
"Jika mencintaimu adalah sebuah kesalahan, lalu bagaimana caraku menebusnya? Sedangkan menjauhimu adalah siksaan. Hm, barangkali cukup biarkan saja aku habiskan cinta ini, sendirian. Jika kamu ingin pergi, pergilah! Aku takkan menahanmu." (Rendra)
***
Rendra menatap nanar bulan separuh yang menggantung di langit dari tempatnya menetap. Malam itu hening. Ia duduk seorang diri di teras rumah pada kursi rotan kesayangannya. Rizal sudah lelap tidur karena saat itu sudah pukul 2 pagi. Sementara Rendra tidak bisa terpejam. Isi pikirannya masih mengajaknya untuk menikmati malam. Ia biarkan angin dingin menyapa tubuhnya yang hanya berlapis kaos pendek yang menampakkan seluruh bagian lengannya. Satu batang rokok yang sudah terbakar setengahnya menempel pada tangan kirinya. Sudah lama sekali dia tak merasakan isapan benda memanjang kecil berisi tembakau itu semenjak sang ayah divonis sakit paru.
Rendra hanya ingin menemani ayahnya berjuang lepas dari rokok kala itu. Walau susah, tapi akhirnya dia berhasil juga. Hari tanpa rokok ternyata tidak seburuk yang dibayangkannya. Tubuhnya terasa lebih segar setiap harinya. Dan yang terpenting, perjuangannya itu berhasil membuat ayahnya bangga walau perasaan itu nyatanya tidak bertahan lama. Sang pemberi pujian terlalu cepat tiada.
Selepas kepergian ayahanda, Rendra masih bertahan tidak lagi menyentuh barang yang sudah dengan susah payah dijauhinya. Namun malam itu rasanya dia ingin sekali menyesap benda itu lagi. Sekali lagi saja.
⬅️
"I love you."
Rendra mengucapkan kata itu dengan yakin. Hatinya memang seyakin itu pada wanita di depannya. Mata mereka beradu. Rendra tersenyum, sementara Mayra membelalakkan matanya tak percaya. Rendra terkekeh. Dengan kondisi wajahnya yang terkejut pun, wanita di depannya masih semenarik itu.
Rendra meneguk kopinya lagi. "Mengapa? Ini bukan mimpi, kok," ucap Rendra sekenanya. Namun ucapannya malah membuat Mayra mengangakan mulutnya.
"Kamu gila?" Mayra langsung meninggikan suaranya.
"Mungkin." Rendra menjawab dengan santainya.
"Tidak, Ren. Ini tidak benar! Tidak seharusnya kamu benar-benar mencintaiku seperti ini!" Mayra memerintah pasti. Walau dalam hatinya ada setitik rasa senang karena lelaki di depannya benar mencintainya, tapi dia harus segera sadar. Semuanya salah. Tidak boleh dilanjutkan! Mayra tidak ingin menyakiti hati suaminya lagi dan lagi. Apalagi dia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan menjaga sebaik mungkin kata maaf yang sudah Azka beri untuknya.
"Jangan menyalahkanku May! Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku saja. Tidak apa-apa kalau kamu tidak suka. Tapi setidaknya aku memang harus menyampaikan ini agar hatiku lega," Ucap Rendra sambil memutari bibir gelas dengan jarinya. Dia teringat Azka yang mengatakan padanya untuk menjauhi istrinya. Dan sebelum waktu membuat mereka benar-benar jauh, Rendra ingin mengutarakan tiga kata itu pada wanita yang dicintainya. Hanya itu.
Mayra diam sejenak. Rendra menunduk. Entah apa yang dipikirkan lelaki itu.
"Dengan kamu mengatakan 'I love you', lalu apa yang ingin kamu dengar dariku? 'I love you too' begitu? Bukannya tadi kamu ingin aku membalasnya kan?" Mayra masih tak habis pikir. Dia tahu dirinya dan Rendra memang sedang menikmati masa yang entah apa namanya. Namun dalam bayangannya, bukan hal seserius ini yang akan dia dapatkan.
"Kamu ada rasa untukku kan?" Rendra sengaja memancing lawan bicaranya dengan pertanyaan yang sebenarnya sudah dia tahu jawabannya.
"Y-ya...," Mayra terbata. "Apa pun yang aku rasa padamu, tolong hentikan semuanya di sini! Aku punya Azka, punya Anggun. Dari awal aku tahu ini semua salah, tapi...." Mayra menghentikan ucapannya. Rendra menatapnya.
Rendra paham. Dia tahu wanita di depannya memang menyukainya. Tapi ya, memang, ada Azka di sampingnya. Lagi-lagi lelaki itu merasakan hal yang salah lagi. Ada rasa cemburu kala nama Azka disebut. Saat Mayra menyebut namanya, terlihat sekali bahwa wanita itu sangat takut kehilangan suaminya itu.
"Azka memang beruntung," ucap Rendra kemudian sambil terkekeh.
"Aku yang beruntung, Ren. Aku yang beruntung sudah memiliki suami sebaik Azka. Jadi tolong, bantu aku agar aku tidak menyakitinya lagi dan lagi!" Mata Mayra mulai berkaca.
Rendra menatapnya dalam. Dia tahu Mayra akan menangis. Dia palingkan wajahnya. Dia tidak ingin melihat wanitanya menangis karena alasan apa pun, terlebih jika karena dirinya. Jika pada akhirnya Mayra menginginkanya pergi, maka dia akan.
"Maafkan aku, May."
➡️
Rendra hisap lagi rokoknya perlahan, kemudian ia hembuskan asapnya cepat. Andai ada ayahnya disampingnya, pasti semuanya akan terasa lebih mudah. Ayahnya memang tempat curahan hati terbaik baginya.
"Masuk sana! Mata masih ngantuk pakai keluar segala." Ledek Rendra sambil mengusap ujung rokoknya pada piring kecil yang mendadak dijadikannya asbak.
Rizal melirik pada sisa batang rokok di atas asbak buatan itu. Matanya memicing. Dia tahu temannya itu sudah lama meninggalkan dunia pertembakauan. Dan jika malam ini temannya menyentuh barang yang sudah lama dijauhinya itu, sudah pasti ada sesuatu yang tidak beres.
"Mayra?" Tebak Rizal tepat sasaran. Rendra mengangguk. "Ada apa dengan dia?"
"Adikmu yang tampan ini ditolaknya, Baaaaaang," jawab Rendra sok melankolis.
"Hahahaha. Edan!! Terus kamu inginnya bagimana? Dia menerimamu dan putus dengan suaminya?"
"Hahaha, bahasamu, Bang, Bang. Putus? Sudah macam cinta anak baru gede saja," Kilah Rendra sok bersikap biasa. Padahal hatinya saat itu benar sakit. Lebih sakit dari saat putus dengan Bella dulu. Entah ada apa dengan hatinya.
"Ya sudahlah Ren. Lupakan! Besok kita cari yang baru, yang tidak bersuami ya!" ucap Rizal tanpa melirik, namun tangannya menepuk-nepuk punggung Rendra perlahan. Walau kalimat yang dia ucapkan terkesan bercanda, namun dia sungguh-sungguh ingin menenangkan hati temannya itu.
Ya, andai perkara hati semudah itu. Mungkin para pesakit hati tidak perlu lama-lama meratapi rasanya. Hari ini sakit, besok ganti yang baru.
Rendra terkekeh. "Kamu, Bang, kapan mau cari pacar baru?"
Rendra tidak tahu mengapa setelah putus dari Bella, temannya itu belum juga bergerak mencari hati yang baru. Rendra curiga temannya itu masih belum bisa melupakan mantan pacarnya itu. Mantan pacar yang menjadi mantan pacarnya juga dulu.
"Hahahahahahaa." Rendra kini tertawa mengingat semuanya. Kenyataan hidup terkadang memang semenggelikan itu. Bella yang kebetulan adalah mantan terakhirnya, ternyata menjadi mantan terakhir pula bagi Rizal.
"Kesurupan kau?" Rizal menjauhkan tubuhnya, mendelik pada temannya heran. Temannya itu tadi masih duduk anteng di tempatnya, sekarang dia tiba-tiba terbahak entah karena apa.
"Hahahahahaaa!! Aku padamu Bang!! Hahahahaha," tawa Rendra makin lepas.
"Ini bagaimana maksudnya? Kamu padaku? Kamu ingin jadi pacarku?" Rizal memicingkan matanya.
"Hahahaha, ya boleh lah. Dari pada tidak ada sama sekali." Rendra masih tertawa.
"Iya sih. Dari pada mencintai wanita bersuami lagi kan? Mending sama aku kan?" Rizal mengedip-kedipkan matanya genit.
"Hahahaha, iya!!!!"
Keduanya tertawa terbahak membelah kesunyian malam. Mereka tidak perduli nantinya para tetangga akan terbangun atau tidak, mereka hanya ingin tertawa, itu saja. Tawa yang ternyata dibarengi dengan keluarnya setitik air mata dari lelaki yang sedang patah hatinya itu.
~ Aku telah tahu kita memang tak mungkin, tapi mengapa kita selalu bertemu? Aku telah tahu hati ini harus menghindar. Namun kenyataan ku tak bisa. Maafkan aku terlanjur mencinta ~
(Lagu dari Tiara Andini, "Maafkan Aku")
***
LIKE, KOMEN, dan VOTE nya jangan lupa ya teman-teman 😘
Terimakasih sudah mau baca sampai sini, see yaa 💕