Little Wife

Little Wife
BAB 41



Lora tersenyum bahagia melihat wajahnya sering muncul di televisi. Sudah satu bulan terlewati, iklan minuman yang terbuat dari teh kemasan yang menggunakan wajah Lora sebagai modelnya juga sudah beredar di pasaran. Lora juga baru tahu kalau ternyata Nora juga menjadi model salah satu minuman soda, tapi kalau di lihat dari pasaran yang lebih tertarik dengan teh kemasan dari perusahaan Hanzel, Lora benar-benar merasa sangat bahagia dan bangga dengan dirinya sendiri. Awalnya dia mengira kalau wajahnya sama sekali tidak ada fungsinya, tapi karena banyak yang memberikan komentar bahwa modelnya sangat cantik, Lora menjadi semakin bahagia di buatnya dia juga merasa beruntung bisa membatu Hanzel.


" Lora, aku benar-benar terkejut karena kau ternyata juga seorang model. Tidak heran sih, kau kan cantik. " Begitulah komentar dari unggahan Lora. Padahal hanya kemasan teh saja, tapi komentar di media sosial Lora sudah banyak sekali hingga Lora tidak sanggup untuk membalas walau hanya kata terimakasih.


Tak lama Lora beralih melihat media sosial milik Nora. Seperti biasa, banyak sekali unggahan selama beberapa hari terakhir ini, tapi anehnya ada satu unggahan yang membuat Lora merasa seperti sedang disindir.


Nora memegang minuman soda yang menggunakan dia sebagai modelnya, Nora tersenyum dengan begitu manis, mensejajarkan botol soda itu dengan wajahnya. Jangan seperti orang tua yang selalu minum teh! Ini minuman anak muda, ayo segera teguk! Begitulah bunyi keterangan photo yang di unggah oleh Nora. Jujur saja Lora memang merasa kesal, tapi dia juga tidak ingin membalas dengan cara yang memalukan. Sudah, biarkan saja dia sombong untuk beberapa hari ini, karena saatnya tiba nanti, Nora hanya akan bisa mendongak melihatnya yang sudah berada di atasnya.


" Lora, aku sudah memanggilmu beberapa kali. Kau sedang bertukar kesan dengan siapa sampai mengabaikan ku? "


Lora yang sempat terkejut dengan kehadiran Hanzel segera berlari untuk menghampiri Hanzel yang masih berdiri di ambang pintu. Lora loncat naik ke tubuh Hanzel, bukan tanpa sebab, itu karena dia sangat bahagia dengan ramainya permintaan pasar dengan teh dari perusahaan Hanzel.


" Maaf sayang! Aku tidak sedang bertukar pesan kok. Aku sedang melihat media sosial seorang artis saja. " Lora mengecup singkat bibir Hanzel beberapa kali agar si pria tampan itu gak terlalu lama marah padanya. Iya, itu sangat berhasil, jadi Hanzel hanya bisa menghela nafas tak bisa lagi merasa sebal.


" Turunlah, jangan seperti anak monyet begini. " Ujar Hanzel tapi tetap menahan Lora agar tidak jatuh melorot dari tubuhnya. Lora segera turun perlahan sesuai dengan Hanzel yang mengarahkannya. Dengan segera Lora mengambil alih tas Hanzel, meletakkannya di meja yang biasa Hanzel gunakan untuk bekerja. Lalu membantu Hanzel melepas pakaian, lalu meletakkan sepatu Hanzel ke tempatnya.


" Nanti malam aku pergi menemui teman ya? " Ucap Hanzel sembari berjalan menuju kamar mandi.


" Laki-laki atau perempuan? " Tanya Lora penasaran.


" Laki-laki, dia baru saja datang dari luar negeri. Dua bulan lalu dia menikah dan aku tidak bisa datang, kebetulan dia menghubungi tadi untuk mengajak bertemu, jadi sekalian saja mengucapkan selamat. "


Lora mengangguk meski sebenarnya dia ingin menggeleng tidak mau ditinggalkan.


" Pulangnya larut malam tidak? "


Hanzel yang sudah ingin meraih handle pintu kamar mandi sebentar menatap Lora.


" Mungkin jam sebelas atau jam dua belas, aku tidak bisa mengajakmu karena kita bertemu di BAR. "


Lora melotot kaget. Bar? Kalau dia lihat di beberapa sinetron akhir-akhir ini, Bar adalah tempat dimana orang-orang akan meminum minuman beralkohol, lalu mabuk, dan melakukan one night stand bersama gadis lain. Oh, kalau tidak akan ada wanita yang memasukkan obat perangsang agar dia hilang kendali dan berakhir dengan melakukan hubungan suami istri kan? Ah, tidak boleh! Apalagi kebanyakan novel yang dia baca juga akan ada anak yang lahir setelah one night stand, lalu perempuan akan membawa anak itu, kembali setelah lima tahun, lalu anaknya akan membuat takdir untuk kedua orang tuanya agar bersama! Ah, mana boleh seperti itu, nanti bagaimana nasibnya kalau Hanzel memiliki anak dari wanita lain lalu memilih wanita dengan anaknya?


" Sayang, aku ikut mandi! "


Hanzel mengeryit bingung. Kalau dilihat dari penampilan Lora yang sudah rapih dan memakai pakaian tidur, sudah jelas sekali bahwa Lora sudah mandi. Tapi sudahlah, hanya mandi bersama, mungkin Lora memang merasa panas dan ingin mandi lagi, batin Hanzel.


Tidak seperti yang dibayangkan Hanzel, Lora justru dengan percaya diri memberikan tubuh polosnya. Dengan alasan ingin menggosok punggungnya, Lora justru membuat Hanzel terpancing dengan gerakan tangan yang membangkitkan keinginan dari seorang laki-laki. Tak hanya itu, bahkan Lora mulai mengecup punggung Hanzel, tangannya yang mula ada di punggung Hanzel kini mulai memeluk dari belakang, satu tangannya berjalan ke bagian bawah dan memijatnya dengan lembut.


" Ah, Lora.... "


Hanzel membalikan tubuhnya, menyerang dengan ganas bibir Lora, mendorongnya hingga membentuk dinding. Mereka terus berciuman di bawah derasnya air hangat dari shower yang deras membasahi seperti air hujan.


Ditengah kegiatan panas mereka, Lora tersenyum bahagia karena usahanya benar-benar berhasil. Sementara Hanzel, pria yang sama sekali tidak tahu kalau itu rencana Lora untuk membuat energinya habis dan tidak memiliki keinginan lagi saat mabuk nanti, atau bagian inti Hanzel sudah tidak bisa bangun saat ada yang menjebaknya untuk melakukan perbuatan tidak senonoh.


Satu jam mereka bermain di bawah hangatnya air shower yang mengguyur tubuh mereka. Tidak perduli dimana tempat asalkan bisa merasakan bagaimana nikmatnya rasa dari apa yang sedang mereka lakukan, sungguh itu bukan masalah bagi Hanzel jika itu juga bisa membuat Lora senang dan merasa puas.


Hanzel keluar dari kamar mandi di susul oleh Lora yang terus tersenyum semetara Hanzel hanya bisa membatin bingung.


" Sayang, mau makan dulu tidak? Bajunya mau pakai yang mana? Kemeja atau kaos saja? " Tanya Lora dengan cerianya dan semakin membuat Hanzel semakin kebingungan.


" Lora, sebenarnya kau ini sedang kenapa? " Hanzel masih mengeryit menatap Lora yang terus terlihat bahagia entah apa sebabnya.


" Aku sedang bahagia lah, kan aku jadi di kenal banyak orang karena teh kemasan milikmu, aku juga sudah mendapatkan banyak tambahan pengikut di media sosial loh. "


Hanzel semakin mengeryit, tapi kali ini dia menunjukkan rasa tak sukanya. Padahal niat awalnya hanya untuk menggantikan model saja, dan tidak sampai ia pikirkan kalau pada akhirnya Lora akan menjadi tenar. Ah, kalau Lora jadi superstar bagaimana?


Amit-amit aku tidak mau jadi duda!


Bersambung.