
Kata orang, dua kalimat sederhana yang sulit diucapkan adalah 'maaf' dan 'terimakasih'. Namun bagiku, hanya orang berhati sombonglah yang sulit mengatakan kedua kata itu.
🍃
Mayra dan Wuni masih menatap sumber suara yang memanggil Mayra tadi. Keduanya sama-sama tidak percaya bahwa orang yang kini berdiri di depan pintu adalah Lina. Orang yang sudah beberapa waktu ini menghilang atau bersembunyi entah dimana.
"Hai, Lin," sapa Mayra masih dengan wajah terkejut. "Sebentar!" Mayra meletakkan tas jinjingnya pada sofa kemudian berdiri menyambut Lina.
Namun saat Mayra berdiri, Lina sudah melenggangkan dirinya berjalan menuju kursi taman depan yang biasa di duduki Rendra. Sementara Wuni masih mematung. Dia masih belum percaya bahwa temannya yang sulit sekali dihubunginya itu tiba-tiba menampakkan dirinya di pagi gerimis seperti hari itu.
"Ingin bicara di sini?" Tanya Mayra saat keduanya sudah sampai di kursi taman Griya. Mayra menatap langit yang masih sedikit gerimis. Wanita itu hanya berpikir, bukankah berbincang di dalam sambil menikmati teh hangat akan lebih baik?
"Kenapa? Kamu takut gerimis?" Tebak Lina dengan nada sinisnya.
Mayra mendelik heran. Jika Lina tiba-tiba ingin mengajaknya bicara, lalu kenapa sikapnya masih sedingin itu? Tapi tak apa, yang terpenting bagi Mayra adalah dia bisa melihat lagi wajah Lina yang sudah cukup lama ini tak ditemuinya.
"Ya tidak apa-apa sih. Lagi pula di sini gerimisnya tidak terasa karena tertahan dahan palm," Jawab Mayra sambil mendongak ke atas. Tetesan air gerimis tipis yang jatuh dari langit memang sama sekali tidak membasahi kursi yang diduduki Lina karena tertahan daun palm yang rimbun. "Tapi mungkin lebih enak kalau kita ngobrol di dalam sambil minum teh, mau?" Tawar Mayra memberi pilihan terbaik.
"Hari ini aku belum siap masuk ke Griya," ucap Lina mulai melembut, menundukkan kepalanya.
"Kenapa? Kita semua kangen loh denganmu, Lin. Kemarin juga aku ke rumahmu, tapi kamu tidak ada di rumah."
"Aku ada kok di dalam. Aku juga tahu kamu datang." Lina terkekeh getir. "Kasihan kamu ya sampai mengelilingi rumahku melongokkan wajahmu di setiap sudut jendela," Aku Lina yang memang melihat tingkah Mayra saat wanita itu mendatangi rumahnya.
Saat itu Lina sebenarnya ada di dalam. Dia tahu ada Mayra datang, untuk itu dia segera bersembunyi di balik tembok agar Mayra yang saat itu melongokkan kepalanya menilik satu persatu jendela rumah Lina tidak tahu bahwa gadis itu ada di dalam. Dan sekarang Lina menyesali sikap kekanak-kanakannya itu.
"Ih, tega kamu ya! Kalau tahu kamu ada di dalam, harusnya kemarin aku dobrak saja pintumu itu ya?" Tutur Mayra sok menyesal sambil ikut duduk di samping Lina. Mayra tahu temannya itu sudah mulai kembali menjadi Linanya yang dulu.
"Maafkan aku ya, Lin," ucap Mayra menyesal. "Maaf karena aku tidak mengerti perasaanmu, perihal Rendra...." Ucapan Mayra terputus karena Lina menyanggahnya.
"Sudahlah, May, lupakan! Lagi pula harusnya aku yang minta maaf," Lina tertunduk. Dia teringat pada semua ucapan dan tingkah jahatnya pada teman di sampingnya itu, memalukan. "Tidak seharusnya aku membencimu hanya karena lelaki yang aku suka malah menyukaimu," aku Lina lagi. "Maafkan aku, May!"
Mayra tersenyum. Dia senang Lina sudah mau berbesar hati untuk sama-sama meminta maaf. Karena memang tidak semua orang mampu dengan mudah mengucapkan kata itu kan?
"Sini, peluk!" Mayra merentangkan tangannya.
"Ih, apa sih ini anak ya?!!" Lina menangkis satu lengan Mayra sambil tersenyum tipis. Dalam hati Lina ada rasa lega luar bisa.
"Sudah cepat sini!!" Mayra masih merentangkan tangannya meminta Lina masuk ke dalam pelukannya.
"Ogah!!" Lina memalingkan wajahnya sok ngambek. "Nanti malam kita keluar, yuk!!" Ajak Lina antusias. Gadis itu ternyata diam-diam juga rindu dengan wanita di depannya.
"Keluar angkasa?" Tebak Mayra asal.
"Gelo maneh mah, ih! Tos pokona malam ieu maneh kudu datang ka imah urang!" - (Ngaco kamu mah, ih! Sudah pokoknya malam ini kamu harus datang ke rumahku!)
"Lah, sih? Kenapa jadi aku yang ke rumahmu?" Tanya Mayra pura-pura tak mengerti.
"Jemput aku, kakaaaaak!!!!"
"Hahahaha iya, iya, siap!!"
Keduanya tertawa bersama, pun dengan Wuni dan Rendra yang ternyata sedari tadi menyaksikan mereka dari dalam melalui jendela Griya. Wuni dan Rendra ikut senang karena dua teman di depannya itu kini sudah berbaikan.
"Senang kamu? Huuu!!!" Ledek Wuni pada Rendra yang datang beberapa saat setelah Mayra dan Lina pergi ke kursi taman.
"Alhamdulillah," Jawab Rendra singkat sambil duduk di kursi tamu dan menyilangkan kedua lengan di dadanya, dingin.
"Makanya jadi orang jangan terlampau ganteng! Para waria pada perang kan tuh jadinya," tukas Wuni ikut duduk di depan Rendra.
"Hahahaha, ogah!! Nanti aku disantet mbak Mayra dan mbak Lina lagi. Ngeri!"
"Hahahahaha."
Keduanya terbahak tak terkendali.
Sementara di sisi lain, Lina bangkit dari duduknya dan berpamitan pada Mayra. Katanya, dia belum siap masuk ke Griya hari ini. Lina belum siap bertemu dengan teman-temannya yang beberapa waktu ini dia abaikan. Padahal dia sudah rindu sekali dengan semua teman-temannya terutama Wuni.
Mayra memeluk temannya itu erat. Untuk sesaat lalu melepaskannya.
"Ya sudah aku tunggu kamu kembali ke Griya, ya. Sebagai hukumannya, nanti kamu wajib merias wajahku hingga berubah jadi Kristen Stewart, oke??" Ucap Mayra masih memegangi kedua lengan Lina.
Lina terkekeh. Dia juga sudah sangat rindu bermain dengan alat-alat makeUp kesayangannya.
"Ya sudah aku pulang dulu, salam untuk semuanya, ya."
Lina kini berjalan meninggalkan Mayra yang masih berdiri di bawah pohon Palm. Pagi itu Mayra bahagia sekali. Teman baiknya itu kini sudah kembali menjadi baik. Tak sabar membagi rasa bahagianya, Mayra langsung menekan sebaris angka pada layar ponselnya untuk menghubungi Azka.
📞"Halo sayang, bagaimana ponsel barunya, suka?" Ucap Azka di seberang langsung tanpa halo.
📞 "Ih, kok tahu si ini nomorku?" Protes Mayra manja. "Padahal tadinya aku ingin berlagak jadi penipu, loh!"
📞 "Hahahaha, penipu minta pulsa?"
📞 "Iyaaaa, hahaha!!"
📞 "Ya sudah hai penipu, kamu ingin pulsa berapa juta? Langsung aku beri cuma-cuma, asaaaaal...."
📞 "Asal apa?" Tanya Mayra penasaran.
📞 "Asaaaal, serahkan bibirmu untuk ku cium, sekali saja!"
📞 "Hahaha, yakin hanya sekali?"
📞 "Ya, kalau ada bonusnya juga boleh laaah."
📞 "Hahaha, ada dong ada. Banyak pula."
📞 "Asiiik. Nanti malam, ya!" Goda Azka genit karena hari ini dia pulang sore.
📞 "Nah iya, pas! Nanti malam aku izin keluar ya, Yank." Ucap Mayra mulai serius. Karena biasanya jika suaminya di rumah, Mayra tidak akan pergi kemana-mana. Semua ajakan teman-temannya akan ditolaknya karena dia lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan Azka.
📞 "Loh, mau kemana?" Tanya Azka penasaran.
📞 "Mau kencan, hehe."
📞 "Kencan??" Azka makin penasaran.
📞 "Iya, makan malam berdua gitu," goda Mayra sengaja memancing suaminya.
📞 "Dengan siapa?" Suara Azka mulai serius. Dalam pikirannya dia terbayang Rendra.
📞"Linaaaaaaaaa!!"
Di seberang Azka terdiam. Lina? Bukankah wanita itu sekarang membenci istrinya? Lalu untuk apa malam nanti Mayra pergi dengannya? Azka tertegun. Dia khawatir Lina merencakan hal yang tidak baik pada Mayra. Azka hanya tidak ingin istrinya terluka, itu saja.