
Dukung selalu "MAHMUD" dengan like dan komen di setiap episodenya ya teman-teman 🤗 Kalau ada poin nganggur bisa juga bantu vote nya. Terimakasih semuanya 🤗 Selamat membaca.
🍃
Pukul 22.39 WIB
Raras menatap ponsel dalam genggamannya ragu. Sudah lima menit berlalu, gadis itu masih juga mondar-mandir di dalam kamarnya bingung menimbang apakah dia harus menelepon Rendra atau tidak. Jika dia menelepon Rendra, maka malam itu akan menjadi kali keduanya menghubungi Rendra lebih dulu. Sementara lelaki itu sama sekali belum pernah sekali pun menghubunginya walau sekedar mengirim pesan.
Namun Raras merasa dia harus menelepon Rendra. Ada yang ingin dia sampaikan perihal ponsel yang dicarinya.
"Ah, nanti kalau aku telepon dia, kesannya aku terlalu ikut campur urusannya tidak, ya?" gumam Raras berbicara pada dirinya sendiri.
Raras kini duduk di ranjang kasurnya sambil masih memerhatikan ponsel dalam tangannya. Sebenarnya gadis itu sangat ingin bertelepon dengan pujaan hatinya membahas masalah apa saja tentang mereka berdua. Tapi tentang apa? Raras hanya punya bahan pembicaraan mengenai ponsel yang hilang itu.
Setelah cukup lama berpikir, akhirnya tekad Raras bulat juga. Dia akan menelepon Rendra.
"Fuuuuuwh." Raras menarik napasnya dalam. Gadis itu merasa gugup seolah dia akan diwawancara untuk melamar kerja.
TUUUUTTT.
Telepon Raras sudah tersambung pada ponsel Rendra. Gadis itu khawatir orang yang diteleponnya sudah tertidur.
TUUUUTTT.
Klek. Suara telepon diangkat. Hati Raras makin gugup tak karuan.
📞 "Halo," suara Rendra terdengar dari seberang.
📞"H-hai, Ren," sapa Raras ragu.
📞 "Hai, Ras. Belum tidur?" tanya Rendra terdengar santai walau sebenarnya ada Rizal yang duduk di sampingnya sengaja menguping. Ponsel Rendra yang berdering tadi pun Rizallah yang mengangkatnya.
📞 "Hm, belum. Kamu juga belum tidur kan? Maaf ya, kalau aku mengganggumu," ucap Raras merasa bersalah. Dia hanya khawatir kalau-kalau lelaki yang diteleponnya itu terbangun gara-gara ponselnya berdering.
📞 "Tidak kok. Lagipula aku belum tidur," aku Rendra jujur. Karena dia sudah terbiasa tidur di atas jam 12 malam. "Ada apa, Ras?"
📞"Mm, sebelumnya maaf ya, kalau aku terkesan ikut campur. Tapi tadi aku tanya bang Budi, katanya kamu ke Kopikita untuk mencari ponsel ya?"
📞 "Iya," jawab Rendra singkat.
📞 "Mm, tadi saat kamu di belakang bersama bang Budi, di depan ada temanmu datang. Yang berpapasan degan kita saat di resto itu, loh," tukas Raras mulai menjelaskan.
📞 "Lina??" Tebak Rendra langsung mengerti orang yang dimaksud Raras.
📞"Oh, namanya Lina?"
📞 "Ada apa Lina malam-malam ke Kopikita? Saat itu cafe sudah tutup kan?" tebak Rendra lagi tepat sasaran.
📞 "Iya. Dia sama sepertimu, mencari ponsel juga."
📞 "...." Rendra terdiam. Dia terpikirkan Lina. Untuk apa wanita itu ikut mencari ponsel Mayra?
📞 "Ren???" Raras memastikan lawan bicaranya masih ada di sana.
📞 "Terus, Ras, dia mengatakan apa padamu?" Tanya Rendra penasaran tanpa mengindahkan panggilan gadis itu.
📞 "Dia datang untuk menanyakan CCTV. Katanya kalau ada CCTV mungkin akan lebih mudah baginya menemukan orang yang mengambil ponsel temannya."
📞 "...." Rendra diam lagi untuk beberapa saat. Dia sanksi Lina akan benar-benar membantu Mayra. Bukankah hubungan kedua wanita itu sedang tidak apik? Ya, walau pun mereka sudah berbaikan, tapi masa iya Lina langsung rela berkorban secepat itu?
📞 "Halo, Ren??" Raras memanggil Rendra lagi.
📞 "Iya, Ras. Aku masih di sini. Terus??"
📞 "Ya saat aku katakan padanya bahwa di Kopikita tidak ada CCTV, dia langsung pergi. Tapi katanya dia sudah tahu siapa yang mengambil ponsel itu. Dia menanyakan CCTV hanya untuk memastikan saja."
📞 "Hah?? Bagaimana maksudnya??" Rendra terperanjak mendengar ucapan Raras.
📞 "Bagaimana apanya?"
📞 "Yang aku tangkap sih, begitu," jawab Raras seadanya.
📞 "...." Rendra diam lagi. Banyak pertanyaan dalam pikirannya perihal ponsel Mayra. Bagaimana bisa Lina langsung mengetahui orang yang mengambil ponsel itu?
📞 "Ren??"
📞 "Ya."
📞 "Kalau boleh tahu, ponsel yang hilang itu milik siapa, ya? Kok sepertinya kamu dan Lina malah yang repot-repot mencarinya?" tanya Raras penasaran. Raras juga mulai curiga bahwa Rendra dan Lina ada hubungan yang mungkin spesial.
📞 "Ponsel itu milik leader kerjaku."
📞 "Oooh," di seberang Raras mengangguk mengerti.
📞 "Ras, aku tutup dulu teleponnya tidak apa-apa kan? Aku ingin menelepon Lina dulu," ucap Rendra meminta izin.
📞 "Oh iya, Ren. Tidak apa-apa," jawab Raras sambil meringis di seberang.
📞 "Terimakasih banyak infonya ya, Ras."
📞 "Iya sama-sama, ya. Semoga ponselnya cepat ketemu." Ucap Raras kemudian langsung menutup teleponnya.
Raras kini mematung di atas ranjang tidurnya. Rendra akan menelpon Lina? Semudah itu? Padahal dia yang selama ini menunggu-nunggu telepon dari Rendra, namun tak pernah didapatkannya. Saat bertemu dengan Lina di resto kemarin, Raras sebenarnya tidak yakin bahwa Rendra dan Lina tidak ada hubungan apa-apa. Hal itu kentara sekali dari tatap mata Lina yang langsung tidak suka padanya, seolah mengatakan bahwa Raras sudah mengambil Rendra darinya. Malam itu hati Raras menciut. Mungkinkah Rendra sama sekali tidak tertarik padanya? Sedikit pun?
--- Sementara di kediaman Rendra.
Rizal sudah masuk kamar meninggalkan Rendra seorang diri yang kini duduk di kursi depan. Sudah hampir pukul 11, Rendra ragu akan menelepon Lina, temannya itu pasti sudah tidur, pikirnya.
📩 Lin? Sudah tidur?
Rendra akhirnya memutuskan untuk mengirimi Lina pesan saja. Setidaknya notifikasi pesan masuk tidak terlalu mengagetkan jika wanita itu benar-benar sudah tidur.
Namun semenit kemudian, pesan Rendra langsung mendapat balasan.
📩 Belum, kenapa?
Mata Rendra membulat membaca balasan pesannya. Segera dia telepon nomor Lina dengan harapan wanita itu bisa memberikan jawaban atas pertanyaannya.
📞 "Halo, Lin?" sapa Rendra saat teleponnya langsung tersambung.
📞 "Ya??" jawab Lina terdengar malas.
📞 "Kamu tadi ke Kopikita?"
📞 "Pacarmu laporan, ya??" Tebak Lina sinis.
Rendra seketika menjauhkan ponsel dari telinganya. Pacar??
📞 "Gadis yang kamu bawa ke resto malam kemarin itu hanya penjaga kasir ya??" tanya Lina masih sinis.
Rendra mengernyitkan dahinya tak nyaman. Ternyata Lina masih belum bisa bersikap biasa padanya. Rendra jadi ingin mengurungkan niatnya untuk bertanya perihal ponsel Mayra. Bagaimana mungkin dia bisa bertanya pada orang yang masih sinis padanya perihal ponsel Mayra? Rendra hanya takut Lina salah paham lagi.
📞 "Dia gadis yang baik kok, Lin," sanggah Rendra sejujurnya dengan sengaja tidak langsung memberitahu siapa Raras sebenarnya. Dia hanya ingin tahu sejauh mana Lina menilai seseorang hanya dari penampilan.
📞 "Ya, ya, sesukamu saja lah! Ngomong-ngomong ada apa meneleponku malam-malam begini?" Lina akhirnya penasaran juga tentang tujuan Rendra meneleponnya.
📞 "Hm, saya hanya ingin tanya perihal kamu dan Mayra. Kalian sudah baikan ya? Pagi tadi saya lihat kamu datang ke Griya. Kenapa tidak masuk?" jawab Rendra sekenanya mengalihkan tujuan utamanya.
📞 "Ya, begitulah!"
📞 "Syukurlah kalau begitu. Saya ikut senang."
📞 "Ya memang sudah seharusnya begitu kan? Kan kamu yang menyebabkan aku dan Mayra menjauh."
Rendra terdiam lagi. Dia bingung harus memberi tanggapan apa. Jika Lina bisa berbaikan dengan Mayra, kenapa dengannya tidak?