
Mayra sampai di rumah dengan keadaan kesal. Walau dia sebisa mungkin bersikap biasa saja, namun bi Marni yang sudah mengenalnya bertahun-tahun jelas mengetahui bahwa majikan mudanya sedang memendam marah. Terbukti dengan Mayra yang tak biasanya meletakkan sepatu kremnya asal pada rak sepatu yang ada di belakang pintu. Bi Marni yang saat itu sedang menyapu ruang tengah tersenyum memaklumi.
"Anggun tidur, Bi?" Mayra menyenderkan badannya pada sofa ruang tamunya. Ia hela napasnnya keras melalui setengah lubang mulutnya. Jika bi Marni sedang anteng bekerja, Anggun biasanya memang tidur.
"Betul, Mbak," jawab bi Marni sambil menghentikan aktifitasnya. "Mau bibi ambilkan air dingin, Mbak?" Tawar bi Marni yang sudah hapal dengan minuman kesukaan majikannya itu. Apalagi kalau suasana hatinya sedang tidak baik seperti sore itu.
"Tidak usah, Bi. Nanti biar aku ambil sendiri saja," jawab Mayra sambil tersenyum. "Bi, duduk sini, Bi!" Mayra menepuk bagian sofa di sampingnya. Bi Marni manut.
"Bi, aku mau tanya sesuatu, dong," tukas Mayra tanpa sungkan. Dia memang sudah menganggap bi Marni seperti keluarganya, pun bi Marni.
"Tanya apa, Mbak?" Bi Marni menjawab dengan lembut. Sifat keibuannya memang kental sekali.
Mayra menatap bi Marni teduh. Dia ingin mempunyai teman cerita mengenai masalah-masalah yang sedang dihadapinya. Untuk saat itu, dia ingin mempunyai tempat berbagi cerita mengenai dirinya yang nyatanya menyukai pria lain. Namun selama ini Mayra berpikir, harus pada siapa dia membagi beban pikirannya itu? Dia tidak bisa bercerita pada sembarang orang. Karena dia tahu, tidak semua orang bisa menjaga rahasia dengan sempurna.
Namun melihat bi Marni, Mayra pikir beliaulah orang yang tepat ia pilih untuk dijadikan tempat mengadu segala permasalahan hatinya. Bi Marni tahu dirinya, pun tahu tentang Azka. Pastilah bi Marni bisa menjadi penasehat yang baik nantinya.
"Bi, saat bibi sudah lama menikah dengan suami bibi, bibi pernah tidak naksir orang lain?" Tanya Mayra ragu sambil mengerutkan wajahnya.
Mendengar pertanyaan majikan mudanya, bi Marni malah terkekeh. Dia sedikitnya sudah tahu tentang masalah yang sedang dihadapi oleh kedua majikannya itu.
"Hm, kalau bibi pribadi sih tidak pernah ya, Mbak. Hanya saja pernah ada mantan bibi yang datang ke rumah dulu," jawab bibi dengan nada suaranya yang menenangkan sedikit malu-malu.
"Hah? Ke rumah, Bi? Saat bibi sudah menikah?" Mayra terkejut mendengar pengakuan bi Marni.
Bi Marni mengangguk. "Iya. Dia datang saat suami bibi sedang tidak di rumah. Dulu kan bibi jualan di rumah. Nah dia datang pura-pura belanja. Padahal mah dia rindu," ucap bibi meringis.
"Hahahaha, yaa ampun. Lucu juga ya mantan bibi. Terus terus, selanjutnya gimana, Bi?" Tanya Mayra penasaran.
"Saat itu umur bibi belum 40, Mbak. Bibi lihat ada mantan datang, jantung bibi sebenarnya deg-degan. Kaget saja begitu, Mbak. Tiba-tiba ada yang mau beli, tapi wajahnya tidak asing bagi bibi," tukas bibi melanjutkan ceritanya.
"Yaa ampun. Aku bisa membayangkan kalau jadi bibi. Grogi ya, Bi?" Mayra semangat mendengarkan kelanjutan cerita si Bibi.
"Betul, Mbak. Walau bibi sudah tidak ada rasa apa-apa, tapi kok yaa aneh. Pas lihat wajahnya bibi jadi gemetar," ucap bibi polos.
"Hahahaha, benar Bi, benar. Berarti memang semuanya begitu ya, Bi?" Tanya Mayra meminta persejutuan. Bi Marni mengangguk.
"Memangnya kenapa, Mbak? Tumben mbak Mayra tanya bibi masalah begini?" Bi Marni sengaja menyelidik.
"Bi," ucap Mayra terputus. Dia masih berpikir akan melanjutkan ceritanya atau tidak.
"Cerita saja, Mbak. Tidak apa-apa. Barangkali dengan cerita, hati mbak May bisa jadi lebih plong," ucap bi Marni seolah tahu keraguan hati wanita muda di hadapannya.
"Bi, kalau aku suka lelaki lain, wajar tidak sih, Bi?" Ucap Mayra akhirnya mengakui isi hati yang selama ini tidak pernah dia ucapkan pada siapa pun.
Bi Marni tersenyum menenangkan. Tangannya yang sedari tadi memegang gagang sapu, kini beralih pada tangan majikannya.
"Menyukai orang lain itu wajar, Mbak. Namanya manusia. Mata kita diciptakan memang untuk menyukai hal-hal yang indah. Lelaki lain yang mbak May suka pasti ganteng kan?" Tebak bi Marni langsung tepat sasaran. Mayra mengangguk.
"Dia tidak hanya ganteng, Bi. Dia juga menyenangkan. Bersama dia, aku seperti hidup kembali. Ini yang salah, Bi. Aku tahu," Aku Mayra sambil tertunduk menyadari bahwa yang dia lakukan memang salah.
"Ya sudah, Mbak. Mbak May suka dia itu wajar, yang penting jangan diteruskan. Segera stop perasaan mbak Mayra pada dia. Jangan sampai semakin dalam," ucap bi Marni menatap tenang wajah majikannya.
Mayra menghela napas karena kenyataannya perasaannya semakin hari semakin dalam walau dia sebisa mungkin sudah menghalaunya. Apalagi tadi, Mayra baru tahu bahwa dirinya bisa merasakan cemburu pada Rendra yang katanya sudah mempunyai pacar baru. Perasaan macam apa itu?
"Bi, aku juga tidak paham ini perasaan apa. Tapi ternyata aku cemburu loh Bi mengetahui dia sudah punya pacar sekarang." Mayra mengatakan itu dengan raut wajah menyesal. Dia menyesal telah memiliki rasa cemburu untuk lelaki selain Azka.
"Kalau mas Azka yang punya wanita lain, mbak May cemburu tidak?" Tanya bi Marni sengaja memancing.
"Ah bibi aaaaah, jangan berbicara begitu, Bi. Aku tidak mau Azka punya wanita lain dari mana pun!!!" Ucap Mayra tegas. Bi Marni terkekeh.
"Nah itu. Cepat hilangkan perasaan apa pun yang mbak May rasa untuk lelaki lain ya? Jangan sampai nanti Allah marah dan membalas semuanya dengan memberikan mas Azka perasaan juga pada wanita lain. Kalau sudah begitu, nanti mbak May yang menyesal. Mas Azka itu suami yang baik, Mbak," ucap bi Marni masih dengan nada tenangnya. Dia paham, majikan di depannya memang adakalanya bersikap kekanak-kanakan.
Hati Mayra bergetar mendengar nasehat bi Marni. Omongan bi Marni semuanya benar. Jika suatu saat Azka benar menyukai wanita lain, dia bisa apa? Mayra tahu dirinya tidak akan sanggup menerima itu.
"Terimakasih ya, Bi. Aku senang bi Marni ada di keluarga ini. Bi Marni terbaik." Mayra menghamburkan dirinya pada pelukan bi Marni. Bi Marni menyambutnya hangat. Majikan mudanya itu memang terkadang menggemaskan.
"Eh tapi bi Marni janji yaa tidak memberitahu Azka tentang yang aku ceritakan ini?" Mayra melepaskan dirinya dari pelukan bi Marni dan mendelik mengancam.
"Wani piroo??" Bi Marni sengaja menggoda majikannya dengan memainkan jari telunjuk dengan jempolnya.
"Hahahaha, ora wani."
Majikan dan pembantu itu terbahak bersama layaknya ibu dan anak yang saling mencurahkan isi hati. Bukankah di hadapan Allah semua manusia itu sama?