
Dukung Bebee selalu yaa teman-teman 🤗
LIKE, KOMEN, dan VOTE kalian sangat berarti 😊
Selamat membaca 💕
______
"Bagaimana Ren, suka?" Rizal bertanya saat keduanya tengah dalam perjalanan pulang.
Rendra memang bersyukur sudah ada Rizal di dunia ini. Karena sepeninggal sang ayah, Rizal adalah kawan terbaik untuk tempatnya berbagi isi hati. Namun malam itu temannya itu sungguh kelewatan. Alih-alih ingin membantu Rendra cepat pulih dari patah hatinya, Rizal langsung menyodiri Rendra gadis lain.
Jalanan malam yang lumayan legang itu dinikmati kedua penunggang mobil dengan ditemani lagu lawas kesukaan sang ayah. Rendra menikmati lagu itu dan tidak menghiraukan pertanyaan temannya. Namun dibalik ketidakpeduliannya itu, senyum Raras kembali melintas. Gadis itu memang manis sekali. Dia akan mudah sekali untuk disukai kala pandang pertama.
"Suka," ucap Rendra akhirnya menjawab pertanyaan teman di sampingnya yang sedang fokus menyetir.
"Nah kan tepat sasaran. Kalian memang cocok deh. Lanjut ya?" Tanya Rizal kemudian.
"Lanjut apanya nih?" Rendra pura-pura tidak mengerti.
"Kencan, kencan. Malam Minggu nanti saya antar deh." Rizal sangat bersemangat. Dia khawatir temannya itu akan gila karena patah hati yang bertubi-tubi.
"Kencan dengan siapa?" Rendra masih sok tidak mengerti. Rizal mendelik kesal. "Sebentar, sepertinya ada salah paham di sini," ucap Rendra sok serius. "Kamu tadi tanya perihal suka, maksudmu ini suka dengan kopi di cafe tadi kan? Kopi di sana memang beda sih, enak sekali. Harumnya itu loh, hmmmmm." Rendra memejamkan matanya membayangkan aroma kopi dalam indera penciumnya.
"Hahaha, dasar gelo maneh mah," (Dasar ngaco kamu), ucap Rizal asal, dia sudah hapal betul kelakuan temannya itu. "Raras sudah lama suka kamu itu." Rizal berbicara sambil terus fokus pada jalanan di depannya.
"Lama? Dari kapan?" Rendra penasaran juga akhirnya.
"Dari jaman kita perang, hahaha." Rizal tertawa seorang diri yang belum dimengerti Rendra. "Hahahaha," tawa Rizal masih menggema mengisi ruangan mobil yang jendelanya dibiarkan terbuka agar angin malam masuk ke dalamnya.
"Gila ini orang ya? Ck ck!!" Rendra berdecak kesal. Dia sudah tidak sabar mendengar jawaban atas pertanyaannya.
"Dia sudah suka kamu dari jaman kuliah. Tapi sayangnya waktu itu saya dan kamu sedang perang dingin kan? Hahahaha. Jadi saya bingung harus memberitahumu lewat apa, takut ditendang saya," ucap Rizal sambil masih tertawa.
"Hahahahaha." Rendra ikut tertawa. Dia setuju dengan perkataan Rizal. Dulu, Rendra memang benar-benar malas berurusan dengan Rizal dalam hal apa pun semenjak Bella direbutnya. Kekanakan memang. Tapi ya, begitulah dulu. Dengan bertambahnya waktu, semua manusia akan mendewasa dengan sendirinya, termasuk Rendra.
"Kata Raras, dulu di kampus dia sering berpapasan denganmu. Tapi karena kamu sok ganteng dan sok laku...," ucap Rizal terputus menekankan kalimatnya sengaja menyindir. "Jadi katanya kamu sama sekali tidak pernah meliriknya, se-di-kit-pun!!"
"Hahahaha, ya mau bagaimana lagi? Saya memang ganteng, kok. Kamu juga kalau perempuan pasti naksir kan? Kan?" Goda Rendra sembari mengangkat kedua alisnya.
"Sekarang juga naksir, kok. Makanya sampai sekarang saya belum ada pacar. Bagaimana kalau kita pacaran saja?" Rizal ikut menggoda dengan mengedipkan satu matanya.
"Hahahaha NAJIS!!!!"
Tawa mereka kembali menggelegak. Namun Rendra diam-diam kembali memikirkan Raras di tengah tawanya. Dia tidak percaya bahwa gadis secantik Raras sudah menyukainya sejak lama. Harusnya dia bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk memulai hari baru dengan Raras dan menyingkirkan Mayra dalam pikirannya.
Namun mungkin angin malam yang menemani dua pemuda yang tengah tertawa itu tidak setuju dengan pikiran Rendra. Dari jarak yang tak terlalu jauh, Rendra menangkap wajah Mayra tengah kebingungan di dekat mobilnya di depan sebuah minimarket.
"Tepi, tepi, Bang!!" Rendra langsung meminta Rizal menepikan mobilnya. Rizal manut.
Tangkapan mata Rendra tak salah, karena setelah mobilnya berhenti, di depannya memang ada Mayra yang tengah kebingungan. Rendra segera turun dan menghampiri wanita yang jelas masih sangat dicintainya itu.
"Oh, Ren, hai," ucap Mayra kikuk. Dia tidak menyangka tiba-tiba ada Rendra di belakangnya. Wanita berkacamata bening yang malam itu memakai setelan piyama panjang bermotif bunga daisy kecil tetap terlihat cantik.
Rizal tidak turun dari mobil, dia sengaja membiarkan temannya itu melakukan apa yang diinginkannya. Rizal pun tidak menyangka akan bertemu Mayra di jalan semalam itu, dia lirik jam di pergelangan tangannya, sudah jam 10 lewat.
Rendra lirik jok depan mobil Mayra, ada gadis kecil di sana sedang asik memakan biskuit gandumnya. Dia pasti Anggun, pikir Rendra. Karena dia memang belum pernah melihat Anggun sebelumnya.
"Malam-malam di sini ada apa, May?" Rendra sangat tahu betul bahwa wanitanya itu sedang dalam kondisi bingung.
"Hm, bagaimana ya??" Mayra ragu akan memberitahu Rendra. Dia tidak enak hati. Sore tadi dia sudah menyakiti hati laki-laki di depannya itu. Tidak mungkin kan malam ini dia meminta bantuan padanya? Tapi Mayra memang benar-benar butuh bantuan. Dia sedari tadi bolak-balik melongok ke pinggir jalan berharap ada seseorang yang mengenalnya. Dan ternyata orang yang datang adalah Rendra.
"Ada apa, May? Bicara saja!" Ucap Rendra menganggukkan kepalanya meyakinkan Mayra agar mau mengatakan padanya penyebab kebingungannya.
"Hm...," Mayra masih ragu. "Aku tidak bawa tas," ucapnya kemudian terpaksa.
Rendra terkekeh. Wajah wanita di depannya sangat menggemaskan saat sedang bingung seperti itu. Ini pertama kalinya Rendra melihat wajah wanita yang biasanya penuh dengan rasa percaya diri, namun malam itu meringis menahan ragu.
"Kamu ingin berbelanja dan tas kamu tertinggal, begitu?" Tebak Rendra akhirnya. Mayra mengangguk.
"Aku sudah belanja. Tapi belum bisa bayar. Dompet dan ponselku ada di dalam tas yang tertinggal itu," ucap Mayra sambil melirik Anggun yang sudah memakan biskuit yang belum dibayar itu.
Rendra kembali terkekeh. Pantas saja wanita di depannya itu bingung bukan main. Dua benda pokok dalam hidup tidak di bawanya, uang dan ponsel. Rendra tatap wajah Mayra yang tanpa makeup itu. Wanita itu selalu cantik. Bahkan walau hanya dengan memakai baju tidur seperti malam itu sekali pun.
"Ya sudah tunggu di sini ya. Aku masuk dulu," Ucap Rendra segera berjalan memasuki minimarket tanpa meminta persetujuan Mayra.
Di dalam sana, benar saja ada satu kantong keresek penuh berisi belanjaan yang tergeletak di atas meja kasir. Rendra sudah bisa menebak, itu pasti belanjaan Mayra yang ditahan.
"Maaf, Mbak. Belanjaan ini milik ibu di luar sana bukan ya?" Tanya Rendra pada perempuan muda penjaga kasir sambil menunjuk ke arah parkiran.
Perempuan itu menoleh lalu tersenyum ramah.
"Benar, Mas. Katanya ingin ambil uang dulu di mobil. Tapi sudah 10 menit berlalu, ibu itu masih saja di luar," jawab si pelayan seadanya.
Rendra terkekeh lagi. Mayranya memang selalu semenggemaskan itu. Mamah muda yang lucu. Bagaimana bisa Rendra cepat melupakan wanita yang mudah dicintainya itu? Rendra merogoh dompetnya dan meminta pelayan segera menghitung totalan belanjaan Mayra. Setelah selesai membayar, Rendra segera menenteng keresek belanjaan itu keluar.
"Ini," Ucap Rendra sambil menyodorkan belanjaan pada Mayra.
"Terimakasih, ya. Berapa semuanya? Nanti aku ganti." Mayra menerima sekantong keresek belanjaannya dengan perasaan tidak enak.
"Dua juta lima ratus," ucap Rendra asal.
"Eh??" Mayra terkejut. Rendra tersenyum. Dia sungguh masih cinta pada wanita di depannya itu.
"Sudah cepat pulang sana! Sudah malam. Kasihan Anggun. Aku duluan ya," Ucap Rendra sambil langsung berlalu menuju mobilnya meninggalkan Mayra yang mematung.
Setelah di dalam mobil, Rendra melirik Mayra sebentar dan meminta Rizal segera melajukan mobilnya. Sementara Mayra masih berdiri di tempatnya menyaksikan mobil Rendra pergi.
'Jika memang aku dan kamu tidak bisa bersatu, mengapa jalan kita bertemu selalu semudah ini?' (Rendra)