
Rendra menghela napas dalam satu kali, kemudian ia langkahkan kakinya menuju mobil yang sudah ada Raras duduk di jok samping kemudinya. Wajah gadis itu masih terlihat sumringah. Namun Rendra yang sudah terlambat menjemput satu jam dari waktu yang dijanjikan jelas merasa berdosa. Apalagi keterlambatannya karena Mayra yang malam itu entah menginginkan apa darinya. Wanita itu sudah membuat Rendra panik tanpa alasan yang jelas.
Rendra duduk di samping Raras lalu menatap wajah gadis itu iba. Bagaimana pun juga Rendra sudah mengecewakannya. Ajakannya untuk menonton bioskop berdua nyatanya diingkarinya sendiri dengan mengajak Rizal. Rendra menengokkan kepalanya ke jok belakang, tempat Rizal duduk.
"Bang, keperluan kamu sudah selesai kan?" Tanya Rendra dengan perkataan yang sama sekali tidak dimengerti teman di belakangnya itu.
Rizal mendongakkan kepalanya tanda tak mengerti. Seolah dia ingin bertanya, "Apa maksudmu?"
Lalu Rendra mengedipkan matanya penuh arti. "Katamu tadi hanya menumpang sebentar sekalian jalan. Apotek yang ingin kamu datangi juga ternyata tutup kan? Jadi sekarang kamu ingin ikut kami atau aku antar pulang saja, Bang?" Tanya Rendra lagi sambil sedikit memelototkan matanya.
Rizal mendelik tajam. "Kurang ajar ini anak, ya!!" Guman Rizal dalam hati mulai mengerti arah permainan temannya.
"Loh, bang Rizal ke apotek untuk apa? Beli obat? Siapa yang sakit?" Raras bertanya khawatir sambil mengarahkan tubuhnya menghadap Rizal.
"Hehehe, hanya beli obat pusing saja, Ras. Kalau tidak cepat diobati takut stres nanti, aku," jawab Rizal sekenanya bermaksud menyindir teman di depanya.
Rendra terkekeh menyentuh hidung dengan tangan kirinya tanpa Raras tahu.
"Ya sudah kita antar bang Rizal pulang saja dulu, Ren. Kasihan dia," usul Raras kemudian masih dengan wajah khawatirnya.
"Hm, sepertinya tidak usah, Ras. Sudah malam juga. katanya kalian ingin nonton kan? Aku nanti pesan ojek online saja. Sekalian nanti aku keliling cari apotek yang masih buka untuk beli obat stresnya," ucap Rizal menekankan kata 'stres' sambil memelotokan mata pada Rendra yang saat itu meliriknya melalui kaca spion tengah mobilnya. Rendra terkekeh lagi.
"Obat stres??" Raras bertanya bingung.
"Maksudnya obat pusing, Ras, hehe. Tuh kan karena saking pusingnya sebentar lagi aku bisa benar-benar stres ini."
Rendra terkekeh lagi. Sebenarnya dia ingin sekali tertawa, namun sengaja dia tahan agar Raras tak curiga.
"Yakin, Bang kamu ingin turun di sini?" Tanya Rendra sok khawatir.
"Iyyaa!!" Jawab Rizal gemas menekankan kedua baris giginya.
"Oke lah, Bang. Kalau itu sudah menjadi pilihan hidupmu, aku bisa apa?" Tukas Rendra sambil segera merogoh kantong belakang celananya untuk mengambil dompet di sana. Kemudian dia ambil dua lembar uang seratus ribuan dan menyerahkannya pada Rizal. "Ini, Bang. Untuk naik ojek dan beli obat stres, ya. Dompetmu tertinggal kan?"
Untung saja Rendra cepat ingat bahwa abangnya itu tidak membawa uang sama sekali saat berangkat tadi. Rizal menarik dua lembar uang itu keras. Kemudian dia segera turun untuk menuruti rencana adik gilanya itu.
***
Rendra dan Raras kini sudah berada di dalam salah satu Mall di Bandung. Keduanya berjalan beriringan layaknya orang pacaran. Dengan kedua tangan yang Raras daratkan pada tali tas slempang mininya, dia tersenyum simpul. Rupanya malam itu keinginannya untuk berduaan dengan Rendra terwujud juga.
Gadis manis yang malam itu mengenakan gaun hitam polos sebawah lutut dengan blazer brukat warna senada yang berukuran beberapa senti di atas gaunnya, membuat dirinya yang sudah ayu jadi semakin ayu. Rambut hitam panjang yang hanya ia kenakan bando kecil itu dibiarkan tergerai. Untuk sesaat Rendra kembali kagum pada kecantikan gadis di sampingnya.
"Ren?" Panggil Raras saat kedunya tengah berjalan pelan.
"Ya?" Jawab Rendra sambil menatap gadis itu.
"Kalau kita tidak usah nonton, bagaimana? Sudah malam juga soalnya," ujar Raras memberi saran. Selain karena waktu yang memang sudah malam, Raras juga ingin malam itu dia habiskan tidak hanya dengan duduk anteng menatap layar bioskop tanpa perbincangan apa pun. Yang gadis itu inginkan adalah duduk berdua, berhadapan dengan Rendra sambil membicarakan hal apa saja walau tidak penting sekali pun.
"Hm, benar juga sih. Terus sekarang kita enaknya kemana? Makan?" Tanya Rendra menghentikan langkahnya sejenak.
"Boleh! Aku tahu satu resto yang wajib kamu coba. Aku jamin nanti kamu pasti langsung suka. Yuk!!" Ajak Raras semangat, Rendra tersenyum simpul lalu mengangangguk.
Keduanya berjalan menuju resto yang Raras tunjuk. Walau waktu sudah menunjukkan pukul 9 lewat, namun hiruk pikuk di dalam Mall masih sangat ramai. Tak lama, mereka sampai di depan sebuah resto dengan nuansa merah berpadu hitam. Di atas pintu masuk resto tersebut menggantung satu potongan kayu pipih melingkar bertuliskan 'Wilujeng Sumping'.
Raras mengangguk semangat. Sedari tadi senyum manis tak pernah lepas dari bibir gadis ayu yang sedang senang hatinya itu.
"Yuk!!" Ajak Raras antusias.
Rendra hanya mampu terkekeh sambil menganggukkan kepalanya lembut. Karena sebenarnya resto rekomendasi Raras adalah tempat yang lumayan sering dia datangi juga. Semua makanan di sana memang sangat memanjakan lidah.
Baru saja Rendra dan Raras hendak memasuki resto, langkah lelaki tampan itu mendadak berhenti saat matanya menangkap seorang wanita yang di kenalnya tengah berjalan menuju pintu keluar dengan kepala menunduk.
"Rendra?" Soloroh wanita itu seolah tak percaya bahwa di depannya sudah berdiri seorang lelaki yang di kenalnya.
"Hai, Lin. Kamu sendiri?" Tanya Rendra berusaha menutupi rasa canggungnya sambil celingukan mencari orang yang mungkin datang bersama teman wanitanya itu, Lina.
Selain karena sudah beberapa waktu ini Rendra tidak bertemu Lina, alasan lain yang membuat dirinya canggung yaitu karena dia harus bertemu Lina saat dirinya tengah jalan berduaan dengan seorang gadis.
Dan benar saja, saat tahu bahwa yang berdiri di samping Rendra adalah seorang gadis ayu, mata Lina mendelik seolah menyelidik.
"Iya, aku sendiri," jawab Lina seadanya dengan ekspresi mukanya yang datar. "Kamu kemari bersama dia?" Tanya Lina menunjuk Raras dengan jarinya.
"Iya," jawab Rendra singkat.
Menyadari bahwa dirinya sedang menjadi sorotan, Raras segera tersenyum ramah pada Lina dan sedikit menundukkan kepalanya menyapa. Namun Lina masih bertahan dengan wajah datarnya.
"Ya sudah, aku langsung permisi, ya," Ucap Lina sambil berlalu meninggalkan Rendra dengan gadisnya.
Rendra menatap wajah Raras yang keheranan. Dia yakin gadis di sampingnya pasti bertanya-tanya, 'Siapa wanita itu?'
Kini Rendra dan Raras sudah duduk berhadapan menanti makanan yang sudah mereka pesan tadi. Untuk sesaat hening. Keduanya sama-sama bungkam. Rendra sudah bisa menebak bahwa gadis di depannya itu sudah salah paham.
"Yang tadi itu pacarmu?" Tanya Raras akhirnya. Sedari tadi dia sudah menahan rasa keingintahuannya itu.
"Bukan," Jawab Rendra singkat sambil menggelengkan kepalanya menatap mata gadis di depannya. "Kan kamu sudah tahu sekarang aku tidak punya pacar."
"Mantan?" Tebak Raras lagi makin penasaran.
"Bukan juga."
"Terus?"
"Teman kerja."
"Oooh," ucap Raras sedikit lega. "Tapi dia suka kamu ya? Buktinya tadi sepertinya dia tidak suka melihatku bersamamu," tebak Raras sangat percaya diri. Lina tadi memang sama sekali tidak membalas sapaannya.
"Ya wajar kan? Kalau dia suka kamu, malah jadi bahaya nanti, masa jeruk makan jeruk?" jawab Rendra sengaja nyeleneh agar gadis di depannya tidak bertanya hal yang aneh-aneh lagi.
"Ih kamu tuh ya!!" Protes Raras dengan wajah yang memerah menahan gemas. Rendra terkekeh.
KLING.
Satu pesan dengan nama pengirim Mayra masuk ke dalam ponsel Rendra.
📩 Ren??