MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Balada Hati



"Tuh .. ituuh!!" Anggun bersemangat menunjuk seekor gajah di depannya yang sedang memainkan belalainya. Sesekali dia bertepuk tangan riang. Kentara sekali gadis kecil itu bahagia.


Azka menatap kedua wanitanya sambil tersenyum tipis. Kejadian semalam sudah berusaha dilupakannya, lebih tepatnya ia pendam seolah tak ada. Mengingat-ingat hal menyakitkan untuk apa? Tak ada gunanya.


Anggun yang didudukkan pada besi pembatas area gajah menguncang-uncangkan kakinya. Dia ingin lepas dari pegangan ibunya dan berjalan ke arah gajah yang tepat menghadap wajahnya. Mayra tertawa lagi.


"Yank, aku beli air dulu ya sebentar," ucap Azka pada Mayra. Dia ingin meneguk mineral dingin.


Kebetulan tak jauh dari lokasi mereka banyak berjejer kios-kios kecil penjual beraneka macam makanan dan minuman. Di depan kios-kios itu terdapat lahan kosong yang berisi hamparan rumput hijau yang bisa dijadikan pengunjung sebagai tempat istirahat lesehan dengan menyewa tikar yang telah disediakan oleh masing-masing kios.


Mayra mengangguk. Dia membiarkan suaminya pergi seorang diri karena Anggunnya masih semangat menyaksikan binatang berhidung panjang dengan telinga lebar itu.


Azka berjalan menuju deretan kios dengan memilih memutari jalan batako walau jaraknya jadi lebih jauh, dari pada harus melewati area rerumputan yang sudah terisi banyak pengunjung yang sedang duduk santai menikmati santapan masing-masing, Azka tidak mau. Ia menyusuri jalan selangkah demi langkah sambil mengingat Mayranya dulu. Jaman kuliah dulu, Azka pernah beberapa kali mengajak Mayra kencan di kebun binatang. Alasannya hanya satu, Mayra suka dengan bakso telur di sana yang katanya rasanya lezat tak ada duanya. Azka terkekeh seorang diri. Menyantap semangkuk bakso pun harus berkunjung ke kebun binatang? Mayranya memang semenggemaskan itu. Tak terasa, Azka sudah sampai pada kios tujuannya.


"Air mineral dingin dua ya, Bu," Pinta Azka sambil merogoh dompet pada saku belakang celananya.


Di samping Azka berdiri, ada dua orang wanita yang saling melirikkan matanya memberi kode. Azka dengar bisik-bisik mereka menyebut nama Mayra walau samar. Namun dia tak peduli, Azka tak mengenal mereka.


"Em, maaf...," Tukas salah satu wanita berkaos hitam itu menyapa.


"Ya??" Azka menjawab sambil menerima keresek putih berisi dua botol minum yang dipesannya.


"Maaf, Mas suami Mayra kan?" Tanya wanita itu langsung. "Dari sini tadi saya lihat masnya bertigaan di depan gajah dengan Mayra," lanjutnya.


"Iya benar. Maaf, mbaknya teman istri saya?" Azka kini berdiri menghadap kedua wanita itu.


"Bukan mas. Yaa cuma sekedar tahu saja, bukan teman," jawab wanita itu menekankan dua kata terakhirnya. "Lagipula, saya dan Mas kan pernah bertemu dulu, ingat?"


Azka mendelik. Dia mengingat-ingat wajah wanita di depannya. Tapi dia sama sekali tidak mengingatnya. Azka terlalu banyak bertemu pasien baru setiap harinya, otaknya tidak terlalu menangkap hal-hal yang kurang berpengaruh dalam hidupnya.


"Maaf saya lupa. Mbak pasien saya?" Tanya Azka menebak-nebak.


"Oooh, Masnya dokter?" Wanita yang ditanyanya malah balik bertanya.


"Suami ganteng begini, dokter pula, kurang apa coba?" Wanita berkaos hitam itu sengaja bertanya pada teman di sebelahnya dengan nada yang dibuat-buat.


Azka sudah paham ada yang tidak beres dengan situasi saat itu. Tak ingin berlama-lama di sana, Azka hendak pamit. Namun niat Azka tertahan saat wanita berkaos hitam itu mengatakan sesuatu pada Azka.


"Kamu mungkin lupa dengan saya. Saya tunangan Sandu. Kita pernah bertemu di parkiran restoran. Kenalkan, saya Risa," Ucap wanita berkaos hitam sambil mengulurkan tangannya.


Azka menyambutnya sebentar lalu melepasnya lagi. Dia sekarang sudah ingat.


"Oh iya Sandu, teman SMA Mayra kan?"


"Teman? Hahahaha." Risa terbahak. "Kok teman sih? Mayra hanya memberitahumu itu?"


Azka paham maksud ucapan Risa. Namun dia tidak ingin salah paham pada istrinya. Jadi Azka memutuskan untuk tetap tinggal di sana sampai kejelasan tentang Sandu ia dapat dari wanita di depannya yang masih belum menghabiskan tawanya.


"Istri kamu itu lucu ya? Mengapa tidak jujur saja? Sandu itu, mantan dia yang belum bisa dilupakannya," lanjut Risa masih dengan nada tawanya, sengaja memutar balikkan fakta.


Risa dengan Lina memang sudah berencana akan menghancurkan Mayra dengan cara yang mereka susun. Namun selama ini Linalah yang lebih banyak bergerak. Dan sangat kebetulan bagi Risa karena siang itu dia bisa bertemu dengan suami Mayra langsung. Setidaknya dia bisa satu langkah lebih cepat menyelesaikan misinya.


"Hati-hati kamu, Mas. Licik istri kamu tuh," Risa masih tertawa, yang dibuat-buat.


"Kamu tidak suka Mayra?" Ucap Azka langsung menjurus ke inti.


Risa langsung terdiam, dia gelagapan. Namun tak sempat menjawab, Azka sudah pamit undur diri. Azka berjalan menjauhi dua wanita tadi. Penyakit, pikirnya.


Sampai pada Mayra, Azka duduk lesehan pada batako yang membelakangi Mayra. Ia teguk minumannya sampai habis setengah. Dua wanita di seberangnya kini sudah menghilang. Azka mengatur pikiran kalut dalam kepalanya. Mengapa akhir-akhir ini jadi banyak wanita yang melapor ini itu padanya tentang istrinya?


"Yank? Jangan duduk di situ dong! Kita sewa tikar saja yuk sekalian Anggun makan," Ajak Mayra menyentuh bahu suaminya. Azka mengangguk. Diambil alihnya Anggun lalu berjalan menuju lahan rumput di bawah pohon rindang.


Mayra tidak tahu bahwa suaminya tadi didatangi oleh Risa. Dia terlalu asik menunjukkan pada Anggun tentang gajah yang sedari tadi tidak mengubah posisinya menghadap dirinya dan Anggun. Kini Mayra sedang fokus menyuapi Anggun bubur daging cincang masakan bi Marni pagi tadi. Sementara Azka masih terpikirkan omongan Risa. Tapi dia yakin, Mayranya tidak seperti yang Risa katakan. Karena Mayranya, jelas sedang tergoda dengan lelaki selain Sandu sekarang.


***


Lina hari ini masih belum masuk. Wanita di Griya kini hanya ada Mayra dan Wuni. Keduanya sedang menunggu makan siangnya di Warung Lontong. Warung yang biasanya ramai, siang itu lumayan sepi. Hanya ada empat pelanggan yang memenuhi meja. Sekarang jadi lima, karena tak lama, Rendra datang langsung bergabung di meja Mayra tanpa izin.


"Lapar Wun?" Tanya Rendra pada Wuni yang sedang mengunyah emping kesukaannya.


"Doyan saja ini mah, huh!" Wuni menjawab sambil ingin melempar satu emping pada lelaki di sampingnya. "Eh itu muka sudah mulus lagi ya? Pakai skincare kamu?" Wuni memerhatikan wajah Rendra yang sudah terlepas dari lebam. Padahal kemarin masih ada.


"Hahaha, skincare? Iya deh iya," Jawab Rendra ikut membuka satu bungkus emping yang sudah tersedia pada toples besar di depannya.


Mayra hanya diam, dia belum merespon apa-apa sejak tahu Rendra datang tadi. Sesekali Mayra sengaja membuka ponselnya yang tidak ada apa-apanya itu. Dia sudah bertekad untuk menjaga jarak dengan lelaki di depannya.


"Lagian kurang kerjaan sih pakai tonjok-tonjokan segala!" Wuni nyerocos. Ucapannya berhasil membuat Mayra mendongak.


"Tonjok-tonjokan?" Mayra akhirnya buka suara. Wuni mengangguk. "Kamu Ren? Dengan siapa?" Mayra akhirnya tetap saja tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.


"Sudahlah lupakan. Tuh pesanan datang, kita makan dulu." Ajak Rendra sambil tersenyum menenangkan. Dia tidak ingin sampai Mayra tahu bahwa suaminya datang padanya malam kemarin.


Datangnya makanan sungguh menyelamatkan Rendra dari mulut Wuni yang tadi siap menjawab. Jika Wuni mengatakan Rendra berkelahi dengan Rizal, Mayra pasti tidak akan semudah itu percaya seperti Wuni hari kemarin. Dan Rendra belum menyiapkan jawaban yang bagus untuk itu.


"Makaaaan!!" Wuni semangat mengangkat sendok dan garpu di tangannya lalu menyantap soto bening dengan nasi satu piring yang dia pesan.


Sementara Mayra masih diam. Soto kuah yang mengepul di depannya belum tersentuh. Dia menatap Rendra, menelisik tiap inci wajahnya. Dan ya, masih ada setitik lebam biru di dekat bibirnya.


***


Rendra duduk di kursi dapur dengan satu gelas kopi di tangannya. Dia sengaja belum pulang karena tahu bahwa Mayra butuh bicara dengannya. Walau wanita itu tidak mengatakannya secara langsung, namun tatapannya di WL tadi sudah cukup menandakan bahwa wanita itu butuh penjelasan darinya.


Dan memang benar, saat semua karyawan pulang, Mayra dan Rendra sama-sama memilih bertahan di Griya.


"Sok jagoan kamu pakai berantem segala?" Mayra yang baru datang langsung duduk di hadapan Rendra.


Griya sudah sepi. Walau letaknya di pinggir jalan raya, namun area taman Griya lumayan luas. Sehingga dari dalam, suara deru kendaraan sudah tidak lagi terdengar. Kecuali suara motor-motor yang knalpotnya sudah dipangkas sampai berbunyi brebet-brebet.


"Berantem dengan siapa?" Mayra menyecari lelaki di hadapannya.


"Kemarin sih saya bilang pada Wuni kalau saya berantem dengan Rizal," jawab Rendra singkat.


"Cih!!" Mayra terkekeh.


Rendra tersenyum. Dia sudah hapal dengan sikap dan sifat wanita di depannya. Wanita di depannya tidak akan mudah percaya dengan segala macam informasi yang tidak dilihatnya sendiri. Apalagi itu tentang dirinya.


Rendra menyesap kopinya perlahan. Ada keheningan untuk beberapa saat di sana. Keduanya saling menunggu siapa yang akan berbicara lagi lebih dulu.


"Tidak usah khawatir, saya tidak apa-apa kok." Rendra langsung memberi kesimpulan yang langsung dibalas Mayra dengan tawa.


"Kamu pikir saya khawatir?" Mayra menyeringai. Rendra mengangguk. Mayra menggeleng. Gelengan yang jelas sangat terbaca kebohongannya.


"Oke, anggap saja kamu tidak khawatir. Tidak apa-apa. Tapi, kalau mulut susah mengaku, setidaknya ada mata yang bisa saya baca," ucap Rendra akhirnya membuat Mayra tertegun.


Mayra mengembus napasnya pelan. Rendra pandangi wajah wanita di depannya lekat. Dia sungguh cinta dengan wanita bermata indah itu. Rendra tersenyum.


"Pesan saya kemarin tidak kamu balas, mengapa?" Rendra malah membahas hal lain.


"Pesan yang mana?"


"Hm, ini benar lupa atau pura-pura lupa?" Nada Rendra menggoda.


"Pesan yang mana sih?"


Rendra terkekeh. Ia menebak Mayra ingin mendengar isi pesan itu langsung darinya. Walau sebenarnya Mayra memang lupa, lebih tepatnya tidak tahu. Mayra tidak tahu ada pesan dari Rendra kemarin. Pesan itu belum dibacanya.


"Oke. Berhubung pesan saya kemarin belum kamu balas, jadi saya minta kamu balas pesan itu sekarang ya!"


Mayra memicingkan matanya. "Apa?"


"I love you!"