
Lora memaksakan senyumnya, dia mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan Alexander tadi. Sebentar dia saling menatap tapi tak lama Lora beralih pandang karena tidak terbiasa menatap mata pria kecuali matanya Hanzel. Alexander nampak senang bertemu dengan Lora, dia duduk disebelah Lora seolah begitu tidak penting untuk menjaga perasaan Nora di ujung sana.
" Kau datang dengan siapa? Kenapa hanya duduk sendirian? " Tanya Alexander, sebenarnya pria itu adalah pria yang tampan, hanya saja cara dia menatap Lora agak membuat Lora risih jadi Lora semakin tidak berani kalau harus melihat tatapan Alexander.
Lora sebentar tersenyum, dia membelakangkan rambutnya nya jatuh ke pundak dan menyelipkan ke belakang telinga. Alexander menelan salivanya melihat betapa cantiknya wajah Lora, senyumnya juga sangat indah, bahkan tatapan matanya sangat polos seperti anak-anak yang membuat dia terlihat imut juga.
Nora, dari kejauhan dia hanya bisa terdiam menahan segala rasa yang tak bisa dia ungkapkan. Alexander adalah pria yang dijodohkan oleh orang tua mereka berdua, dan Alexander adalah orang yang sudah lama sekali Nora kenal. Sosok Alexander yang begitu sempurna di mata para gadis, tentu saja Nora tidak buta dan juga bisa melihat itu. Alexander, pria itu adalah cinta pertamanya, cinta yang sudah lama dia rasakan semenjak usianya lima belas tahun.
" Lora, kau tidak menjawab dengan siapa kau datang? Apa dengan pacarmu? "
Baru saja Lora akan menjawab, Nora sudah lebih dulu datang menghampiri.
" Kak, kita masuk yuk? " Ajak Nora karena pintu teater sudah akan dibuka. Alexander nampak menghela nafas seperti orang malas, sementara Lora jadi hanya bisa tersenyum saja melihat Nora yang sepertinya kesal dan cemburu.
" Senang bertemu denganmu, Lora. " Ucap Alexander sebelum dia pergi meninggalkan Lora dan mengikuti langkah kaki Nora.
" Iya, aku juga senang. Sampai jumpa lagi. " Balas Lora dengan sopan.
Hanzel, pria itu sebenarnya sudah berdiri lumayan lama memperhatikan bagaimana Alexander menatap Lora penuh rasa suka, bahkan saat dia mencoba mendekat barusan dia juga mendengar kalimat yang paling tidak dia suka, senang bertemu denganmu, Lora. Apalagi saat Lora menjawab bahwa dia juga senang, rasanya Hanzel benar-benar ingin mencekik leher Alexander sampai patah.
" Tuan? " Lora tersenyum, lalu cepat dia bangkit dan mengambil beberapa makanan yang Hanzel pegang karena sepertinya lumayan banyak dan ribet untuk membawanya.
" Pria tadi siapa? " Tanya Hanzel dengan tatapan dingin.
" Oh, dia kakaknya teman kuliah, Tuan. "
Hanzel menghela nafasnya, dia mengeluarkan masker penutup wajah untuk Lora dan memakaikannya.
" Mulai sekarang kemana kau pergi harus pakai ini! "
Lora diam saja dengan mata yang terus berkedip bingung. Cemburukah? Atau bagaimana?
" Memang lebih baik menghabiskan waktu dirumah, biar saja tenaga drop dari pada seperti ini. " Gerutu Hanzel sembari melangkahkan kaki setelah mengambil minuman soda yang sempat dia letakkan sebentar untuk memakaikan masker wajah untuk Lora.
" Tuan cemburu? " Lora mengejar Hanzel sembari tersenyum karena merasa senang jika Hanzel benar-benar cemburu.
" Tidak. "
" Sungguh? "
" Hem! "
" Ya sudah kalau begitu. " Lora membuka masker saat bicara dengan Hanzel karena tidak nyaman mengunakan itu ketika berbicara.
" Lora! " Seorang pria memanggil Lora, dan sepertinya pria muda itu adalah teman kampus Lora. Hanzel membulatkan matanya begitu besar, bagaimana tidak terpikirkan kalau tempat yang ia kunjungi adalah tempat yang banyak anak muda datang, belum lagi juga tidak jauh dari kampus Lora, benar-benar menyesal membawa Lora keluar dari rumah.
" David? " Lora tersenyum membalas sapaan David yang berjalan mendekat ke arahnya. Tidak tahan lagi, Hanzel segera merangkul Lora erat-erat dan membawanya pergi menjauh dari sana untuk masuk ke teater.
" Tuan kenapa? " Tanya Lora bingung. Maklum saja, Hanzel itu biasanya sangat jarang bicara, sekarang Hanzel jadi suka sekali mengomel tentulah Lora menjadi agak bingung. Katanya tidak cemburu, jadi kenapa dong?
" Tidak kenapa-kenapa! Berikan semua camilan padaku, dan jangan berani-berani nya melepaskan genggaman tangan kita. " Ucap Hanzel dengan wajah kesalnya.
Lora mengangguk, tali dia juga tersenyum dengan bahagia.
" Yeah....! Tuan cemburu! " Ucap Lora seolah begitu bangga mendapatkan rasa cemburu dari Hanzel. Sementara Hanzel sendiri, pipinya merona begitu melihat Lora bersorak bahagia dengan tidak tahu malunya. Tapi biarlah, Hanzel juga tidak terganggu dengan itu.
Selama menonton mereka berdua benar-benar sangat serius, dan untunglah karena Lora menyukai film action yang umumnya disukai oleh kaum pria. Semua makanan yang Hanzel bi sudah habis, dan semua itu Lora lah yang memakannya. Sekarang hanya tinggal Sida milik Hanzel karena milik Lora sudah habis, karena merasa kasihan Hanzel menentukan soda itu untuk Lora saja.
" Dibanding menonton film, sepertinya kau lebih fokus untuk makan camilan mu ya? " Ujar Hanzel seraya berjalan keluar karena film yang mereka tonton sudah selesai.
" Camilan yang tadi Tuan beli enak sekali loh. "
" Mau lagi? "
" Mau! "
" Kita beli saja dulu, nanti baru pergi makan malam setelah itu kita pulang ya? " Ucap Hanzel seraya merangkul pundak Lora. Sementara Lora, gadis itu kini tengah memegang ponselnya untuk memberi tahu Ita bahwa mereka tidak akan makan malam dirumah jadi jangan masak terlaku banyak.
" Kau mau beli sesuatu dulu tidak? Mumpung kita ada di mall, ini juga masih sore kan? Jadi masih ada waktu sembari menunggu makan malam. "
" Barang-barang di kamar masih banyak yang baru, sayang kalau beli lagi. Nanti saja dulu. " Ujar Lora, seraya memasukkan ponselnya, lalu merangkul pinggang Hanzel.
Nora, gadis itu rupanya sedari tadi mendengar percakapan antara Hanzel dan Lora yang begitu mesra. Apalagi saat melihat wajah pria yang bersama dengan Lora itu begitu tampan, dia jadi mengira kalau selama ini Lora pasti sudah di adopsi oleh orang kaya raya. Jujur, Nora juga merasa iri dengan perlakuan Hanzel yang Nora kira adalah pacarnya Lora. Pria itu nampak begitu perduli dengan Lora, tidak seperti dirinya yang selalu di perlakukan dingin oleh Alexander.
Hanzel tersenyum kepada Lora sembari menyerahkan sekantung plastik bersisi makanan ringan yang Lora inginkan.
" Itu cukup? Apa kau masih mau lagi? "
" Jangan! Nanti Ita akan mengomel kalau terlalu banyak makanan yang tidak sehat. " Lora menghela nafas seperti anak-anak yang dilarang memakan es krim.
Hanzel tersenyum, lalu mengacak rambut Lora karena gadis itu selalu saja terlihat imut saat sedang sebal.
" Ita hanya ingin kau sehat. "
" Iya, aku tahu. "
Nora semakin mengepalkan tangannya karena kesal. Dia benar-benar berpikir kalau Lora sudah begitu hidup bahagia, dimanja tidak seperti dirinya yang harus bekerja menjadi sekarang aktris dari usia muda demi membantu ekonomi keluarganya.
Lora, pantas saja kau berpura-pura tidak mengenali ku. Kau sudah jadi orang kaya, pacar juga sangat tampan dan baik, kau beruntung Lora, tapi sayangnya aku tidak, jadi jangan salahkan aku yang tidak berperasaan ini.
Bersambung.