
Seperti yang telah di setujui Lora, hari ini si pemilik paras cantik itu mengikuti casting. Mulai dari berekspresi marah, sedih, kecewa, bahagia, semua dapat ia lakukan dengan baik. Jujur saja, kemampuan Lora masih kurang mendalami saat berekspresi bahagia, tapi saat menunjukkan bagaimana jatuh cinta setidaknya dia bisa melakukannya dengan baik. Roni yang melihat langsung jelas bisa melihat kemampuan Lora pada akhirnya mampu menjadi lebih baik, bahkan bisa jauh jauh lebih baik dari pada yang ia bayangkan. Dari casting itu Roni bisa melihat bahwa Lora pasti sudah banyak mengalami masa sulit yang menyedihkan sebelumya, karena saat diminta untuk memperlihatkan wajah bahagia saat bersama dengan teman dan keluarganya, dia malah nampak tertekan dan sedih.
" Baiklah, Lora. Hari ini sudah cukup sampai disini, jangan lupa berlatih di rumah juga ya? "
Lora mengangguk setuju dengan cepat. Yah, dia bisa melihat wajah kurang puas dari juri, tapi masih ada waktu, jadi dia masih bisa berlatih di rumah bersama Ita nanti. Iya, semua ekspresi itu adalah Ita yang mengajarkannya. Tali saat diminta untuk menunjukkan ekspresi bahagia ketika berkumpul dan berbicara dengan teman dan keluarga, Lora malah teringat betapa menyedihkan menahan itu. Dia tidak memilki teman saat di kampung, di kampus juga tak banyak teman karena entah dengan alasan apa mereka menjauhi Lora. Keluarga? Yang mana keluarga? Ibunya ingkar janji, padahal sudah mengatakan banyak kata-kata meyakinkan bahwa akan selalu bersamanya, tali pada akhirnya memilih untuk mati. Ayahnya? Pria itu sama sekali tak pernah muncul saat dia menangis dalam kesendirian dan kesedihan. Nora yang adalah saudari kembarnya, nyatanya juga tak ingin mengenalnya lagi.
Setelah casting selesai, Lora memutuskan untuk kembali ke rumah tanpa memberitahu Hanzel, karena kalau mengabari Hanzel, pria itu pasti akan sangat kasihan harus mondar mandir, jarak mereka juga terbilang jauh. Sesampainya di rumah, Lora segera masuk ke kamar untuk membersihkan diri, barulah dia istirahat sebentar. Ah, tapi sebelum itu dia memberikan kabar kepada Hanzel dulu melalui pesan singkat. Cukup lama tak ada balasan, jadi Lora yang merasa amat lelah itu memilih untuk tidur sebentar.
***
Hanzel mengusap wajahnya begitu keluar dari ruang rapat. Sempat ada beberapa masalah, perusahaan, tapi untunglah semua sudah bisa di tangani. Begitu kembali ke ruang kerjanya, Hanzel segera meraih ponselnya, dan syukurlah Lora sudah sampai di rumah dengan selamat. Resha, gadis itu juga banyak sekali mengirim pesan dan juga beberapa kali menghubunginya entah ada urusan apa lagi. Tak mau menggubris Resha, Hanzel hanya membalas pesan dari Lora, lalu memintanya untuk istirahat karena Lora pasti lelah sekali hari ini.
Karena pekerjaan sudah tidak banyak, Hanzel bisa sebentar melihat rekaman saat Lora berakting beberapa saat lalu. Lumayan, tapi saat harus melakukan satu adegan, Lora jelas sekali malah terlihat tertekan. Jujur, Hanzel merasa iba dengan jalan hidup istri kecilnya itu, jika saja dia boleh membalas dendam dengan membabi buta, maka dia ingin sekali melakukannya. Tapi Lora yang berniat menyaingi kembarannya sepertinya itu juga cara yang bagus, jadi biarlah Lora yang berperan besar dengan ini, dia hanya perlu membantunya saja.
Setelah beberapa saat, Hanzel menghubungi Roni untuk menyiapkan satu guru les untuk Lora agar bisa lebih pandai berakting. Untunglah Roni punya kenalan guru les akting, jadi semuanya akan berjalan mudah nantinya.
***
Nora tengah berlatih vokal karena memang inilah kegiatannya. Harus latihan ekspresi, vokal, menari, bermain piano, bahkan juga harus kuliah, dan mencari uang. Semua itu benar-benar terasa sangat berat bagi Nora, maka itulah dia merasa iri melihat Lora yang hidup santai dan bergelimang harta, bahkan kekasihnya juga sangat tampan dan kaya. Iri? Iya, dia sangat iri, cemburu. Padahal dia hanya tidur dua atau jam saja perhari, tapi Lora pasti tidur dengan nyenyak kan. Dia bisa santai berbaring mendengarkan musik sembari memoleskan masker wajah, mempercantik kulit wajah dan seluruh tubuhnya tanpa ada beban, dan bisa fokus kuliah juga.
Sungguh sangat berbanding terbalik dengan Nora, gadis itu harus melakukan banyak hal. Kadang dia mengeluh lelah, bukan cuma sekali dua kali saja menangis setiap hari, dia sebenarnya tertekan karena harus melakukan ini, itu. Di depan banyak orang harus anggun, tersenyum juga di atur, harus terlihat lembut bak seorang peri. Padahal, di dalam hatinya memaki setiap orang yang membuat kesal, apalagi saat brand kecantikan menyarankan untuk menambahkan sesuatu di wajahnya, Nira yang sangat takut jarum suntik harus rela mengikuti saran itu meski sampai pingsan beberapa kali di awal-awal metode kecantikan dia lakukan.
" Nora, turunkan nadanya. Jangan pakai falseto di bagian itu. Kurangi tekanan pada tenggorokan mu agar suaramu terdengar lembut! Jangan ada cengkok, ini bukan lagi dangdut! "
Setelah selsai, Nora berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air dan menenggaknya hingga habis. Dia melihat pisang goreng buatan Ibu tirinya, rasanya ingin sekali memakan itu, tapi guru lesnya benar-benar sangat teliti dan tahu saja jika Nora memakan gorengan atau Makana tidak sehat untuk tenggorokan. Nora menekan ludah karena memang sangat tergiur dengan pisang goreng mentega itu, sebentar dia melihat ke kanan dan ke kiri melihat apakah ada orang yang akan dilihat atau tidak. Setelah dia memastikan bahwa tidak ada orang disana, Nora segera mengambil satu buah pisang goreng dan bersiap menggigitnya.
" Nora! "
Nora mengembalikan lagi kisah goreng itu dengan wajah kagetnya.
" Kau mau makan itu? Nanti kalau guru les mu tahu bagaimana? Kemarin kan kau sempat batuk nak, jadi jangan makan itu ya? " Dia adalah Ibu tiri yang datang ke dapur untuk memasak makan malam untuk keluarga.
Nora mengangguk lalu berjalan meninggalkan dapur dengan cepat. Dia masuk ke dalam kamarnya dan duduk di pinggiran tempat tidur dengan sangat sedih.
" Lora, kau pasti sangat bebas ingin memakan apapun kan? Aku melihat sendiri pacarmu membelikan banyak camilan untukmu. Kau pasti tidak tersiksa harus memakan makanan serba di kukus sepertiku kan? Aku juga makan makanan yang cenderung hambar. " Nora mencengkram sprei. Menjadi aktris seperti sekarang pada awalnya memanglah cita-cita nya, tapi setelah dia mendapatkan ini, entah mengapa dia merasa tersiksa dengan pilihannya sendiri, dia tidak bisa menjadi dirinya sendiri, dia merasa seperti boneka yang harus mengikuti apa kata orang lain.
" Aku ingin bebas, dan memiliki apa yang Lora miliki juga. Aku ingin dimanja dan di sayang seperti Lora. "
Bersambung.