
Malam itu hujan lebat. Cafe Orenji tutup satu jam lebih awal dari biasanya. Para karyawan sudah pulang ke rumahnya masing-masing dengan wajah sumringah walau harus pulang basah-basahan karena hari itu mereka gajian. Namun berbeda dengan Risa. Gadis itu memalingkan wajahnya yang merengut dengan kedua tangannya yang ia silangkan di depan dadanya. Malam itu ia sedang duduk berhadapan dengan Sandu pada salah satu meja di dalam cafe miliknya.
Setelah semua karyawan sudah bubar tadi, Sandu mengatakan maksud kedatangannya yang tanpa kabar dulu itu pada Risa. Awalnya gadis itu tersenyum lebar saat mengetahui tunangannya datang walau di luar jelas sedang hujan lebat. Namun setelah tahu alasan lelaki itu datang, wajah Risa berubah muram.
"Maafkan aku, Ris," ucap Sandu menyesal seolah tidak ada alasan lain untuknya bertahan dengan gadis yang sudah beberapa lama ini dipacarinya.
"Jadi kamu putuskan aku hanya demi wanita jallang itu?" tanya Risa dengan matanya yang berkaca namun jelas tersimpan amarah di dalamnya.
Sandu menggeleng.
"Kamu tidak pernah memikirkan bagaimana reaksi keluarga kita jika mereka tahu kita putus, hah?? Jangan egois kamu!" Bentak Risa sambil menggebrak meja tak kuasa menahan amarahnya karena diputuskan secara sepihak.
Setelah Orenji sudah kosong dari para karyawan, Sandu mengajak Risa yang masih sibuk di balik layar komputer untuk duduk santai di salah satu meja di sana. Di sana Sandu duduk di sebelah Risa dan menggenggam kedua tangan gadis itu erat.
Malam setelah kejadian di Pantai Pasir kemarin, Sandu tak bisa tidur hingga menjelang pagi memikirkan berulang-ulang hingga keputusannya akhirnya bulat, dia memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan Risa yang baru berani dia sampaikan malam itu.
Sandu merasa hubungannya dengan Risa sudah tak sehat. Gadisnya itu sudah bertindak kelewatan terhadap mantan kekasihnya, Mayra. Terlebih lagi malam kemarin saat Sandu menelepon Lina untuk meminta informasi perihal apa saja yang sudah Risa lakukan pada Mayra, Sandu sungguh tercengang. Tunangannya itu benar-benar sudah tidak waras. Padahal Mayra tidak pernah melakukan apa-apa padanya, namun tunangannya itu nyatanya sudah berlebihan membenci ibu satu anak itu. Jadi malam itu Sandu sengaja datang untuk mengakhiri hubungannya dengan pemilik cafe Orenji.
"Kamu juga tidak pernah berpikir kan apa yang terjadi jika keluarga kita tahu tentang kelakuanmu pada Mayra?" timpal Sandu membalas perkataan Risa.
Gadis itu terkekeh. "Lalu aku harus bagaimana? Menjelaskan pada seluruh keluarga, terutama keluargamu bahwa kamu masih mencintai Mayra dan masih menyimpan fotonya dalam dompetmu?"
Sandu terdiam. Dia merasa semuanya serba salah. Dia salah, Risa pun salah. Namun andai saja Risa tak melakukan hal-hal yang tak wajar pada Mayra, mungkin dia juga lama-lama bisa melupakan mantan kekasihnya itu.
"Lepaskan dendammu, Ris! Kamu sudah dendam pada orang yang salah. Dan itu merugikan dirimu sendiri. Kamu sendiri yang tersiksa atas perasaanmu itu!" hardik Sandu tegas pada Risa yang tak acuh padanya.
"Terserah apa katamu, San! Yang pasti pernikahan kita harus tetap berlangsung! Kamu tidak akan bisa putuskan aku!" Risa bangkit dari duduknya hendak meninggkan Sandu. Dia sudah tak ingin mendengarkan ceramah dari kekasihnya itu.
"Tunggu dulu!" Sandu menahan lengan Risa yang akan melewatinya. "Kita belum selesai bicara."
"Ingin bicara apalagi? Kamu ingin kita putus karena Mayra kan? Dan sekali lagi aku katakan, aku TIDAK AKAN PUTUS DARIMU!!"
"Duduk dulu!" ucap Sandu sengaja mulai melemah. Dia tahu betul jika Risa sudah berbicara keras dan tegas, tandanya gadis itu tidak akan main-main dengan segala ucapannya.
Risa yang memang sangat mencintai Sandu, memilih mengalah walau dalam dadanya terasa panas. Gadis itu kembali duduk di kursinya.
"Aku beri kamu pilihan," ucap Sandu kemudian. "Aku tidak akan memutuskanmu, asal kamu lepaskan Mayra dan jangan pernah lagi mengganggunya!"
"Hahahahaha, anjink kamu ya!! Lagi-lagi Mayra!! Jadi kamu bisa terus bertahan denganku untuk melindungi Mayra?? Cuih!! Lakukan sesukamu!! Semakin kamu melarangku, semakin suka juga aku melakukan hal yang kamu larang itu. Kamu tahu itu kan??" Risa bangkit lagi hendak berlalu. Namun Sandu kali ini ikut berdiri dan langsung memeluk tubuh Risa erat.
Gadis itu awalnya berontak. Namun Sandu tetap mengeratkan pelukannya hingga Risa terdiam.
"Aku melakukan semua ini bukan karena Mayra, Ris! Semuanya kulakukan karenamu. Aku tidak ingin kamu terus-terusan melakukan hal yang nantinya akan merugikan dirimu sendiri. Biarkan Mayra hidup bahagia dengan keluarganya, dan kita...," ucap Sandu ragu. "Dan kita, mari kita juga hidup bahagia."
Risa masih diam untuk sesaat. Sejurus kemudian suaranya terdengar pelan. "Kamu janji tidak akan putuskan aku??"
"Iya," jawab Sandu singkat.
"Iya." Jawaban Sandu masih singkat. Karena sebenarnya dia sangat ingin lepas dari Risa yang akhir-akhir ini menjadi aneh. Dia sanksi akan melanjutkan hidupnya bersama gadis seperti Risa.
"Aku ingin bukti!!" ucap Risa sambil melepaskan pelukannya.
Sandu menatap Risa tak mengerti. Pikirannya sudah menerka-nerka ini dan itu atas bukti yang akan diminta gadis di depannya itu.
"Kalau kamu benar-benar cinta padaku, buat Mayra berpisah dari suaminya!"
Mata Sandu membelalak. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Risa akan memintanya bukti seaneh itu.
"Astaghfirullah! Istighfar kamu, Ris!!! Omongan macam apa itu??" Sandu kali ini benar-benar tidak bisa menerima ucapan gadis di depannya.
"Hahahaha, kenapa? Permintaanku terlalu sulitkah???" Risa tertawa sinis dengan bibirnya yang terangkat sebelah.
Sandu menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia kini benar-benar yakin bahwa gadis yang selama ini dipacarinya benar-benar gila. Sandu tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Selama Mayra bahagia, hidupku takkan bisa tenang. Aku ingin Mayra menderita! Dengan dia berpisah dari suaminya, aku yakin dia akan hancur," ucap Risa lagi berapi-api.
Sandu menghela napasnya lagi, menatap Risa sejenak lalu melangkahkan kakinya pergi. Dia benar-benar tidak ingin berurusan lagi dengan Risa malam itu.
Risa menatap Sandu yang meninggalkannya sambil menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.
"INGAT SAN, PERNIKAHAN KITA TIDAK AKAN BATAL!!" Teriak Risa membersamai perginya Sandu keluar dari cafe Orenji.
*
Sandu memacu mobilnya lumayan cepat di tengah hujan yang masih lebat. Di seberang salah satu pom bensin, Sandu menghentikan mobilnya dan mengambil benda pipih dari sakunya. Dia segera mencari nomor Mayra di sana dan meneleponnya. Namun nomor Mayra jelas tidak aktif karena Sandu hanya memiliki nomor Mayra yang lama. Dari nama Mayra, Sandu beralih pada Lina. Segera dia menelepon gadis itu. Tak lama, suara Lina di seberang langsung terdengar.
📞 "Iya, San."
📞"Lin, tolong kirimkan nomor Mayra ya!" pinta Sandu memelas langsung pada inti pembicaraannya.
📞 "Nomor Mayra untuk apa?" Lina langsung curiga.
📞 "Kirimkan saja dulu, ya! Aku janji tidak akan macam-macam, please!!"
Lina melepaskan ponselnya dari telinga dan menatapnya. Dia ragu atas permintaan Sandu. Namun suara Sandu di seberang terdengar sungguh-sungguh. Akhirnya Lina mengirimkan nomor Mayra yang baru pada lelaki itu.
📞 "Terimakasih, Lin," ucap Sandu sambil memutus sambungan teleponnya.
Di dalam ponselnya sudah ada sederet nomor baru Mayra. Sandu lirik jam di pojok kanan atas layar ponselnya, sudah menjelang pukul 10 malam. Mayra pasti sudah tidur, pikirnya.
Untuk itu Sandu akhirnya lebih memilih untuk menulis sebaris pesan pada kontak yang langsung dia beri nama MAYRA itu.
📩 Maafkan aku, May. Karena bertemu lagi denganku, kamu harus menanggung semua kerumitan ini. Aku janji akan menebus semuanya. (Sandu)