MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Rencana Dokter Muda



"May??"


Lina terperanjat bukan kepalang saat kaki wanita bersepatu putih dengan kaos oblong dan celana jeans memasuki Griya dan berhenti di tengah pintu. Wanita itu tersenyum menyapa sambil melambaikan tangannya. Namun Lina yang berada di belakang komputer mematung, mulutnya membulat tak percaya. Beberapa detik kemudian dia menggelengkan kepalanya dan berjalan menyambut Mayra yang masih berdiri di tempatnya.


"Kamu serius datang ke sini?" Lina meraih bahu Mayra dan membimbingnya duduk pada sofa.


Mayra terkekeh.


"Memangnya kenapa kalau aku datang ke sini?" Mayra meletakkan tas selempang mini yang dipakainya di atas meja.


"Yaaa tidak apa-apa, sih." Lina menggaruk pelipisnya. "Tapi maksudku, kamu sudah makan?"


"Hahahahaaa." Mayra tertawa. Teman di sampingnya terlihat kikuk. Pertanyaannya pun jelas sekali asal bicara.


Mayra paham jika Lina tentu masih menghawatirkan kondisinya. Kedatangannya pagi itu ke Griya pun benar-benar tidak direncanakannya. Mayra masih ingin bermalas-malasan di kamarnya dengan perasaan rindunya pada Anggun. Namun pagi-pagi buta tadi Azka membangunkannya dan memintanya untuk mandi, sarapan _ lontong sayur yang dibelinya dari kedai depan kompleks, membantunya bersiap-siap dandan cantik dan kemudian mengantarkannya ke Griya. Azka ingin istrinya melepaskan semua beban di hatinya, dan salah satu caranya adalah dengan keluar dari rumah dan berkumpul dengan teman-temannya. Walau di Griya ada Rendra, namun Azka sengaja mengabaikan itu. Yang terpenting baginya adalah Mayra kembali menjadi Mayranya yang dulu. Wanita yang ceria dan penuh semangat.


"Aku sudah makan, sudah minum, sudah mandi, sudah pakai lipstik, daaaan sudah apalagi, yaa?" Mayra sok berpikir, melirik Lina yang masih terbengong-bengong. "Aku sudah baik-baik saja, Lin." Mayra meletakkan kedua tangannya pada bahu Lina. Meyakinkan temannya itu bahwa dia memang baik-baik saja.


"Azka bagaimana?" Lina menghawatirkan hubungan Mayra dengan suaminya jika menyangkut Rendra. Dan di Griya jelas ada Rendra.


Kemarin pun saat anak-anak Griya berkunjung ke rumah Mayra, sebenarnya Lina sudah melarang Rendra yang meminta ikut. Namun lelaki itu kukuh. Dia memohon ikut untuk bisa melihat kondisi Mayra secara langsung. Setelah perdebatan panjang, akhirnya Lina mengalah dengan syatat : jika di halaman rumah Mayra ada mobil Azka, maka Rendra harus putar balik, dan dia setuju. Dan rupanya keadaan sedang memihak pada lelaki tengil itu, mobil Azka tak terlihat. Niat hatinya untuk melihat Mayra akhirnya terpenuhi.


"Azka aman. Tadi kan dia juga yang antar aku kesini."


Lina lagi-lagi melongo, dan menggelengkan kepalanya pelan. Dia benar-benar tidak mengerti dengan pikiran suami temannya itu. Sebenarnya beberapa waktu lalu, tanpa Mayra tahu, Azka pernah menelepon Lina dan memintanya untuk membantu menjaga Mayra agar jangan sampai bertemu dengan Rendra. Namun pagi ini dia malah dengan senang hati mengantarkan istrinya ke tempat yang jelas-jelas membuatnya bisa bertemu dengan Rendra.


"Assalamualaikuuuuuum." Wuni melenggang masuk dengan ucapan salamnya yang panjang. "Hah??? Mbak Mayraaaaa????"


Gadis yang pagi itu rambutnya dikuncir dua langsung berlari saat matanya menangkap Mayra yang melongok menatapnya. Wuni duduk di sebelah kiri Mayra, sementara Lina di sebelah kanannya.


"Mbak Mayra sudah sehat? Kok sudah datang ke Griya, sih?" Wuni memeluk pinggang Mayra dan bergelayut di sana.


"Sehat walafiat, dong. Mau bukti?" Mayra memicingkan matanya.


"Hahahaha, mana buktinya?"


"Kita jalan-jalan, yuk! Tapi nanti kalau pekerjaan sudah selesai."


"Ayo Mbak, ayoo!!!!!" Wuni semangat 45.


Sementara Lina hanya terkekeh menyaksikan kedua wanita di sampingnya. Lina bersyukur karena sepertinya Mayra sudah menemukan semangatnya kembali.


"Memangnya mau kemana?" Lina angkat bicara.


"Hm .. nonton yuk! Aku kangen popcorn di sana."


"Hahahahahahahaa."


Tawa Lina dan Wuni meledak bersamaan. Leader kerjanya mengajak mereka nonton rupanya karena rindu popcorn, bukan karena rindu nonton.


"Kalau sekarang saja bagaimana?"


Lelaki yang dari tadi bersembunyi dibalik pintu akhirnya menunjukkan dirinya. Ketiga wanita yang sedang asik berhaha-hihi menengok bersamaan.


"Loh, Yank? Kamu belum pergi?" Mayra bangkit dan menghampiri lelaki itu yang ternyata adalah Azka.


Azka menyenderkan dirinya pada tembok. Mayra mendampingi. Sementara Lina dan Wuni tersenyum simpul menyaksikan pemandangan di depannya. Terutama Wuni yang menatap dengan perasaan kagum. Baru kali ini dia mendapati suami leadernya itu masuk ke Griya dan berdiri tepat di hadapannya. Suami leadernya yang seorang dokter itu sungguh menawan. Badan tegap dan tinggi, wajah yang tampan, kemeja hitam yang lengannya dilipat sampai siku dengan celana hitam semakin menambah pesona lelaki itu. Wuni terkekeh, dalam benaknya berpikir, 'Rendra mah lewaaaaaat.'


"Ayo!!" Lina membuayarkan suasana yang sejenak hening beberapa saat.


"Ayo apanya? Griya siapa yang jaga?" Mayra melemparkan gulungan tisu yang dari tadi sudah berada di tangannya.


"Biar aku saja, Mbak." Anto yang baru datang langsung menawarkan diri.


Anto tahu bahwa lelaki yang berdiri di samping leadernya adalah Azka, suami Mayra. Walau belum pernah bertemu langsung, namun Anto sudah pernah beberapa kali melihat lelaki itu mengantar dan menjemput Mayra.


"Kok pada semangat bolos kerja begitu, sih? Aku kan minta kita jalan nanti pas jam pulang Griya?" Mayra menyilangkan kedua tangan di dadanya. Matanya memicing pada Azka sebagai penghasut pegawainya.


"Mayraku sayang .. hari ini kita free. Kalau mau sibuk, besok datang pagi-pagi, yaa. Kita ada pemotretan di Danau Biru." Lina ikut menyilangkan kedua tangannya.


Mata Mayra membulat, dia sangat antusias. Danau Biru. Membayangkan duduk santai di tepiannya sambil menikmati semilir angin yang menggoyangkan riak danau, membuat Mayra tak sabar ingin cepat-cepat berganti hari.


"Ayo!!" Mayra semangat.


Azka terkekeh, menatap Mayra dari sudut matanya. Dia senang istrinya itu sudah kembali bersemangat. Rupanya tebakannya benar, istrinya itu butuh udara segar untuk mengembalikan semangatnya yang pudar. Dan lagi-lagi, mata Wuni menyaksikan dengan lekat tatapan Azka pada Mayra. Dia tahu betul jika tatapan itu mengartikan cinta yang dalam. Dan Wuni ingin itu. Dia ingin lelaki seperti Azka. Lelaki yang baginya sempurna dari segi fisik, karir, dan juga hati.


"Ayo kemana? Nonton atau Danau Biru?" Ledek Lina.


Mayra gelagapan. Hatinya menjawab bahwa Danau Birulah yang membuatnya semangat. Walau Lina bertanya karena benar-benar tahu bahwa temannya itu suka Danau Biru, namun hati Mayra malah mengarah pada Rendra. Dia takut jika Azka bisa menebak isi hatinya itu.


"Nonton, dooooong," jawab Mayra kikuk.


"Ya sudah, ayo kita langsung berangkat. Kita satu mobil saja," tawar Azka akhirnya.


* *


"Dokter Azka?"


Seorang wanita berparas ayu yang baru keluar dari toilet menghentikan langkah dokter muda yang juga akan pergi ke toilet. Mereka kini berdiri di hadapan pintu toilet wanita.


"Loh, Sus, kamu di sini juga?" tanya Azka karena tidak tahu bahwa hari ini adalah hari libur asistennya. Sementara dirinya sebenarnya hari ini memiliki beberapa pasien. Namun semua pasiennya itu dia limpahkan pada temannya yang juga dokter paru.


"Iya, Dok."


Azka mengangguk. "Ya sudah, Sus. Saya ke toilet dulu, permisi, yaa."


Tanpa menunggu persetujuan suster mudanya, Azka berlalu melanjutkan langkahnya menuju toilet lelaki yang berada dalam lorong yang sama dengan toilet wanita. Azka ingat betul bahwa suster mudanya itu pernah dicemburui oleh istrinya. Untuk itu Azka sengaja tak ingin beralama-lama berbasa-basi. Namun tanpa dia tahu, sepasang mata menyaksikan dirinya berdiri berhadapan dengan seorang wanita cantik di depan toilet seolah sedang bercengkrama hangat dan akhirnya satu potret yang epik berhasil ditangkap melaui ponsel pintarnya.