
Hola hai teman-teman 😍
Maaf Bebee baru hadir lagi. Maklum manusia, butuh waktu untuk semedi sebentar, wekekeke.
Selamat membaca yaa.
Enjoy!
🌸
"Oke ya? Setuju?" Mayra bertanya pada teman-temannya sebelum ia meresmikan keputusan finalnya.
Hari itu sedang diadakan rapat santai di Griya selepas makan siang. Wanita berlesung pipit sebagai pimpinan mengusulkan satu program baru yaitu 'GCMS_Griya Cantika Mendukung SAH', yang oleh teman-temannya singkatan itu dilafalkan dengan sebutan 'GEMES'.
Program itu diadakan untuk membantu para pasangan yang ingin menikah dengan riasan cantik namun memiliki keterbatasan dana. GEMES diutamakan untuk mereka para calon pengantin yang kurang mampu. Mereka cukup membayar biaya untuk segala keperluan dokumentasinya saja. Karena di sana membutuhkan banyak kertas untuk mencetak foto-fotonya nanti. Sementara dekorasi, baju, dan riasan, semuanya gratis.
"Setujuuu!" Anggota Griya menjawab berbarengan, tak terkecuali Lina.
Walau saat di kedai ramen kemarin mereka_Lina dan Mayra beradu mulut sengit, namun Mayra sudah melupakan itu. Hari-hari selanjutnya dilalui seperti biasanya. Mayra sudah memaafkan mulut pedas Lina walau temannya itu belum meminta maaf. Baginya, yang terpenting Lina masih bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Perihal masalah kemarin, Mayra anggap semuanya sebagai angin lewat saja.
Sementara dari tempatnya duduk, Rendra tersenyum simpul. Ia bangga dengan wanitanya. Baginya, Mayra tidak hanya cantik dan cerdas, ia juga punya hati yang baik.
Wanitanya?
Ya, setidaknya begitulah Rendra menyebut Mayra untuk dirinya.
***
"Ehem." Rendra berdehem menyapa wanita berambut pendek yang saat itu sedang asik memainkan ponselnya.
"Eh, Ren. Ada apa?" Mayra membenarkan posisi duduknya yang saat itu sedang bersender malas pada sofa.
"Mmmm..."
"Pulang yuk, Ren. Antar aku ya." Lina datang menyerobot lengan Rendra yang belum sempat menyelesaikan kalimatnya pada Mayra.
Mayra menggaruk telinganya yang tidak gatal. Dia tidak nyaman dengan pemandangan di depannya. Lina dengan erat menggandeng lengan Rendra.
"Ayo! Kamu mau pulang kan? Aku ikuuut." Lina berkata lagi memanja. Ia tidak peduli dengan ekspresi lelaki yang ia tarik-tarik lengannya itu yang mengartikan bahwa dia tidak mau.
Lina memang sengaja melakukan itu. Kemarin dia sudah berjanji pada dirinya untuk bersikap berani. Mulai saat itu dialah yang akan mengambil kendali atas Rendra. Mayra yang sudah bersuami saja berani, mengapa dia tidak? Begitulah kira-kira yang Lina pikirkan.
"May, tidak apa-apa kan aku bawa Rendra?" Suara Lina sengaja dibuat-buat.
"Hehehe." Mayra menyeringai bingung. "Tidak apa dooong. Hati-hati ya kalian." Mayra bingung dengan sikap temannya akhir-akhir ini. Kemarin dia marah-marah, sekarang malah ketengilan. Apa pun itu, Mayra tidak menyimpan marah padanya.
Rendra yang juga bingung harus bagaimana, hanya menuruti omongan Lina. Ia berjalan keluar Griya dengan lengannya yang masih di gandeng Lina.
"Ayo!" Ucap Lina saat keduanya sudah berada di dalam mobil Rendra.
Rendra hanya mengangguk untuk kemudian melajukan mobilnya.
Dulu, hanya diajak makan di warung depan saja hati Lina sudah berdebar. Sekarang, malah dia yang dengan santai mengajak lelaki yang ditaksirnya itu untuk mengantarkannya pulang.
"Kita mampir dulu yuk, Ren di cafe depan. Aku yang traktir deh." Lina menawarkan dengan semangat.
"Waduh, saya sudah ada janji, Lin," jawab Rendra seadanya. Walau janjinya hanya unuk pulang cepat pada teman serumahnya, Rizal, tapi janji tetaplah janji. Sesepele apa pun itu.
"Janji sama siapa? Hayoo pacar kamu ya?" Lina sok-sokan tidak tahu.
Rendra mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan wanita di sampingnya. Bukannya Lina sudah tahu tentang perasaannya pada Mayra?
"Hehe, bukan. Saya tidak punya pacar."
"Wah, kebetulan. Aku juga tidak punya pacar, hehe." Lina menyeringai menunjukkan sebaris giginya. Rendra bertambah bingung harus bagaimana. Wanita di sampingnya sudah terang-terangan memberinya kode.
"Eh rumah kamu dimana, Lin. Aku belum tahu." Rendra mengalihkan pembicaraan meminta Lina menunjukkan arah rumahnya.
"Pulang ke rumahmu saja dulu, yuk!" Lina makin mengada-ada.
"Loh kenapa jadi rumahku?"
"Ingin mampir saja. Boleh kan?"
'Mayra saja bisa main di rumahmu sampai malam. Masa aku tidak?' Lina membatin.
Rendra bingung harus bagaimana lagi. Dia akhirnya menuruti keinginan teman wanitanya itu. Ia jalankan mobilnya menuju rumahnya.
***
Sementara itu di Griya, Mayra sedang bersiap-siap akan pulang. Di sana masih ada Wuni yang juga sedang merapikan isi tasnya.
"Mbak Lina pulang dengan Rendra ya, Mbak?" Wuni bertanya sambil merapikan album-album yang berceceran di meja tamu.
"Mbak Mayra tidak apa-apa?"
Mayra memicingkan matanya mendengar pertanyaan Wuni. Melihat ekspresi orang yang ditanyanya, Wuni meringis. Ia sadar sudah keceplosan bicara.
"Hehehe. Maaf, Mbak. Waktu di kedai ramen kemarin, aku tidak sengaja lihat mbak Mayra dengan Rendra di parkiran." Wuni menjelaskan tanpa ditanya. Dia takut Mayra berpikiran yang tidak-tidak.
"Oh... Ya sudah lupakan. Ayo pulang!"
Mayra tak ambil pusing. Keduanya keluar Griya bersamaan. Mayra berbaik hati untuk mengantar anak bungsu Griyanya itu walau arah rumah mereka berlawanan.
"Wun, kamu nanti jangan suka ceplas-ceplos soal Rendra ya di depan Lina." Mayra berbicara saat mereka dalam perjalanan, matanya tetap menghadap jalan.
"Memangnya mengapa, Mbak?"
Wuni yang memang belum tahu tentang perasaan Lina pada Rendra bertanya penasaran. Gadis itu memang sudah berumur 24 tahun, namun sikap dan sifatnya masih terbilang polos. Untuk seukuran Lina yang selalu salah tingkah jika ada Rendra mendekat pun Wuni tidak peka.
"Lina menyukai Rendra." Mayra masih fokus dengan jalanan di depannya.
"Hah???" Wuni menutup mulutnya, kemudian memukul kepalanya pelan. Ia sadar dirinya sudah salah bicara selama ini. Dia sudah dengan bebas memberitahu pada Lina bahwa Rendra menyukai Mayra. Juga bahwa dia akan menggaet Rendra, yaa walau hanya bercanda. Tapi setidaknya semua perkataannya itu sungguh menyebalkan.
Namun berkat hari itu Wuni akhirnya setuju, bahwa teman fotografernya itu memang agak sinting. Dia menyukai Mayra yang sudah jelas bersuami, sementara mengabaikan Lina yang masih perawan tingting. Dan poin pentingnya, dia juga tak kalah cantik dari ibu satu anak itu.
***
Lina kini tengah berada di rumah Rendra. Dia duduk di kursi teras ditemani Rizal. Sementara Rendra izin ingin membersihkan badan dulu. Padahal di dalam sana, dia masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya yang lelah. Dia mengambil ponsel dan menelepon seseorang.
📞 "Hai, sudah di rumah?" Rendra bertanya saat orang di seberang sudah mengucapkan 'Halo'
📞 "Belum, masih di jalan, nih. Aku mengantar Wuni dulu tadi."
📞 "Oh."
📞 "Kamu sudah mengantar Lina?"
📞 "Belum."
📞 "Kok belum? Kamu menurunkannya di jalan?" Tebak Mayra asal.
📞 "Hahaha. Tadinya sih ingin begitu?"
📞 "Hahahaha."
Bersama Rendra, Mayra selalu punya bahan untuk ditertawakan, sekecil apa pun itu.
📞 "Hati-hati nyetirnya!" Rendra memperingatkan.
📞 "Iya."
📞 "Kamu mau kesini?"
📞 "Kemana?"
📞 "Rumahku. Ada Lina di sini."
📞 "Lina?" Mayra ingin meyakinkan pendengarannya.
📞 "Iya. Mau ngapel katanya."
📞 "Ish."
📞 "Cemburu dooong!" Pinta Rendra menggoda.
📞 "Ini anak yaa!!"
📞 "Hahaha. Ya sudah, aku mandi dulu. Biar ganteng."
Di balik kemudi, Mayra mendengus sebal. Rupanya temannya itu sudah mulai berani. Padahal sebelumnya Lina hanya menyukai Rendra secara diam-diam.
Ya, andai Mayra masih sendiri. Mungkin kisah ini akan menjadi pertarungan sengit antara dua wanita cantik yang berebut hati seorang Rendra.
Sementara di luar, Lina mulai gelisah. Dia sengaja memberanikan diri untuk memaksa ikut ke rumah lelaki yang diincarnya, tapi sampai di sana dia malah berduaan dengan Rizal.
Rizal pun bingung harus bagaimana menghadapi wanita di sampingnya. Dia teringat dengan omongannya saat di pantai waktu itu. Dan dia tidak ingin kali ini salah bicara lagi.
Wuni, Rizal, keduanya sudah salah bicara di depan Lina. Tapi semua itu bukan salah mereka kan?
Semua orang memang tidak bisa menuntut orang lain untuk menjadi seperti yang dia ingini. Begitu pun dengan Lina.
Dia tidak bisa menahan mulut orang lain untuk mengatakan apa pun yang mereka mau. Pun memaksa Rendra untuk menuruti semua inginnya.
Seperti sebelum sampai di rumah Rendra tadi, Lina mengatakan bahwa dia ingin mengajak Rendra berkunjung ke rumah Mayra, malam nanti. Entah apa tujuannya.