MAHMUD, I Love U

MAHMUD, I Love U
Negosiasi



Jangan lupa LIKE, KOMEN, dan VOTE nya yaa teman-teman. Terimakasih 🤗


 🌼🌼🌼


Pagi sekitar pukul 6.40, Sandu sudah melajukan mobilnya menuju rumah Risa. Dia sebenarnya sudah enggan sekali untuk bertemu wanita itu. Namun karena ucapan Azka semalam yang mengatakan bahwa ponsel Mayra ada pada Risa, maka seberapa pun Sandu malas melihat wajah mantan tunangannya itu, dia bersedia untuk mengabaikan semuanya demi untuk mendapatkan informasi mengenai ponsel itu.


Jalanan lumayan legang saat itu, hingga tak butuh waktu lama Sandu sudah sampai di depan rumah minimalis Risa yang hanya ditinggalinya seorang diri di sebuah komplek perumahan.


TIN TIN.


Sandu membunyikan klaksonnya dua kali sebagai penanda bahwa dia datang, seperti biasanya.


Dari dalam, Risa yang baru selesai mandi mendengar tanda klakson dari lelaki yang baginya masih tunangannya itu. Risa berjalan mendekati jendela yang menghadap halaman rumahnya, dan benar saja, dari tempatnya berdiri, Risa bisa melihat Sandu sudah berdiri di samping mobil sedang marapikan rambutnya.


Dari balik hordeng, Risa tersenyum penuh kemenangan. "Apa ku bilang? Lelaki itu takkan bisa lepas begitu saja dariku," gumam Risa sambil berlalu menuju kamarnya.


Sandu yang saat itu sudah duduk di kursi depan rumah Risa, sengaja tak menekan tombol bel yang tersedia di sana. Dia akan diam duduk di kursi itu menunggu sampai si pemilik rumah keluar tanpa diminta.


Risa yang sudah selesai memakai pakainnya tanpa memoles wajahnya, segera berlalu menuju pintu depan untuk memersilakan pacarnya masuk.


JEKLEK.


Suara pintu dibuka dari dalam, Sandu terkesiap. Tak lama, Risa muncul dan berdiri di depan Sandu.


"Ada apa pagi-pagi kesini?" tanya Risa sok judes.


"Hm, kita sarapan di luar yuk!" ajak Sandu basa-basi. Dia tidak punya alasan lain pagi-pagi datang ke rumah orang selain mengajaknya sarapan.


"Oke. Tunggu sebentar!"


Risa kembali masuk ke dalam rumahnya untuk bersiap-siap. Tak butuh waktu lama, Risa sudah kembali dengan riasan wajahnya yang tipis namun cantik. Sandu pun mengakui itu. Risa sebenarnya memang cantik. Namun kelakuan buruk wanita itulah yang membuat kecantikannya seolah sirna.


Setelah mengunci pintu rumahnya, tanpa babibu Risa langsung berjalan menuju mobil Sandu dan duduk di jok samping kemudi. Sandu mengikuti.


"Aku minta maaf ya soal semalam," ucap Sandu saat sudah duduk di belakang kemudi.


Wanita yang pagi itu memakai rok hitam sebawah lutut dan kaos maroon panjang mengangguk tanpa ekspresi, "oke."


Sandu hanya mengangguk, kemudian menjalankan mobilnya menyusuri jalan mencari kedai yang menyediakan menu sarapan yang sesuai.


"Kamu ingin makan apa?" tanya Sandu yang sebenarnya canggung sambil memandang Risa.


"Apa saja, terserah kamu!" jawab Risa tanpa balik memandang lelaki di sampingnya.


"Soto, mau? Bubur?"


"Soto saja."


"Oke."


Sandu membelokkan mobilnya ke jalan tempat tukang soto langganannya. Namun saat mengetahui Sandu akan membawanya ke tempat langganan, Risa langsung protes dan meminta pacarnya untuk putar balik.


"Aku ingin makan soto di Warung Lontong!" ucap Risa tegas.


"Warung Lontong? Di mana itu?"


"Sudah jalan saja! Nanti aku tunjukkan jalannya."


Sandu hanya mengangguk menuruti Risa yang sedang merajuk. Sepanjang perjalanan setelah itu, Sandu banyak diam. Sesekali hanya terdengar suara Risa yang mengarahkan jalan. Dan Sandu hanya menanggapinya dengan anggukan kepala atau langsung membelokkan setirnya ke arah sesuai dengan instruksi wanita di sampingnya.


Tak lama, mobil Sandu sudah mendarat di depan Warung Lontong yang baru pertama kali didatanginya itu. Namun jelas Sandu tahu betul dimana dia berada saat itu. Dia tahu persis bahwa jalanan yang Risa tunjukkan adalah jalan yang sama untuk menuju Griya milik Mayra. Dan memang benar saja, Warung Lontong yang Risa maksud memang berada persis di depan Griya Cantika.


Sandu menelan ludahnya bingung, rencana apalagi yang sedang Risa susun?


Tanpa banyak bicara, Risa langsung turun dari mobil dan memasuki Warung Lontong yang masih lumayan sepi. Sandu yang saat itu masih diam di dalam mobil segera ikut keluar. Dia tidak ingin terlalu banyak menduga-duga rencana Risa dalam pikirannya yang belum pasti kebenarannya itu.


Sandu langsung mengambil posisi duduk di depan Risa. Tak lama, dua mangkuk soto yang mengepul dengan banyak suwiran ayam datang. Rupanya Risa langsung memesan sarapannya tadi saat dia baru memasuki warung.


"Mangga, Neng, A!" ucap ibu paruh baya yang tak lain adalah istri dari pemilik Warung Lontong ramah sambil meletakkan pesanan pelanggannya.


"Nuhun, Bu."


--Terimakasih, Bu.


Si ibu mengangguk dan akan berlalu pergi. Namun dengan cepat Risa memanggil kembali ibu yang menenteng nampan kosong itu.


"Bu, pegawai Griya depan sering makan di sini?" tanya Risa sambil menunjuk jarinya ke arah Griya Cantika.


"Sering, Neng. Saking seringnya sampai ibu hapal semua nama-namanya, hehe," jawab Ibu ramah sambil tersenyum lebar.


"Siapa saja coba, Bu namanya?" goda Risa dengan wajahnya yang ramah sekali.


Sandu yang duduk di depan memerhatikan jengah. Wanita di depannya itu seolah memiliki kepribadian ganda. Dia tahu betul tujuan Risa mengutarakan pertanyaannya pada si ibu. Namun tak ingin banyak bicara, Sandu hanya menyibukkan dirinya menyantap suap demi suap soto yang ternyata sangat lezat itu.


"Ada mbak Mayra, mbak Lina, yang lucu itu ada mbak Wuni, ada lelaki gagah juga mbak, namanya mas Rendra," jawab si Ibu bersemangat.


"Wah si Ibu keren euy bisa hapal semua nama-namanya," ucap Risa ikut menampilkan wajah antusiasnya sambil mengacungkan jempolnya.


"Si Eneng juga kenal mereka?" tanya si Ibu akhirnya penasaran.


"Kenal dong, Bu, hehe. Oh iya, Bu, jam berapa biasanya mereka makan di sini?"


"Biasanya mah jam satu siang, Neng. Saat jam istrirahat."


"Oh, iya, iya." Risa menganggukkan kepalanya paham. "Ya sudah terimakasih ya, Bu. Barangkali ibu ingin kembali kerja, mangga!" Tukas Risa memersilakan. Si Ibu mengangguk dan undur diri.


--Silakan!


Risa kembali menyantap soto di depannya tanpa menoleh pada Sandu. Wanita itu seakan tidak peduli dengan keberadaan Sandu yang sedari tadi memerhatikannya.


"Untuk apa kamu menanyakan hal tadi pada si Ibu?" tanya Sandu akhirnya tak kuasa menahan rasa penasarannya.


"Untuk serangan jarak dekat, dooooong," jawab Risa santai.


"Astaghfirullah. Jadi masih lanjut juga?" Sandu meletakkan kedua tangannya di atas mejanya geram.


"Yaaa, begitulah."


"Kamu benar ingin putus?" tanya Sandu dengan nada mengancam.


"Putus atau tidak putus, kamu tetap akan memutuskanku juga kan pada akhirnya? Jadi yaaaaa biarkan saja aku melakukan apa mauku!" Risa menatap Sandu tajam.


"Ris, sudahlah! Semua yang kamu lakukan itu tidak ada gunanya. Lagi pula selama ini aku juga tidak mendekati Mayra, kan? Tidak ada gunanya juga, dia sudah bersuami. Aku hanya sebatas belum bisa sepenuhnya melupakan dia, itu saja," aku Sandu jujur.


Namun kejujuran Sandu malah membuat Risa terkekeh sambil tetap memandang makanan di depannya.


"Nikahi aku segera!" tukas Risa sangat serius menjuruskan mata tajamnya pada Sandu.


"Oke!" Sandu tak kalah serius. "Tapi setelah kita menikah, aku ingin kamu ikut aku ke Solo!"


Risa terdiam sejenak lalu tertawa. Dia mengerti tujuan Sandu mengajaknya tinggal di Solo nanti. "Hahahaha, pikirmu aku sebodoh itu??"


"Demi kebaikan kita nanti," jawab Sandu dengan nada lembut. Dia tahu gadis di depannya sudah terbawa emosi.


"Kebaikan Mayra???"


Sandu terdiam. Gadis di depannya memang tidak sebodoh itu. Dia dengan cepat bisa mengerti arah pembicaraannya sedari tadi.


"Ayolah Ris! Kita tinggal di Solo, kita lupakan semua yang ada di sini. Termasuk ponsel Mayra yang katanya kamu ambil, kembalikan! Kita mulai semuanya dari awal tanpa benci. Kali ini tolong dengarkan aku! Aku hanya ingin kamu hidup tenang, tidak ada maksud lain."


"Tunggu!! 'Katanya'? Kata siapa??"


Sandu gelagapan. Dia sadar dia telah salah bicara. Adanya kata 'katanya' dalam kalimat yang diucapkannya malah memancing kecurigaan Risa. Dan tidak mungkin kan Sandu mengatakan bahwa dia mendapat informasi perihal ponsel itu dari Azka? Sandu hanya diam.


"Sudah tidak usah dijawab! Aku tahu kok siapa orang yang memberikanmu informasi itu," tukas Risa santai. Dia menebak Linalah yang sudah membeberkan kabar itu pada Sandu. "Jika aku tanya kamu lebih percaya aku atau orang yang memberimu info, kamu akan jawab apa? Dan jika aku katakan bahwa bukan aku yang mengambil ponsel Mayra, kamu akan percaya???"


Risa menatap mata Sandu dalam sambil melipat kedua tangannya di atas meja. Dari tempatnya duduk, Sandu berusaha menyelami mata wanita di depannya mencari kejujuran di dalamnya, namun sulit. Risa pandai sekali berkamuflase. Lalu, apakah Sandu akan percaya?