MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Seteduh Danau Biru



Mayra, Lina, Rendra, dan Anto kini sudah duduk pada salah satu saung bambu beratapkan genteng tosca nan cantik yang tersedia di sana sambil menggelar beberapa cemilan yang mereka beli pada kios di dekat pintu masuk tadi. Sementara Gendis dan Wuni yang menggendong Anggun sedang duduk di kursi dekat danau di bawah pohon pinus untuk menikmati birunya air. Mata Mayra menatap pada Anggun yang terlihat berjingkrak antusias melihat hamparan air luas di depannya.



Lina masih diam sambil memainkan ponselnya. Sementara Anto sudah sibuk mengunyah cemilan dari satu kantong snack di tangannya. Dan Rendra, lelaki itu diam-diam menatap Mayra yang sebenarnya duduk bersebelahan dengan Lina namun saling tak acuh itu. Rendra mengerti, keduanya pastilah saling merasa canggung.


"Nto, antar saya ke sana, yuk!" ajak Rendra pada Anto menunjuk arah kanan danau.


"Kesana untuk apa?" tanya Anto yang sudah dalam posisi enak dan sebenarnya enggan untuk beranjak.


Rendra mengambil kamera yang dia bawa dalam tasnya dan mengangkatnya. "Yuk!!"


Anto mengangguk mengerti. Akhirnya mereka berdua berjalan beriringan menuju tempat yang Rendra tunjuk. Rendra sengaja mengajak Anto ke sana karena sebenarnya dia ingin memberi ruang pada wanita yang saling diam di saung tadi untuk berbicara. Rendra yakin Lina butuh waktu untuk meminta maaf pada Mayra perihal keanehan di Pantai Pasir kemarin.


KRUUUIING.


Ponsel Mayra berdering, pada layarnya tertulis nama Azka. Mayra segera menerima telepon dari suaminya itu.


📞 "Halo, sayangku," ucap Mayra manis. Dari sebelah, Lina melirik sekilas.


📞 "Halo juga cintaku. Seru ya di danau?" tebak Azka langsung dari seberang.


📞 "Hahahaha, kok tahu sih sekarang aku sedang di danau?" Mayra bertanya penasaran.


📞 "Hehehe, aku lihat story whatsapp tante Gendis."


📞 "Ih, tante langsung update?"


📞 "Iya." Azka terkekeh.


Mayra mengangguk mengerti sambil ikut terkekeh. Di sebelah, Lina mendengarkan sambil sedikit khawatir karena setelah temannya itu selesai bertelepon, dia ingin menjelaskan semuanya.


📞 "Kamu ingin kesini, Yank?" goda Mayra sengaja memancing.


📞 "Inginnya sih. Tapi tidak bisa, sayangku. Sepertinya hari ini aku pulang malam lagi."


📞 "Hm, oke." Mayra mengerti. "Kamu pasti lelah ya? Berangkat pagi, pulang malam demi aku dan Anggun." Mayra menundukkan kepalanya, dia merasa kasihan pada suaminya yang pasti lelah bekerja demi memenuhi semua kebutuhan sandang, pangan, dan papan dirinya dan Anggun.


📞 "Tidak apa-apa, Yank. Ini kan ibadahku, juga sudah tugasku untuk selalu bisa membuat anak dan istriku yang cantik ini nyaman, aman, tentram, bahagia, ceria, cerewet..."


📞"Stop, stop!! Kok cerewet sih?" protes Mayra memutus sederet kalimat yang diucapkan suaminya.


📞 "Hahaha, memangnya kenapa?"


📞 "Memangnya aku cerewet, ya?" dengus Mayra memanyunkan mulutnya manja.


Dari sebelah Lina tersenyum, dia bisa membayangkan betapa serunya obrolan teman di sampingnya itu. Mendadak, Lina jadi ingin cepat menikah juga. Tapi dengan siapa?


📞 "Menurut kamu??" Azka sengaja menggoda istrinya.


📞 "Ish!!!"


📞 "Hahahahaha." Di seberang Azka tertawa renyah sekali membayangkan istrinya merajuk. "Aku suka kalau kamu masih cerewet, Yank. Tandanya kamu masih cinta aku. Dan dengan kamu cerewet, rumah kita selalu hidup, kan? Bayangkan kalau di rumah kamu hanya diam, cemberut, kan menakutkan? Hahahaha." Azka terbahak membayangkan pikirannya sendiri.


📞 "Hahahaha." Bukannya melanjutkan cemberutnya, Mayra malah ikut tertawa. "Ya sudah kamu lanjut kerja, Yank. Jangan lupa shalat, makan!"


📞 "Iya. Kamu juga hati-hati ya, Yank!" Ucap Azka berpesan pada istrinya lebih kepada hati-hati dalam menjaga hati.


Mayra tersenyum lalu mengangguk. Sambungan telepon lalu terputus. Mayra menatap ponselnya sambil tersenyum tipis.


"Azka sehat, May?" tanya Lina tiba-tiba berhasil mengagetkan Mayra.


"Hah?? Azka? Dia sehat," jawab Mayra masih terkejut.


Lina mengangguk, lalu bungkam lagi. Gadis itu sedang menyusun kata dalam kepalanya agar penjelasannya tentang kejadian di Pantai Pasir nanti tidak menimbulkan kesalahpahaman.


"Kesana, yuk!" ajak Mayra menunjuk Gendis sambil akan bangkit dari duduknya.


Mayra manut. Lututnya yang sudah bertumpu pada alas saung kini sudah dia rebahkan lagi. Bagaimana pun juga, Mayra butuh penjelasan dari teman di sampingnya itu. Dia tidak ingin terus-terusan menduga kemungkinan yang belum jelas kepastiannya.


"Ingin menjelaskan apa?" tanya Mayra pura-pura tak mengerti.


"Perihal kejadian kemarin."


Mayra diam. Namun matanya lekat memandang Lina yang tertunduk.


"Maafkan aku, May! Aku terpaksa melakukan semua itu," aku Lina dengan masih tertunduk.


Mayra sengaja diam. Dia ingin memberikan waktu untuk Lina menjelaskan semuanya pelan-pelan. Dia tidak ingin terlalu menunjukkan rasa kecewanya dengan banyak bertanya ini itu.


"Sebenarnya kemarin aku membuat kesepakatan dengan Risa," lanjut Lina.


"Kesepakatan? Maksudnya?" Mayra akhirnya penasaran juga.


Lina terdiam lagi.


Hening sejenak.


"Kamu pasti tahu kan, kalau Risa sangat membenciku?" tanya Mayra meyakinkan. Lina mengangguk. "Lalu untuk apa kamu membawa Risa padaku?" Mayra akhirnya terbawa emosi juga. Bagaimana pun dia juga wanita yang ada kalanya mudah tersulut jiwanya.


Mayra sebenarnya sangat kecewa pada teman yang baru berbaikan degannya itu. Jika memang Lina masih bersekongkol dengan Risa, lalu apa gunanya makan malam berdua mereka kemarin? Mayra sudah banyak berharap pada Lina bahwa dia benar-benar sudah berubah. Namun nyatanya harapannya dipatahkan secepat itu.


"Perihal ponselmu yang hilang. Aku yakin ponselmu ada pada Risa." Lina kini menatap mata Mayra lekat.


Mata Mayra membulat tak percaya. "Kamu yakin?"


"Tidak 100% yakin, sih. Tapi semua kemungkinannya merujuk pada Risa. Di hari kamu kehilangan ponsel, Risa juga datang ke Kopikita. Lalu dengan kebetulan ponselmu yang hilang itu menghubungi orang-orang yang dekat denganmu. Jadi tidak mungkin kan yang menemukan ponselmu itu benar-benar orang asing??"


Mayra terdiam mendengarkan dugaan Lina. Dalam hal itu Mayra setuju. Orang yang mengambil ponselnya kemungkinan besar adalah orang yang mengenalnya. Sialnya, ponsel Mayra memang tidak pernah memiliki kata sandi. Dan itu adalah kesempatan emas untuk si pelaku dalam mempergunakan ponsel Mayra sesukanya.


"Jadi kemarin Risa memberikan kesepakatan padaku. Dia ingin aku mengajakmu datang ke Pantai Pasir dan sebagai gantinya dia akan memberikan ponselmu itu," lanjut Lina.


"Tunggu, tunggu! Dia akan memberikan ponselku? Berarti dia mengaku kalau ponselku itu ada padanya?" tebak Mayra menganalisis omongan Lina.


"Itu dia brenkseknya, May. Saat aku menagih kesepakan itu, Risa malah menghindar. Nomorku pun di blokirnya. Dan saat aku datang ke cafenya, karyawannya selalu mengatakan bahwa Risa tidak ada."


Mayra menghela napas memahami posisi Lina. Temannya itu hanya ingin berniat baik padanya dengan berusaha mendapatkan kembali ponselnya yang hilang walau dengan cara yang kurang tepat. Mayra seketika tersenyum. Dia senang karena ternyata Lina benar-benar sudah menjadi Linanya yang dulu walau masih terasa canggung.


"Terimakasih ya, Lin." Mayra menatap Lina yang juga menatapnya heran.


Lina tak habis pikir bahwa ternyata Mayra sama sekali tidak marah padanya. Padahal sudah sehari semalaman ini dia tidak nyenyak tidur karena memikirkan Mayra yang diduganya akan semakin membencinya. Namun kenyataannya tidak sama sekali.


"Perihal ponsel, sudah lupakan saja!" Mayra menenangkan. "Yang terpenting sekarang, aku minta kamu jauhi Risa, ya! Jangan sekali-kali lagi kamu dekat dengannya!"


Lina menganguk tersenyum lalu menyeka air mata yang langsung keluar dari pojok matanya. Gadis itu sangat merasa bersalah pada wanita baik di depannya.


"Sini!" Lina merentangkan tangannya ingin Mayra masuk ke dalam pelukannya.


"Huh! Dasar cengeng!" ejek Mayra yang juga menitikkan air mata sambil menghamburkan diri pada pelukan Lina.


Dari tepian danau yang lumayan jauh dari saung tempat dua wanita itu berpelukan, Rendra menatap dengan senyum lega.


"Akhirnya," ucap Rendra lirih sambil memeluk Anto erat.


Anto yang tidak tahu apa-apa langsung menggeliat sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Rendra. "Sinting kamu, ya!"


"Hahahaha, iya!!" Jawab Rendra lantang.


 


Note : Di atas ada typo pada kara 'brenksek'. Itu sengaja ya teman-teman, agar lolos riview, semoga mengerti 😅


Jangan lupa selalu tinggalkan like, komen, dan votenya yaa biar aku tetap semangat nulis 😘 Terimakasih.