MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Pemotretan yang Janggal



Posisi kaki Rendra kini sudah sejajar dengan Mayra dan Wuni. Lelaki itu malah menghadapkan dirinya di depan Mayra dan menatap wajah wanita itu lekat. Wuni yang tidak mengerti apa-apa jelas merasa bingung tak mengerti, namun dia memilih untuk diam.


"Kita pulang saja, ya?" tanya Rendra meminta kepastian pada Mayra. Dia sengaja berdiri di depan Mayra agar mata wanita itu lepas dari pemandangan di depannya. Rendra sudah bisa menebak apa yang akan terjadi jika mereka terus melanjutkan rencana dadakan yang dibuat oleh Lina. Dan membatalkan semuanya adalah pilihan yang tepat menurutnya.


Namun Mayra tersenyum tipis dengan balik menatap Rendra. "Tidak apa-apa, Ren. Ini kan pekerjaan kita. Siapa pun kliennya, kita harus melayaninya. Lagi pula kita sudah sampai di sini, masa balik lagi, sih?" protes Mayra masih tersenyum, menenangkan. Walau dalam hatinya sendiri pun sebenarnya bertanya-tanya, apa tujuan Lina melakukan semua itu padanya yang jelas-jelas sudah tahu bahwa dirinya dan Risa seolah bermusuhan?


Rendra menatap Mayra nanar dan mengembuskan udara dari pojok bibirnya yang kehitaman, tangannya berkacak pinggang. Lelaki itu tidak mengerti dengan cara pikir wanita di hadapannya itu.


"Wun, kamu ajak Mayra ke mobil, ya! Kalian tunggu saja di sana. Pemotretan hari ini biar saya yang handel semuanya," pinta Rendra pada Wuni yang masih kebingungan.


Mata Wuni menatap Mayra meminta persejutuan, lalu beralih pada Rendra. "Ada apa sih sebenarnya? Klien kita sudah ada di depan, loh. Lagi pula aku ingin bertemu mbak Lina, Ren!" protes Wuni ikut suara dengan Mayra. Mayra mengangguk mendukung.


"Kamu yakin tidak apa-apa?" Rendra menatap lekat Mayra. Wanita itu mengangguk lagi pasti.


Akhirnya Rendra mengalah. Dia biarkan Mayra dan Wuni melewatinya yang masih terpaku. Lelaki itu menghela napas panjang. Dia sangat menyayangkan tindakan Lina. Jika kedua sejoli yang baru keluar dari warung tadi adalah benar klien yang dimaksud Lina, maka Rendra sangat menyanksikan niat gadis itu untuk berbaikan dengan Mayra. Teman yang baik tidak akan menjerumuskan teman lainnya dalam hal yang tidak baik.


Rendra balikkan tubuhnya dan kembali berjalan mengikuti Mayra dan Wuni. Semakin langkah mereka semakin dekat dengan Lina dan sepasang kekasih dibelakangnya yang menatap ke arah datangnya mereka, seolah sangat menantikan pertemuan itu.


"Mbak Linaaa!!" Dari jarak tiga meter Wuni berlari menghamburkan dirinya pada Lina yang sudah dirinduinya. Gadis itu memeluk Lina erat. "Mbak Lin apa kabar?"


"Aku baik, Wun. Kamu sehat?" tanya Lina sambil melempar senyum pada gadis yang juga dirinduinya itu.


"Sehat, Mbak, Alhamdulillah."


Tak lama, Mayra dan Rendra sampai di hadapan mereka. Mayra menatap dua kliennya dan melempar senyumnya menyapa. Mayra jelas sangat mengenali dua orang selain Lina di hadapannya itu, Risa dan Sandu.


Sandu terlihat kikuk saat tahu bahwa ternyata Griya Mayralah yang dipilih Risa untuk pemotretannya sore itu. Padahal dulu Sandu tahu betul jika tunangannya itu jelas-jelas menolak saat tahu bahwa Griya Cantika adalah milik mantan kekasihnya.


"Katamu bukan Griya Cantika, kan?" bisik Sandu pada Risa pelan.


"Surprise," jawab Risa enteng. Seolah Sandu adalah bagian dari orang-orang yang sengaja dibuatnya terkejut, selain Mayra tentunya sebagai sasaran utama.


"Sandu dan Risa adalah klien kita yang kamu maksud kan, Lin??" tanya Mayra meyakinkan. Dalam hatinya berharap Lina akan menjawab bukan. Mayra masih teringat semua perkataan kasar Risa padanya. Dan jika sore itu Risa memilih Griyanya untuk pemotretan, maka Mayra yakin gadis itu memiliki maksud yang lain entah apa itu.


"Iya, May, benar," jawab Lina pasti. Dia sebenarnya bisa membaca raut kecewa pada wajah Mayra, namun sebisanya dia tepis semua itu.


Mayra mengangguk pelan. "Ya sudah kita duduk-duduk dulu saja. Matahari belum turun. Biar Rendra mempersiapkan kameranya dulu."


Tanpa persetujuan siapa pun, Mayra berjalan menuju warung yang di depannya banyak tersusun kelapa muda tak beraturan. Dia memesan tiga kelapa untuk dirinya, Wuni, dan Rendra. Mayra lalu duduk pada kursi panjang di depan warung yang beratapkan alang-alang kering seorang diri. Wuni masih menempel pada Lina, Risa dan Sandu berdiri menghadap pantai, sementara Rendra terpaku di tengah pemandangan yang dirasa aneh di depannya.


Rendra menatap Lina sebentar, lalu berjalan menghampiri Mayra dan ikut duduk di sampingnya. Tak lama, tiga batok kelapa berisi air kelapa segar datang diantarkan oleh bapak pemilik warung yang lumayan sepuh.


"Mangga, Neng!" ucapnya sambil meletakkan tiga kelapa yang dibawanya pada meja bundar di depan Mayra.


"Nuhun ya, Pak," jawab Mayra ramah, menarik satu batok kelapa miliknya dan menyedotnya perlahan. Ia menghela napas pelan.


--- (Terimakasih ya, Pak)


Rendra memerhatikan Mayra sambil ikut menyedot air kelapa miliknya. "Oke, May??" tanyanya memastikan.


"Oke lah. Lagipula kan kamu yang berhadapan dengan mereka. Aku duduk di sini saja sampai selesai, hehe," jawab Mayra sambil terkekeh yang dibuat-buat. Rendra ikut terkekeh.


Wuni, Lina, dan sepasang sejoli di hadapan mereka sedang berjalan menuju pantai. Mayra menatap punggung mereka seksama. Rendra menatap Mayra.


"Sepertinya akan baik-baik saja. Risa terlihat...baik-baik saja," ucap Mayra pelan. Namun Rendra yang sedari tadi menatapnya jelas mendengar perkataan wanita di sampingnya itu.


"Ya, semoga." Rendra mengamini.


Tak lama, matahari mulai beranjak turun. Rendra sudah siap dengan kameranya dan berlalu meninggalkan Mayra seorang diri. Rendra berjalan perlahan menuju pantai tempat Risa dan Sandu berdiri. Angin pantai menerbangkan kemeja tartannya yang tak dikancingnya. Kaos abu muda polos yang membalut tubuhnya pun ikut bergoyang.


"Hai, Bro!!" Rendra mengangkat tangannya ingin tos pada Sandu. Lelaki itu langsung menyambut ramah mangangkat tangannya. Keduanya saling melempar senyum.


"Jadi kamu masih berhubungan dengan wanita jallang itu??" tanya Risa santai sambil memainkan kakinya pada ombak, kepalanya terfokus pada kakinya.


Rendra dan Sandu saling bertatap bingung. Pada siapa Risa bertanya?


Namun Rendra merasa pertanyaan itu jelas ditujukan padanya. Wuni dan Lina lumayan jauh saat itu. Mereka sedang asik sendiri berjalan menyusuri pantai melepas rindu.


"Kamu tanya pada saya?" tanya Rendra meyakinkan diri.


"Ya, siapa lagi? Masa Sandu sih? Tidak mungkin kan tunangan saya masih berhubungan dengan wanita jallang itu. Iya kan sayang???" Nada Risa terdengar menyindir. Gadis itu tahu bahwa sampai saat itu pun Sandu masih memiliki rasa pada mantannya.


"Tunggu, tunggu!! Wanita jallang??" Rendra menekankan kata terakhirnya, lalu mendelik tajam. Dia tidak asing dengan sebutan itu. Seketika dia teringat cerita Raras mengenai Mayra yang bersitegang dengan seorang wanita di Kopikita.


"Oooooh, jadi kamu orangnya!!" tebak Rendra kemudian memicingkan satu pojok matanya pada Risa.


"Ada apa lagi ini?" Sandu dibuat penasaran oleh kedua orang di depannya yang terlihat memanas.


Awal melihat Mayra di awal pertemuan tadi, Sandu sebenarnya terkejut dan sudah curiga pada apa yang akan dilakukan Risa. Wanitanya itu pasti sedang merencanakan sesuatu karena nyatanya sampai detik itu Risa masih membenci Mayra tanpa alasan yang jelas. Jadi tidak mungkin gadis itu serta merta memilih Griya Cantika untuk pemotretannya sore itu.


"Maaf San. Sepertinya saya tidak bisa meneruskan pekerjaan ini. Permisi!"


Rendra berjalan meninggalkan Sandu dan Risa yang menyeringai puas. Dari kejauhan Mayra menatap keheranan saat tahu bahwa Rendra berjalan tergopoh ke arahnya. Ada apa?