
Malam ini Rizal mengajak Rendra pergi ke tempat tongkrongannya dulu, sebuah cafe yang tidak terlalu besar namun cukup ramai, kafe Kopikita. Kopikita adalah cafe garapan salah satu teman Rizal, Budi, yang tujuan utamanya adalah untuk menampung teman-temannya yang galau dan tidak punya tempat tujuan untuk sekedar melepas penat. Saat pertama pembukaan Kopikita dulu, yang datang pun adalah teman setongkrongannya dulu yang langsung membuat ruangan cafe penuh, termasuk Rizal.
Walau tak semewah cafe-cafe sekitarnya, namun Kopikita nyatanya memiliki tempat tersendiri di hati para pelanggannya. Selain karena adanya live akustik yang penyanyinya boleh siapa saja dari para pengunjung, hal pemikat lainnya yaitu sesuai namanya, Kopikita memiliki menu minuman berbagai macam dari olahan kopi. Budi yang ayahnya adalah pemilik kebun kopi, tentu akan mudah sekali mendapatkan biji kopi yang berkualitas bekal untuk pembuatan kopi cafenya yang terkenal nikmat itu.
"Ehem." Rizal sengaja berdehem sambil menggelayutkan tubuhnya pada meja marmer setinggi satu meter tempat Budi meramu kopi di baliknya. Sang empunya kafe melirik tak terkejut. Karena ternyata mereka sudah janjian dari pagi.
Rendra yang baru pertama kalinya datang ke Kopikita melihat sekeliling takjub. Saat dalam perjalanan tadi Rizal sedikit bercerita bahwa tempat yang akan mereka kunjungi adalah cafe milik temannya yang dibangunnya seorang diri, tanpa bantuan orang tua. Kopi yang didapat dari kebun orang tuanya pun tidak didapatkannya dengan gratis. Budi harus tetap merogoh kocek walau tidak 100% harga. Tapi setidaknya itulah yang keluarganya ajarkan. Dalam berbisnis, anak-anaknya harus mampu mengelolanya sendiri.
"Ada?" Rizal bertanya pada Budi penuh selidik. Rendra yang berdiri di sampingnya jelas tidak tahu apa yang sedang temannya bahas itu.
"Ada. Duduk saja dulu," jawab Budi langsung mengerti maksud Rizal.
"Hahaha. Siaaaap!" Rizal mengangkat tangannya ingin tos. Budi menyambutnya cepat lalu segera berlalu ke belakang. Sementara Rizal mengajak Rendra duduk dengan lirikan matanya.
Rizal mencari kursi yang paling belakang, jauh dengan rombongan teman-temannya yang sedang asik memainkan musik di depan. Ruangan persegi bernuansa cokelat muda dengan meja-meja bundar yang terbuat dari jati mengkilat itu sengaja ditata berjejer namun tak beraturan memenuhi lantai bermotif catur. Lampion mini menggantung di atas setiap meja menambah cantiknya dekorasi yang Budi usung.
"Dapat teman sekeren ini dari mana, Bang?" Tanya Rendra sambil menikmati petikan gitar yang sedang dimainkan orang-orang di depannya. Rendra sekarang sudah membiasakan diri memanggil temannya itu dengan sebutan 'Abang'. Alih-alih sudah cukup lama hidup serumah, Rizal sudah benar-benar seperti kakak baginya.
"Dikenalkan teman kampus dulu. Coba dulu kita aman-aman saja ya? Pasti kita sering kesini berdua nih," ucap Rizal menggoda teman di sampingnya.
"Hahahaha," tawa Rendra renyah sekali. Dia memang selalu terbahak jika ingat tentang dirinya dan Rizal dulu. Musuhan karena wanita? No way!!
Dari kejauhan, satu pelayan wanita berjalan dengan membawa dua cangkir kopi dalam nampannya menuju meja yang Rizal tempati. Rendra memerhatikannya tajam.
"Bang, kok cantik sih? Itu pelayan mau kesini?" Rendra menepuk kaki Rizal pelan.
"Hahaha, iya. Dia mau antar kopi pesanan kita. Setuju kan kalau dia cantik?" Rizal balik bertanya. Rendra mengangguk.
Tak lama, wanita dengan rambut sepinggang yang dikuncir kuda itu meletakkan dua cangkir kopi yang mengepul mengeluarkan aroma harum pada meja Rizal.
"Terimakasih, Ras," ucap Rizal santai sambil mengambil satu cangkir kopi di depannya dan menikmati aromanya dengan mata terpejam.
Rendra mengangguk mengerti. Temannya itu sudah sering datang ke kafe itu, pastilah dia sudah banyak akrab dengan pelayan di sana.
"Duduk, Ras!" Pinta Rizal kemudian sambil menyiapkan kursi untuk wanita manis yang masih berdiri di depannya itu.
"Terimakasih," Jawabnya malu sambil menempati kursi yang di sediakan.
Rendra hanya bisa tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya saat wanita di depannya itu terlihat menyapanya melalui senyumnya.
"Kamu cantik, katanya," Tukas Rizal memberitahu wanita itu sambil melirikkan pojok matanya ke arah Rendra.
Rendra yang kala itu sedang menyeruput kopi jelas tersedak. Bisa-bisanya temannya itu asal bicara. Walau ia mengakui bahwa wanita itu cantik, namun dia tidak menyangka bahwa Rizal akan langsung memberitahukannya. Wanita yang kini duduk bersama mereka terkekeh melihat tingkah Rendra.
"Tuh kan sampai tersedak begitu. Terpesona tuh lihat senyummu, Ras. Manisnya kopi juga jelas lewaaaat." Rizal masih mengada-ada. Si wanita makin terkekeh. Rendra ikut nyengir tak niat. Dia bingung dengan tingkah temannya yang mendadak aneh itu.
"Kenalkan Ren, Raras," Ucap Rizal menggerakkan kepalanya ke arah wanita yang bernama Raras seolah memaksa Rendra untuk segera mengulurkan tangannya.
"Rarasati," katanya sambil menyodorkan tangan, tersenyum manis sekali. Satu lesung pipinya menyekung.
Rendra menarik napasnya pelan. Ada ciri Mayra pada wanita itu, lesung pipi. Dalam kondisi yang sebenarnya menyenangkan itu pun masih saja ada hal yang mampu mengingatkan lelaki itu pada wanita yang dicintainya. Wanita di depannya memang tak kalah cantik dengan Mayra. Tapi bagi Rendra, Mayra tetap yang teristimewa.
"Rendra," ucap Rendra akhirnya menyambut tangan lembut Raras.
"Kan cocok kan? Yang satu Rrrrrenda, yang satu Rrrrrraras, sama-sama Rrrrrrr." Rizal kacau bukan main berhasil membuat Rendra kembali tertawa, pun Raras.
"Lah bukannya kamu juga Rrrrrrrr, Bang? Rrrrrizaaaaaal!!" Rendra menimpali ikut kacau.
"Hahahahhahahaa," tawa Rizal menggelegak mengisi satu ruangan. Rizal dan Rendra memang tak peduli tempat dan waktu jika keduanya ingin tertawa, mereka akan melepaskannya puas, tak ada yang ditahan.
Melihat dua lelaki di depannya terbahak, Raras tersenyum simpul. Tak sengaja Rendra menangkap senyuman itu sekilas. Senyumnya manis sekali, sungguh.
"Eh sudah ini? Kenalannya begitu saja?" Protes Rizal pada temannya yang malam itu terkesan kaku.
Dari pagi Rizal sudah merencanakan agenda malam ini dengan Budi. Dia ingin mengenalkan Raras pada Rendra. Alih-alih ingin membantu teman yang sedang patah hatinya itu karena wanita bersuami. Walau hasil akhirnya tidak ada yang tahu, namun mencoba bukanlah hal buruk.
"Kamu tidak penasaran pelayan cantik ini siapa? Barangkali kamu ingin tanya, kenapa kok cantik-cantik jadi pelayan?" Rizal mengangkat-angkat kedua alisnya menggoda Rendra.
Rendra setuju. Untuk seukuran Raras, dia terlalu cantik dan bersih untuk pelayan cafe yang tidak terlalu besar. Terlihat sekali kulitnya terawat dan tadi saat bersalaman, tangan wanita itu terlalu halus. MakeUp tipis natural yang menempel pada wajah gadis itu kentara sekali menandakan bahwa dia pandai menyesuaikan dandanan yang pas untuk wajahnya. Sekilas Rendra jadi tidak yakin bahwa Raras adalah pelayan.
"Betul!! Dia bukan pelayan." Rizal berkata seolah dia bisa membaca raut wajah Rendra yang keheranan. "Dia adik Budi," lanjutnya. Rendra mengangguk, rasa penasarannya terjawab sudah.
"Tuh Rendra sekarang sudah di depan kamu, utarakan saja apa yang selama ini kamu pendam, halal kok. Dia belum beristri," ucap Rizal pada Raras mulai asal bicara lagi sambil berlalu pergi menyisakan mereka berdua di sana.
Rendra kikuk. Dia tidak tahu harus membicarakan apa. Bukan karena dia tidak ahli dalam hal itu. Tapi hatinya sedang berantakan saat ini. Dia belum berniat untuk berkenalan dengan wanita dengan tujuan apa pun. Baru saja kemarin dia dia patah hati karena Mayra, hari ini dia langsung disodorkan Rizal dengan wanita lain? Hatinya tidak segampangan itu.
Raras tersenyum lagi. Dan tak bisa disangkal, Rendra sangat menikmati senyuman itu, teduh sekali.
"Sudah lama ya kita tidak bertemu? Kamu sehat?" Tanya Raras memecah keheningan sejenak diantara keduanya.
"Hmm, sehat Alhamdulillah. Tapi, memang kita pernah bertemu, ya?" Rendra belum mengerti. Karena dia memang tidak merasa pernah bertemu Raras sebelumnya.
"Hehe. Sebenarnya tidak pernah bertemu langsung sih. Hanya saja aku sering lihat kamu kok, tanpa kamu tahu," ucap Raras malu-malu. Namun dia sengaja memberanikan dirinya karena dia memang sudah lama menantikan saat-saat ini, duduk berdua dengan lelaki yang sudah lama ditaksirnya.
"Lihat saya? Dimana memangnya?" Rendra dibuatnya penasaran.
"Di kampus. Kan dulu kita satu kampus."
"Oooh, begitu." Rendra asal mengiyakan, karena dia benar-benar tidak merasa pernah bertemu atau sekedar melihat Raras di kampusnya. Atau mungkin karena dia saja yang terlalu cuek sehingga tidak memerhatikan orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya. "Salam kenal, ya." Rendra seolah mengajak berkenalan lagi walau tadi sudah berkenalan. Setidaknya kali ini dialah yang mengikrarkan perkenalan itu terlebih dahulu.
Rendra, Raras, akankah serasi?