
Satu hari setelah masa Ospek selesai, Lora kini berada di perusahaan dimana Hanzel bekerja. Lelah memang harus berpose sesuai dengan arahan sang photography, tapi karena Hanzel setia menemani, dan dia juga membantu Lora untuk menggerakkan tubuhnya sesuai pose yang dibutuhkan pada akhirnya dia bisa melalui hari itu meski rasanya sangat lelah.
" Kau mau makan? " Tanya Hanzel setelah beberapa saat Lora berisitirahat di ruangan kerja Hanzel. Bukan makan yang dia inginkan, tapi pijatan di betisnya yang dia inginkan. Ah, tapi mana mungkin juga dia meminta Hanzel untuk memijat kakinya?
'' Tidak usah Tuan, nanti aku makan kalau sudah sampai di rumah saja. " Ujar Lora. Merasa tak tahan dengan kakinya yang pegal, segera Lora memijat sendiri betis kakinya hingga tak sadar kalau Hanzel memperhatikan apa yang Lora lakukan.
" Kakimu legal? " Suara Hanzel terdengar begitu dekat, dan benar saja! Rupanya dia sudah ada di hadapan Lora saat Lora mengangkat wajahnya.
" Iya, hanya sedikit. Sebentar lagi pasti akan membaik. " Ujar Lora yang tak mungkin mengakui yang sesungguhnya dan membuat Hanzel khawatir. Ini adalah kali pertama dia melakukan sesuatu untuk membantu Hanzel, jadi sebisa mungkin dia ingin melakukannya dengan totalitas.
Hanzel megambil duduk di samping Lora, setelah membuang nafas dia meraih kaki Lora dan membawanya ke dalam pangkuannya.
" Tuan! "
" Aku tahu kakimu pasti sangat pegal kan? Jadi diam lah jangan banyak tidak enakan tapi kau sakit sendirian. "
Lora tak lagi mengatakan apapun, matanya kini sibuk menatap Hanzel yang memijat kakinya dengan lembut tapi juga sedikit menekan membuat betisnya terasa amat nyaman. Tidak tahu bagaimana jadinya kalau pria yang bernama Hanzel itu tida menikahinya, tidak tahu bagaimana jadinya kalau pria itu tidak membawanya ke kota, mungkin Lora masih akan mengalami kesakitan dan kesedihan seperti dulu. Jika terus begini, tentu saja dia tidak akan pernah rela kehilangan Hanzel, atau mungkin bisa jadi dia akan bunuh diri saja saat kekasih Hanzel datang kembali dan mereka memutuskan untuk menjalin hubungan yang sempat terjeda sebentar.
" Tuan? " Panggil Lora dengan mata yang mulai memerah seperti ingin menangis. Bibirnya sudah berbentuk menahan tangis yang seakan pecah.
Hanzel menoleh ke arah Lora, dia mengeryit karena kaget melihat Lora yang seperti ingin menangis.
" Apa pijatan ku sakit? "
Lora menggeleng, dia menurunkan kedua kakinya, memeluk Hanzel dan mulai menangis tanpa suara. Bolehkah dia mencintai pria yang kini ada di pelukannya? Bolehkah dia meminta untuk tidak mengikuti surat perjanjian? Bolehkah dia menjadi sedikit egois dan hanya menginginkan pria itu seorang diri saja? Tidak! Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu? padahal jelas sudah alasan Hanzel menikahinya. Tapi, hati yang tidak rela itu benar-benar membuatnya dilema dengan situasi ini.
" Kau kenapa? " Lain yang dirasakan Lora, lain pula yang dirasakan Hanzel. Pria itu justru memikirkan hal-hal negatif seperti, apakah Lora lelah? Apakah itu adalah kesalahannya karena telah membuat Lora terpaksa bekerja dan menjadi seperti ini?
" Tuan? "
" Kalau Tuan sebaik ini, bagaimana jadinya nanti kalau Tuan meninggalkan aku saat kontrak berakhir? Aku pasti akan sangat sedih. "
Hanzel membeku dengan tatapan bingung. Ternyata Lora menangis bukan karenanya memaksa untuk menjadi model iklan? Jadi, Lora juga takut ditinggalkan karena adanya perjanjian di antara mereka? Hanzel memejamkan matanya menikmati betapa tenang hatinya karena ternyata Lora juga merasakan hal yang sama. Perlahan Hanzel mengerakkan kedua lengannya memeluk Lora dengan erat menyalurkan kehangatan dan kekuatan.
" Tuan.... "
Karena Hanzel tak kunjung bicara, maka Lora hanya bisa melerai pelukannya, menatap penuh tanya. Apakah hanya dia yang memilki perasaan untuk Hanzel? Apakah perasaan itu tak terbalaskan? Mungkin bukan tidak, tapi belum. Lora menatap mata Hanzel terus, hingga pada akhirnya Lora menyatukan bibirnya tanpa perduli apakah Hanzel menginginkannya atau tidak.
Hanzel, sebenarnya pria itu sangat bahagia hingga tak mampu mengatakan apapun. Serangan dari Lora tentu dia terkejut, tapi dia juga terbuai dengan hangatnya sentuhan bibir Lora, apalagi saat Lora menggerakkan bibirnya, memasukkan lidahnya dengan penuh keinginan, masa bodoh sekarang ada di mana Hanzel juga tidak perduli. Dia membalas ciuman Lora dan mengimbangi agar tak membuat Lora kehilangan keinginan.
" Tuan, aku maunya Tuan cuma jadi milik aku saja. " Ucap Lora sebentar menghentikan kegiatannya. Hanzel, pria itu benar-benar tidak sanggup mengatakan apapun, ini adalah kali pertama ada bocah seperti Lora begitu ekspresif dan membuatnya terus berdegup kencang setiap kali Lora mengatakan hal-hal semacam itu. Dia juga ingin mengatakan betapa tidak ingin berpisah dengan Lora, tapi bibirnya seolah terkunci bergantian dengan rona merah di pipinya.
Lora, gadis itu semakin tak menentu kala Hanzel memilih untuk diam saja. Dia semakin berpikir kalau Hanzel masih tak memiliki perasaan untuknya. segera dia mengubah posisi untuk duduk di atas pangkuan Hanzel, saking menatap dengan jarak yang sangat dekat, dan kembali menyatukan bibir mereka.
Tuan hanya boleh menjadi milikku! Tidak boleh ada wanita yang lain, jadi aku akan membuat Tuan lelah setiap hari jadi tidak memiliki waktu bermain dengan wanita lain.
Lora sekarang bukan hanya mencium bibir saja, tapi dagu, leher, tangannya juga sudah mulai nakal dengan melepas dadi yang digunakan Hanzel, membuangnya ke sembarang tempat. Membuka satu persatu kancing kemeja yang digunakan Hanzel, lalu celananya juga tak absen dari tangan Lora. Gadis itu semakin menggila dengan perasaan takut, sementara Hanzel semakin menggila dengan indahnya sentuhan demi sentuhan yang Lora berikan padanya.
" Ah..... " Hanzel memejamkan mata menikmati sentuhan lembut dari jemari Lora yang hangat, memijat dengan arah naik turun dengan cepat. Tak hanya sampai disitu saja, Lora juga menggunakan mulutnya persisi seperti video yang dikirim Ita beberapa waktu lalu. Hanzel, pria itu hanya bisa memejamkan mata pasrah dengan bocah kecil yang kini menjelma seperti seorang istri yang pandai luar biasa dalam memanjakan seorang suami.
" Lora.... " Hanzel mengangkat wajah Lora, menuntun untuk kembali ke sofa dimana mereka duduk. Benar-benar tak mau kalah, Hanzel menaikan dress yang digunakan Lora, melepas dengan cepat kain penutup segitiga milik istri kecilnya itu, dan membuangnya entah kemana dia juga tidak tahu dan masa bodoh saja. Tak mau egois, Hanzel juga memberikan sentuhan di bagian penting Lora menggunakan lidahnya, menyesap dengan kuat membuat si pemilik mengaduh nikmat.
Sudah tida tahu seberapa berantakannya ruang kerja Hanzel, baju mereka juga sudah berhamburan kemana saja tak perduli. Ada yang mengetuk pintu beberapa kali, tapi mereka juga mengabaikan, untungnya para pegawai tahu kalau Hanzel sedang di dalam bersama model iklan mereka. Meski tidak tahu kalau Lora adalah istrinya, setidaknya mereka sudah cukup tahu dengan ketukan pintu yang tak kunjung diperbolehkan masuk berarti sedang terjadi sesuatu tidak biasa di dalam sana.
Bersambung.