
Rendra mengacak-acak bagian depan rambut kepalanya sambil menyenderkan dirinya pada jok mobil. Dalam hatinya dia merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia mengatakan itu??? Rendra menghembuskan napasnya keras kemudian menggigit-gigit bibirnya.
Rizal yang duduk di belakang kemudi menyaksikan tingkah temannya itu aneh. Mereka saat itu dalam perjalanan pulang dari Kopikita. Mereka baru pulang dari sana tepat saat cafe itu telah tutup. Kalau Kopikita belum tutup sampai pagi, mungkin mereka pun akan tetap tertahan di sana. Rizal memang sengaja melakukan itu agar Rendra punya banyak waktu untuk pendekatan dengan Raras.
"Kenapa kamu? Habis ciuman?" Tanya Rizal asal bicara dengan wajah bingung menyaksikan temannya yang seolah-olah frustasi.
"Astaghfirullah. Gila kamu, Bang!!" Tukas Rendra kaget dengan tebakan nyeleneh temannya itu.
"Hahahaha. Soalnya aku lihat dari tadi kamu gigit-gigit bibir melulu. Yaa barangkali saja bibirmu itu baru saja bertamu ke bibir siapaaaa begitu?" Ucap Rizal masih dengan tebakan asalnya.
"Karatan otakmu, Bang!! Besok pagi harus dicuci itu!!"
"Hahahahaha." Rizal malah tertawa terbahak.
"Besok malam ikut aku lah ya, Bang!" Ucap Rendra akhirnya sambil menatap temannya serius.
"Kemana?"
"Bioskop."
"Wih, tumben-tumbenan kamu ingin nonton?" Rizal dibuat heran oleh teman di sampingnya yang memang jarang bahkan hampir tidak pernah mengajaknya nonton bioskop.
"Aku tadi keceplosan bicara, Bang. Masa aku mengajak Raras nonton bioskop sih?" Rendra berkata dengan wajahnya yang setengah melongo seolah-olah dia sudah melakukan sesuatu yang salah dan tidak disadarinya.
"Hahahaha, kenapa memangnya? Bukannya nonton bisokop itu wajar kan? Nonton orang mandi itu baru tidak wajar!" Jawab Rizal masih sekenanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lalu kembali fokus menyetir.
"Ckckck! Kalau orang mandi itu ngintip namanya, Bang. Masa nonton? Hahahahaha," tawa Rendra langsung pecah mendengar celotehan kakak gadungannya itu. Dia membayangkan jika dia benar-benar menonton orang mandi, beramai-ramai?
"Hahahahahaha." Rizal ikut terbahak.
***
Keesokan harinya.
Mayra siang itu sedang berduaan dengan Wuni di dapur Griya. Keduanya sedang menyantap mie instant dengan banyak saos dan irisan cabai yang tadi dimasak oleh Wuni. Rendra dan Anto juga ada. Namun mereka sedang sibuk di ruang peralatan merapikan dan mengubah posisi lemari-lemari dalam ruangan itu agar lebih enak di pandang.
"Wun, kamu sudah tahu kabar Lina?" Tanya Mayra di tengah-tengah santapan mie super pedasnya.
Wuni menggeleng pelan. Dia tidak langsung menjawab karena mulutnya masih penuh dengan mie yang baru saja dia masukkan.
"Nomornya sih aktif, Mbak. Hanya saja setiap aku telepon, mbak Lina tidak pernah mau menerimanya," jawab Wuni setelah mie dalam mulutnya telah masuk ke dalam perutnya.
"Iya. Aku juga sama. Kemarin aku ke rumahnya, tapi kosong."
Wuni menatap iba. Dia tahu Mayra sudah berniat baik dengan mencoba menghubungi dan mengunjungi Lina. Namun nyatanya temannya yang jago make up itu belum mau memaafkan ibu satu anak di sampingnya itu.
"Ya sudah biarkan saja dulu, Mbak. Barangkali mbak Lina masih butuh waktu untuk sendiri," tukas Wuni memberi saran. Mayra mengangguk setuju.
"Oh iya Wun, kapan-kapan kita ke Kopikita, yuk. Di sana kopinya enak, tahu. Kemarin aku baru saja mencobanya. Aromanya, beeeeuh wangi, sedap sekali," Mayra memejamkan matanya sambil menghirup udara seolah wangi kopi itu ada di sana.
"Betul!! Yuk, kapan kita sana?"
"Kesana kemana nih?" Tanya Anto yang tiba-tiba datang dan langsung mengambil air mineral botol yang ada di dalam kulkas. Sambil masih berdiri, Anto meneguk air itu hingga akan habis saking hausnya.
"Hust, kalau minum tuh duduk dulu, yaa Allah!" Tegur Mayra pada temannya itu. Anto yang ternyata langsung menghabiskan air sebotol itu hanya meringis malu.
"Hehehe, haus, Mbak. Oh iya, tadi saya dengar 'kesana, kesana', kesana kemana tuh? Ikut dooong!" Ucap Anto sambil mengambil satu kursi dan menyeretnya mendekati dinding, lalu dia duduk di sana.
"Ke Kopikita, yuk kita ramai-ramai ke sana!" Ajak Wuni antusias.
Tak lama, Rendra datang dan membuka kulkas untuk mengambil minum juga. Rendra tatap satu-satu temannya yang sedang duduk melingkar di dapur.
"Sedang rapat??" Tanya Rendra asal sambil meneguk airnya dengan berdiri.
"Woy kalau minum tuh duduk, woy!!" Ucap Anto sambil menarik-narik baju Rendra.
Rendra yang sedang asik minum tak menghiraukan tangan jahil temannya. Dia tetap meneguk air itu hingga habis setengahnya. Rendra kemudian mengambil satu kursi dan menyeretnya dekat dengan Anto.
"Marahi juga dong, Mbak, manusia satu ini nih!" Anto protes pada Mayra sambil menunjuk Rendra dengan jari telunjuknya. Rendra menatap Anto dan tekekeh.
"Kan tadi sudah diwakilkan oleh kamu, Nto. Ya sudah kewajibanku jadi gugur deeeeeeh," jawab Mayra santai. Rendra terkekeh lagi.
"Begitu ya? Dikiriminasi ini sih," protes Anto lagi.
"Hah?? Dikiriminasi? Maksudnya apa tuh?" Tanya Wuni keheranan dengan bahasa yang digunakan temannya.
"DISKRIMINASI, Wuni...Hahahahaha," tawa Anto menggelegak seorang diri.
"Dih, parah ini orang ya!! Hahahahaha." Wuni ikut tertawa. Sementara Mayra dan Rendra hanya terkekeh menyaksikan kedua temannya itu.
"Ayo Ren kamu juga ikut!!" Ajak Wuni sambil memasukkan satu sendok mie pada mulutnya.
"Ikut kemana?"Tanya Rendra sambil masih memegangi botol minumannya, ia duduk dengan kedua siku tangan yang bertumpu pada lututnya. Mayra akhir-akhir ini memang sengaja menyetok banyak minuman mineral botol dalam kulkas Griya untuk teman-temannya agar lebih praktis, habis-buang. Satu dua tetes keringat terlihat di pelipis Rendra.
Mayra yang sekilas-kilas melihat Rendra sangat mengakui bahwa lelaki di hadapannya itu memang tampan. Apalagi hari itu, kaos abu polos yang dikenakan Rendra terlihat basah di beberapa bagian karena keringatnya. Namun pemandangan itu justru membuat lelaki itu semakin gagah. Apalagi lengan Rendra yang berotot terlihat hampir sempurna. Mayra menghela napasnya pelan. Pemandangan di depannya itu benar-benar cobaannya.
"Ke Kopikita, yuk! Nanti mbak Mayra yang traktir kita semua. Iya kan, Mbak?" Tanya Wuni sambil melongokkan wajahnya pada teman di sampingnya.
Mendengar pernyataan asal Wuni, Mayra terkekeh hampir tersedak. Dia sedari tadi tidak mengatakan bahwa dia akan menraktir semuanya. Wuni memang selalu ada-ada saja. Namun demikian, Mayra langsung menyuetujui ide temannya itu.
"Iya. Ayo kita kesana! Akhir-akhir ini kita sudah jarang loh pergi santai beramai-ramai lagi," ucap Mayra sambil menatap satu persatu rekan kerjanya bergantian meminta persetujuan.
Anto dan Wuni menjawab cepat dan semangat. Sementara Rendra hanya bisa diam semenjak Wuni mengucapkan Kopikita tadi. Memang tidak ada yang salah dengan ajakan Mayra. Namun di Kopikita ada Raras, dan Rendra tidak ingin dua wanita itu saling bertemu. Rendra tertunduk bingung. Rencana teman-temannya itu memang kesempatan yang jarang di dapatkannya, pergi beramai-ramai dengan rekan kerja selain urusan pekerjaan.
Melihat semua teman-temannya tersenyum semangat, Rendra hanya mampu tersenyum kaku. Kenapa harus Kopikita?