Little Wife

Little Wife
BAB 58



Ita mondar mandir ke sembari menghubungi Hanzel, iya karena dia tahu bagaimana Ayah dari Hanzel, maka dia dengan sengaja mencuri dengar karena ruang tamu juga tak jauh dari kamarnya. Kalau melihat bagaimana ekspresi Tuan Haris, tentu dia marah. Tidak tahu marah karena apa karena dai ucapannya malah terkesan ambigu. Kalau di ingat kembali, awalnya yang akan menikahi Lora kan Tuan Haris, apakah mungkin pria itu memiliki niat tersembunyi di balik sikap sok perduli dengan masalah anak dan menantunya.


" Ah, kenapa Tuan Hanzel malah tidak mengangkat telepon sih?! "


Karena tak memiliki pilihan lain, akhirnya Ita memutuskan untuk keluar dari sana dan menemani Lora yang semakin sesegukan.


" Lora, masuk saja ke kamar ya? Nanti kalau Tuan Hanzel tahu, bisa-bisa dimarahi karena kau tidak banyak istirahat. "


Lora menoleh ke arah Ita yang baru saja sampai disana, sebisa mungkin Ita tersenyum agar Kita tak lagi merasa panik, memang dia hanya seorang pembantu disana, tapi meksipun begitu, Hanzel sama sekali tidak pernah memperlakukannya seperti pembantu, melainkan seperti teman atau bahkan kakaknya. Urusan Lora juga dia di beri amanat untuk menjaganya selama Hanzel tidak ada di rumah.


" Kau ini hanya pembantu, jangan ikut campur urusan keluargaku! " Tuan Haris melotot tak terima dengan keberanian Ita yang sama sekali tidak sadar diri bahwa dia hanyalah seorang pembantu. Sayangnya Ita sama sekali tidak terlihat takut, dia justru tersenyum seolah tak terpengaruh dengan apa yang dikatakan Tuan Haris. Memang benar sih, tapi kehilangan pekerjaan sebagai pembantu juga bukan masalah besar untuknya. Lora, gadis cantik yang kini tengah terdiam dan menangis adalah tanggung jawabnya, dia merasa perlu dan harus menjaga keutuhan rumah tangga Lora dan Hanzel karena sudah menganggap kedua orang itu sebagai keluarganya sendiri.


" Tuan Haris, Tuan Hanzel itu tidak main-main dengan pernikahannya bersama dengan Lora. Tuan Hanzel bertahan dengan pernikahan ini, melakukan banyak cara untuk melindungi Lora, dan juga mengutamakan perasaan Lora bukan karena kasihan, tapi karena Uan Hanzel benar-benar mencintai Lora. Saya rasa kalau sampai Tuan Haris mengusir Lora dari rumah ini, Tuan Hanzel akan melakukan banyak hal di luar prediksi anda, Tuan Haris. "


" Dasar pembantu tidak tahu malu! Aku ini juga majikan mu! Mulut sialan mu itu apa perlu aku pukul pakai tongkat ku baru bisa sopan? "


Ita kembali tersenyum, dia sama sekali tidak merasa marah mendengar cacian yang di lontarkan oleh Tuan Haris, tapi dia justru merasa kasihan dengan pria tua itu. Padahal jelas sudah memiliki tiga orang istri, dan dengar-dengar juga akan memiliki anak lagi, tapi tatapan yang haus akan kebahagiaan itu seolah begitu jelas terlihat. Entah apa yang diadakan oleh Tuan Haris, tali sepertinya dia sama sekali tidak merasakan kebahagiaan selama hidupnya. Memiliki istri cantik seperti Ibu Rose nyatanya masih kurang, lalu dia menikahi gadis tujuh belas tahun kala itu yaitu, Lina. Masih belum cukup, dan mungkin dia juga merasa penasaran dengan kekasih anaknya sendiri karena anaknya selalu memperlakukan istri ketiganya yang bernama Velove dengan baik sebelum akhirnya Velo berselingkuh dengan Tuan Haris. Mungkin setelah dia mendapatkan apa yang dia inginkan rasanya hambar dan membosankan, jadi dia melirik Lora dan memaksa Lora bercerai karena Lora adalah aib bagi keluarganya. Hah! Tentu saja itu adalah akal-akalan Tuan Haris saja kan?


" Tuan Haris, maafkan saya kalau kata-kata yang keluar dari mulut saya ini terdengar kasar. Tapi, anda terlihat seperti memiliki maksud yang lain. "


" Apa maksud mu, bedebah! " Tuan Haris tentu saja tidak mau mengaku, biar bagaimanapun dia juga tidak ingin terlihat munafik di depan kedua istrinya yang jelas melihat apa yang terjadi sekarang.


" Kalau anda tidak memiliki maksud lain, tolong tunggulah Tuan Hanzel pulang. Biarkan dia yang memutuskan, apakah dia ingin mempertahankan hubungan pernikahannya, atau ingin mengakhirinya. "


Tuan Haris tak bicara lagi, entah mengapa ucapan Ita barusan seperti sebuah peringatan untuknya. Aneh, padahal hanya seorang pembantu, tapi kenapa bisa mengatur mimiknya sehingga mampu membuat orang tertekan?


Lora tersenyum mengangguk, syukurlah ada Ita, jadi dia bisa sebentar memiliki waktu sampai Hanzel pulang ke rumah, karena yang bisa menolongnya sekarang pastilah hanya Hanzel seorang.


***


" Dia memilih meninggalkan ku hanya untuk menjadi pembantu di rumahmu?! Katakan padaku, Hanzel! Apa saja yang sudah kau lakukan padanya! Apa kau sudah menidurinya? Apa kau menjalani hidup seperti suami istri dengan ya?! "


Hanzel menghela nafas sebalnya. Jujur dia ingin meninju wajah Roni karena kesal, tapi bagaimanapun dia juga bersalah, jadi mengalah adalah pilihan yang paling tepat sekarang ini sembari terus memberikan penjelasan.


" Dia bahkan muncul di media dan bodohnya aku tidak tahu, kau pasti sengaja melakukannya kan Hanzel? " Tanya Roni dengan tangis frustasi.


" Itu pilihannya untuk menggunakan make up yah bisa mengubah kontur wajah, dia bilang ingin terlihat sangat berbeda makanya dia menggunakan Wig, lensa mata, semua dandanan nya karena dia benar-benar tidak ingin dikenali oleh siapapun, terutama kau. "


Roni memukul-mukul dadanya beberapa kali karena merasa sangat sesak. Jujur, dia masih mencintai Ita sampai detik ini. Tapi sialnya dia malah bertemu dengan Ita di saat dia sudah akan bertunangan dengan wanita lain.


" Hanzel, dekatkan aku kembali dengannya ya? Aku ingin menikah dengannya lagi, dan aku akan pastikan pernikahan ini tidak akan gagal seperti dulu. " Roni meraih pundak Hanzel dengan tatapan serius tapi juga memohon.


Hanzel menghela nafasnya. Dia menepuk pundak Roni dengan tatapan tak berdaya.


" Ron, percayalah aku juga ingin membantumu, tapi Ita sudah mengatakan berkali-kali jika dia tidak ingin kembali bersama denganmu apapun yang terjadi. "


" Hanzel, aku tahu aku salah karena berselingkuh. Aku tahu aku tidak menepati janji dan merasa gusar karena banyak orang yang menyinggung soal perbedaan usia kami waktu itu, aku salah tentu aku paham sekarang. Tapi Hanzel, sekali ini saja tolong bantu aku. "


Hanzel terdiam Sebentar, lalu dia mengeluarkan ponselnya dengan niat untuk memberikan nomor Ita kepada Roni. Tapi begitu membuka layar ponselnya, Hanzel terbelalak kaget melihat banyaknya panggilan masuk dari Ita, dan juga pesan yang dikirimkan Ita padanya.


" Ron, aku harus segera pergi, ada urusan yang sangat penting yang harus aku selesaikan. " Hanzel berlari keluar dengan cepat hingga tak sengaja menabrak beberapa pelanggan disana.


" Sialan! Kalau sampai macam-macam dengan Lora, jangan salahkan aku menggila nantinya. " Ujar Hanzel menahan amarah sembari melesatkan mobilnya dengan cepat.


Bersambung.