
" Roni, kau sudah akan bertunangan kan? Bukanya kalau kau seperti ini sama artinya ku sudah menyakiti calon tanganmu? " Tanya Hanzel dengan tatapan pilu. Bohong sekali kalau dia tidak tahu cerita tentang Roni dan Ita di nada lalu, jadi Hanzel pikir akan lebih baik jika apa yang sudah usai dibuatkan saja usai jangan sampai mengusik Ita, dan pada akhirnya kehilangan wanita yang akan dia nikahi nantinya.
Roni, pria itu tak bicara untuk beberapa saat. Rasanya sulit sekali keluar dari bayang-bayang seorang Prita yang dulu mendiami hatinya, mungkin sampai sekarang nama itu juga masih terukir dengan jelas disana. Sadar benar jika apa yang terjadi di masa lalu juga termasuk salahnya, tapi rasa tidak rela kehilangan seorang Prita begitu amat terasa. Calon tunangannya yang sekarang entah sudah yang beberapa untuk menghilangkan Prita dari dalam hatinya, tali karena calon tunangannya yang sekarang landai megambil hati orang tuanya, sulit baginya untuk mengakhiri hubungan begitu saja.
" Ron, kau tahu apa yang aku maksud kan? Aku mengatakan ini bukan karena ingin membela Ita saja, tapi karena kau juga adalah sahabatku, aku tidak ingin kau kehilangan untuk yang kedua kalinya. "
Roni menghembuskan nafas kasarnya. Kini dia menatap Hanzel dengan sorot mata yang menunjukkan bahwa dia sungguh tidak berdaya dengan apa yang dia alami sekarang ini.
" Hanzel, kau tahu aku amanat mencintai Prita kan? Benar, aku salah, aku bodoh karena melakukan banyak hal yang menyakitinya. Aku mendekati banyak gadi dengan harapan bisa melupakan Prita, tapi aku malah semakin terperangkap dengan perasaan itu. Aku selalu, dan terus berharap jika suatu saat aku bertemu kembali dengan Prita, aku ingin bersujud di kakinya, aku ingin kembali meraih tangannya, juga hatinya. Aku ingin mengobati rasa sakit yang pernah kuberikan. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa menjadi suami yang baik untuknya. "
Hanzel menghela nafas.
" Ron, kau tahu seberapa banyak wanita yang mencoba mendekati ku sedari sekolah sampai dengan sekarang? Dulu kau mengatakan aku bodoh karena terlaku memuja kekasihku. Tapi, apakah kau tahu kenapa aku begitu setia dan memperlakukan wanita yang pernah ada disampingku dengan sebaik mungkin? Itu karena aku memiliki Ibu yang sering di selingkuhi oleh suaminya, Ron. Aku memang tidak pernah bercerita kepadamu, tapi setiap hari yang aku lihat adalah Ibuku sedang menangis, Ayah dan Ibuku bertengkar hebat, bahkan bukan sekali dua kali mereka akan menghancurkan perabotan rumah, aku bahkan sering melihat Ayahku memukul Ibuku. Sedari kecil itulah yang aku lihat, Ron. Itu kenapa aku terus mengingatkan mu saat dulu kan? Tapi kau dengan arogan begitu mementingkan hasrat mu. Tapi sudahlah, mau bagaimana lagi kalau memang semuanya sudah terjadi, sekarang kau punya wanita sendiri yang harus kau jaga dengan baik, dan biarkan saja Ita menjalani harinya seperti yang diinginkan. "
Roni mengepalkan tangannya karena merasa jika ucapan Hanzel seolah memintanya untuk melupakan Ita dan fokus saja dengan wanita yang sekarang. Kenapa? Bukankah bukan sekali dua kali dia menceritakan kepada Hanzel bahwa dia tidak mencintai wanitanya sekarang?
" Hanzel, kau tahu benar hubunganku dengan wanita itu kan? "
Hanzel mengangguk. Iya, jelas saja dia tahu, makanya dia meminta Roni untuk menjalani hubungan dengan wanita barunya secara fokus. Pilihan untuk mengganti wanita setiap waktu adalah pilihannya, tapi memperlakukan wanita seperti mainan apakah adalah hal yang benar? Entah itu Ita, atau siapapun wanitanya di dunia ini pasti akan sangat sakit jika prianya adalah orang seperti Ron. Bilang ingin membuktikan kepada Ita bahwa dia bisa menjadi suami yang baik, nyatanya juga malah menunjukkan betapa tidak layaknya dia karena telah mempermainkan banyak wanita dan mejadikan Ita sebagai alasan. Ah, sungguh tidak masuk akal, tapi keseluruhan Hanzel jelas tidak tahu benar, jadi mau banyak bicara lagi juga dia merasa tidak perlu.
'' Hanzel, tolong minta untuk Prita keluar ya? Atau biarkan aku menemuinya sebentar saja. " Pinta Roni dengan tatapan memohon.
Hanzel tentu saja tidak bisa mengiyakan begitu saja, Ita adalah orang yang berhak atas dirinya karena dia yang akan menemui atau tidak.
" Hanzel, aku tahu benar bahwa aku tidak layak untuk Ita, tapi aku harus bicara dengan Prita, aku mohon.... "
" Tunggulah disini, Ron. Aku akan tanyakan dulu kepada Ita. " Hanzel bangkit, lalu berjalan untuk menemui Ita yang pasti sedang berada di kamarnya.
" Sayang? "
" Kau disini? Ita ada? " Tanya Hanzel karena yang membukakan pintu ternyata adalah Lora.
" Ita, apa kau bersedia menemui Roni? " Tanya Hanzel.
" Tidak, Tuan. " Jawab Ita karena memang dia malas bertemu dengan Roni.
" Kak, sampai kapan kakak akan menghindar? Kakak harus menegaskan bahwa kakak sudah tidak ingin memiliki hubungan apapun, karena dengan kakak menghindar, dia malah akan semakin penasaran dan terus datang kesini. " Ucap Lora yang ikut kesal setelah mendengar cerita masa lalunya Ita.
Ita terdiam sebentar, memang benar apa yang dikatakan Lora. Selama ini dia menghindar bukan karena dia takut, tapi dia menghindar karena setiap kali melihat Roni selalu timbul keinginannya untuk memukulnya, jadi sebisa mungkin dia tidak melihat wajah Roni yang mirip seperti wajah brengsek di matanya.
Ita berjalan keluar dari kamar, dengan wajah datar dia datang ke ruang tamu duduk bersebrangan meja dengan Roni yang terus menatapnya dengan mata memerah entah perasaan seperti apa yang sedang ia rasakan.
" Bagaimana kabarmu, Prita? " Suara Roni yang sempat tercekat akhirnya bisa bisa dengan jelas ia keluarkan.
" Baik, sangat baik sampai aku tidak tahu cara menyampaikan dengan kalimat sangat. "
Roni terdiam sebentar, dia melihat jemari tangan Ita yang tidak sekurus dulu ketika bersama dengannya. Penampilan sederhana seperti sekarang nyatanya tak menghilangkan pesona seorang model dari dalam dirinya. Hanya saja, senyum indah Ita tak lagi bisa ia lihat, tatapan Ita juga sangat jelas lebih besar dengan kebencian ketika sebentar melihatnya.
" Kau, apakah kau hidup dengan baik selama ini? Kenapa kau memilih menjadi pembantu dirumah Hanzel? "
Ita menghela nafas, lalu menatap Roni dengan tatapan jengah.
" Aku tidak ingin menjawab pertanyaan mu, aku juga sangat malas melihatmu. Kau datang ingin bertemu denganku hanya untuk membicarakan hal ini? Sayang sekali ya, kau pasti sudah membuang banyak waktu mu untuk ini. "
" Maafkan aku, Prita. Aku datang untuk meminta maaf, aku tidak memiliki niat buruk, jadi jangan begitu membenciku ya? "
Ita memutar bola matanya jengah.
" Apa kau tahu? Lepas darimu dan keluargamu adalah hal paling berharga yang pernah aku dapatkan di hidupku. Aku tidak sedih dengan apa yang kau lakukan padaku, toh nyatanya aku bisa merasakan kelegaan setelahnya. "
Bersambung.