MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Hadiah Sederhana



"Siang tadi ada yang mencarimu di Griya." Lina membuka pembicaraan saat Mayra baru saja duduk di atas karpet sebuah kedai ramen. Kedai ramen yang mereka datangi memang hanya memiliki tempat duduk lesehan sebagai ciri khas mereka.


Sore itu Lina, Mayra, dan Wuni, diundang makan-makan oleh teman baru mereka, Rizal, di sebuah kedai ramen. Rizal sudah dari kemarin memesan satu ruangan yang berukuran kurang lebih 3x3 meter khusus untuk teman-temannya menikmati mi ramen yang terkenal enak itu.


Seperti biasa, Lina selalu datang tepat waktu. Dia adalah wanita yang sangat disiplin, bahkan untuk janji temu yang kurang penting sekali pun. Selain tepat waktu, Lina juga semangat datang pada undangan Rizal sore itu karena di sana pasti ada Rendra. Lina sudah memutuskan akan bersikap 'berani' pada Rendra mulai sekarang. Dia tidak akan lagi menyukai lelaki itu secara diam-diam.


"Siapa?" Mayra tidak tahu siapa tamu yang dimaksud Lina. Karena Mayra hari ini tidak datang ke Griya.


"Sandu," jawab Lina singkat.


"Oooh," jawab Mayra tak kalah singkat.


"Hanya 'oh'??"


"Lalu harus apa? Biarkan saja lah. Wuni belum datang?" Mayra sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Sandu itu calonnya Risa kan? Klien kita? Hm, maksudku...calon klien yang batal jadi klien?" Lina terdengar menyindir.


"Iya." Mayra menjawab singkat. Dia tahu temannya itu sedang sinis dengannya entah karena alasan apa.


"Pantas." Lina mulai sangat sinis kali ini.


"Ini maksudnya bagimana? Arah pembicaraan kita kemana?" Mayra akhirnya terbawa emosi.


"Kamu ditampar Risa kan? Gatal sih."


Mendengar ucapan Lina, wajah Mayra memerah. Entah Lina tahu dari mana tentang Risa yang menampar dirinya. Padahal Mayra tidak menceritakan hal itu kepada siapa pun. Termasuk pada Rendra yang hari itu mengantarnya menemui Risa.


Mayra hanya bisa mematung sembari memandang Lina yang santai mengaduk jus alpukatnya. Dia tidak mengerti mengapa teman yang sudah dekat dengannya itu bisa berbicara sekasar itu.


"Makanya, kalau sudah punya suami tuh yang anteng. Jangan masih saja suka menggoda pacar orang. Ditampar kan jadinya?" lanjut Lina masih membahas 'tamparan' dengan santai. Dia tidak peduli dengan hati teman di depannya.


Mayra masih diam. Namun dadanya sudah sesak. Napasnya memburu menahan marah.


"Kamu mau cerai ya sama Azka?"


BRAG!!


Kesabaran Mayra sudah diambang batas. Ucapan temannya sudah mengada-ada. Ia menggebrag meja dan akan berlalu pergi. Dia malas meladeni temannya itu. Namun saat akan keluar ruangan, Rizal dan Rendra datang.


"Mau kemana?" Rendra menahan tubuh Mayra. Dilihatnya wajah wanita itu merah. Matanya sudah penuh dengan air yang siap tumpah.


Rizal yang tidak tahu apa-apa ikut bingung melihat dua wanita di depannya_yang satu duduk santai sambil mengaduk minuman, yang satu lainnya ingin pergi dengan wajah yang kacau.


Mayra tidak mengindahkan pertanyaan Rendra. Dia berlalu, berjalan cepat menuju parkiran.


"May, tunggu dulu!" Rendra mengikuti Mayra sampai parkiran.


"Maaf aku tidak bisa ikut." Mayra mengusap pipinya.


"Ada apa?"


"Salam buat Rizal ya. Maaf aku tidak bisa bergabung," ucap Mayra lagi sambil segera memasuki mobilnya.


"May??"


Mayra tidak memperdulikan Rendra. Dia melajukan mobilnya meninggalkan parkiran. Wuni yang ternyata sedari tadi menyaksikan mereka, melingkarkan kedua tangan pada dadanya.


"Ckckck, mengapa mereka memilih jalan yang rumit sih?" pikirnya.


Di dalam kedai, lima mangkuk ramen dengan kepulan asap beraroma lezat sudah siap di atas meja yang hanya berisi Lina dan Rizal. Rizal masih bungkam, belum mau menanyakan apa dan mengapa mengenai kejadian tadi.


Tak lama Rendra bergabung, disusul Wuni yang langsung duduk di sebelah Lina.


"Mari makaaaan," ucap Lina mendahului seolah dialah tuan rumahnya. Dia tidak perduli dengan dua lelaki di depannya yang saling berpandangan heran.


Wuni yang baru datang ikut bingung melihat semua temannya hari itu bersikap abnormal. Namun demikian, dia langsung ikut melahap ramen berkuah merah di hadapannya.


***


Di tempat lain, Mayra melajukan mobilnya cepat. Dia harus segera sampai di cafe Nyamnyam karena di sana sudah ada seseorang yang menunggunya. Mayra sebenarnya malas untuk bertemu orang itu. Namun karena terpaksa, dia harus menghubunginya dan mengajaknya bertemu.


Seorang lelaki dengan kemeja hitam yang kancingnya terbuka satu tersenyum saat wanita yang ditunggunya datang.


"Aku senang akhirnya kamu sendiri yang mengajak bertemu," ucapnya sambil tersenyum. "Duduk!"


Satu gelas jus jeruk dan kentang goreng yang masih hangat sudah tersaji di sana. Lelaki itu rupanya sudah memperhitungkan kapan wanita yang ditunggunya akan datang.


"Untuk apa kamu cari saya di Griya?" tanya Mayra tho the point.


Lelaki di depannya, terkekeh. "Kangen."


"Gila kamu ya!!"


"Memangnya kamu tidak?"


"Yaa ampun Sandu, tolong lah. Kita sudah mempunyai kehidupan masing-masing. Aku sudah ada Azka, Anggun, dan kamu..."


"Risa? Dia berbeda dengan kamu."


Mayra mendengus kesal. Pantas saja Risa seolah membencinya, semua itu karena sikap pacarnya yang masih saja seperti itu.


Mayra sengaja menghubungi Sandu dan mengajaknya bertemu selepas pergi dari kedai ramen tadi karena ingin meluruskan semuanya dan akan meminta Sandu untuk tidak lagi datang mencarinya.


"Memangnya kamu sudah lupa dengan semua yang pernah kita lakukan??"


'Lakukan'??


Kalimat itu terdengar seperti pelecehan bagi Mayra. Semasa SMA, dia memang pacaran cukup lama dengan Sandu. Dan sudah banyak hal yang dia 'lakukan' berdua dengan mantannya itu.


"Sudah lah, San. Jangan bahas masalah bodoh. Sekarang kita sudah sama-sama dewasa. Tolong jaga Risa. Jangan sampai pikirannya masih macam-macam pada saya yang sama sekali tidak pernah ikut campur urusan kalian!!"


"Iya. Maafkan Risa sudah menamparmu."


Mayra menatap Santu tajam. "Jadi kamu yang memberitahu Lina soal tamparan itu?"


"Lina siapa?" Sandu bertanya jujur karena memang dia tidak kenal dengan nama yang Mayra sebut. "Saya tidak pernah memberitahu siapa pun soal tamparan Risa. Hey, itu aib calon saya. Tidak mungkin saya membeberkannya pada orang lain, kan?"


Mayra diam, dia setuju dengan alasan Sandu.


"Mungkin Rendra," jawab Sandu enteng.


Mendengar jawaban Mayra, Sandu tertawa tanpa suara.


"Dari ekspresimu, sepertinya kamu tidak tahu kalau dia datang pada Risa, ya?" Sandu menebak.


"Datang ke Risa? Untuk apa?"


"Untuk bertanya padanya, 'Apa yang sudah dia lakukan sampai membuat wanita yang dicintainya menangis?' Ya, kira-kira begitu."


Mayra mencerna omongan lelaki di depannya. Rendra menemui Risa untuk membelanya? Rendra mencari tahu sebab dia menangis waktu itu dengan langsung menemui Risa? Padahal hari itu Mayra sudah melarangnya. Namun nyatanya lelaki itu tetap menemui Risa tanpa dia tahu. Pikiran Mayra akhirnya menebak-nebak, sedalam apa perasaan lelaki itu padanya?


***


"Ada apa sebenarnya?" Rizal bertanya pada teman di sampingnya saat keduanya dalam perjalanan pulang.


Rizal masih ambil kemudi sejak kemarin. Dia sekarang tinggal di rumah Rendra untuk sementara waktu, atau bisa sampai seterusnya? Who knows? Rizal ingin menebus kesalahannya pada temannya itu. Dia berjanji pada dirinya untuk selalu ada di samping Rendra mulai saat ini.


"Sepertinya Lina sudah tahu semuanya." Rendra menjawab mantap.


"Soal apa?"


"Soal perasaan saya pada Mayra."


Rizal diam sejenak mendengar ucapan temannya, sepertinya dia sudah melakukan kesalahan lagi. Dia menggigit bibirnya.


"Oh, itu. Sepertinya kemarin saya sudah salah ngomong, Ren," aku Rizal.


"Salah bagaimana?"


"Waktu di pantai kemarin, saya bilang pada Lina kalau Mayra ada di rumahmu seharian."


"Aduuuh." Rendra memijat pelipisnya. Pantas saja Mayra menangis. Lina pasti sudah memarahinya habis-habisan, pikirnya.


Rendra segera mengambil benda pipih dari saku celananya dan langsung menelepon Mayra.


📞 "Halo, May??" Rendra langsung berucap, Mayra di seberang sudah menempelkan ponsel pada telinganya.


📞 "Ya??"


📞 "Kamu dimana?"


📞 "Masih di luar."


📞 "Dimana? Aku kesana, yaa?"


***


"Maafkan saya, May."


Rendra dan Mayra kini sudah duduk di kursi pantai yang sama seperti kemarin. Sementara Rizal menunggunya di dalam mobil yang jaraknya lumayan jauh. Dari tempatnya duduk, Rizal bisa menyaksikan kedua temannya itu sedang serius berbicara.


"Lina marah padamu?" tanya Rendra lembut.


"Entah." Mayra memang tidak tahu penyebab sebenarnya Lina bisa sekasar itu padanya.


"Lina sudah tahu kalau saya suka kamu?" tebak Rendra.


Mayra mendelik. Bukan itu yang Lina bahas di kedai ramen tadi, pikirnya.


"Kamu tahu aku di tampar Risa?" Mayra malah menanyakan hal lain.


Rendra mengangguk. Namun Mayra yakin, bukan Rendra yang memberitahu Lina perihal tamparan itu. Jika bukan Sandu dan juga bukan Rendra, lalu Lina tahu dari siapa? Mayra berpikir.


"Kamu sayang padaku?" Mayra menanyakan hal lain lagi.


Rendra mengangguk lagi.


"Bodoh." Mayra berkata sinis sambil tersenyum.


Rendra masih menunggu kelanjutan kalimat wanitanya.


"Tidak ada gunanya kamu sayang padaku. Karena memang tidak akan pernah ada hasilnya." Mayra menjelaskan serius.


"Yaaa, saya tahu. Tapi biarkan saja rasa ini mati dengan sendirinya. Untuk saat ini, biarkan saya nikmati semuanya sendiri," Ucap Rendra sambil menatap deburan ombak di depannnya.


"Untukmu." Rendra memberikan sesuatu pada Mayra yang ia keluarkan dari dalam saku kemejanya.


Mayra terkekeh menerima pemberian lelaki muda itu. Sebuah gantungan kunci berukuran tak lebih dari 10cm.


"Apa ini?" tanyanya.


"Hadiah," jawab Rendra singkat.


"Hadiah dalam rangka apa?"


"Dalam rangka memperingati hari menangis Mayra sedunia."


"Cih, dasar bocah." Mayra tersenyum simpul malu-malu, manis sekali.



Ditatapnya gantungan boneka berwarna cokelat pemberian Rendra, "Cantik. Aku suka", batinnya.


🌸


Assalamualaikum teman-teman, makasih yaa untuk yang sudah mampir 🤗


Oh iya, Bebee mau ngasih tau kalau untuk sementara Bebee slow Up dulu yaaa. Bebee mau merevisi semua episodenya dulu satu-satu 🤗


Doakan cepat selesai agar cepat Update MAHMUD lagi 😍


Jangan lupa jejak LIKE, KOMENTAR, dan VOTE yang banyaaaak yaa teman-teman.


Krisannya juga aku tunggu yaa 😘


Semoga kita semua sehat selalu 😘


Terimakasih 😘