Little Wife

Little Wife
BAB 18



Hanzel mengernyit dengan tatapan tak suka melihat ada orang asing duduk di sana, apalagi saat Lora mengenalkan wanita itu sebagai anak dari orang tua angkatnya, Hanzel semakin menjadi kesal, tali juga sebentar dia menahannya untuk mendengar apa yang hendak dibutakan wanita itu. Tak bicara lebih dulu, Hanzel masih diam menunggu saja sembari memainkan jemarinya di atas paha Lora.


Resa, gadis itu tentu bisa melihat dengan jelas bagaimana perlakuan Hanzel kepada Lora, jadi kalau Resa iri itu berarti bukan salahnya, kan yang seharusnya dinikahkan dengan Hanzel adalah dia. Ditambah lagi dia selama ini tinggal di kota, bergaul dengan orang-orang yang bisa dibilang keren, sementara Lora, gadis itu hanya diam saja dikamar dan hanya tahu menggoda ayahnya saja, jadi mana pantas wanita seperti Lora menjadi istrinya Hanzel?


" Kak, bisa bicara sekarang? Tuan Hanzel sekarang pasti sedang kelelahan. Semakin cepat selesai, Tuan Hanzel juga semakin cepat untuk bisa istirahat. " Ujar Lora yang merasa kasihan dengan Hanzel, tapi Resa malah sibuk memandangi Hanzel dengan mata penuh kekaguman tiada henti. Tapi begitu Lora berbicara untuk sekedar mengingatkan, matanya langsung berubah menjadi begitu menyeramkan.


Reda menelan salivanya, lalu perlahan dia mulai bertekad dan memaksakan diri untuk berucap dan menyampaikan maksud dari kedatangannya kerumah itu.


" Tuan, Hanzsel? "


" Tuan Hanzel kak namanya. " Ujar Lora dengan polos membenahi. Bukan maksud ingin mengejek, tapi sungguh Lora yang polos itu hanya memiliki niat meluruskan agar tak salah lagi menyebut nama suaminya. Hanzel sebenarnya ingin sekali tertawa tapi sebisa mungkin dia tahan, memang dasar gadis polos, apakah dia tidak tahu kalau itu sama saja membangkitkan kebencian lebih banyak dari wanita yang dia panggil kak Resa?


" Iya, Tuan Hanzel, sebenarnya aku ingin meluruskan kesalahpahaman ini. Orang yang dulu ingin dijodohkan dengan Tuan sebenarnya adalah aku, jadi Lora hanyalah pengganti saja. "


Hanzel terdiam, gerakkan tangannya di atas paha Lora juga berhenti. Dahinya mengernyit lalu menatap Resa dengan tatapan penuh tanya.


" Benar kok Tuan Hanzel, aku tidak bohong! "


Lora terdiam menatap Hanzel yang tak bicara. Entah dia akan dibuat oleh Hanzel atau tidak, pokoknya dia akan terus menempel dengan Hanzel Sampai akhir hayat, batin Lora.


" Menurut Tuan bagaimana? "


Hanzel menghela nafas, lalu kembali memainkan jemarinya di atas paha Lora, membentuk pola-pola tak tahu apa bentuknya, sepertinya Hanzel terlihat malas bicara, terbukti Hanzel memangku wajah dan memandangi gerak jemarinya.


" Kak, sepertinya Tuan Hanzel sedang malas bicara deh. "


Resa kembali melotot kepada Lora. Aneh, padahal dia hanya menyampaikan apa yang dia rasakan melalui mimik wajah Hanzel, tapi kenapa malah Resa terlihat lebih marah? Jadi apakah dia harus minggir dulu dan membiarkan mereka bicara berdua?


" Tuan, aku buat kopi dulu ya? Tuan belum minum kopi kan? "


Hanzel menahan paha Lora agar Lora tetap disana. Tapi bocah kecil itu malah nyeletuk seenaknya sendiri seperti tidak menganggap adanya Resa disana.


" Tuan, kan bisa nanti saja tunggu kak Resa pulang. Sekarang aku buat kopi dulu. "


Hanzel tak bisa lagi berkata-kata, dia membiarkan Lora pergi ke dapur dengan perasaan keheranan karena sikap Lora yang begitu berani akhir-akhir ini.


" Siapa yang memberimu keberanian untuk menyatakan itu? " Tanya Hanzel yang sudah tidak ingin berlama-lama dengan wanita yang tidak dia kenal, terlebih wanita itu juga pasti sudah pernah menyiksa Lora.


" Maksudnya? " Tanya Resa dengan ekspresi bingung, tapi bibirnya tersenyum manis seperti tengah menggoda pria yang duduk bersebrangan meja dengannya.


" Sama sepertimu, aku juga bukan orang yang akan menikah waktu itu. Kalau kau begitu ingin menikah dengan orang itu, maka menikahlah dengan Ayahku. " Hanzel tersenyum dengan tatapan yang menegaskan jangan lagi beratnya apapun, dan jangan lagi berani-beraninya menemuinya lagi karena itu adalah hal yang sangat tidak menyenangkan.


" Ini kopinya, Tuan. " Lora menggeser secangkir kopi hingga sampai di depan Hanzel dan duduk lagi disampingnya.


" Kak, kok diam saja? Tidak dilanjutkan bicara ya? Tehnya juga jangan lupa diminum kak. " Ujar Lora.


Resa menatap Lora dengan tatapan tak suka, beberapa kali dia sempat mengepal ingin sekali memukul wajah Lora yang selalu membuatnya muak setiap kali melihatnya. Padahal hanya gadis kampung yang murahan, bagaimana bisa dia menikah dengan Hanzel yang begitu tampan, dan kaya? Bukankah seharusnya apa yang dimiliki Lora adalah miliknya? Ponsel mahal, kalung mahal yah sekarang dikenakan Lora, baju, sendal rumahan yang pasti harganya ratusan ribu, mendekati juta.


" Lora, kalau teh yang kau sediakan untuk dia sudah habis, tolong cepat suruh dia pulang, hari semakin malam, kita juga harus melakukan banyak hal kan? "


Lora mengangguk setuju.


" Jadi Tuan pergi mandi saja sekarang, nanti kan bisa langsung saja. "


Hah?! Hanzel tersedak saat sedang menyeruput kopi panasnya. Apa sih yang dipikirkan Lora? Padahal dia ini ada beberapa pekerjaan yang belum selesai, dan Lora juga kan harus istirahat juga. Hah! Sudahlah, mungkin karena beberapa kali dipukul kepalanya, otak Lora agak mengalami masalah jadi biarkan saja dan coba memaklumi sebisanya.


Tak menunggu teh nya habis, Resa segera bangkit dari duduknya, meminta izin untuk pamit kepada Hanzel, lalu Lora mengantarnya sampai ke teras rumah.


" Kak, ini sudah malam apa kakak berani pulang sendiri? Rumah ini kan adanya di ujung jalan, sudah begitu kan tidak ada penerangan sampai ke rumah berikutnya. "


Resa menelan salivanya sendiri, padahal barusan dia masih berkeinginan untuk memaki Lora, tapi Lora sudah keburu mengatakan hal itu jadi dia malah ketakutan sekarang.


" Antar aku pulang! " Ucap Resa memerintah dengan Arogan kepada Lora. Bukan hal baru, memnag seperti itu lah Reda memperlakukan Lora yang dianggap binatang olehnya.


" Maaf kak, nabati Tuan marah kalau aku pergi, lagi pula ini kan sudah malam, Tuan pasti membutuhkan aku. "


Resa menatap Lora sebal karena sedari tadi yang Lora ucapkan begitu ambigu seolah yang Hanzel butuhkan adalah kegiatan di atas ranjang saja.


" Pantas saja kau pandai menggoda Ayahku ya? Ternyata kau memang sehina itu. "


Lora terdiam mencerna kata-kata Resa. Apa sih yang salah dari ucapannya? Yang dia maksud Hanzel membutuhkan nya adalah menyiapkan baju ganti, menghangatkan makan malam untuk Hanzel, lalu meyiapkan vitamin harian juga membuat jus untuk Hanzel. Jadi bagian mana yang murahan?


" Kakak ini bicara apa sih? Sudah ah kak, kakak pulang saja sendiri. " Lora masuk kedalam rumah, lalu menutup pintu dan mengabaikan Resa yang beretika marah. Lora membuang nafas kasarnya, lalu kembali melihat ponsel dan melanjutkan menonton tutorial make up karena sebentar lagi dia akan masuk universitas yang sama dengan Nora, jadi dia tidak ingin penampilannya mengecewakan, bila perlu harus bisa lebih keren dibanding Nora.


Bersambung.