
Like, komen, dan votenya jangan lupa ya teman-teman. Dukung MAHMUD selalu 😍
Terimakasih.
🌸
-Mengapa kita terus membenci jika rasa benci nyatanya hanya akan menyiksa diri kita sendiri??-
Dari jauh Mayra menatap lelaki yang berjalan ke arahnya dengan wajah serius. Mayra menautkan kedua alisnya memastikan bahwa orang yang dilihatnya benar-benar memasang wajah tanpa ekspresi. Ada apa sebenarnya?
Tak lama, kaki lelaki itu sudah berdiri di hadapan wanita yang masih duduk di kursinya. Mayra mendongak menatap Rendra.
"Ayo pulang!" Rendra masih tak berekspresi, wajahnya datar sekali.
Mayra mengernyitkan dahinya tak mengerti.
"Kamu belum memotret mereka kan?" tanya Mayra sambil menujukan pandangannya pada Risa dan Sandu yang sepertinya tengah berbicara serius. Dari tempat Mayra duduk, dia bisa melihat Sandu menggerak-gerakkan kedua tangannya menghadap Risa.
"Iya. Ayo pulang!" Rendra masih mengajak Mayra dengan perkataan yang sama.
"Ada apa sih, Ren?"
"Nanti aku ceritakan di mobil. Sekarang ayo kita pulang!" Mata Rendra menatap mata Mayra penuh arti seolah mengatakan, 'Percayalah padaku.'
Mayra menghela napasnya pelan. Dia sebenarnya sudah bisa menebak apa yang terjadi pada Rendra. Mata Mayra mencari Wuni. Gadis itu masih asik berjalan di tepian pantai bersama Lina.
Lina?
Mayra sangat menyayangkan tindakan temannya itu. Mengapa Lina tidak bisa menghormatinya yang memiliki hubungan yang jelas tidak baik dengan Risa? Jika Risa hanya membutuhkan jasa Rendra, mengapa Lina seolah sengaja mengharuskan Mayra dan Wuni datang juga kesana? Dalam posisi itu, Mayralah yang jelas merasa sendirian. Rendra memotret Risa, Wuni berjalan-jalan dengan teman yang dirinduinya, Lina. Lalu apa fungsi Mayra di sana? Benar-benar tidak ada.
Mayra tersenyum yang dibuat-buat pada Rendra, seolah mengatakan, 'Aku baik-baik saja.' Rendra mengangguk. Namun ajakannya tetap sama, pulang.
"Kita tunggu Wuni dulu yaa," pinta Mayra akhirnya ingin membiarkan temannya itu menyelesaikan rindunya.
Rendra tak menjawab. Dia malah mengambil benda pipih dari saku celananya dan memilih satu nama kontak di dalamnya.
Rendra balikkan badannya ke arah Wuni dengan ponsel yang sudah menempel pada telinganya. Dari kejauhan, Wuni terlihat sedang merogoh tasnya mengambil sesuatu, ponselnya. Setelah menatap layar ponselnya, Wuni mendelik ke arah Rendra sambil mendongakkan kepalanya heran. Untuk apa lelaki itu meneleponnya padahal mereka berada dalam satu tempat yang sama? Wuni menggeser layar ponselnya ke arah tombol merah. Namun Rendra tak menyerah, dia telepon lagi Wuni untuk kedua kalinya.
📞 "Apa sih Ren??" jawab Wuni akhirnya sambil berteriak karena suaranya bercampur dengan deburan ombak. Rendra dan Wuni saling berhadapan dengan jarak yang jauh.
📞 "Ayo pulang!" ucap Rendra singkat.
📞 "Kok pulang?? Kamu sudah selesai motret?"
📞 "Iya. Saya tunggu di mobil sekarang!"
📞 "Eh? Serius ini? Kok??" Wuni kebingungan karena dia tahu pemotretan tak akan selesai hanya dengan waktu 10 menit. Mata Wuni beralih ke arah Risa dan Sandu. Keduanya masih ada di tempatnya. Lina yang berdiri di samping Wuni bertanya tak mengerti melalui dongakan kepalanya.
📞 "Iya. Cepat ya!"
📞 "Ren, Ren, tunggu! Kamu serius ingin pulang sekarang?" tanya Wuni memastikan.
📞 "Iya."
📞 "Hm, bagaimana ya??" Wuni menatap Rendra yang masih berdiri menghadap pantai. "Kalau kalian pulang berdua tidak apa-apa? Aku masih ingin bersama mbak Lina. Nanti aku pulang naik taksi online saja," pinta Wuni yang memang masih ingin berbincang dengan teman yang lama tak ditemuinya itu.
📞 "Ya sudah, kami pulang, ya," jawab Rendra tak butuh banyak membujuk.
📞 "Iya. Kalian hati-hati, ya."
📞 "Huum."
Rendra mematikan ponselnya dan beralih menghadap Mayra.
"Wuni masih ingin bersama Lina. Katanya nanti dia bisa pulang naik taksi," ucap Rendra menjelaskan. "Sekarang ayo kita pulang!"
Mayra dan Rendra kini sudah duduk di dalam mobil, masih di parkiran. Mayra menghadapkan tubuhnya ke arah Rendra yang belum memasukkan kunci pada lubangnya. Mata lelaki itu menerawang ke arah depan, setengah kosong.
"Are you OK, Ren?" tanya Mayra khawatir.
Rendra memutar kepalanya menatap Mayra. "I'm OK."
Lelaki itu lalu memasukkan kunci, menyalakan mesin mobil dan segera meninggalkan parkiran Pantai Pasir. Di jalan, keduanya bungkam sejenak. Setelah lumayan jauh dari wilayah pantai, Rendra menepikan mobilnya pada area 'boleh parkir'.
Mayra hanya diam tak banyak protes. Dia tahu lelaki di sampingnya itu ingin mengutarakan sesuatu. Rendra menghadapkan tubuhnya pada Mayra yang menyandarkan kepalanya pada jok mobil.
"Kamu wanita baik-baik, kan??" tanya Rendra tanpa basa-basi.
"Maksudnya?" Mayra menatap lelaki yang memberikan pertanyaan yang tak dimengertinya.
"Kamu itu wanita baik, May. Jadi jangan mau jika ada yang menyebutmu dengan label macam-macam!" ucap Rendra menjelaskan setengah emosi. Dia tidak terima wanita kesayangannya disebut 'jallang'.
"Risa??" tebak Mayra langsung mengerti arah pembicaraan lelaki disampingnya. Rendra mengangguk. "Dia mengatakan apa padamu?"
Mata Rendra menatap mata Mayra nanar. Lelaki itu menghela napas lalu menyandarkan dirinya pada jok mobil. Matanya kembali menerawang ke depan. "Sebenarnya rasa sakit hati macam apa yang Risa rasakan sampai dia membencimu sebegitunya hebatnya?"
Mayra ikut menghela napas dan menyenderkan kepalanya pada jok mobil. Matanya ikut menerawang ke depan. Keduanya berbicara dengan mata yang sama-sama menatap ke depan. "Kemungkinan Sandu masih menyimpan rasa padaku."
"Selain itu??" Rendra ingin jawaban lain. Karena jika soal perasaan Sandu pada Mayra, dia sudah tahu.
"Tidak ada lagi. Aku juga tidak tahu mengapa Risa bisa sangat membenciku," jawab Mayra pasti.
Rendra mengangguk mengerti. "Ya sudah. Aku minta kamu jangan pernah berhubungan dengan Risa atau pun orang-orang yang dekat dengannya. Dia sakit!!" ucap Rendra sengaja tidak menyebutkan Lina dalam kalimatnya.
Mayra terjekut mendengar ucapan lelaki di sampingnya. Dia setuju bahwa Risa sepertinya sakit, jiwanya yang sakit. Kini tubuh Mayra kembali mengarah pada Rendra. Dia menatap Rendra yang masih menatap ke depan. Rasa kagum Mayra pada lelaki itu kini bertambah lagi sepersekian persennya. Lelaki itu mengerti banyak hal tentang kejiwaan seseorang hanya dengan sekilas pandang. Dan Mayra mengakui bahwa jarang sekali ada lelaki yang bisa secerdas Rendra.
Rendra yang menyadari bahwa dirinya sedang ditatap balik menatap. Dia pandang wajah ayu wanita di depannya. Kini mereka saling bertatap, lama.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata yang juga berada di dalam mobil yang berada beberapa meter di seberang mereka, ikut menatap mereka dengan bingung.
***
----Di Pantai Pasir.
Risa dan Sandu sudah duduk di kursi warung bekas duduk Mayra tadi. Lina dan Wuni berdiri di depan mereka. Wuni menatap pasangan di depannya yang saling membuang muka dengan bingung.
"Ini sebenarnya ada apa sih?" Wuni yang tak tahu apa-apa akhirnya penasaran juga. Awal dia datang tadi, Mayra dan Rendra sudah bersikap aneh entah karena apa. Dan sekarang kedua kliennya ikut bersikap aneh pula.
Lina hanya diam. Gadis itu bungkam dengan melipat kedua tangan di depan dadanya.
"Lin, kamu dan temanmu ini sebaiknya pulang saja," ucap Sandu memberi saran. Dia butuh waktu berdua dengan Risa.
"Oke. Ayo, Wun!" Tanpa banyak bicara, Lina memegang lengan Wuni dan mengajaknya berlalu meninggalkan dua orang di depannya.
Wuni hanya mampu menurut dan berjalan mengikuti Lina. Dalam pikiran gadis itu penuh tanya, ada apa sebenarnya?
Sandu berjalan kembali ke pantai dan meminta Risa mengikutinya. Dia ingin berbicara di tepi pantai lepas agar suaranya nanti bisa bebas ia keluarkan. Sandu sudah terlampau kecewa pada gadisnya itu. Selama ini dia sudah mencoba mengalah, namun kesabarannya kini hampir habis.
Sandu menghentikan langkahnya di tepi pantai yang ombaknya menyentuh kakinya lembut. Suara ombak lumayan menenangkan amarah dalam hatinya. Risa berdiri di depannya.
"Akan sampai kapan kamu seperti ini?" tanya Sandu pelan namun tegas. Risa menyilangkan kedua tangan di depan dadanya, dia bungkam. "Kamu belum puas juga memperlakukan Mayra sesukamu?"
Mendengar nama Mayra disebut, Risa terkekeh sinis. Namun dia masih bungkam.
"Kamu harus tahu, Mayra tidak salah apa-apa dalam hal ini. Aku yang salah!!" aku Sandu menyadari bahwa memang hanya dialah yang masih menyimpan rasa pada Mayra, sendirian.
"Lalu, akan sampai kapan kamu terus cinta padanya hah?!!" Risa langsung meninggi.
Sandu tak menjawab. Risa terkekeh lagi. Walau Sandu selama ini sudah mencintainya dan memerlakukannya dengan baik, namun Risa tak bisa terima jika di dalam hati lelaki itu masih berisikan nama lain.
"Kamu ingin tahu sampai kapan aku membenci wanita itu??" tanya Risa dengan tatapan sinisnya. Sandu balik menatap. "Sampai dia mati!!"