MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Secerah Teletubbies



KLING


Satu pesan whatsApp masuk ke dalam ponsel Azka. Lelaki yang masih duduk di meja kerja menanti pasien berikutnya itu, langsung membuka pesan untuknya.


Satu gambar masuk.


Azka perhatikan foto yang masuk dalam ponselnya. Di sana ada potret istrinya sedang tertawa bersama satu lelaki, Rendra. Azka menghela napas kecewa, istrinya terlihat bahagia.


Di seberang, orang yang mengirimi Azka foto tersenyum puas karena kirimannya langsung bercentang biru. Foto yang sebenarnya bertiga itu_Mayra, Rendra, dan Wuni, berhasil dia potong seolah menjadi hanya Mayra dan Rendra saja berdua di sana. Posisi Wuni dalam foto memang lumayan jauh. Sehingga hal itu membuat si pengirim foto bisa dengan leluasa menghilangkannya.


Azka menghela napas lagi. Dilihatnya nama pengirim pesan itu, Lina. Lelaki yang masih memakai jas putih dengan stetoskop menggantung di lehernya berdecak bingung. Untuk apa teman istrinya itu mengiriminya gambar yang tidak ingin dia lihat?


***


📞 "Yank, kamu di mana?" Mayra menghubungi Azka yang katanya akan sampai rumah jam 8, tapi nyatanya sampai jam 11 malam suaminya itu belum juga pulang.


📞 "Masih di rumah sakit, Yank," ucap Azka berbohong. Dia kini sedang berada di sebuah kedai kopi dekat rumah, seorang diri. Kopi yang mulai dingin di depannya masih penuh. Dia belum meminumnya barang seteguk pun.


📞 "Oh, begitu. Sampai jam berapa memangnya?"


📞 "Sebentar lagi pulang, kok. Kamu tidur saja ya!"


Mayra dan Azka memang masing-masing memegang kunci rumah. Jadi kapan pun mereka sampai, semalam apa pun, mereka tidak perlu saling menunggu untuk membukakan pintu.


Azka menutup teleponnya saat Mayra menjawab 'Iya'.


Azka pandangi kopi di depannya sambil memutar-mutar bibir cangkir dengan jari telunjuknya. Pikirannya melayang memikirkan foto yang Lina kirim. Apakah hati istrinya sudah terbagi?


***


"Yank?" Azka yang baru pulang membangunkan istrinya yang ternyata tidur di sofa.


"Eh, Yank. Sudah pulang?" Mayra segera bangun.


Kadua jarum jam sudah berhenti di angka 1, Azka merasa bersalah sudah membuat istrinya menunggu. Padahal jam 11 tadi dia mengatakan bahwa sebentar lagi akan pulang.


"Mengapa di sini?" Azka bertanya lembut. Istrinya masih belum sepenuhnya sadar.


"Nunggu kamu," Jawab Mayra sambil menguap. "Ada pasien darurat lagi?"


Azka mengangguk. Dia tidak bisa berbohong di depan istrinya. Untuk itu cukup anggukan saja yang bisa dia lakukan. Setidaknya itu mudah di lakukan dari pada harus berucap.


"Masuk, Yuk!"


Keduanya berjalan menuju kamar. Azka menuntun Mayra dengan memegangi bahunya. Hawatir kalau-kalau istrinya itu masih belum sepenuhnya sadar.


"Mau kopi, Yank? Teh?" Mayra menawarkan saat dia telah duduk di atas kasur. Azka sedang melepas pakaiannya.


"Tidak usah. Kamu lanjutkan tidur saja. Kalau mau kopi, nanti aku buat sendiri."


Azka berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan badan. Kopi yang dibeli tadi pun sama sekali tidak selera diminumnya. Apalagi kopi di rumah?


Selesai Azka mandi, ternyata Mayra sudah tertidur pulas lagi. Wanita itu tidak membaca sikap suaminya yang agak berbeda. Mungkin karena dirinya yang terlalu mengantuk.


Azka pandangi wajah istri yang dicintainya itu. Dia berpikir tentang dirinya. Dia mencari kemungkinan kesalahan yang dia buat sehingga istrinya itu bisa berpaling. Walau pun belum pasti, tapi dalam foto itu kentara sekali Mayranya tertawa lepas, bahagia.


Azka duduk di sofa dalam kamar. Ia buka lagi ponselnya. Ia teliti lagi gambar istrinya, sebaris gigi terlihat sempurna di sana. Pandangan Azka lalu beralih pada cincin putih yang terlingkar di jari manisnya. Pernikahannya baru empat tahun, namun istrinya itu sudah tertawa bersama lelaki lain? Hati Azka sesak.


***


"Halooo Linaku sayang, siap tempur hari ini??" Mayra menyapa wanita yang hampir setiap hari jadi orang pertama yang ada di Griya.


Hari ini memang ada jadwal pemotretan di Bukit Hijau. Bukit yang lebih seperti taman Teletubbies itu berada di perbatasan kota, di sana penuh dengan bunga warna-warni. Klien yang akan foto-foto hari ini adalah sepasang suami istri. Dan Rendra menyanggupi untuk datang.


"Segar sekali itu muka, sudah macam orang jatuh cinta saja," ucap Lina sengaja menyindir, tapi yang disindir malah tidak merasa.


"Oh iya doong. Kita harus jatuh cinta setiap hari agar muka selalu terlihat chwantihwk." Mayra melafalkan kata 'cantik' sesukanya.


Lina hanya menjawabnya dengan senyum yang dibuat-buat.


Suara Wuni terdengar. Hari ini dia datang dengan pakaian yang mentereng. Rok sebawah lutut warna hijau dengan kaos merah panjang bermotif bunga-bunga kecil. Di kepalanya terlingkar bandana pita warna kuning polkadot, dengan kacamata hitam lebar di matanya.


Lina tertawa melihat penampilan temannya yang disusul Mayra. Namun si pemilik penampilan nyentrik malah berputar-putar memamerkan busananya.


"Bagaimana? Kalian pasti terpukau khaaan????" Wuni membuka kacamatanya.


Tawa Lina dan Mayra semakin menggelegak saat melihat kelopak mata temannya berwarna ungu bercampur emas.


"Yaa Allah ini anak yaa, mau kemana?" Lina berbicara di tengah tawanya. Bibir merah Wuni siap menjawab.


"Hari ini ada pemotretan di Bukit Teletubbies kan? Aku sengaja sudah pakai semua warna pemainnya loh. Tinky winky, Dipsy, Laa-laa, Pooooooh," jawab Wuni menyanyikan jargon film andalan anak 90'an itu.


Mayra dan Lina tertawa terpingkal-pingkal.


"Aku ingin Rendra memotretku. Biar nanti hasilnya aku unggah ke Instagram dengan hastag CO-LOR-FULL." Wuni mengeja setiap suku katanya.


"Wiiiih????"


Lelaki yang dimaksud Wuni datang. Dia tak kalah terkejut dengan kedua teman wanitanya.


"Keren badai, Wun." Rendra mengacungkan kedua jempolnya.


"Iyaa dooong. Kamu nanti foto aku yaa di Bukit," pinta Wuni.


"Jangan mimpi deeeh!" Lina menjawab sinis.


"Maksudnya???" Wuni tak mengerti.


"Rendra tidak akan mau motret kamu!" Lina menjelaskan tegas.


"Lah?? Kenapa memangnya???" Wuni mendongakkan kepalanya pada Rendra. Namun lelaki itu hanya tersenyum sambil berlalu.


"Ada apa sih?" tanya Wuni penasaran berbisik pada Lina.


"Dia hanya mau memotret wanita yang dia suka saja, tahu kau????" Lina teringat dengan dirinya yang dulu pernah minta di potret namun ditolak.


Mendengar ucapan Lina, Mayra juga teringat sesuatu. Dulu Rendra pernah diam-diam memotretnya. Jika perkataan Lina benar bahwa lelaki itu hanya memotret wanita yang disukainya, maka ....


***


Mayra dan kawan-kawan sudah berada di Bukit Teletubbies sekarang. Rendra sedang mengerjakan tugasnya memotret sepasang suami istri yang hari itu memakai baju batik yang senada.


"Lebih enak dilihat yaa kalau sudah halal tuh," guman Lina.


Pekerjaannya sudah selesai, Mayra dan Wuni pun. Kini mereka tinggal duduk santai menyaksikan Rendra mengerjakan tugasnya.


"Setuju!! Kalau prewedding tuh bagaimana yaa? Walau iya sih, sama-sama romatis. Tapi entah mengapa, pasangan yang ini terlihat lebih maniiiis," ucap Wuni menimpali.


"May, kamu dooong foto dengan Azka. Nanti Rendra yang motret. Gratis!" Lina memberi usulan yang lebih terdengar seperti pancingan.


Lina memang sengaja mengucapkan kalimat itu pada Mayra. Dia ingin sekali temannya itu tampil berdua bermesraan dengan suaminya di depan Rendra. Sepasang suami istri di depan yang sedang di potret Rendra memang sangat kompak dan romantis. Mereka saling bergandengan, berpelukan, berpandangan, sampai berciuman. Lina sangat ingin pemandangan di depannya itu dilakukan oleh Mayra bersama Azka di depan Rendra.


"Benar, mbak May. Pasti so sweet sekali," Ucap Wuni mendramatisir keadaan dengan menangkupkan kedua tangan pada pipinya.


"Hehehe. Boleh. kapan-kapan, ya."


Mayra hanya menjawab standar sambil sengaja menggaruk pipinya.


KLING.


Di tempatnya duduk, Azka menerima pesan yang segera langsung dibukanya. Azka sekarang sudah hawatir dahulu jika ada pesan masuk di ponselnya dengan nama pengirim Lina.


Benar saja, satu foto masuk pada ponselnya.


📩 'Foto seperti ini dong, Zka dengan Mayra. Nanti fotografer Griya yang motret.'


Azka pandangi sederet kalimat yang dikirim Lina beserta fotonya. Foto diri Rendra yang sedang memotret sepasang suami istri berbaju batik.