MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Wanita Terberuntung



Wuni yang berjanji tidak akan memberitahu siapa pun perihal pertemuannya dengan Rendra dan Mayra di cafe kemarin, nyatanya keceplosan mengatakan hal itu pada Lina, orang yang seharusnya haram mendengar kabar itu. Hal itulah yang membuat Lina semakin geram dan menumpahkan semua kemarahannya kemarin. Ditambah dengan Mayra yang menuduhnya soal mawar. Kekecewaan gadis itu semakin memuncak.


Wuni tertunduk diam saat jam pulang Griya telah tiba. Lina sudah meninggalkan Griya setengah jam lebih awal dari biasanya. Kini yang tersisa di sana hanya Wuni, Mayra, dan Rendra.


Di luar gerimis. Tapi bukan hal itu yang menahan mereka untuk tetap tinggal di Griya. Rendra sengaja tertahan di sana karena ingin berbicara dengan Mayra. Sementara ibu satu anak itu belum ingin pulang karena suasana hatinya yang kurang baik, dia tidak ingin pulang menemui putrinya dengan kondisi yang seperti itu. Sementara Wuni, dia sedang memikirkan bagaimana caranya meminta maaf kepada kedua temannya itu.


"Mbak May?" Wuni memanggil Mayra dengan suara yang hampir tak terdengar.


Wuni duduk di sofa sembari memainkan jari-jemarinya. Dia sebenarnya ragu akan mengaku bahwa dialah yang kemarin tidak sengaja memberitahu Lina tentang janjinya pada Mayra. Dia keceplosan. Tapi dia juga tidak mau menanggung perasaan bersalah jika dia tidak mengaku.


"Ya??" Ucap Mayra sambil duduk di depan Wuni dengan membawa segelas air dingin. Ia butuh itu untuk menenangkan dirinya. Mayra memang suka mineral dingin, menyegarkan dan menyehatkan.


"Mbak, maafkan aku ya?" Pinta Wuni tulus.


Wuni menyadari, semenjak bergabung di Griya, dialah biang masalah Mayra dan Lina selama ini. Dia yang dari awal sudah salah bicara dengan memberitahu Lina bahwa lelaki yang ditaksirnya menyukai Mayra. Dan kemarin dia juga salah sudah keceplosan mengatakan bahwa dia bertemu dengan Mayra dan Rendra duduk berdua di cafe.


"Maaf untuk apa?" Mayra meneguk airnya perlahan. Dingin air itu lumayan mampu menenangkan pikirannya yang sedari tadi panas.


"Aku kemarin keceplosan..." Wuni diam sesaat. Ia mengumpulkan tenaga untuk mengucapkan kalimat berikutnya. "Aku bilang pada mbak Lina kalau aku bertemu mbak Mayra dan Rendra di cafe," Aku Wuni sambil menundukkan kepalanya.


Mayra refleks mengangakan mulutnya mendengar pengakuan Wuni. Ia rebahkan tubuhnya pada sofa yang ia duduki. Kepalanya kembali memanas, namun tubuhnya lemas. Ia tak bisa berkata apa-apa saat itu. Dari balik pintu ruang dekorasi, Rendra menatap Mayra iba. Bagaimana pun juga, wanita itulah yang akan menanggung akibat yang lebih banyak ketimbang dirinya. Rendra masih bebas karena dia lajang, sementara Mayra, dia harus berhadapan dengan nama baik suami dan anaknya akibat masalah itu.


"Semalam aku telefonan dengan mbak Lina. Awalnya aku memberitahunya perihal tas yang sedang diskon seperti yang aku beli kemarin. Ya barangkali mbak Lina juga mau beli kan? Terus...," ucapan Wuni terputus.


Mayra sabar mendengarkan kelanjutannya.


"Terus... aku keceplosan bilang kalau aku bertemu dengan mbak May dan Rendra. Maaf yaa, Mbak," Aku Wuni menyesal. Wajahnya masih ia tundukkan menatap jemari kakinya yang juga mengkerut.


Mayra membuang napasnya cepat. Lalu menatap teman di hadapannya yang masih menunduk.


"Ya sudahlah tidak apa-apa, Wun. Aku senang kamu sudah berani jujur. Perihal aku dan Rendra, lupakan saja. Mungkin sudah waktunya juga Lina tahu semuanya," jawab Mayra bijak. Walau dalam hatinya ia menyayangkan sikap ceroboh temannya itu.


Mendengar jawaban Mayra, Wuni menghela napas lega. Ia ikut merebahkan badannya pada sofa. Badannya terasa ringan seperti telah melepaskan beban berat dalam dirinya. Sebelumnya Wuni sudah membayangkan bahwa pimpinannya di Griya itu akan memarahinya habis-habisan karena janji yang baru dipegangnya kemarin nyatanya harus diingkari langsung di malam harinya. Wuni menepuk bibirnya dengan tangannya. Bagaimana bisa mulutnya itu sangat mudah meluncurkan segala kata-kata bahkan yang tidak boleh diucapkan sekali pun?


"Fuuuuwh. Terimakasih, Mbak," Ucap Wuni sambil menghela napasnya. Mayra mengangguk tersenyum.


***


Sore itu Azka sedang sibuk di balik meja kerjanya melayani pasien yang datang. Di mejanya terpasang foto Mayra berdua dengan Anggun yang tersenyum lepas bahagia. Jika dokter paru itu sudah merasa lelah dengan rutinitasnya, maka foto di depannya adalah obat mujarab untuknya mengembalikan semua semangat yang menurun. Dua wanita dalam figura itu memang manusia kiriman Allah yang sangat disyukurinya. Betapa dia sangat mencintai mereka berdua melebihi cintanya pada dirinya sendiri.


Di pojok kanan ruangannya terdapat lemari kayu kecil berukuran satu setengah meter untuk tempat menyimpan berkas-berkas pribadinya. Di atas lemari itu terdapat satu vas bunga kaca yang di dalamnya berisi bunga matahari kertas pilihan Mayra. Bunga matahari yang tertamam dalam kerikil kecil itu tampak segar di pandang mata. Walau Mayra menyukai mawar, namun dia lebih memilih bunga matahari sebagai hiasan ruangan suaminya. Alasannya sederhana, yaitu agar suaminya itu tetap bersinar layaknya mentari.


Tok tok tok!


Suara pintu di ketuk membuyarkan lamunan singkat sang dokter.


"Ya, masuk!" Azka mempersilakan pasiennya masuk dari pintu ruangannya yang tertutup itu.


Dari balik pintu, seorang pasien masuk.


"Lina? Masuk Lin!" Azka ramah mempersilakan pasien yang ternyata adalah teman istrinya itu.


Lina segera duduk di kursi yang berhadapan dengan Azka. Keduanya hanya terbatasi oleh meja yang diatasnya berlapis kaca.


"Ada masalah apa Lin? Ini baru pertama kalinya loh kamu kemari," ucap Azka sudah siap menulis keluhan pasiennya pada buku catatan di depannya.


"Ini." Lina malah menyodorkan benda kecil pada Azka.


"Apa ini?"


"Putar saja. Saya kemari hanya ingin memberimu itu."


Azka memandangi benda kecil di depannya.


"Untuk apa?"


"Agar kamu tahu, seperti apa Mayra sebenarnya."


"Saya pernah melihat mereka berciuman," lanjut Lina.


"Siapa?"


"Mereka. Dua sejoli yang kemarin fotonya pernah saya kirim," ucap Lina santai.


Napas Azka langsung memburu. Dia tahu betul siapa dua sejoli yang dimaksud Lina. Namun ia berusaha menutupinya sebaik mungkin. Tangan yang ia sembunyikan di bawah meja sudah mengepal. Kalimat yang diucapkan Lina benar-benar membuatnya limbung.


"Ya sudah. Saya datang kesini bukan karena paru-paru saya sakit. Hati saya yang sakit. Permisi." Lina bangkit dari kursinya dan berlalu meninggalkan Azka yang wajahnya sudah memerah.


Selepas Lina pergi, Azka segera memasukkan benda kecil itu pada lubang laptopnya. Satu folder terbuka. Di sana hanya ada satu berkas rekaman suara. Azka buru-buru menekan tompol putar pada layar laptopnya. Dan ternyata itu adalah suara Mayra yang sedang berdebat dengan Lina di Griya siang tadi. Tanpa sepengetahuan lawan bicaranya, Lina ternyata telah merekam percakapan mereka melalui ponselnya. Dan itu dia jadikan senjata untuk memulai misinya.


"Mereka berciuman."


Kalimat Lina kembali melintas dalam pikiran Azka. Napasnya kembali sesak. Segera ia ambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


***


Tepat jam 7 malam, Azka baru keluar dari rumah sakit. Ia begegas menuju parkiran dan lanjut menancap mobilnya cepat. Ia harus menemui seseorang. Jalanan yang cukup ramai tak menyurutkan nyalinya untuk tetap mempercepat laju mobilnya. Azka sudah tidak sabar bertatap muka dengan orang yang ingin ia temui. Matanya sudah memerah. Sesekali ia pukul setir mobilnya keras. Hatinya benar-benar sakit malam itu.


Tak lama, mobil Azka berhenti di sebuah taman yang sepi. Dia menatap punggung lelaki yang ternyata sudah menunggunya sesuai tempat yang sudah dijanjikan. Azka masih berdiam di dalam mobil, untuk sesaat kemudian ia berjalan tergopoh menghampiri lelaki itu, dan ...


BUG!!


Satu pukulan mendarat pada wajah lelaki itu yang tak lain adalah Rendra.


"Apa ini?" Rendra menyentuh area bibirnya yang terkena pukul.


"Jauhi Mayra!!" Azka menatap bibir lelaki di hadapannya geram. Ia membayangkan bibir itu telah menyentuh bibir istrinya. "Brengsek!!" Azka meludah. Lalu,


BUG!!


Satu pukulan mendarat lagi pada wajah Rendra. Rendra yang memang merasa telah ada hubungan dengan istri orang, hanya diam menerima perlakuan Azka padanya. Ia sudah siap dari jauh-jauh hari. Ia tahu bahwa hal seperti malam ini akan terjadi.


Azka kini mencengkeram kerah baju Rendra.


"Saya tidak ingin dengar kabar apa pun lagi perihal kamu dan istri saya, paham??!!"


Manik mata mereka beradu. Rendra yang memang sudah sabuk hitam dalam karate sebenarnya bisa dengan sangat mudah membalas perlakuan Azka padanya. Namun dia tetap diam.


"Oke!!" Rendra melepaskan tangan Azka dari dirinya. "Cukup saya yang kamu perlakukan seperti ini, Mayra jangan!"


"Hahahaha." Azka terkekeh. Ia mengerti maksud ucapan lelaki di depannya. Rendra takut Mayra juga akan diperlakukan kasar seperti dirinya?


"Ternyata cinta bocah ini tidak main-main." Azka membatin.


"Memangnya kamu mau apa kalau saya berlaku seperti ini pada Mayra, hah?" Azka sengaja memancing.


"Sedikit saja Mayra terluka, saya kejar kamu!!" Rendra sungguh-sunguh.


"Hahahahaa," tawa Azka akhirnya menggelegar. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Dia adalah suami Mayra. Tapi dia yang malah mendapat peringatan dari bocah ingusan yang mencintai istrinya??


"Ya sudah...." Azka menghentikan tawanya. "Apa pun yang akan saya lakukan pada istri saya, itu urusan saya!! Kamu cukup ingat perkataan saya tadi!!"


Azka berlalu meninggalkan Rendra yang mematung.


Selepas hilangnya mobil Azka dari pandangan, Rendra terduduk lemas. Ia terbayang tentang rekaman suara yang ia dapat dari Lina. Sebelum menemui Azka, Lina terlebih dahulu mampir ke rumah Rendra. Alasannya tentu saja untuk memperdengarkan rekaman yang dia punya pada lelaki itu. Dan Rendra bisa menyimpulkan, Lina juga pasti sudah memberikan rekaman itu pada Azka.


Segera Rendra membuka ponselnya dan mengetik pesan singkat di sana.


📩 I LOVE U.


Sebaris pesan itu ia kirimkan pada kontak bernama Mayra.