
Rendra melajukan mobilnya cepat. Matanya terus beralih dari kaca spion lalu ke jalan, dari jalan lalu kembali pada kaca spion lagi. Rendra hanya berusaha mengendarakan mobilnya dengan cepat namun tetap hati-hati.
Rizal yang masih duduk di jok belakang hanya menggeleng bingung. Rupanya temannya itu memang masih cinta pada wanita yang dipanggil 'May' itu. Rizal yakin orang yang menelepon tadi adalah Mayra. Untuk apalagi wanita itu menelpon Rendra?
"Kita mau kemana, Ren?" Tanya Rizal berlagak tidak tahu. Padahal dia yakin mobil yang dia tumpangi malam itu akan menuju ke rumah Mayra.
Rendra bungkam. Dia masih fokus menyetir.
"Hati-hati, Ren! Kita belum nikah kan ini?" Rizal mencoba mencairkan suasana yang mendadak tegang. Teman di depannyalah yang tegang.
Rendra masih bungkam.
"Raras bagaimana, Ren?" Rizal masih mencerca temannya dengan pertanyaan.
"Nanti, Bang. Sekarang kita ke Mayra dulu," jawab Rendra akhirnya.
"Untuk apa ke Mayra? Lagian jangan gila kamu! Di rumahnya pasti ada suaminya kan?"
"Itu dia masalahnya, Bang. Mayra tadi menangis. Aku takut terjadi apa-apa padanya."
"Ya ampun, Ren. Itu sama sekali bukan urusanmu. Biarkan saja lah dia!" Suara Rizal mulai meninggi. "Ayo putar balik lah! Kita ke Raras saja. Kasihan dia pasti menunggu."
Namun Rendra tak menghiraukan ucapan abangnya. Dia terus melajukan mobilnya menuju rumah Mayra.
Tak lama, mobil Rendra sudah sampai di depan pintu gerbang rumah Mayra yang tertutup. Segera Rendra turun dari mobilnya dan berlari menuju rumah yang asri itu.
TING TONG.
Rendra menekan tombol bel rumah Mayra panik. Dia sudah tidak memikirkan kalau-kalau yang membuka pintu itu adalah Azka. Yang dia tahu, Mayra butuh pertolongannya. Bagaimana pun juga, lelaki itu masih merasa bahwa dia masih harus menjaga Mayra. Entah tuntunan dari mana itu.
TING TONG.
Rendra membunyikan tombol bel itu lagi. Tak lama, seorang wanita paruh baya datang membukakan pintu yang tak lain adalah bi Marni. Bi Marni malam itu menginap di rumah majikannya karena kebetulan Azka sedang lembur.
"Ya??" Sapa bi Marni ramah sambil tersenyum.
"Hm, bi Marni, ya?" Tebak Rendra pada wanita paruh baya di depannya. Beberapa kali dia memang pernah mendengar nama bi Marni disebut oleh Mayra saat di Griya. Rendra tahu bahwa bi Marni adalah asisten rumah tangga Mayra yang katanya baik. Dan Rendra langsung setuju begitu dia bertemu langsung dengan bi Marni. Senyum bi Marni terlihat tulus dan hangat.
"Oh iya, Mayranya ada, Bi?" Tanya Rendra dengan rasa khawati di wajahnya. Dia mengitari pandangannya ke dalam rumah Mayra. Rumah itu sepertinya aman-aman saja.
"Mbak Mayra sedang bersama anaknya di kamar. Maaf si Masnya ada perlu apa, ya?" Tanya bi Marni masih dengan senyum ramahnya.
"Oh, begitu. Mayra baik-baik saja kan, Bi?" Tanya Rendra lagi meyakinkan.
"Iya, Mas. Memangnya kenapa, ya? Sepertinya Masnya khawatir sekali. Ingin masuk dulu, Mas?" Tawar bi Marni pada lelaki di depannya untuk masuk ke dalam rumah majikannya walau dia sebenarnya hanya basa-basi. Azka sudah berpesan padanya dari awal ia bekerja bahwa tamu lelaki yang tidak di kenal tidak boleh dipersilakan masuk.
"Tidak, Bi. Terimakasih ya. Saya hanya ingin tahu keadaan Mayra saja. Dan syukurlah kalau dia baik-baik saja. Saya langsung permisi saja ya, Bi." Ucap Rendra sedikit membungkukkan badannya.
Bi Marni masih berdiri di daun pintu. Ia masih melihat punggung Rendra yang berjalan menjauhinya. Bi Marni tiba-tiba teringat cerita majikan mudanya saat hari-hari kemarin.
'Mungkinkah lelaki itu yang kemarin mbak Mayra ceritakan?'
--Sementara itu di dalam mobil, dalam perjalanan menuju rumah Raras.
Rendra memegang kendali mobilnya sambil terpikirkan Mayra. Entah apa sebenarnya yang diinginkan wanita itu darinya? Mata Rendra menerawang lurus ke jalanan namun pikirannya terbang entah kemana. Rizal yang duduk di belakang jadi khawatir juga melihat sorot mata temannya yang terlihat bingung.
"Aman, bro? Mayra kenapa?" Rizal menggelayutkan badannya pada belakang jok Rendra bertanya penasaran. Dia sebenarnya lebih penasaran pada alasan yang membuat temannya itu seperti orang linglung. Tentang keadaan Mayra, Rizal tidak terlalu peduli.
"Mayra kenapa ya, Bang?" Rendra malah balik bertanya dengan wajah bingungnya.
"Lah?? Kamu tadi bertemu dengan Mayra tidak?" Rizal jadi ikut bingung mendengar pertanyaan temannya.
Rendra menggeleng. "Tadi aku bertemu dengan pembantunya saja."
"Terus??"
"Kata pembantunya sih Mayra baik-baik saja."
"Syukurlah kalau begitu. Lagi pula awalnya Mayra kenapa sih? Yang membuatmu sampai buru-buru putar balik tadi itu apa?" Rendra menyecari lagi teman di depannya.
"Mayra minta tolong, Bang. Tapi aku pun tidak tahu dia minta tolong untuk apa. Makanya aku panik," jawab Rendra masih tak habis pikir dengan keadaan yang sebenarnya. Ingin sekali dia menelepon Mayra saat itu juga untuk meminta kejelasan. Namun dia sungkan. Apa mungkin Mayra hanya ingin bermain-main dengannya saja?
"Hm, ya sudahlah, Ren, lupakan! Yang terpenting Mayra baik-baik saja kan? Ada pembantunya juga di sana. Sekarang kamu fokus nyetir saja. Sebentar lagi jam delapan, Raras pasti sudah lama menunggu," tukas Rizal menenangkan temannya. Rendra mengangguk.
Tak lama, mobil Rendra sudah sampai di depan rumah Raras. Dan alangkah terkejutnya lelaki itu saat tahu Raras sedang duduk seorang diri di atas dudukan yang berlapis keramik hitam di depan gerbang rumahnya.
Rendra segera turun dari mobilnya dan menghampiri Raras. Rasa bersalah langsung mendarat pada wajah tampan lelaki itu.
"Hai," sapa Raras sumringah mendapati lelaki yang ditunggunya telah datang.
"Ya ampun, Ras. Maafkan saya! Kamu sudah lama di sini?" Tanya Rendra benar-benar merasa bersalah sudah membuat gadis itu menunggu. Rasa bersalahnya semakin bertambah saat Rendra teringat bahwa di dalam mobilnya ada Rizal. Lelaki itu menggigit bibirnya sambil menundukkan kepala.
"Baru saja kok, hehe," jawab Raras masih dengan senyum manisnya. Padahal sebenarnya Raras sudah hampir satu jam duduk di sana seorang diri menanti Rendra datang. Sedari tadi Raras sibuk menepuki badannya yang dikerumuni nyamuk-nyamuk nakal. Namun baginya tak apa, yang terpenting untuknya adalah malam itu dia bisa pergi berdua dengan Rendra.
"Hai! Ayo cepat masuk! Dingin tahu." Rizal berteriak melongokkan kepalanya dari balik jendela mobil.
Raras tersentak kaget. Senyum yang sedari tadi tulus, kini sedikit berubah. Raras tidak menyangka bahwa harapannya malam itu yang akan berduaan dengan lelaki pujaannya harus pupus begitu saja. Namun demikian, sebisa mungkin Raras menutupi rasa kecewanya. Dia tersenyum manis pada Rizal sambil melambaikan tangan.
"Ayo, Ren kita berangkat, keburu malam," Ajak Raras sambil berjalan menuju mobil Rendra.
Untuk beberapa detik, Rendra masih mematung di tempatnya berdiri. Rasa bersalah dalam hatinya malam itu sungguh besar. Harus dengan apa dia menebusnya?