
Lina berdiri terpaku di depan pintu saat mendengar Wuni mengatakan bahwa Rendra menyukainya. Namun gadis itu sengaja bersikap seolah tak mendengar apa-apa. Sementara Wuni terkejut bukan kepalang sampai dia refleks menutup mulut dengan tangannya saat mengetahui orang yang disebutnya datang. Alih-alih ingin menyelamatkan Mayra, dia malah menjebloskan Lina dengan tanpa sengaja karena niatnya memang jelas bukan ke arah situ. Bagaimana nanti dia harus menjelaskan semuanya pada Lina? Wuni mengkerutkan wajahnya bingung.
"Hai, semua!" Lina melambaikan tangannya berusaha santai. Dia sebenarnya gugup. Dia menatap Mayra, dia merasa bersalah padanya perihal kejadian di Pantai Pasir kemarin. Dia mengerti jika Mayra marah padanya. Karena perbuatannya kemarin memang sama sekali tidak bisa dimaklumi.
"Hai, Lin. Akhirnya datang juga. Sini duduk!" ajak Gendis menepuk bagian sofa di sebelahnya.
Dengan senyum yang dipaksakan, Lina manut berjalan dan duduk di samping Gendis. Gadis itu lalu memeluk Gendis sambil mencium pipi kanan dan kirinya.
"Kamu sehat, Lin?" Gendis melepaskan pelukannya dan memegang kedua lengan Lina.
"Sehat, Te." jawab Lina singkat tanpa balik bertanya. Dia terlalu bingung untuk berada di tengah-tengah orang yang dikecewakannya kemarin.
Mayra, Rendra, Anto, terlebih Wuni hanya bisa diam. Dia hanya bisa menyayangkan ucapannya yang asal bicara tadi. Lina pun sama. Hari itu dia benar-benar merasa tidak nyaman ada di sana. Dia canggung pada Mayra dan Rendra. Lina yakin sekali bahwa Mayra dan Rendra kecewa padanya atas hari kemarin. Jika bukan karena Gendis, Lina jelas tidak akan mau datang ke Griya hari itu.
"Oke, berhubung pasukan inti Griya sudah berkumpul semua, tante ingin menyampaikan beberapa hal penting," ujar Gendis memulai rapat tidak resminya itu.
Semua anggota Griya siap menyimak dengan seksama walau sebenarnya suasana di ruangan itu langsung menjadi canggung. Sekejap Lina melirik Mayra yang sedang asik berbincang lirih dengan Anggun. Sementara Rendra menatap Lina yang tak bisa dimengertinya itu. Waktu itu katanya Lina sudah berbaikan dengan Mayra sampai ada acara makan malam berdua segala, tapi mengapa gadis itu malah menjerumuskan Mayra dalam acara yang jelas tidak disukainya? Sebenarnya apa yang Lina inginkan atau rencanakan?
"Pertama, tante ingin menyampaikan bahwa mulai besok Mayra tidak akan sering ada di Griya lagi. Mungkin hanya seminggu sekali, atau yaaa sesempatnya Mayra saja," lanjut Gendis memberitahu mengarahkan matanya pada keponakannya.
"Loh memangnya kenapa, Tant??" Wuni langsung penasaran dengan wajah terkejutnya. Matanya beralih dari Gendis menuju Mayra meminta jawaban.
Rendra tak kalah terkejut. Mata tajam lelaki itu menyorot wajah Mayra ikut meminta penjelasan. Pun Lina dan Anto yang juga keheranan.
"Mayra ingin fokus mengurus Anggun. Anggun sekarang sudah sangat aktif jalan dan lari kesana-kemari. Jadi Mayra ingin menemani Anggun setiap saatnya," jawab Gendis sekenanya.
Wuni mengangguk, pun Anto. Tapi tidak dengan Rendra dan Lina. Kedua orang yang sangat paham bagaimana Mayra itu, tentu tidak akan percaya begitu saja. Rencana Mayra untuk jarang datang ke Griya terlalu mendadak dan lebih terdengar seperti sengaja menjauh. Dari siapa? Rendra berpikir itu karena dirinya, namun Lina berpikir itu juga karena dirinya.
"Jadi mulai besok, tante minta kamu kembali stay di Griya ya, Lin!" bujuk Gendis meletakkan satu tanggannya pada paha Lina. "Tante percayakan Griya padamu. Mengenai keungan dan lain-lain yang memerlukan dana, kamu tinggal hubungi Mayra."
Lina meringis. Keyakinan dirinya atas penyebab mundurnya Mayra semakin kuat saat Gendis menyerahkan Griya padanya. Lina semakin merasa bersalah. Mayra pasti sangat marah padanya perihal kemarin sampai-sampai wanita itu langsung seolah undur diri dari Griya karena tidak ingin bertemu dengan Lina, mungkin?
Wuni menatap Mayra yang duduk dekat dengannya dengan tatapan sedih. Mayra langsung terkekeh melihat ekspresi lucu teman lucunya itu.
"Kalau nanti aku kangen mbak May, bagaimana dooong?" tanya Wuni memelas.
"Ish!!" Wuni memanyunkan mulutnya merajuk. Mayra terkekeh lagi.
Rendra hanya mampu diam. Dia tundukkan kepalanya seolah merenung. Jika dia hanya bisa bertemu dengan Mayra seminggu sekali, lalu bagaimana jika dia rindu?
"Oke, info kedua, kita jalan-jalan, yuk! Kemana ya yang seru?" ucap Gendis bersemangat.
"Ayoooooo!!" tukas Wuni antusias.
"Kemana Wun kira-kira?" Gendis meminta pendapat karyawannya yang comel itu.
"Hm, Danau Biru, Tant. Kata mbak Mayra sih bagus. Tapi aku belum pernah kesana. Maka dari itu ayo kita kesana yaa??" pinta Wuni bersemangat teringat cerita Mayra yang mengatakan bahwa Danau Biru sangatlah indah.
"Tapi bukannya jalan menuju kesana tidak bisa dilalui mobil, ya?" Lina akhirnya ikut bicara.
"Sebenarnya jika hanya untuk satu mobil bisa saja sih. Aku sudah mengira-ngiranya. Hanya saja akan repot jika dari arah berlawanan ternyata ada mobil juga. Menuju kesana memang amannya pakai motor sih," ucap Mayra yang sudah bisa memastikan bahwa jalanan menuju Danau Biru bisa dilalui dengan mobil walau dengan pengecualian.
"Hm, begini saja," ucap Rendra akhirnya buka suara. Teman-teman yang lain langsung mengarahkan matanya pada Rendra. "Kalian semua dan tante Gendis pakai mobil Mayra," lanjut Rendra mengingat bahwa di parkiran hanya ada mobil Mayra. Kebetulan hari itu dia membawa motor. "Saya sendiri pakai motor saja. Nanti saya jalan di depan. Nanti saat sampai pertigaan, kalian tunggu dulu di sana. Biar saya naik dulu ke atas untuk memastikan ada tidaknya mobil yang akan turun. Bagaimana?"
"Oke. Anto yang bawa mobil, ya?" tukas Gendis mengusulkan.
"Hehehe." Anto meringis. "Saya tidak bisa bawa mobil, Tant," aku Anto sejujurnya.
"Ih kamu ini ya!! Masa mbak Mayra atau tante Gendis yang bawa sih??" protes Wuni memelototkan matanya pada Anto.
"Biar aku saja," ucap Lina menawarkan diri.
Rendra melirik. "Hm, begini saja. Yang menyetir mobil biar saya saja. Kamu yang bawa motor ya, Nto. Bagaimana? Kasihan kalau yang bawa mobil perempuan, jalanannya lumayan." Rendra mengalihkan matanya pada Anto. Lelaki itu mengangguk setuju.
"Nah kan, memang cerdas kamu, Ren!!" Wuni mengacungkan kedua jempolnya semangat berhasil membuat Gendis terkekeh.
Wanita yang keibuan namun masih terlihat sangat muda itu akhirnya mengerti mengapa ponakannya bisa menyukai Rendra. Lelaki itu mengerti sekali wanita. Apalagi pada Mayra yang jelas disukainya. Gendis bisa membayangkan bagaimana Rendra memperlakukan Mayra, pasti manis sekali. Gendis diam-diam terkekeh. Dia kembali membandingkan dirinya dengan ponakannya. Ponakannya itu dicintai dua lelaki yang benar-benar memperlakukannya dengan baik. Sementara dirinya? Satu lelaki saja tidak becus.
Di kursi tempatnya duduk, Lina diam-diam juga tersenyum simpul mendengarkan ucapan Rendra yang seolah tidak membiarkan dirinya menyetir mobil. Ternyata lelaki itu perhartian juga padanya, pikirnya.