MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Cinta yang Rumit



"Berhenti, Bang!!" Teriak Rendra pada Rizal saat ban depan mobil yang mereka tumpangi baru memasuki gerbang Kopikita.


Dari jarak beberapa meter, mata Rendra menangkap Mayra dan Azka sedang tertawa bersama berjalan menuju parkiran. Parkiran di Kopikita mempunyai dua sisi pintu. Sebelah kanan pintu masuk, dan pintu keluarnya ada di sebelah kiri. Jadi dengan berhenti sejenenak di pintu masuk, Rendra berharap Mayra tidak mengetahui kedatangannya.


Rendra tundukkan kepalanya agar wajahnya tak tertangkap mata Mayra yang barangkali sedang melihat sana-sini. Rizal tak banyak bertanya, karena dia juga melihat bahwa di depan sana ada Mayra bersama seorang lelaki. Dan Rizal paham kenapa teman di sampingnya itu memintanya untuk berhenti.


Sekilas Rendra tegakkan kepalanya hanya untuk memastikan apakah Mayra sudah pergi atau belum. Namun yang ditangkapnya justru wanita itu sedang dipasangkan helm oleh Azka. Mata Rendra memicing tajam. Pasangan di depannya terlihat sangat bahagia. Lalu apa arti dirinya selama ini?


Tak lama, motor Azka dan Mayra berlalu meninggalkan parkiran. Tanpa diminta, Rizal langsung menginjak pedal gasnya dan memarkirkan mobilnya.


"Tadi suami Mayra?" tanya Rizal setelah dia mematikan mesin mobilnya.


Rendra hanya menjawab dengan anggukan.


"Ganteng, kok." Rizal berkomentar. Maksud dari perkatan Rizal sebenarnya adalah, suami Mayra tampan, lalu kenapa wanita itu masih juga menginginkan Rendra? Dan teman tidak tahu diri di sampingnya itu pun, untuk apa pula terus mengejar wanita bersuami itu? Dunia terkadang memang segila ini. Rizal menggeleng-gelengkan kepalanya tak mengerti.


Rizal dan Rendra turun dari mobil dan berjalan menuju Kopikita. Dari kejauhan Rendra melihat Raras sedang tersenyum-senyum sendiri di meja kasir dengan kepala tertunduk. Dari wajah gadis itu terpantul sinar lumayan terang yang Rendra tebak berasal dari ponsel dalam genggaman gadis itu.


"Hai, Ras!" sapa Rendra langsung menghampiri meja kasir seorang diri sementara Rizal menemui Budi di dapur.


"Oh, hai!" Raras terperanjat karena tiba-tiba sudah ada Rendra di depannya.


"Sedang happy ya?" tebak Rendra asal karena senyum yang sedari tadi tak lepas dari bibir manis gadis cantik di depannya.


"Hah? Tidak juga kok," jawab Raras cepat sambil menggelengkan kepalanya.


Rendra terkekeh mengernyitkan dahinya heran. Raras pun ikut terkekeh.


"Setengah jam lagi cafe tutup, tahu! Kamu kok malam sekali datangnya?" tanya Raras yang masih berdiri berhadapan dengan Rendra yang hanya terbatasi meja kasir.


"Iya, sengaja kok. Ke meja yuk!" Ajak Rendra dengan mengarahkan kepalanya pada meja pengunjung yang mulai kosong.


"Boleh." Raras berjalan mengikuti Rendra menuju meja yang dipilihnya acak.


Keduanya duduk berhadapan menikmati cafe yang sudah sepi. Beberapa karyawan laki-laki mulai membereskan meja dan kursi yang berantakan. Sekilas, Raras menatap laki-laki di depannya. Dia tidak tahu apakah lelaki itu ada rasa tertarik padanya atau tidak. Gerak-geriknya sulit dibaca.


"Mau kopi, Ren?" tanya Raras seolah bertanya pada tamu yang berkunjung ke rumahnya.


"Tidak, Ras, terimakasih. Aku kemari hanya menemani Rizal saja. Ada perlu dengan bang Budi katanya. Makanya kami datang kesini malam begini," jawab Rendra sekaligus menjelaskan.


Raras mengangguk paham. Lagi-lagi bukan karena dirinyalah alasan Rendra datang ke cafe. Namun tak apa, gadis itu masih berharap lelaki di hadapannya bisa menyukainya suatu saat nanti, walau entah kapan itu.


"Oh iya, tadi pas aku datang, aku lihat kamu senyum-senyum sendiri, loh. Sedang jatuh cinta ya???" goda Rendra masih ingin tahu alasan gadis di depannya senyum-senyum sendiri tadi sambil melemparkan senyum genitnya.


"Hahaha, ih kamu ini. Malu tahu!!" Tawa Raras lepas namun dengan mimik malu di wajahnya. Wajah gadis itu memerah. Jika memang dia harus jatuh cinta, maka dia sudah jatuh cinta pada lelaki di hadapannya, sedari dulu.


"Tadi ada dua konsumen yang menurutku sangat serasi sekali. Dan aku membayangkan jika aku mempunyai pasangan seperti itu, mungkin aku juga akan sebahagia wanita itu, begituuuuu. Makanya aku senyum-senyum sendiri, hehe," aku Raras mulai bercerita.


"Oh, begituuuuuu," ucap Rendra menirukan Raras yang banyak mengucapkan kata 'itu'. Raras terkekeh. "Enak yaa ada di cafe semalaman. Bisa bertemu banyak konsumen dengan berbagai kisah juga," ujar Rendra menimpali.


Rendra mendelik heran. "Yang mana?"


"Yang kataku ada dua perempuan bersitegang itu loh, yang sampai menumpahkan kopi, yang sampai disebut 'jallang' juga, ingat??" ujar Raras bersemangat.


"Oh, iya, iya. Yang katamu perempuan yang disebut 'jallang' itu baik kan?" timpal Rendra yang masih ingat tentang cerita gadis di depannya.


"Nah, itu dia!! Sepasang kekasih yang membuat aku senyum-senyum sendiri ya si wanita itu. Coba kamu datang lima menit lebih awal. Pasti kamu bertemu dengan orang yang aku ceritakan itu," tutur Raras masih antusias seolah dia sedang menceritakan orang yang sangat dikaguminya. "Cantik loh dia. Pacarnya juga ganteng. Cocok pisan pokoknya!"


"Memangnya orang itu baru pulang dari sini?" tanya Rendra penasaran.


Raras mengangguk semangat. "Baru saja keluar parkiran tadi sebelum kamu datang."


"Naik motor??" Rendra makin penasaran. Dia sudah bisa menebak siapa orang yang dimaksud Raras.


"Iya. Kamu tahu??"


Rendra menahan napasnya lalu mengeluarkannya pelan. "Sepertinya iya."


"Kenal?"


Rendra mengangguk jujur. Dia sama sekali tidak ada niatan untuk menutupi semuanya dari Raras. Karena jikalau dia harus berbohong pun, suatu saat Raras pasti akan tahu juga bahwa dia dan wanita yang dimaksudnya saling mengenal, bahkan dekat.


"Dia leader kerjaku," aku Rendra tetap jujur.


"Hah?? Leader kerja?? Berarti dia yang ponselnya hilang itu dong??" Mata Raras membulat menyadari bahwa pemilik ponsel yang hilang di Kopikita ternyata adalah wanita yang sudah berhasil membuatnya iri itu.


Rendra mengangguk. Namun pikirannya tidak terfokus pada pertanyaan Raras. Lelaki itu malah sibuk menebak-nebak dengan siapa Mayra bersitegang di Kopikita waktu itu? Siapa orang yang sudah berani-beraninya menyebut wanita sebaik dia dengan sebutan 'jallang'? Hati Rendra memanas sekaligus iba. Dia tidak bisa membayangkan betapa sakitnya hati Mayra saat dia disebut 'jallang'.


"Ras??" panggil Rendra sambil tertunduk. Jari tangannya sibuk mengetuk-ketuk meja dengan ritme yang tak beraturan.


"Ya?"


"Kamu tahu siapa wanita yang katamu bersitegang dengan Mayra?" tanya Rendra tak sengaja menyebut nama Mayra karena saking penasarannya.


"Oh, nama wanita itu Mayra?" Nada suara Raras berubah. Gadis itu menangkap ada sesuatu yang lain dari Rendra saat tahu bahwa wanita yang diceritakannya adalah orang yang dikenalnya, leader kerjanya. "Hm, aku kurang tahu sih siapa wanita itu. Tapi nanti kalau suatu saat aku bertemu dengannya lagi, aku masih bisa mengenalinya kok," ucap Raras seadanya.


Rendra mengangguk seolah berterimakasih. Pandangan lelaki itu terfokus pada meja di hadapannya lagi. Raras memandang bingung.


"Ren??" panggil Raras ragu.


Rendra mendongak menatap Raras.


"Jadi...kamu, Lina, dan wanita cantik bernama Mayra itu satu pekerjaan ya??"


"Iya."


Raras tersenyum getir. Lelaki yang disukainya itu dikelilingi oleh wanita-wanita cantik di tempatnya bekerja. Ditambah Raras memang sudah curiga bahwa Rendra mempunyai hubungan yang tak biasa dengan temannya yang bernama Lina. Dan sekarang muncul lagi satu nama, Mayra. Jika Raras melihat Mayra sangat serasi dengan pasangannya tadi, lalu ada hubungan apa antara wanita itu dengan Rendra yang langsung terlihat khawatir saat tahu bahwa wanita yang diceritakannya adalah Mayra??