MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Warteg Pinggir Jalan



"Ponsel Mayra ada padamu??"


Lina menatap Risa tepat di dalam matanya. Gadis itu hanya ingin mendapatkan jawaban yang sebenarnya, walau Risa memang pandai sekali berbohong, namun Lina tak menyerah. Dia akan berusaha membaca kebenaran dari sorot mata Risa.


"Ponsel Mayra? Kamu menuduhku?" Risa balik bertanya dengan balik menatap tajam mata Lina.


"Aku tidak menuduh. Aku hany bertanya," Kilah Lina menggelengkan kepalanya.


Risa terkekeh. "Bertanya atas dasar apa? Kamu malam-malam datang kesini dan langsung menanyakan ponsel Mayra. Kesimpulannya kamu yakin ponsel Mayra ada padaku, kan?" Mata Risa tajam mendelik menyelidik.


"Kamu bisa langsung jawab pertanyaanku saja kan? Iya atau tidak?" Desak Lina.


"Apa untungnya untukmu kalau aku jawab? Kamu akan lapor pada Mayra?"


Keduanya diam sejenak. Risa kini sudah melipat kedua tangan di depan dadanya dan kaki kanan yang menyilang di atas kaki kirinya.


"Sudahlah Lin, pulang saja sana! Bukannya kemarin kamu bilang kamu sudah tidak ingin lagi bekerja sama denganku? Jadi sekarang harusnya kamu tidak usah lagi membahas perihal Mayra denganku kan? Dalam hal apa pun!" Ucap Risa tegas.


Lina mendengus kesal. Namun dia masih belum menyerah. Dalam hatinya sudah tertanam rasa bersalah yang besar pada Mayra. Untuk itu dia ingin menebus semuanya. Setidaknya, dengan menemukan ponsel Mayra yang hilang, itu sudah cukup membantu melegakan hatinya yang akhir-akhir ini terasa sesak.


"Kamu kemarin ke Kopikita, kan?" Tanya Lina lagi.


"Ya, aku kesana. Lalu apa masalahnya?"


Kedua wanita itu sedari tadi masih juga saling melemparkan pertanyaan. Cafe sudah rapi saat itu, dan para karyawan sudah bersiap untuk pulang. Namun melihat bosnya masih ada di dalam sana, salah satu perwakilan dari mereka datang menemui Risa untuk berpamitan.


"Bu, kami permisi pulang dulu, ya," ucap salah satu perwakilan karyawan meminta izin.


Risa tak berucap karena kondisi dirinya yang mulai emosi pada Lina, dia hanya bisa menjawab ucapan karyawannya itu dengan anggukan kepala. Tak lama, semua karyawan sudah meninggalkan Orenji. Di dalam sana kini hanya tersisa Risa dan Lina saja, berdua.


"Masalahnya, ponsel Mayra kemarin hilang di sana. Kebetulan yang sangat kebetulan bukan?" Jawab Lina menjelaskan semuanya.


"Hahaha, haduh, ya sudah lah terserah kamu saja! Aku capek. Aku mau pulang. Kalau kamu ingin menginap di sini, silakan!" Risa bangkit dari kursinya dan bersiap untuk keluar cafe mengacuhkan Lina.


Lina mendengus kesal karena wanita itu sama sekali tidak memberikannya jawaban yang jelas. Lina ikut bangkit dan berjalan cepat keluar cafe.


"Kamu kesini naik ojek?" Tanya Risa saat dia mendapati hanya ada mobilnya saja di parkiran. Lina hanya diam. Dia sudah malas berbicara dengan wanita yang berada di belakangnya. Lina masih meneruskan jalannya.


"Hey, kalau kamu butuh tumpangan, ayo ke mobilku, tidak usah gengsi!" Teriak Risa sambil setengah tertawa.


Lina sama sekali tidak menghentikan langkahnya apalagi membalikkan badan. Dia terus berjalan menuju jalan untuk mencari taksi.


***


Di tempat lain, Mayra sedang mengantre di pom bensin untuk memberi mobilnya minum. Dia bahagia sekali malam itu karena Linanya sudah kembali. Hatinya juga terasa lega setelah lumayan lama memendam rasa bersalah pada gadis yang pujaan hatinya seolah dia rebut itu.


"Rendra, sekarang dia sudah punya pacar?" Mayra berbicara pada dirinya sendiri sambil menatap dua mobil di depannya yang juga berbaris sedang menunggu giliran lubang tangkinya diisi oleh petugas.


"Secepat itu?" Mayra masih bergumam sendiri.


"Yaa tidak mustahil juga sih. Dia ganteng, dia cerdas, dia juga menyenangkan, pasti cepat untuknya mendapatkan wanita lain." Mayra mulai meracau mengingat semua kelebihan yang dimiliki Rendra.


Kemudian wanita itu terkekeh sendiri. Sama sekali tidak ada niatan dalam dirinya untuk jatuh cinta pada lelaki yang usianya jauh lebih muda darinya. Namun demikian, Mayra juga tidak bisa menyangkal bahwa walau pun umur Rendra jauh di bawahnya, tapi pemikiran lelaki itu tidak bisa dianggap remeh. Dalam banyak hal Rendra bisa jauh lebih dewasa dari dirinya.


Mayra injak pedal gas mobilnya untuk maju beberapa inci dari antrean. Dia masih menikmati pikirannya sendiri. Tanpa dia tahu, beberapa meter di belakangnya ada motor Rendra yang sedari tadi ikut mengantre sekaligus memerhatikan mobil di depannya. Rendra tahu betul bahwa mobil putih di depannya adalah mobil Mayra.


Rendra melajukan motornya sampai di pintu keluar pom bensin berniat menunggu Mayra. Dia ingin meminta penjelasan dari wanita itu perihal malam kemarin.


Tak lama, mobil Mayra sudah selesai terisi bahan bakar dan melaju perlahan menuju jalan raya. Dari kaca mobilnya, Mayra jelas bisa melihat motor dan diri Rendra sedang berdiri di depan sana. Wanita itu memicingkan matanya takut salah lihat. Namun lelaki di depannya memang benar-benar Rendra. Lelaki itu melambaikan tangannya meminta Mayra untuk berhenti.


"Ada apa?" Tanya Mayra saat sudah menghentikan mobilnya di dekat motor Rendra.


"Aku perlu bicara," Jawab Rendra menghampiri jendela mobil Mayra yang terbuka.


"Penting?" Mayra ragu untuk menerima permintaan lelaki yang menghentikannya itu.


Rendra mengangguk. Mayra menggigit bibir, dia ragu. Mayra menggaruk telinganya yang tidak gatal. Sejenak dia berpikir sambil matanya ia arahkan ke arah depan.


"Hm, kita ke warung itu saja, ya!" Ucap Mayra kemudian mengajak Rendra untuk berbicara di warung depan.


Mayra memarkirkan mobilnya di pinggir jalan yang diikuti Rendra. Kemudian keduanya masuk ke dalam warung makan pinggir jalan yang menjajakan berbagai macam olahan makanan rumahan a.k.a warteg.


"Makan, Teh? Aa?" Tanya si pelayan ramah menyambut dua pelanggannya datang.


(Teh \= Mbak, Aa \= Mas)


"Aku minta es teh manis saja ya, Bu satu," Pinta Mayra sambil duduk di kursi kayu panjang yang menghadap ke berbagai menu yang terpajang di dalam box kaca di depannya. "Kamu makan, Ren?" Tanya Mayra pada lelaki yang masih berdiri di sebelahnya.


Rendra menggeleng. "Saya minta kopi saja, ya Bu. Oh iya Bu punten, saya juga mau emping itu ya," Ucap Rendra sambil menunjuk bungkusan emping yang ada di belakang si ibu warung.


"Boleh A, mangga," Ucap ibu mengambilkan beberapa bungkus emping yang Rendra tunjuk dan menyerahkannya.


Rendra duduk di samping Mayra dan membukakan dua bungkus emping, satu untuk Mayra, dan satu untuknya. Tanpa basa basi Rendra langsung memasukkan satu emping ke dalam mulutnya dan mengunyahnya renyah.


"Kamu dari mana malam-malam begini?" Tanya Rendra di sela kunyahan empingnya.


"Makan dengan Lina tadi," jawab Mayra jujur.


Rendra mengangguk. Dia maklum, karena siang tadi dia sudah melihat Mayra berbaikan dengan temannya itu. Dan wajar saja jika malam itu mereka langsung bertemu untuk makan bersama.


"Kamu sendiri ada perlu apa menghentikanku? Kamu mengikutiku?" Tebak Mayra curiga. Karena tidak hanya sekali dua kali dia dengan tidak sengaja bertemu Rendra di jalan.


Rendra terkekeh. Lalu menggelengkan kepalanya pasti. "Aku tadi ingin mengisi bensinku juga, dan kebetulan aku lihat di depan ada mobil kamu. Berhubung ada sesuatu yang harus kamu jelaskan padaku, jadi aku sengaja berdiri di sana tadi," Ucap Rendra sambil menengokkan kepalanya ke arah tempat dia berdiri menunggu Mayra tadi.


"Jelaskan padamu? Tentang apa?" Mayra bingung dengan permintaan lelaki di sampingnya.


"Ini teh manis dan kopinya, A," ucap si ibu pada Rendra di tengah obrolan dua pelanggannya itu. Malam itu warung sedang sepi, hanya ada Mayra dan Rendra saja di sana.


"Nuhun, Bu," ucap Rendra menerima dua gelas minuman pesanannya. Dia letakkan dua gelas itu pada meja kecil di depannya.


(Nuhun \= terimakasih)


"Jelaskan tentang apa?" Tanya Mayra lagi tak sabar.


Rendra menatap wajah ayu wanita di depannya. Walau duduk mereka bersebelahan, namun posisi mereka saat itu seolah saling berhadapan. Rasanya sudah lama sekali dia tidak duduk berhadapan lagi dengan Mayra sedekat malam itu. Rendra menghela napas. Rasa rindunya masih ada. Bagaimana pun juga dia masih mencintai wanita itu.


Di balik mata Mayra yang juga menatap, ternyata masih ada perasaan rindu juga di sana. Segera Mayra tundukkan kepalanya menghindari tatapan mata Rendra. Hatinya mulai berdesir.


"Aku harus pulang!"