
Setelah ucapan Ita dan Hanzel terakhir kali, Putri tak lagi memiliki kesempatan untuk tinggal lebih lama di rumah Hanzel. Meski memang dia menyukai dan menginginkan Hanzel dengan sangat, nyatanya dia tidak bisa melakukan apapun karena Hanzel sendiri membuat batasan yang tak terjangkau untuk putri. Benar, dia belum pernah merasakan bagiamana di tolak selama ini, tapi apa yang terjadi antara dia dan Hanzel bisa dia jadikan pelajaran untuk lebih bisa menghargai orang lain, terutama menghargai pria agar sebagai wanita juga di perlakukan sebagaimana wanita memperlakukan prianya.
Diah, gadis itu memang masih suka bergerundel dan cerewet, tapi setidaknya dia tahu mana yang boleh dan tidak boleh di lewati. Tapi untunglah berkat nasehat Ita, cerewetnya Diah masih bisa di mengerti toh Diah juga rajin dan bisa melakukan apapun sendiri, terutama semua pekerjaan rumah.
Sudah berlalu beberapa bulan, usia kandungan Lora juga semakin membesar. Tapi untungnya, Ita menjadi sosok yang selalu ada selain suaminya yang tak perlu diragukan lagi kalau masalah kesetiaan dan perhatian yang kuat biasa untuk Lora.
" Lora, aku merasa begah sendiri melihat perutmu, bagaimana kalau kau duduk saja? " Ujar Ita merasa ngeri sendiri melihat Lora yang mengatakan ingin banyak berjalan karena itu bisa memperlancar persalinan. Ah, padahal Dokter juga sudah bilang untuk Lora melahirkan secara normal demi keselamatan bersama. Sekian karena ada dua bayi di dalam perut Lora, usia Lora juga masih tergolong muda, jadi saran Dokter untuk dilakukan Operasi saat proses persalinan nanti sudah dia setujui oleh Hanzel. Iya, pria itu mementingkan keselamatan istrinya terlebih dulu, jadi mengiyakan saran Dokter dia sampai tak meminta pendapat Lora terlebih dulu.
" Jangan kak, aku kan ingin lancar melahirkan, jadi banyak jalan kan bagus. " Lora berjalan pelan karena dia juga kesulitan membawa perutnya yang besar di usia kehamilan delapan bulan.
Ita menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dia menghela nafas tapi tetap berjaga agar Lora tetap aman dan bersiap menahan tubuh Lora saat akan terjatuh, iya itu kalau saja terjadi maksudnya.
" Lora, kau kan melahirkan dengan operasi secar, jadi tidak usah repot-repot begini, aku benar-benar ngilu sekali melihat mu bangkit dengan perut besar bersisi dua bayi itu. " Ucap Ita seraya menahan ngeri kalau kalau Lora jatuh dia sungguh tidak tahu akan jadi apa nantinya.
" Tapi olah raga kan juga penting kak? "
Aduh, rasanya Ita sudah ingin pipis sendiri, tapi ya mau bagaimana lagi? Lora bersikeras begitu ya mau tidak mau dia harus terus berjaga agar Lora tetap baik-baik saja jangan sampai terpeleset lalu jatuh.
" Nyonya, ini buahnya sudah selesai di potong-potong, saya taruh di meja saja ya? " Tanya Diah sembari membawa satu piring berisi buah potongan dari berbagai jenis.
Lora mengangguk dengan senyum di wajahnya seperti biasa.
" Terimakasih ya Diah. " Ucap Lora sopan.
" Ah Nyonya setiap hari banyak sekali bilang terimakasih, kan kalau begitu saya jadi tidak ada bahan untuk bergerundel sebagai teman saya bekerja di dapur. "
Ucapan Diah ini mengundang gelak tawa Lora dan Ita. Iya, beginilah Diah. Gadis dari Desa yang ceplas ceplos tapi nyatanya bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah dengan baik, dan hampir tidak pernah mangkir dari perintah yang di berikan Hanzel, Ita, juga Lora sendiri.
Setelah kepergian Diah untuk kembali ke dapur, Ita sebentar memohon izin untuk membeli beberapa kebutuhan rumah, dan tentunya Ita akan pergi begitu Hanzel sampai di rumah untuk menjaga Lora.
" Kak, itu suara mobil Hanzel sudah masuk garasi. Kak Ita pergi saja bersiap, kakak mau pergi segera kan? " Ucap Lora mengingatkan. Ita segera bangkit karena tidak mau sampai kemalaman pulang nanti.
" Hati-hati di rumah ya Lora? Aku pergi dulu, nanti kalau ada yang mau dibeli jangan lupa kirim pesan ya? Ponsel ku aktif terus, ingat ya! " Ucap Ita seraya berjalan cepat meninggalkan taman belakang rumah tempat dimana Ita dan Lora sedari tadi menghabiskan waktu mereka.
Beberapa jam kemudian, Ita sampai di sebuah pusat belanja yang biasa dia belanja kebutuhan rumah Hanzel. Dengan cekatan Ita mengambil barang-barang sembari melihat catatan di ponselnya, satu jam lebih, dan akhirnya dia bisa meminta sopir untuk menjemput barang belanjaan karena sudah selsai juga di bayar. Setelah itu, barulah Ita melihat-lihat sebentar beberapa pakaian yang akan dia gunakan nanti. Begitu sampai di sebuah toko yang menjual pakaian liburan untuk negara bermusim dingin, sebentar Ita menatap satu set baju berwarna hitam yang terlihat mewah dan berkelas. Ita masuk ke dalam untuk melihat lebih dekat, dan syukurlah semua yang dia lihat dari balik kaca ternyata memang lebih bagus lagi ketika melihatnya tanpa penghalang apapun.
" Tolong bungkusan ini untukku. " Ucap Ita kepada gadis yang berada tak jauh darinya, dan gadis itu adalah salah satu SPG di sana.
" Maaf Nona, baju ini hanya ada satu, dan sudah akan di bayar oleh Nona yang disana. "
Ita menoleh ke arah wanita itu. Dia terdiam sebentar melihat wanita itu yang tak lain adalah tunangannya Roni.
" Oh, ya sudah kalau begitu. " Ujar Ita dan berniat untuk pergi begitu di berbalik badan.
" Prita? "
Ita menghentikan langkahnya, dia menaikkan pandangannya untuk menatap orang yang menyebut namanya. Roni, dia juga ada disana, dan mungkin dia sedang menemani tunangannya.
" Maaf, sudah muncul di sekitarmu. " Ucap Ita menggeser langkahnya berniat meninggalkan Roni. Sayang, Roni justru menghalanginya dan berdiri tepat di hadapannya.
" Kau menginginkan baju itu? Aku akan memberikannya untukmu. " Ucap Roni tak perduli jika saat ini tunangannya tengah menatap Roni dengan tatapan terkejut juga sedih melihat Roni begitu memperhatikan Ita, bahkan sampai memberikan baju yang sudah lama sekali dia inginkan.
" Tidak, aku tidak menginginkannya lagi. "
Roni mengabaikan ucapan Ita, segera dia mengatakan kepada kasir dan satu orang yang sedang memgemas agar memberikan paper bag bersisi baju itu kepada Ita.
" Ini, kau bisa ambil ini, Prita. "
Ita terdiam, dia gak meraih paper bag itu, melainkan menatap Roni dengan tatapan marah.
" Sadarlah, Ron! Wanita disana itu sedang menatapmu, dia pasanganmu, kenapa kau seperti ini? Apa kau gila? "
Roni menahan dirinya yang ingin menangis setiap kali berada di hadapan Ita. Wanita itu terlakllu dalam masuk ke dalam hatinya, sudah puluhan gadis ia jadikan pelampiasan demi melupakan, nyatanya Ita justru semakin sulit untuk dilupakan. Dia hanya ingin terus memiliki Ita, jadi entah bagaimana perasaan wanita yang kini jadi tunangannya itu dia sama sekali tidak perduli.
Ita meraih paper bag yang diberikan Roni, berjalan mendekati tunangan Roni yang sudah meneteskan air mata. Ita meraih sebelah tangan wanita itu dan memberikan paper bag itu padanya.
" Aku tidak suka megambil milik orang lain, jadi simpan lah selama kau bisa menyimpannya dengan baik. " Ucap Ita, lalu segera dia berjalan pergi dari sana.
Bersambung.