MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Foto Lama



Rendra menatap tanah yang dipijak sepatunya. Sebenarnya dia ragu ingin mengungkap semuanya pada Gendis. Namun lelaki itu tiba-tiba saja langsung merasa yakin bahwa Gendis adalah orang yang tepat untuk tempatnya berbagi cerita. Gendis adalah pemilik tempat kerjanya sekaligus tante dari wanita yang dicintainya. Dia yakin Gendis akan bersikap netral. Caranya mengajak bicara pun Rendra suka. Gendis tidak serta merta marah atau menghakimi bahwa Rendra bersalah. Cara Gendis itu langsung membuat Rendra nyaman dan percaya.


"Pak Sanusi Sudibyo, benar ayah Mayra?" tanya Rendra akhirnya.


Gendis mengangguk. Belum ada raut curiga dari wajah wanita ayu itu. Karena mungkin saja ponakannya pernah memberitahu Rendra perihal nama orang tuanya, kan?


"Dan ibunya bernama ibu Sulasmi?"


Gendis mengangguk lagi. "Maksudmu memberitahuku nama orang tua Mayra apa?"


"Sebentar!" Rendra merogoh saku celananya dan mengambil dompetnya. Kemudian dari dompetnya ia ambil selembar foto kecil yang warnanya mulai usang. "Ini." Rendra menyodorkan foto itu pada Gendis.


Tante muda itu memerhatikan foto itu lekat. Di dalamnya ada dua anak saling duduk berdampingan. Satu anak perempuan berusia 7 tahunan, dan di sebelahnya duduk seorang balita laki-laki yang berumur 2 tahunan. Mata Gendis kini membulat. Dia jelas kenal betul siapa gadis kecil dalam foto itu.


"Ini Mayra kan??" Gendis tak percaya bahwa Rendra bisa memiliki foto semasa kecil ponakannya.


Rendra mengangguk. Dia sengaja tak banyak bicara dulu. Dia ingin membiarkan Gendis yang bertanya terlebih dahulu. Dia yakin setelah dia menyodorkan foto lama itu, wanita di depannya itu pasti langsung memiliki banyak sekali pertanyaan.


"Dan bocah kecil ini??" tanya Gendis penasaran sambil menunjuk foto balita laki-laki dengan jari telunjuknya. Matanya menatap mata Rendra dalam.


"Itu saya, Te."


"Hah??? Kamu????" Gendis tak kuasa menahan rasa terkejutnya bahwa bocah kecil di samping Mayra adalah Rendra kecil.


Rendra mengangguk. Gendis masih menganga tak percaya.


"Kamu ... saudara Mayra?" tebak Gendis nyeleneh.


"Hahaha, bukan, Te. Tante kira ini sinetron apa? Yang tiba-tiba gadis yang dicintainya adalah saudaranya yang terbuang?" Rendra berusaha melawak untuk memecah keheningan. Namun Gendis masih tak berekspresi. Rendra tertawa tanpa suara. Wanita di depannya sama terkejutnya dengan dia dulu saat pertama kali tahu bahwa gadis yang ada di sampingnya dalam foto adalah Mayra.


"Foto itu sebenarnya sudah lama saya tahu, Te. Foto itu ada di dalam album milik almarhum ayah saya. Tapi dulu saya tidak tahu kalau gadis cilik yang foto dengan saya itu adalah Mayra. Sampai malam itu...."


⬅️


(Cuplikan singkat ada di episode 16)


"Siapa nama wanita yang kamu taksir, Ren?"


Rendra malam itu sedang duduk di teras rumah dengan ayahnya. Mereka sedang menikmati malam berdua sambil menikmati secangkir kopi manis.


"Hehe. Mayra, yah."


"Mayra? Siapa nama panjangnya?" Sang ayah langsung terlihat penasaran saat nama Mayra disebut.


Mata Rendra memicing curiga. "Kenapa, Yah?"


"Sudah sebut saja dulu. Siapa nama lengkap gadis yang kamu taksir itu?"


"Shina Mayrella, Yah. Ada apa, Yah?" Rendra ikut penasaran. Karena baru kali ini ayahnya menanyakan nama lengkap gadis yang diceritakannya.


Sang ayah mengangguk pelan, matanya menerawang ke depan. "Dunia memang sesempit ini, ya?"


"Maksudnya bagaimana, Yah?" Rendra masih belum mengerti.


"Coba kamu ambilkan album foto yang ada di atas lemari kamar ayah!"


Tanpa banyak bertanya, Rendra berjalan menuju kamar ayahnya dan mengambil album foto berukuran sekitar 30x35cm berwarna hijau pupus yang berada di atas lemari. Sambil berjalan kembali menuju teras, Rendra menatap album hijau itu heran. Tumben-tumbenan ayahnya itu meminta album foto malam-malam.


"Ini, Yah." Rendra menyerahkan album itu pada ayahnya dan kembali duduk.


Sang ayah menerima album itu dan langsung membuka lembarannya satu persatu.


"Si Mayra itu dari Solo?" tebak ayah yang matanya masih fokus pada album di depannya.


"Benar, Yah." Rendra mengerutkan dahinya semakin bingung.


"Kamu ingat pak Sanusi?" tanya ayah sambil berhenti di satu foto dan menunjuknya. Matanya menatap Rendra. Rendra melirik foto yang ditunjuk jari telunjuk ayahnya.


Di sana terlihat foto sang ayah yang masih muda dengan kemeja garis-garis dan celana cutbraynya, ayahnya terlihat sedang berdiri berangkulan dengan seseorang.


"Kamu ini! Ingat tidak?" hardik sang ayah menepuk punggung anaknya.


"Hahahaha, iya Yah ingat. Itu teman ayah yang di Solo kan? Terkahir aku bertemu pak Sanusi itu saat aku SD kan?"


"Nah, benar. Sebentar!"


Setelah mendengar jawaban Rendra, ayah kembali membuka lembaran album fotonya. Kini tangannya berhenti pada foto Rendra kecil yang duduk berdampingan dengan gadis kecil berkepang dua.


"Yang ini kamu ingat?" Tanya ayah menunjuk foto Rendra kecil.


"Mana aku ingat, Yah. Di foto itu aku masih keciiiiiiiiil," protes Rendra sambil menyatukan jempol dengan jari kelingkingnya.


"Ck! Anak ini, ya!!" Sang ayah ingin sekali menjewer anaknya yang jahil itu.


Di dalam foto Rendra memang masih kecil. Namun sang ayah pernah menberitahunya tentang siapa gadis yang ada di dalam foto itu.


"Hahahaha, iya Yah ampuuun!! Dia Maya kan? Anaknya pak Sanusi?" tebak Rendra lagi.


Yang Rendra tahu, gadis kecil yang foto dengannya adalah Maya, anak dari teman ayahnya, pak Sanusi. Dan Rendra tidak pernah memikirkannya lebih. Karena selama ini dia juga tidak pernah lagi bertemu dengan si Maya itu.


"Kamu ingin tahu siapa nama lengkap gadis cilik ini?" tanya sang ayah serius.


"Siapa, Yah?" Walau Rendra sebenarnya tidak ingin tahu, namun dia berpura-pura sok ingin tahu demi menghormati ayahnya yang terlihat serius.


"Shina Mayrella."


Rendra tak mampu berkata apa-apa, mulutnya menganga, matanya membulat. Jawaban ayahnya sungguh di luar dugaannya. Untuk sekian detik Rendra tak berkutik, dia benar-benar terkejut.


"Itu Mayra, Yah?? Coba aku lihat!" Rendra merebut album dari tangan ayahnya, tangannya bergetar.


Rendra tatap gadis kecil dengan senyum manis yang duduk di sampingnya. Sederet gigi putih terlihat di sana. Namun mata Rendra terfokus pada pipi gadis kecil yang dia tahu bernama Maya itu. Pipi kanan gadis itu benar berlesung satu. Jantung Rendra mendadak berdegup cepat.


"Ini benar Mayra, Yah?" Rendra masih belum percaya. Pandangannya setengah kosong.


"Ya, mungkin. Ayah hanya mencocokkan nama gadis yang kamu sebut dengan anak teman ayah ini. Karena selama ini ayah hanya pernah mendengar satu nama Mayra. Yaaa si Maya ini."


"Lalu kenapa selama ini yang aku tahu gadis dalam foto ini bernama Maya, Yah??" Rendra masih tak bisa percaya.


"Maya itu panggilan kecil Mayra, Ren. Dulu si Mayra ini memanggil dirinya dengan nama Maya karena belum bisa melafalkan huruf R." Sang ayah terkekeh. Anak semata wayangnya itu rupanya sedang jatuh cinta pada gadis kecil dalam album yang sudah disimpannya puluhan tahun itu.


"Bawa lah dia kemari, Ren. Kenalkan ke ayah. Kalau bisa, langsung saja jadikan menantu."


Rendra masih terdiam. Dia masih berusaha mencerna kenyataan yang didapatnya malam itu. Sang ayah terkekeh lagi.


"Sudah! Jangan lama-lama terkejutnya. Semuanya mungkin sudah takdir, Ren. Barangkali saja dia jodohmu, kan?"


"Hahaha." Rendra mulai terbahak. Jodoh?? Ingin sekali dia mengatakan bahwa Maya kecil dalam foto itu sudah bersuami. Namun dia sengaja bungkam. "Ayah ini lah. Memang ayah ingin aku cepat menikah?"


"Lah kok? Kamu sudah dewasa, kerjaan juga ada. Menunggu apalagi? Jangan lama-lama pacaran yang tidak jelas ujungnya."


"Hahaha. Ini maksudnya ayah menyindir aku dengan Bella?" Rendra berusaha menyudahi rasa terkejutnya dengan tertawa, walau sebenarnya dia masih sangat terkejut.


Si ayah terkekeh. Beliau ikut senang karena anaknya tidak terlalu sedih saat kehilangan Bella. Dan ia pikir itu karena Mayra.


"Sudah, intinya kamu janji, bawa Mayra ke ayah ya? Ayah ingin bertemu."


➡️


Gendis semakin terdiam, mulutnya masih terbuka, matanya masih menyalak tak berkedip. Dia benar-benar terkejut dengan cerita yang Rendra bagi. Gendis lalu menggeleng-gelengkan kepalanya menyadarkan diri.


"Jadi, ayahmu itu teman mas Sanusi?" tanya Gendis meyakinkan menyebut iparnya dengan sebutan 'Mas'.


Rendra mengangguk.


"Jadi kamu mencintai Mayra sampai sebegitunya karena foto ini?" tanya Gendis lagi.


Rendra menggeleng. "Bukan hanya itu, Te."