
Mayra memarkirkan mobilnya pada lahan parkiran cafe Kopikita. Dia benar-benar penasaran ingin mencicipi kopi racikan cafe itu yang katanya enak. Namun malam itu dia datang seorang diri karena Azka katanya baru pulang nanti jam sembilanan. Untuk itu Mayra berinisiatif untuk membelikannya dulu kopi untuk kemudian diminum bersama saat suaminya sudah di rumah.
Mayra berjalan memasuki cafe sambil melihat-lihat sekeliling. 'Nyaman juga', batinnya. Tak lama, dia sudah sampai di depan meja kasir.
"Selamat malam, Kakak. Ada yang bisa kami bantu?" Sapa seorang gadis berambut panjang ramah. Dia tersenyum manis sekali. Rambut hitam panjangnya ia ikat menjadi satu ke atas agar lebih terlihat rapi dalam menyambut pelanggan. Celemek berwarna krem bertuliskan Kopikita yang ia pakai tak bisa menutupi kecantikannya.
Mayra tertegun sejenak. Wanita di depannya sungguh ayu. Gadis itu tersenyum lagi.
"Mm, boleh minta menunya, Mbak?" Tanya Mayra ramah sambil balas tersenyum.
"Boleh, Kakak. Sebentar!" Gadis itu merogoh kolong bawah mejanya untuk mengambil buku menu. Setelah di dapat ia segera menyerahkan buku itu pada pelanggannya.
Mayra menerima buku itu dan membuka-bukanya seksama. Dia baca deretan menu itu satu persatu. Sepertinya semuanya enak.
"Mbak, di sini yang best seller apa, ya?" Mayra bingung memilih menu yang terlalu banyak pada buku yang dipegangnya itu. Dia akhirnya memilih untuk menyerahkan semua pilihannya pada pelayan di depannya.
"Di sini yang best seller banyak, Kakak. Hanya saja yang paling best seller ada kopi original, bisa hot atau ice. Mau coba, Kak?" Tawar si pelayan sambil tetap melingkarkan senyumnya.
Mayra balas tersenyum. Dia benar-benar kagum dengan kemanisan wanita muda di depannya itu. Kalau saja dia lelaki, mungkin dia akan langsung jatuh hati pada si pelayan cantik itu.
"Boleh deh. Aku mau dua yang original ya. Satu hot, satu ice, daaaan...," ucapan Mayra terputus. Dia mengalihkan pandangannya pada buku menu di depannya lagi. Dia memililih lagi menu yang ingin dicobanya. "Hm, satu lagi aku minta mint ya, hot! Oh iya aku take a way ya, Mbak." Pinta Mayra sambil menutup buku menu dan menyerahkannya kembali pada si pelayan.
"Oke, Kakak. Ditunggu ya!" Si pelayan mencatat pesanan pelanggannya pada kertas kecil kemudian berteriak pada karyawan dapur di belakangnya. "Tiga ya, bungkus!!"
Sekat antara ruang kasir dan dapur hanya terbatasi tembok yang di tengahnya terdapat lubang berbentuk persegi dengan ukuran 1x0,5m untuk pegawai dapur memberikan pesanan pada kasir khusus untuk pelanggan yang pesanannya di bawa pulang.
Kendati sudah dipersilakan duduk di meja pengunjung, Mayra lebih memilih untuk tetap berdiri di depan kasir menanti pesanannya. Sambil berdiri, mata Mayra masih asik berkeliling menikmati panorama yang disajikan Kopikita. Sesekali kepalanya manggut-manggut ikut menikmati alunan lagu yang dibawakan oleh pemain band yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Mbak, cafe ini tutup jam berapa, ya?" Tanya Mayra pada si pelayan cantik yang juga masih berada di belakang meja kasir.
"Tergantung sih, Kak. Tapi biasanya jam 11 sudah tutup," jawab si pelayan masih dengan senyum manisnya. Mayra manggut-manggut mengerti.
Sedang asik Mayra menikmati musik sambil matanya tak lepas dari para pemain band, tiba-tia datang seorang wanita yang juga hendak memesan kopi tanpa dia tahu.
"Permisi!! Jangan menghalangi JALLANG, dong!!" Ucap wanita itu ketus menekankan kata 'jallang' sambil sengaja menabrakkan diri pada badan Mayra.
Si pelayan cantik memerhatikan kejadian di depannya seksama. Dia tahu konsumen wanita yang baru datang itu punya maksud yang tidak baik pada si pemesan tiga cup kopi.
Mayra yang merasa dirinya disenggol, segera mengalihkan matanya pada si pemilik suara. Risa??
Mayra tidak menyangka jika malam itu dirinya akan bertemu dengan Risa. Dan tadi, wanita berambut pendek itu yakin bahwa dia tidak salah dengar, Risa sudah mengucapkan kata 'jallang' untuknya.
Mayra menghela napas pelan. Dia berusaha mengatur dirinya agar jangan sampai tersulut emosi. Mayra hanya diam tak merespon dan sengaja mengalihkan lagi pandangannya pada penyanyi laki-laki yang saat itu sedang menyanyikan lagu 'You're the Reason_Calum Scott'. Suara penyanyi itu sangat sopan masuk ke telinganya. Sejenak Mayra telah melupakan Risa. Dia lebih memilih menikmati alunan musik yang benar-benar memanjakan telinganya itu. Sampai beberapa saat kemudian si pelayan cantik memanggil dirinya.
"Kak, kopinya sudah siap," Ucap si pelayan menenteng satu plastik berisi kopi pesanan Mayra.
"Oh, iya. Berapa semuanya, Mbak?" Mayra mengulurkan tangannya bersiap menerima kopinya. Namun,
Satu kantong plastik berisi tiga cup kopi itu jatuh dan tumpah tersenggol tangan Risa yang tiba-tiba menjulur.
"Ops, maaf. Aku tidak sengaja," ucap Risa sok merasa bersalah. Raut wajahnya sengaja dia buat-buat seolah iba.
Mayra mendengus kesal. Si pelayan cantik segera berputar arah dan berlari menuju dua pelanggannya.
"Ya ampun, maaf Kak. Nanti kami ganti kopi kakak dengan yang baru, ya," sergah si pelayan cantik menengahi. Dia sudah bisa menebak bahwa ada sesuatu yang tidak beres di antara dua pelanggannya itu.
"Tidak usah, Mbak, tidak apa-apa. Biar aku pesan lagi saja, tiga cup seperti tadi, ya. Cepat ya, Mbak!" Pinta Mayra sambil menyentuh pundak si pelayan mengisyaratkan padanya agar cepat berlalu. Si pelayan menurut.
Kini hanya ada Mayra dan Risa di sana. Mayra menatap manik mata wanita di depannya tajam. Dia sungguh tidak mengerti mengapa wanita dewasa seumuran Risa bisa bersikap kekanak-kanakan seperti tadi.
"Kamu sehat??!!" Tanya Mayra bermajas sambil berusaha menahan emosinya. Bagaimana pun juga dia pun wanita yang bisa saja meledakkan amarahnya jika terus-terusan disulut.
"Sehat wal afiat, alhamdulillah," jawab Risa sok tidak mengerti maksud dari ucapan wanita yang sangat dibencinya itu.
"Saya tidak punya urusan dengan kamu ya! Jadi tolong, kamu tidak usah cari-cari urusan dengan saya!" Tukas Mayra setengah berbisik namun dengan nada tegas.
Risa terkekeh. Dia melipat kedua tangan pada dadanya. Dia balik menatap mata Mayra tajam.
"Kalau kamu ingin dicintai semua orang, terlebih Sandu, bukan begini caranya!" Mayra masih memegang kendali pembicaraan hingga si pelayan cantik datang dan memberikan pesanan Mayra.
"Ini, Mbak."
"Berapa semuanya, Mbak?" Mayra menerima pesanannya dan membuka dompetnya. Si pelayan menyebutkan nominal untuk tiga cup kopi. Namun Mayra segera membayarnya dengan jumlah dua kali lipatnya. Bagaimana pun juga kopi yang tadi terjatuh adalah kopinya. Dan dia merasa bertanggung jawab untuk membayar semua itu.
"Terimakasih, ya Mbak," ucap Mayra lagi sambil berlalu.
Sementara Risa masih berdiri di tempatnya dengan masih melipat kedua tangan di dadanya. Dia terngiang ucapan Mayra tadi yang benar-benar menusuk ke hatinya. 'Kalau kamu ingin dicintai Sandu, bukan begini caranya'.
"Cih, dasar wanita sialan!!" Umpat Risa dalam hati sambil masih memerhatikan langkah Mayra yang menjauh.
Sementara dari balik meja kasir, si pelayan cantik yang tak lain adalah Raras juga ikut memerhatikan pelanggan yang sudah membuat onar di cafe kakaknya itu. Dia sebenarnya geram. Namun bagaimana pun juga dia harus tetap bersikap ramah pada semua pelanggannya.
"Mau pesan apa, Kak?"
🍃
LIKE, KOMEN, dan VOTE teman-teman aku tunggu yaa 🤗 Bantu "MAHMUD" agar terus masuk dalam ranking 😍
Terimakasih semua 😘
Oh iya maaf di atas ada typo 'Jallang'. Sengaja yaa biar gak kena sensor 😅✌