MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Akibat Satu Wanita Gila



Mayra duduk menyenderkan tubuh pada penyangga ranjang tidurnya dengan posisi kakinya yang ia luruskan ke depan. Matanya fokus menatap layar ponsel membaca sederet pesan dari nomor yang belum tersimpan di dalam ponsel barunya itu. Dari tempatnya berdiri, Azka yang sedang menyisir rambutnya memerhatikan Mayra dari pantulan cermin di depannya. Lelaki yang setengah jam lalu baru pulang kerja dan selesai mandi itu menatap wajah istrinya yang tanpa ekspresi sambil masih menatap layar ponselnya.


"Ada apa, Yank?" Azka masih menatap Mayra dari pantulan cermin di depannya.


"Sandu, Yank," jawab Mayra jujur.


"Sandu? Kenapa dia?" Azka berjalan menghampiri Mayra dan duduk di sampingnya. Kini mereka duduk bersebalahan berhadapan.


Mayra tak menjawab. Dia hanya menyodorkan ponselnya dan membiarkan Azka membacanya sendiri. Azka mengerutkan dahinya bingung lalu menatap istrinya.


"Ini maksudnya bagaimana?" Azka tak mengerti. Karena Mayra memang belum pernah menceritakan permasalahan dirinya dengan Sandu.


Bagi Mayra, permasalahan dirinya dengan Sandu, terutama Risa tidaklah terlalu penting untuk dibahas bersama suaminya selama itu tidak mengancam diri dan keluarganya. Namun sebaliknya, tanpa Mayra tahu, Azka sudah sedikit-sedikit tahu perihal semua masalahnya itu.


Mayra membaca lagi sederet kalimat dalam pesan yang dikirim Sandu padanya. Dia sangat yakin Sandu sedang membicarakan Risa. Dia ingat betul saat di Pantai Pasir kemarin, Sandu terlihat terkejut saat mengetahui dirinya datang, pertanda bahwa Sandu tidak tahu atas rencana yang entah apa tujuan dari tunangannya itu.


Mayra menatap mata Azka lekat. "Mungkin ini tentang Risa, Yank."


Mendengar nama Risa disebut, Azka menyatukan kedua alisnya berusaha mengingat nama itu. Mayra terkekeh. Suaminya itu memang tidak akan mengingat hal-hal yang tidak penting baginya. Namun demikian, setelah Mayra bercerita nanti, dia yakin suaminya itu akan selalu mengingat nama Risa dengan baik.


"Risa itu tunangannya Sandu, Yank. Kita pernah bertemu dengannya di parkiran cafe di atas bukit itu loh, ingat??"


Azka diam sejenak lalu mengangguk. Dia langsung teringat saat dia bertemu Risa tanpa Mayra tahu saat di kebun binatang waktu itu. Di sana jelas sekali terlihat bahwa Risa memang ada masalah dengan istrinya yang jelas dia tidak tahu itu.


"Iya aku ingat, Yank. Kamu ada masalah apa dengan mereka sampai Sandu menyebutkan 'kerumitan'?" tanya Azka penasaran menekankan kata terakhirnya.


"Hm...." Mayra mengangkat satu pojok bibirnya. "Kalau dari aku pribadi sih sebenarnya tidak ada, Yank. Tapi dari Risa, dia menganggap aku ini masalahnya."


"Loh, kok bisa begitu??"


"Sandu itu sudah tunangan dengan Risa, Yank. Tapi ternyata, katanya Sandu masih menyimpan rasa untukku. Jadi Risa marah padaku padahal selama ini aku sama sekali tidak pernah lagi berhubungan dengan tunangannya itu," tukas Mayra menjelaskan.


Azka mengangguk mengerti. "Ya sudah, Yank. Berarti itu masalah mereka. Kamu abaikan saja mereka, ya?"


"Aku tidak bisa abai begitu saja, Yank. Risa itu 'sakit'. Aku tidak mengerti dengan pola pikirnya. Tapi untuk wanita dewasa seumuran dirinya, harusnya dia sudah pandai mengolah perasaannya, kan? Tapi dia tidak, Yank. Emosinya bisa meluap kapan saja saat ada aku, dan...." ucapan Mayra terputus. Dia ragu akan mengatakan kalimat selanjutnya pada suaminya. Dia hanya khawatir Azkanya khawatir.


"Dan???" Azka ingin mendengar lanjutan kalimat istrinya dengan memicingkan satu matanya.


Mayra menyorot mata Azka dengan matanya. "Hmm." Mayra menggaruk hidungnya yang tidak gatal. "Kamu jangan marah, ya!"


Azka mengernyitkan dahinya bingung sekaligus semakin penasaran. "Ada apa, Yank?"


"Aku pernah di tampar Risa."


"Hah???" Azka mengangakan mulutnya saking terkejutnya. Mata Azka menatap mata Mayra tajam. Dia sama sekali tak habis pikir jika wanita sebaik istrinya sampai bisa ditampar wanita lain. "Itu awalnya bagaimana, Yank?"


Mayra akhirnya menceritakan semuanya. Dari asal mula dia bertemu Risa di cafe Orenji sampai pertemuannya kemarin di Kopikita hingga dia yang disebut 'jallang', termasuk tentang ponselnya yang hilang. Gigi Azka mengatup menahan marah. Dia tidak bisa membayangkan betapa sakit hati Mayra saat kata itu terlontar untuknya.


Azka mendekap tubuh hangat istrinya. "Maafkan aku, Yank. Nyatanya aku memang belum bisa jadi suami yang baik untuk kamu. Masalah sebesar ini pun aku tidak tahu??" Azka menyesal merutuki dirinya sendiri.


Tangan Mayra balik memeluk tubuh tegap Azka. "Bukan salahmu, Yank. Kamu tidak tahu karena aku tidak menceritakannya padamu. Aku yang salah. Aku pikir masalah ini hanya sekedar angin lalu saja. Tapi nyatanya jadi lumayan panjang juga, hehe." Mayra terkekeh dalam pelukan suaminya.


"Iya sayangku." Mayra mengecup bibir Azka singkat.


"Aku pastikan semuanya akan baik-baik saja." Azka menyisir lembut anak rambut pada dahi Mayra. "Sekarang kita tidur, yuk! Kamu pasti lelah karena seharian jalan-jalan dengan anak-anak kan?"


"Hehehe, iya. Tapi mulai besok kan aku free. Jadi aku bisa begadang sesukaku doong!" protes Mayra manja.


"Jadi malam ini kamu ingin bedagang? Aku ngantuk loh, Yank. Hoaaaaaam." Azka pura-pura menguap, berharap Mayra juga mengantuk dan cepat tidur karena ada hal yang ingin dia kerjakan.


"Ya sudah ayo kita tidur!!" Mayra menarik tubuh Azka hingga keduanya ambruk dalam kasur empuk berbalut sprey lembut itu. Mereka tertawa, lalu bersiap untuk tidur.


....


Tik tik tik tik. Bunyi jarum jam berdetik. Sunyi.


Azka masih berpura-pura tidur memejamkan matanya sudah cukup lama. Dia ingin membuka mata, namun dia khawatir Mayranya masih terjaga.


Tik tik tik. Senyap.


Azka yakin Mayra sudah terlelap. Perlahan, dia buka matanya sedikit demi sedikit. Dan benar saja, Mayra sudah tidur. Pelan-pelan Azka bangkit dari tidurnya dan keluar dari ranjang. Pelan-pelan juga dia berjalan mendekati meja yang ada di sebelah Mayra. Diambilnya ponsel Mayra dan segera Azka menyalin nomor Sandu ke dalam ponselnya. Selesai!


Azka mengambil kunci mobilnya di atas meja rias Mayra dan berjalan pelan-pelan meninggalkan kamar.


Azka kini sudah berada di dalam mobilnya dan menyalakan mesinnya. Namun tanpa Azka tahu, Gendis yang masih terjaga mengintip perginya mobil Azka dari balik hordeng jendela kamarnya yang dekat dengan halaman parkiran.


"Azka pergi kemana malam-malam begini?" desis Gendis menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.


Azka memacu mobilnya lumayan cepat membelah jalanan malam yang basah karena hujan masih tersisa walau hanya gerimis. Setelah dirasa lumayan jauh dari komplek perumahannya, Azka menghentikan mobilnya untuk menelepon Sandu.


TUUUT. Nada sambung berdering. Tak butuh waktu lama, orang di seberang langsung mengangkat teleponnya itu.


📞 "Halo," sapa orang di seberang.


📞 "Halo, San??" jawab Azka to the point.


📞 "Ya? Maaf ini siapa?"


📞 "Saya Azka, suami Mayra. Bisa kita bertemu?"


Mendengar jawaban orang yang menelponnya, Sandu terdiam sejenak. Dia merasa ada yang tidak beres. Jangan-jangan suami Mayra marah karena malam itu dia mengirimi istrinya pesan?


📞 "Hm, ada perlu apa ya?" tanya Sandu memastikan.


📞 "Ini tentang Risa," jawab Azka singkat.


Sandu yang juga masih berada di dalam mobil menatap kaca mobilnya yang mengucurkan air. Nama tunangannya disebut. Dia mengerti persoalannya saat itu tidak hanya menyangkut individu. Mayra mempunyai suami, jelaslah kalau suaminya sekarang turun tangan perihal kelakuan Risa kepada Mayra yang mungkin sudah diketahui suaminya itu.


Sama dengan Azka, Sandu juga saat itu sedang menepikan mobilnya saat ponselnya berdering tadi. Sandu sadar bahwa berkendara sambil bertelepon memang tidak baik. Keselamatan dirinya lebih penting daripada menerima telepon sambil mengemudi apalagi di tengah hujan seperti malam itu.


📞 "Hm, ingin bertemu dimana?" tanya Sandu akhirnya.