana!" Tukas Wuni yang menyadari bahwa teman di sebelahnya itu sedang kurang bersemangat.


"Ih, sakti kamu, ya. Sudah macam dukun peramal saja," jawab Rendra asal.


"Dukun dengan peramal beda, tahu!" Protes Wuni sambil ikut mengambil satu mineral gelas dan meminumnya.


"Apa bedanya??" Goda Rendra pada teman kerjanya yang sering menggemaskan itu.


"Kalau dukun tempatnya di desa terpencil sana, yang tinggalnya di gubuk-gubuk tengah hutan itu, loh. Kalau peramal, dia sudah canggih. Di internet juga banyak tuh." jawab Wuni sekenanya.


"Ih, tidak dua-duanya, lah. Aku ingin jadi istri kamu saja!!" Goda Wuni sambil memanyunkan bibirnya.


"Hahahaha, mau??"


"Mau lah!! Eeeh tapi tidak jadi lah!! Nanti aku dimusuhi mbak Mayra dan juga mbak Lina lagi!"


"Hahahahaha." Rasa kantuk Rendra seketika hilang karena banyolan temannya itu.


Tak berapa lama, Mayra muncul dari balik pintu dan mendapati kedua temannya sedang tertawa lepas bersama. Wanita yang siang itu memakai dress kaos oblong maroon selutut langsung duduk ikut bergabung dengan kedua temannya itu.


"Waduh...sepertinya ada yang seru, nih. Ikut doong!" Ucap Mayra sambil meletakkan satu kresek bawaannya di atas meja yang berisi banyak risols ayam. "Ayo di makan!"


"Waaah, mbak May tahu saja kalau aku dan Rendra butuh sesuatu untuk di kunyah. Ini nih baru namanya dukun, eeh peramal." Ucap Wuni melotot pada Rendra sambil mencomot satu risols dengan dua cabai rawit dan menenggelamkannya pada risols miliknya itu.


"Hahahaha, iya, iya setuju." Rendra masih terbahak sambil ikut mengambil satu risols dan segera mengunyahnya tanpa sungkan.


"Kalian sedang membahas peramal??" Tebak Mayra penasaran.


"Iya, katanya Wuni ingin cepat punya suami tuh!" sahut Rendra asal.


Wuni mendelik pada Rendra dan berdecak gemas. "Ck!!! Ini orang ya!!"


"Sudah, sudah! Makan dulu! Tersedak nanti kamu!" Tukas Rendra segera sebelum Wuni mengatakan yang sebenarnya. Gadis itu memang sering keceplosan.


Mayra terkekeh melihat tingkah kedua temannya yang sering beradu argumen itu. Kalau di film-film, kedua tokoh yang seperti itu biasanya akan saling jatuh cinta pada akhirnya. Ibu satu anak itu terkekeh lagi membayangkan kalau-kalau Rendra dan Wuni benar-benar akan saling jatuh cinta. Pasti akan lucu sekali.


"Aku ke belakang dulu ya." Mayra bangkit dari duduknya dan berlalu ke dapur.


Tak selang berapa lama, setelah menghabiskan risolsnya, Rendra ikut bangkit dan hendak menyusul Mayra ke dapur. Ada sesuatu yang ingin di sampaikannya.


Sampai di dapur, Rendra melihat Mayra sedang mengaduk sirup yang berwarna merah pekat dalam gelas yang sudah terisi es batu.


"Tumben?" tanya Rendra sambil duduk di salah satu kursi di dapur. Dia dan semua rekan kerja hapal betul jika Mayra kesehariannya suka meminum mineral dingin. Dan siang itu tak seperti biasanya wanita itu meramu sirup dalam botol yang jarang disentuhnya.


"Iya, lumayan panas soalnya di luar," jawab Mayra seadanya sambil masih mengaduk es sirupnya. "Mau?"


Rendra menggeleng. "Terimakasih."


Mayra lalu duduk pada kursi lainnya di depan Rendra sambil meminum es sirupnya perlahan.


"Perihal ponselmu, aku tidak dapat info yang banyak dari Kopikita. Tapi menurut temanku di sana, ada kemungkinan ponselmu itu ditemukan oleh salah satu pengunjung, perempuan," ucap Rendra membuka inti pembicaraan.


"Ya sudah tidak apa-apa. Terimkasih sudah membantu. Lagipula aku ingin pakai nomor baruku saja mulai sekarang," jawab Mayra pasrah. Dia sudah tidak terlalu memikirkan ponselnya yang hilang. Karena sekarang nomor pada ponselnya yang hilang itu sudah tidak aktif. Tandanya si penemu ponsel itu mungkin sudah menjual ponselnya itu.


"Tapi kemungkinan Lina tahu siapa yang mengambil ponselmu," ucap Rendra lagi berhasil membuat Mayra membulatkan matanya.


"Lina???"