
Lora mengeryit menahan perih begitu Hanzel mengoleskan salep di pelipis Lora yang terluka. Tentu saja sebelum itu Hanzel sudah membersihkannya terlebih dulu. Entah gadis bodoh dari mana Lora itu berasal, padahal sudah jelas diperlukan tidak baik oleh seisi rumah, tapi masih saja bertahan sampai delapan belas tahun, bahkan sampai di nodai juga masih bertahan disana. Kalau saja itu gadis lain, dia pasti sudah akan gila dan kalaupun tidak, dia pasti akan lari sejuah mungkin, batin Hanzel menggerutu di dalam hati.
Berbeda dengan Hanzel yang menggerutu di dala hati, Lora justru tengah bahagia karena ada seseorang yang memperdulikannya seperti Hanzel, dan juga Ita. Sebenarnya dulu dia sama sekali tidak pernah mengharapkan ada orang yang akan menolongnya setelah semua yang terjadi pada dirinya, tapi hari ini Lora merasa jika Tuhan memang masih menyayanginya dengan memberikan Hanzel sebagi suami, yah meski dia kembali ingat bahwa Hanzel tidak mencintainya.
Tidak apa-apa, selama dia bisa membuat Hanzel nyaman, pasti surat perjanjian itu akan tidak di berlakukan lagi, entah pada akhirnya dia akan di duakan atau bagaimana, intinya dia akan berusaha menjadikan Hanzel suaminya untuk selamanya.
Tuan Hanzel, selama kau bersamaku, aku juga tidak akan keberatan kau memiliki wanita lain. Bagiku sudah cukup berada di dekatmu, karena aku merasa aman bersamamu.
Lugu, ataukah bodoh juga entah tidak tahu karena hampir tak ada bedanya. Pemikiran Lora saat ini memang belum matang, jadi mana tahu dia sakitnya saat di duakan nanti.
" Kau terluka tapi masih bisa tersenyum sekarang hah?! " Ucap Hanzel yang rupanya sedari tadi melihat Lora tersenyum padahal sedang terluka.
" Luka ini tidak seberapa kok Tuan, tapi untungnya ada Tuan yang menolong, aku jadi baik-baik saja, dan aku juga bisa mengambil ijazah ku. "
Hanzel menggeleng heran setelah menghela nafas. Jika untuk ukuran wanita ini bukanlah apa-apa, jadi seberapa banyak luka yang diberikan mereka semua? Lora masih begitu muda, tapi apakah pantas di perlakukan seperti ini? Entahlah, padahal niat awalnya hanya ingin membuat Ayahnya gagal menikah, tapi sekarang dia terperangkap dengan permainannya sendiri.
" Kita ke kantor polisi setelah ini, kita buat laporan supaya bajingan itu cepat dihukum. "
Lora mengangguk setuju, tapi di dalam hati dia menyesali karena pria yang sudah menyentuhnya dengan paksa hanya akan dipenjara saja? Seakan tak rela, tapi dia juga tinggal di negara hukum yang tidak bisa bebas menyakiti apalagi membunuh orang lain.
Seperti yang dikatakan Hanzel, mereka berdua kini telah membuat laporan, juga sudah mencantumkan barang bukti yang mereka miliki. Setelah dari sana barulah Hanzel mengantar Lora untuk kembali ke rumah mereka yang ada di ujung jalan, lalu mendatangi perkebunan untuk melakukan pengecekan secara langsung. Sementara Lora, sekembalinya dia di rumah itu hanya bisa berdiam diri memainkan ponselnya, dia menonton tutorial untuk make up, lalu membaca artikel tentang hubungan suami istri agar tetap harmonis, juga membaca tentang cara memadupadankan pakaian, dengan tas, sepatu, perhiasan semuanya Lora pelajari dengan sungguh-sungguh. Tak ketinggalan juga senam tubuh membentuk tubuhnya agar semakin bagus, lalu juga makanan apa saja yang baik untuk dia konsumsi.
Suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasi Lora, tak mau banyak berpikir Lora bangkit dari tempat tidurnya, lalu berjalan menuju pintu dengan segera karena takut itu adalah Hanzel, memnag sih tidak mendengar mobilnya Hanzel tadi, tapi dia takutnya dia terlalu fokus dengan ponsel sehingga Hanzel pulang dia tidak dengar.
" Kak Resa? "
Lora terdiam dengan tatapan bingung karena melihat Resa tiba-tiba ada disana, wajahnya terlihat kesal, namun Lora memaklumi hal itu setelah apa yang terjadi beberapa saat lalu pasti membuatnya marah.
" Ada apa? Kenapa kak Resa kemari? " Tanyanya dengan sopan, iya meskipun Resa juga sering menyakitinya saat dia pulang kerumah orang tuanya, tapi tak sebanding dengan apa yang Ayahnya lakukan, jadi Lora merasa harus bersikap biasa saja.
" Ada apa katamu? Kau ini tidak sadar diri ya? Selian kau sudah menggoda Ayahku, sekarang Ayah dan Ibuku bertengkar hebat gara-gara kau! Dan asal kau tahu saja, orang yang seharusnya menikah dengan pria itu adalah aku, bukan kau! Dimana dia?! Aku harus bicara dengannya! "
Lora terdiam karena begitu terkejut dengan apa yang dikatakan Resa. Jadi kemarahannya bukan hanya karena apa yang terjadi dengan Ayahnya, tapi juga karena Hanzel menikahinya?
" Dimana dia? "
" Sedang ke perkebunan kak, nanti kakak datang lagi kalau mau bicara, tapi kalau bisa agak makanan karena Hanzel pasti lelah sekali. Kami baru datang tadi siang, langsung ke rumah kakak, lalu- " Lora tidak jadi melanjutkan ucapannya yang akan memberitahu kalau tadi mereka datang ke kantor polisi.
" Sekarang Hanzel sedang mengecek perkebunan, jadi kalau dia di ajak bicara masalah ini, takutnya dia akan kesal. Kakak tahu kan rasanya orang yang sedang lelah tapi di ajak bicara? "
Bukanya memahami ucapan Lora, Resa justru semakin marah, bahkan sampai mendorong kening Lora lumayan kuat.
" Jangan sok tahu! Kau ini hanya istri pengganti! Pria seperti Hanzel itu tidak mungkin mau menikahi gadis kampung sepertimu! " Sebenarnya Resa agar tidak percaya dengan apa yang dia katakan barusan, soalnya kalau dari penampilan Lora memnag tidak seperti yang dia ucapkan. Apalagi cara berpakaian, dan gaya rambut Lora sekarang, mana ada yang akan mengira kalau dia orang kampung? Belum lagi ponsel yang dipegang Lora adalah ponsel keluaran terbaru, dan Resa tahu itu harganya sangat mahal.
Sialan! Seharusnya itu adalah milikku!
" Kalau kakak tidak mau menuruti saran ku ya sudah tidak apa-apa, kakak tunggu saja Hanzel pulang, aku mau mandi dulu ya? Soalnya Hanzel bilang aku sudah harus mandi kalau dia pulang nanti. " Mungkin ucapan Lora ini memang benar apa adanya dia ucapkan sesuai dengan yang Hanzel ucapkan beberapa waktu lalu, tapi bagi Resa, tentu saja seperti sebuah sindiran yang sangat pedas.
" Dasar tidak tahu malu! "
Lora menghela nafas, lalu beranjak pergi ke kamarnya untuk mandi karena sebentar lagi Hanzel sudah pasti pulang.
Aneh, aku kan hanya bicara apa adanya, kok kakak marah? Kenapa sih kak Resa ini mirip degan Ibu Velo? Marahnya tidak pakai alasan.
Lora keluar dari kamar karena telah selesai, dan dia juga ingat kalau dia belum membuatkan minuman untuk Resa, jadi dia menuju dapur dan menyuguhkan secangkir teh hangat untuknya. Baru saja meletakkan teh itu di meja, suara mobil Hanzel terdengar, dan Lora segera berjalan ke arah pintu untuk menyambutnya.
" Tuan sudah pulang? "
" Iya. "
Lora mengambil tas yang ada di tangan Hanzel.
" Siapa dia? " Tanya Hanzel saat melihat Resa bangkit dari duduknya, lalu tersenyum ke arahnya.
Bersambung.