MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Hati yang Remuk



Jalanan di depan Griya sudah ramai dengan lalu lalang kendaraan roda dua dan empat. Mayra juga sudah ada di sana. Lina, Wuni, dan semua karyawan pun. Semalam Rendra menelepon Lina, katanya kondisi ayahnya sudah membaik. Untuk itu dia mengatakan hari ini bisa datang untuk pemotretan jam 10 nanti. Namun sudah jam 9 lewat, Rendra belum juga datang.


Beberapa kali Lina mencoba menghubungi, namun nomor Rendra belum juga aktif.


"Ya sudah hari ini Anto lagi saja." Mayra memberi pilihan. "Mungkin Rendra masih menjaga ayahnya."


Lina dan Wuni mengangguk. Mereka bersiap-siap akan berangkat menuju tempat pemotretan setelah semua alat tempur masing-masing masuk dalam tas. Lina, Wuni, Anto, dan Rudi sudah memasuki mobil MPV putih yang pada badannya jelas terbaca tulisan Griya Cantika. Mobil itu memang milik Griya. Mereka siap berangkat tinggal menunggu Mayra. Wanita itu tadi izin ke toilet dahulu.


KRUIIIING.


Ponsel Mayra berbunyi. Pada layarnya tertulis nama Rendra.


📞 "Halo, Ren." Mayra menjawab telepon itu buru-buru.


Namun bukan suara Rendra yang pertama ia dengar, melainkan suara riungan orang mengaji. Mayra menelan ludahnya saat helaan napas berat Rendra terdengar.


📞 "Ren??" Mayra sudah bisa menebak apa yang terjadi di sana. "Ren, kirimkan alamat rumahmu ya. Aku ke rumahmu sekarang."


Mayra memutus telepon dengan Rendra yang belum sempat berbicara sepatah kata pun. Dia lalu berlari tergesa menuju mobil silver miliknya.


📞 "Guys, please kalian handel dulu kerjaan siang ini ya. Aku buru-buru. Nanti aku infokan detailnya," Ucap Mayra sambil langsung menancap gas setelah dia memerintahkan teman-temannya dari balik kaca mobil.


Di perjalanan, pikiran Mayra kalut. Dia hapal betul suara gemuruh samar-samar di telepon tadi. Suara orang mengaji. Wanita yang hari itu mengenakan rok jeans belel seatas mata kaki dan kaos putih pendek tahu betul pertanda apa itu. Dia lihat ponselnya, Rendra sudah mengiriminya sebuah peta. Mayra sebenarnya tahu dimana perumahan Asih Raya, tempat Rendra tinggal. Tapi dia tidak tahu di jalan mana tepatnya. Dengan bermodal peta yang Rendra kirim, Mayra memacu mobilnya cepat.


Tak lama, mobil Mayra sudah sampai di depan satu rumah yang di depannya terpasang bendera kuning. Mayra menghela napas. Membayangkan Rendra yang kemarin hanya memiliki ayah, kini harus benar-benar seorang diri. Ayahnya menyusul ibunya. Malam-malam berikutnya akan dilalui lelaki itu sendirian.


Orang-orang berlalu lalang masuk dan keluar gerbang rumah Rendra yang tak terlalu tinggi itu. Mereka satu-satu mengucapkan rasa bela sungkawanya sekaligus menguatkan lelaki 23 tahunan yang kini yatim piatu.


Mayra masih diam di dalam mobil. Dia sebenarnya sungkan untuk turun. Pakaian yang dia kenakan kurang pas untuk menunjukkan bahwa dia pun berduka hari itu. Kaos putih yang menempel pada badannya bertuliskan 'I'M HAPPY TODAY' dengan logo smile kecil di bawahnya. Mayra menundukkan kepalanya membaca sebaris tulisan di bajunya. Dia berdecak kesal.


"Mengapa harus pakaian ini sih yang ku pakai?" batinnya.


Tak lama, keranda besi berlapis penutup hijau dengan selempangan beberapa baris bunga di atasnya keluar dari rumah Rendra. Mayra memerhatikannya seksama. Satu, dua, tiga orang lewat. Tapi dia belum menemukan lelaki yang dicarinya. Hingga rombongan pembawa keranda sudah lumayan jauh dari pandangan, Rendra belum juga terlihat. Mayra akhirnya memutuskan untuk keluar dari mobilnya. Dia sudah tak peduli dengan bajunya.


Mayra berjalan tergesa memasuki gerbang, lanjut menuju ruang tamu. Disana dia menemukan Rendra duduk seorang diri tertunduk lemas.


"Ren?" Mayra duduk di depan Rendra.


Lelaki itu menengadahkan wajahnya berat. Matanya sembab. Tatapannya kosong. Ditatapnya wanita di depannya. Mata Rendra mendadak penuh lagi dengan air yang menggenang.


Brug.


Rendra memeluk tubuh Mayra. Hatinya remuk. Kini dia benar-benar sendiri. Tak ada orang tua, adik apalagi kakak. Renda benar-benar linglung. Dia menangis dalam pelukan wanita yang seharusnya tidak dia peluk.


***


📞 "Yank, kamu dimana? Masih di Griya?" Azka terdengar khawatir di telepon. Sudah jam 8 malam istrinya belum juga sampai rumah.


Mayra pandangi Rendra yang termenung seorang diri. Dia duduk di kursi teras rumah, tempat favoritnya menghabiskan malam bersama mendiang ayah. Pandangan Rendra masih kosong. Dalam hatinya berharap, hari ini hanya mimpi. Mimpi buruk yang akan hilang saat tangan hangat sang ayah membangunkannya.


⬅️


"Yah, ayah kan tampan, kok tidak menikah lagi saja si, Yah?" goda Rendra waktu itu. Mereka sedang asik menonton TV berdua ditemani sebungkus besar kacang kulit.


"Kamu ini. Memangnya kamu mau punya ibu tiri?" Ayahnya balik menggoda.


"Hahaha, memang ada apa dengan ibu tiri, Yah?"


"Kalau yang di sinetron kan ibu tiri itu jahat." Ayah Rendra sengaja mengekspresikan jelek wajahnya.


"Hahaha. Aku tidak takut. Aku tidak hidup di sinetron, Yah. Lagi pula, ayah orang baik, pasti dapat istri yang baik juga nanti."


"Ibumu yang terbaik, Ren. Tidak akan ada lagi wanita lain. Hanya ibumu."


"Cieee ayah setia nih. Kalau ibu masih ada, pasti ibu bahagia sekali."


"Haha. Kamu ini. Ayah memang sangat mencintai ibumu. Tapi secinta-cintanya ayah, ayah juga pasti pernah melukai ibumu. Jadi tidak mungkin ibumu 100% bahagia hidup bersama ayah."


Rendra mendengarkan ayahnya serius.


"Kalau ayah bahagia 1000%"


Rendra mengerutkan dahinya bingung. Ayahnya terkekeh. TV yang menyala di depan mereka sudah tak lagi menarik. Dua lelaki yang berbeda usia itu sedang asik dengan obrolannya.


"Selama dengan ibumu, ayah selalu bahagia. Senyumnya, lembutnya, konyolnya, marahnya, sampai kasarnya pun, selalu buat ayah bahagia."


"Kok bisa begitu, Yah?"


"Yaa, karena semua tingkah ibumu itu sekarang tidak bisa lagi ayah rasakan. Dan ayah sangat rindu. Siapa sangka jelek dan marahnya seseorang malah membuat rindu yang kuat di suatu hari nanti?"


➡️


Rendra menitikkan air matanya lagi. Perkataan ayahnya kini ia rasakan. Padahal baru sehari ayahnya itu meninggalkannya. Namun ia sudah mengerti, seperti inilah yang ayahnya rasakan dulu.


Dada Mayra ikut sesak menyaksikan Rendra menangis lagi dan lagi walau airnya sebisa mungkin ditahannya agar tak keluar. Sampai ia lupa belum menjawab pertanyaan suaminya.


📞 "Yank?" Suara Azka mengagetkan.


📞 "Iya, Yank," suara Mayra parau. Ia bersihkan lendir bening yang keluar dari hidungnya.


📞 "Kamu menangis?"


📞 "Ha?? Tidak, Yank. Aku terlalu capek saja. Sepertinya aku sedikit flu," kilah Mayra berbohong. "Aku masih di Griya, Yank. Aku pulang terlambat yaa malam ini. Tapi jam 10 nanti aku sudah ada di rumah, kok."


Azka di seberang menghela napas. Dia tahu istrinya berbohong. Sebelumnya, Azka sudah menelepon Lina terlebih dahulu. Dan wanita itu memberitahu bahwa Mayra sudah keluar Griya dari jam 9 pagi.


Azka diam, dia tidak bisa menebak istrinya itu pergi kemana. Namun yang dia tahu, ada sesuatu yang ditutupi istrinya.


📞 "Ya sudah, Yank. Hati-hati, ya. Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku." Azka memilih untuk bungkam.


📞 "Iya, Yank pasti. Terimakasih ya, sayang."


Telepon terputus. Mayra berjalan mendekati Rendra. Ia duduk di kursi sebelahnya. Kursi yang biasa di duduki oleh almarhum.


Mata Rendra menatap langit malam yang bintangnya tak terlalu banyak. Bulan di atas sana bersinar sendiri, kesepian. Seperti dirinya.


"May?"


"Ya?"


Mayra cepat menjawab karena Rendra akhirnya membuka suara.


"Terimakasih sudah ada di sini."


Mayra menangguk. "Kamu masuk ya. Tidur! Mata kamu lelah."


Rendra terkekeh lemas mendengar ucapan Mayra. Dia memang belum tidur sejak dua hari kemarin.


"May?"


"Ya?"


"Terimakasih."


"Untuk?" Mayra bingung karena lelaki sayu di depannya mengucapkan hal yang sama lagi.


"Terimakasih karena sudah boleh saya cintai. Dengan mencintai kamu, saya masih merasa hidup."


Ucapan Rendra membuat Mayra kikuk. Dia tahu, hati lelaki itu sudah rapuh karena kehilangan dua orang yang sangat dicintainya. Tapi Mayra harus bagaimana? Dia juga tidak bisa berbuat banyak. Dia sudah milik Azka dan Anggun.


Namun kepeduliannya pada Rendra, membuat Mayra sadar bahwa dia juga punya rasa yang tak biasa untuk lelaki itu. Mayra menggigit bibirnya.


"Ren?"


Suara lain terdengar diantara Renda dan Mayra. Rendra menoleh. Di sana sudah ada Bella yang berdiri mematung menyaksikan mantan kekasihnya sedang duduk berdua dengan Mayra.