
"Kamu serius cuma ingin berjalan keliling komplek saja, Yank?" Azka menggandeng tangan Mayra hangat. Wanita yang malam itu hanya mengenakan celana training hitam dengan sweater hoodie ungu mengangguk pelan. Matanya fokus pada jalanan aspal di depannya. Daun-daun dari pohon yang tumbuh di pinggiran jalan, berguguran di sana.
"Yakin tidak mau makan di luar saja? Mumpung kita masih belum jauh, loh." Azka masih berusaha bernegosiasi.
Saat Azka pulang dari rumah sakit selepas maghrib tadi, dia buru-buru mengendarakan mobilnya agar cepat sampai rumah untuk menagih janji istrinya yang mengajaknya makan malam di luar. Lelaki yang semakin menawan saat memakai snelli itu seharian ini girang bukan kepalang karena istri tercintanya mulai membuka dirinya lagi untuk dunia luar selepas kepergian puteri tercinta. Namun saat Azka sudah bertatap wajah dengan Mayra, istrinya itu malah hanya mengajaknya berjalan mengelilingi komplek malam-malam.
Saat itu masih pukul 19.20, keduanya berjalan beriringan menyusuri jalanan komplek yang basah karena satu jam lalu diguyur hujan walau tidak lama. Tangan kiri Azka menggandeng tangan kanan Mayra, sementara tangan kirinya menenteng payung lipat. Takut kalau-kalau hujan turun lagi. Sedia payung sebelum hujan, kan?
"Aku ingin jalan-jalan dulu, Yank. Aku rindu menghirup udara komplek perumahan kita ini. Serasa sudah lamaaaaa sekali aku tidak keluar rumah, yaa. Hehehe." Mayra menatap langit yang mulai menampakkan lagi bulan separuhnya. Kedua pasang kaki itu tetap berjalan santai menapaki langkah demi langkah. "Makan di luarnya kita pending besok-besok saja, yaa," pinta Mayra lebih kepada Azka harus setuju pada keinginannya.
"Hm, okeee."
Sepanjang perjalanan, keduanya banyak bungkam. Malam itu Azka sengaja tidak banyak bicara untuk membiarkan istrinya menikmati angin malam yang sesekali berembus kencang menggoyangkan dahan-dahan pohon bungur. Namun mata lelaki yang hanya mengenakan celana sebawah lutut dengan kaos oblong itu tak lepas memandang istrinya lekat. Mayra banyak mengelilingkan pandangannya pada pohon-pohon tepi jalan dan rumah-rumah tetangga yang pagarnya banyak tertutup itu. Benar-benar merasa dirinya sudah lama sekali tak melihat pemandangan itu.
"Kita ke taman komplek saja, ya Yank?" ajak Mayra kemudian. Azka mengangguk.
Hanya butuh waktu 12 menit menuju taman komplek dengan berjalan santai. Dan keduanya kini sudah sampai di sana. Mayra langsung menuju ayunan yang terletak di sisi kanan taman. Mayra segera duduk di salah satu ayunan, dan Azka ikut duduk pada ayunan di sampingnya. Keduanya bermain ayunan berkejaran.
Mayra tertawa kegirangan. "Seru yaa, Yank."
"Hehehe, iya, Yank." Azka terkekeh getir. Seharusnya dia tidak menyetujui usulan istrinya untuk pergi ke taman. Di sana banyak tempat bermain anak-anak. Pastilah istrinya itu akan teringat Anggun lagi. Beberapa kali Mayra memang sering pergi ke taman bersama Anggun dan bi Marni untuk menikmati waktu sore.
"Kalau ada Anggun pasti dia suka nih, Yank duduk di pangkuanku main ayunan." Kaki Mayra masih asik mengayun dirinya semakin kencang.
Azka mendelik nanar, lalu tersenyum menatap istrinya. Sementara mata Mayra, dari semenjak berjalan bergandengan menuju taman tadi, tak sekali pun tertangkap menatap wajah Azka.
"Yank??" Mayra menghentikan ayunannya. Majahnya tertunduk menatap kakinya yang hanya memakai selop karet.
"Yaa??"
"Bagaimana caraku melepaskan semua ini?" Mata Mayra masih menatap tanah di bawahnya.
"Melepas apa, Yank?" tanya Azka bingung.
"Melepas rasa bersalahku pada Anggun, Yank." Kini Mayra mulai terisak. "Anggun pasti marah padaku kan, Yank? Dia marah padaku kenapa sore itu ibunya tidak fokus menyetir. Marah padaku kenapa ibunya tidak menuruti ucapan bi Marni untuk tidak membawanya ikut dalam mobil? Iya kan, Yank?" Mayra kini menatap suaminya dengan mata yang basah.
Azka segera bangkit dari ayunannya dan berjongkok di depan Mayra. Kedua tangannya memeluk pinggang istrinya erat.
Kini Azka berlutut dan menegakkan badannya. Dipeluknya istrinya erat, tak peduli pada lututnya yang berbenturan langsung dengan tanah yang lumayan basah. Badan Mayra berguncang di sana.
"Yaaank, maafkan aku, Yaaank." Mayra menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Azka. Azka mengelus kepala istrinya lembut.
"Semuanya sudah jadi kepastian Allah sejak beribu tahun lalu, Yank. Dengan kamu atau denganku, atau dengan siapa pun, hari itu memang sudah jadi hari terakhir Anggun. Allah sudah menuliskan semuanya. Kapan manusia terlahir ke dunia, dan kapan semuanya akan kembali. Dan rupanya Allah hanya sebentar menitipkan Anggun pada kita, Yank. Dan tidak ada pilihan lain bagi kita selain ihlas." Azka berusaha menenangkan istrinya setenang mungkin. Dia paham sekali bahwa rasa bersalah masih lekat menyelimuti hati wanita tersayangnya itu.
"Yank??" Kini Mayra melepaskan kepalanya dari dekapan Azka.
Azka hanya menjawabnya dengan tatapan.
"Seberapa benci kamu padaku?"
"Astaghfirullah, Yank. Aku sam sekali tidak ada rasa benci padamu. Demi Allah aku tidak pernah sedikit pun menyalahkanmu atas kepergian Anggun. Malah sebenarnya aku bersyukur karena Allah masih memberikanku kesempatan untuk menjagamu. Dalam kecelakaan itu, kamu masih bernafas, Yank. Tandanya Allah sangat sayang padaku. Allah tahu jika aku juga kehilanganmu, entah bagaimana jadinya aku." Kini Azka yang tertunduk, pojok matanya mulai basah. Sungguh dia pun tidak bisa membayangkan jika kecelakaan itu juga merenggut nyawa belahan jiwanya itu. Mungkin dirinya pun takkan sanggup untuk bertahan hidup.
"Aku bukan istri yang baik, Yank. Bukan ibu yang baik juga. Semua yang ada pada diriku sepertinya terlalu kurang untuk kamu yang bagiku sempurna." Mayra menatap suaminya lekat.
"Tidak, Yank. Kamu juga istri yang sempurna. Rasa cintaku tumbuh begitu dalam untukmu, itu karena bagiku kamu adalah anugerah terhebat dari Allah untukku. Selama bertahun-tahun aku hidup denganmu, aku selalu bahagia. Kamu harus tahu itu." Azka menghela napasnya dalam. Di genggamnya erat tangan Mayra yang mulai dingin. Perasaannya mulai tak karuan.
Azka paham betul jika hati istrinya sedang dalam keadaan yang masih kacau balau. Kehilangan anak memang hal yang tak bisa dibayangkan bagaimana sakitnya. Apalagi jika berpikir bahwa keamtian itu disebabkan oleh kelalaian dirinya. Sungguh hal itu adalah sebenar-benar siksaan.
"Kamu jangan begini, Yank. Tolong benci aku sebentar saja." Mayra masih terisak.
Kini Azka pun mulai terisak. Di atas ayunan di bawah pohon bungur itu, satu bunga yang tertiup angin jatuh perlahan tepat di pangkuan Mayra. Taman yang hanya berisi mereka berdua itu seolah senyap, ikut mendekap sepasang suami istri yang terisak tanpa malu-malu.
"Yank??" Mayra memanggil pelan.
"Yaaa?"
"Aku ingin kamu cari istri yang lebih baik dariku, Yank!"
"Maksudmu??" Mata Azka mendelik tajam.
"Aku ingin kamu ceraikan aku."